Nov 122014
 

oleh : STMJ


image

Tujuan akhir AS adalah China, bukan Rusia. Kekuatan militer dapat dihadapi dengan kekuatan yang sama, namun untuk menghadapi kekuatan ekonomi memerlukan taktik dan pemikiran yang matang. Sebab ekonomi merupakan produk pemikiran, dan pemikiran hanya bisa dikalahkan dengan pemikiran, bukan dengan kekuatan kasar.

Ekonomi China yang terus tumbuh dan membesar diikuti dengan perkembangan militernya telah menjadi ancaman yang lebih serius bagi Amerika dibanding dengan eksistensi Rusia. Terlebih lagi jika China dan Rusia beraliansi maka ini akan menjadi persoalan yang jauh lebih rumit dari pada masalah penaklukan “the lone wolf” Uni Soviet, sebab gabungan keduanya menghasilkan kekuatan yang lebih lengkap, yaitu “the power of money and swords” – kekuatan uang dan pedang.

Dengan keduanya itu maka menggapai kekuasaan dan dominasi tidak akan menjadi persoalan yang sulit, dan tentu saja pemiliknya pun akan dapat melakukan serangan balik pada barat. Dengan kekuatan yang lebih berimbang maka hasil akhirnya akan ditentukan oleh otak siapa yang lebih cerdas dalam menggagas rencana dan strategi.

Pertama mari kita tengok Amerika yang dalam perjalanannya telah tumbuh menjadi negara dengan ekonomi berbentuk gelembung besar yang ditopang oleh kekuatan fiktif mata uangnya, dolar.

Gelembung ini terjadi karena Amerika telah mencetak dolar begitu banyak tanpa ditopang nilai penyeimbang untuk mengontrol inflasi, dan hanya menyandarkan begitu saja pada statusnya sebagai alat tukar internasional.

Status ini telah memberikan Amerika privilege dan sarapan gratis yang sangat besar dan kemudahan dalam membiayai segala kepentingannya. Secara sederhana dapat diperumpamakan, jika negara lain harus bekerja untuk memperoleh uang, maka AS hanya perlu mencetak dolarnya saja untuk mendapatkan uang. Ini adalah sebentuk praktik ketidakadilan moneter yang terjadi di dunia saat ini.

Di sisi lain implikasi pencetakan dolar tanpa batas menyebabkan ekonomi Amerika menjadi sangat rentan. Jika dolar sampai jatuh dan tidak digunakan lagi sebagai mata uang internasional, maka ekonomi Amerika akan seketika kolaps dan hancur. Permasalahannya, Amerika tidak memiliki cadangan emas untuk menyeimbangkan neraca antara dolar yang dicetak dengan nilai aktual pasar.

Selama ini stabilitas nilai dolar hanya bersandar pada aktifitas transaksi perdagangan internasional yang “dipaksakan” menggunakan dolar. Lalu bagaimanakah solusi untuk menjamin keamanan dan kestabilan nilai tukar dolar?.

Solusinya adalah dengan menjadikan Amerika “the power behind new world order” di mana hanya Amerika yang menjadi satu satunya aktor dominan yang mengusai kontrol ekonomi, militer dan politik dunia.

Sarapan gratis yang dinikmati Amerika selama ini telah memberikan privilege dalam bentuk akses kendali atas separuh ekonomi dunia. Dan di saat yang sama telah memberikan Amerika kemampuan untuk membiayai perkuatan otot militernya. Dengan militer yang kuat Amerika dapat mengamankan kepentingan dalam negerinya dan memberikan tekanan politik pada negara lain. Dengan kekuatan militernya pula Amerika dapat mengancam atau menyingkirkan begitu saja negara lain yang menjadi penghalang/mengancam eksistensinya. Didukung aristokrat Eropa yang masih berambisi menguasai dunia untuk mewujudkan “the trinity triumph in power” – ekonomi, militer dan politik. Bisa dikatakan pula ini adalah sebentuk rasisme ambisi aristokrat Eropa dan pengikutnya yang memandang superioritas diri mereka atas bangsa lain, imperialisme barat di era modern.

Halangan bagi ‘trinity triumph’ adalah jika ada kekuatan lain yang menjadi penghadang atau penyeimbang yang mengkonfrontasi dan tidak mau bergabung dalam aliansi. Dalam hal ini Rusia dan China menjadi porosnya, Rusia sebagai mesin militer dan China sebagai mesin ekonomi, keduanya bersinergi menjadi sebuah kekuatan politik yang besar dari timur yang menandingi aliansi besar AS – Eropa. Batu sandungan besar bagi “New world order trinity triumph”.

Dalam praktiknya menyingkirkan China bukanlah perkara yang mudah, selain kuat secara militer kaki gurita ekonomi China juga sudah terlanjur menjerat dunia. Untuk mengalahkan China diperlukan usaha dan biaya yang sangat besar dengan hasil akhir kerusakan besar pada ekonomi dunia. Tentu saja ini kemudian tidak menjadi suatu pilihan, pilihannya adalah memaksa China untuk tunduk dan menjadi sapi perah kepentingan barat, lalu bagaimana dengan Rusia?.

Skenario awal adalah untuk merangkul Rusia bergabung dengan Eropa agar imperium Romawi dapat bersatu kembali menjadi kekuatan yang lebih besar untuk mengintimidasi China dikemudian hari. Jika Rusia enggan bergabung maka Rusia perlu ditaklukkan terlebih dahulu, dan tentang rencana penaklukan ini Rusia sendiri pun telah menyadarinya sejak lama. Sebab seperti telah menjadi takdir, Romawi pecah menjadi barat dan timur karena suatu alasan dan bila mereka bertemu maka itu adalah dengan pedang. Permasalahannya bagaimanakah menaklukkan Rusia tanpa perang, karena seperti yang telah diketahui Rusia memiliki arsenal militer yang lebih dari cukup untuk menghanguskan Eropa.

Rencana dimulai dengan menyudutkan Rusia sedemikian rupa secara strategis sehingga tidak memberikan pilihan selain berpaling kembali pada Eropa. Dengan merangkul bekas anggota pakta Warsawa akan memberikan intimidasi politik secara langsung pada Rusia menjadikan Rusia seperti anak hilang, dan lepasnya semenanjung Crimea dari tangan Rusia akan menjadi bunga pencapaian rencana ini yang akan memberikan pukulan telak pada Rusia. Sebab di Crimea terletak pangkalan strategis dari angkatan laut Rusia, jika Crimea lepas maka Rusia akan kehilangan akses langsung ke laut hitam sehingga mereduksi penempatan militer Rusia secara siknifikan, yang berakibat pada pergeseran pola keseimbangan kekuatan di Eropa timur.

Sementara itu, jauh hari Rusia telah menyadari arti penting akses terhadap laut hitam. Langkah Rusia untuk menyerang Georgia pada 2008 sebenarnya bukanlah untuk menyelamatkan Ossetia selatan dan Abkhazia. Melainkan untuk mengambil jalur akses ke laut hitam hitam melaui Abkhazia dan menetapkan titik tumpu masuk kedalam wilayah georgia yang telah secara terang terangan berpihak kepada Amerika.

Status Georgia yang belum menjadi bagian dari NATO dan kesalahan interpretasi intelijen Amerika yang menganggap Rusia tidak akan berani mengambil tindakan berujung pada ketidak siapan sekutu secara militer, sehingga menjadikan aksi Rusia berjalan lancar dan ini menjadi kemenangan telak pertama Rusia di era modern. Terlebih lagi aksi ini dibumbui dengan modus misi perdamaian, yaitu untuk menyelamatkan pemukim Rusia di Ossetia-Abkhazia dan menyelamatkan keduanya dari tindak invasi Georgia.

Seperti yang telah diketahui sebelumnya, Amerika telah secara terang menyatakan dukungannya bagi Georgia untuk menganeksasi Ossetia dan Abkhazia. Keduanya pun telah sering melakukan latihan militer bersama dan Amerika bahkan melatih militer Georgia untuk dapat beroperasi efektif di area pegunungan. Ini adalah provokasi langsung yang di kemudian jawab Rusia dengan serangan kepada Georgia.

Kekalahan di Georgia dijawab sekutu dengan mempercepat proses peralihan Ukraina ke NATO. Taktik operasi clandestine yang mirip seperti yang digunakan di Arab dan Afrika diterapkan pula di Ukraina. Dan uniknya lagi alasan yang sama untuk menyerang Georgia pun digunakan Rusia, yaitu menyelamatkan pemukim Rusia di Crimea dari ancaman kekacauan yang terjadi di Ukraina karena adanya peralihan kekuasaan.

Militer Ukraina tidak bereaksi karena mereka menyadari Rusia memiliki semua keunggulan strategis atas mereka. Petinggi militer Ukraina tidak ingin berkorban lebih jauh dan lebih memilih menyelamatkan apa yang tersisa dari permainan catur Rusia Vs Amerika, karena Ukraina menyadari mereka tidak memiliki tempat/peran di sana selain menjadi bidak catur.

Hasil akhirnya jelas, Crimea kemudian menjadi kemenangan terbesar Rusia atas aliansi AS-Eropa di era modern, secara politik, ekonomi dan militer. Sebuah hasil dari ketidak matangan rencana Amerika dan eksekusi yang terlalu terburu buru. Tidak hanya berhenti di situ, kegagalan ini pun dilanjut dengan rencana ceroboh berikutnya yaitu mempercepat langkah pada fase berikutnya, embargo ekonomi atas Rusia. Sesuatu yang seharusnya dilakukan ketika Eropa telah memiliki keunggulan strategis dalam militer dan ekonomi.

Sebelumnya Eropa sendiri tengan mengalami masa reses ekonomi yang bisa dianggap “ulah Amerika”, disatu sisi sebagian Eropa mengalami ketergantungan pasokan gas Rusia dan tentunya mereka membutuhkan perkuatan ekonomi. Keengganan Eropa tampak sangat jelas sebab embargo ini juga akan berdampak pada diri mereka sendiri terutama ketika kegagalan rencana ini mulai tampak jelas.

Bukan karena Rusia terlalu kuat dan hebat sehingga mampu menangkal embargo AS – Eropa (itu hanyalah propaganda belaka). Namun karena China telah menjadi batu sandungan dengan menyelamatkan Rusia dari ancaman resesi ekonomi, tanpa China nasib Rusia hanyalah tinggal menghitung hari. China menjadikan dirinya pasar dan makelar bagi produk – produk Rusia serta membantu Rusia mengakses pasar Asia yang telah lama diselami China. Dan keduanya pun kemudian menjalin hubungan simbiosis mutualisme, Rusia membutuhkan China untuk menyangga ekonominya dan China membutuhkan teknologi Rusia untuk memperkuat dirinya.

Ambisi China adalah untuk menggantikan dominasi Amerika dalam kepemimpinan dunia. Tahap pertama untuk mengarah kesana telah dilalui yaitu perkuatan ekonomi, seperti yang telah diketahui saat ini ekonomi China adalah salah satu yang terkuat di dunia dan terus tumbuh. Sisanya hanyalah tinggal melakukan perkuatan militer maka China pun akan menjadi negara super power baru yang bahkan mungkin bisa lebih kuat dari Amerika pada masa ‘top peak performance’-nya.

China menyadari betul bahwa mereka membutuhkan sekutu yang kuat, tanpa sekutu yang kuat segala ambisi mereka akan terbentur dengan tembok besar yang keras. Tanpa Rusia, China akan menjadi paman panda gemuk yang hidup di bawah belas kasih orang lain. Padahal tubuh yang besar dan masih tumbuh membutuhkan makanan dan nutrisi yang banyak, mereka tidak akan merasa cukup jika hanya hidup dari ransum atau sekedar pembagian jatah dari majikan.

Pada praktiknya aliansi China-Rusia dalam perang tak kasat mata ini telah berkembang lebih jauh, Rusia-China tak lagi menjadi pihak bertahan dan kini mulai berlalih menyerang dengan menggelontorkan wacana perubahan mata uang tukar internasional. Ini adalah sebentuk serangan langsung atas hegemoni ekonomi Amerika yang telah cukup lama bertengger nyaman di puncak. Dan BRIC dengan segala potensinya akan dapat merubah wajah percaturan politik dunia di masa depan, yaitu dengan menelurkan opsi baru dalam sistem perekonomian. Dan tentu saja pihak yang paling terancam dengan semua ini adalah Amerika. Sementara Eropa sendiri akan lebih mudah dalam menyesuaikan diri dengan perubahan keadaan sebab mereka tidak terikat dengan dolar dan telah memiliki mata uang euro yang bisa menjadi landasan bagi mereka menghadapi perubahan.

Pada akhirnya bagaimana ending dari cerita ini pastinya akan sangat menarik untuk dicermati. Apakah barat akan tetap berkuasa atau timur yang kemudian akan naik tahta, ataukah akan tercipta keseimbangan di dunia sebagai hasil clash of the titans? We’ll see, …

Selama ini barat telah menggunakan privilege hegemoni mereka sebagai pemenang PD II untuk berbuat arogan, mengutak atik negara lain sekehendak mereka dan menjadikan negara lain sebagai sapi perahnya. Sementara itu sejarah Rusia dan China penuh kelam dengan sejarah kediktatorannya, secara eksplisit masa kediktatoran itu masih berlangsung hingga sekarang hanya dibungkus dengan kemasan yang berbeda. Pertanyaannya adalah, diantara dua kekuatan ini manakah yang lebih baik bagi kepentingan Indonesia?. Jawabannya adalah TIDAK ADA, baik barat dan timur telah memberikan kenangan yang buruk dan telah menjadikan negeri ini mainan mereka di masa lalu, dan tidak ada jaminan mereka tidak akan melakukannya lagi di masa depan dengan satu atau lain cara.

Barat tidaklah lebih baik dari timur dan timur tidaklah lebih baik dari barat, yang baik adalah jika keseimbangan kekuatan terjadi diantara keduanya. Sebab dengan demikian kedamaian akan terwujud dan Indonesia bisa mengambil yang terbaik dari keduanya.

Komunisme di Indonesia yang dihembuskan Uni Soviet dan dikipasi oleh China telah memporak porandakan negeri ini dua kali dan memakan JUTAan jiwa rakyat negeri ini. Ada yang berkata, dulu waktu kita dekat dengan timur kita memiliki alut sista yang hebat sehingga Indonesia sempat menjadi macan Asia. Tapi apakah hubungan antar negara itu harus selalu melulu tentang senjata dan militer?.

Kita juga butuh hubungan ekonomi Bung, tanpa ekonomi yang kuat maka tidak akan ada militer yang kuat. Dan jika kita mau jujur dalam memuat perbandingan, lebih maju manakah perekonomian di masa Pak Soekarno dan di masa Pak Suharto? Jawabannya sudah jelas.

Dan tahukah anda, semua alutsista itu TIDAK gratis, kita beli dan belinya pun sebagian pakai utang. Selepas tahun 65 ketika terjadi pergantian kiblat politik, Indonesia diembargo oleh Uni Soviet sehingga semua alutsista yang dibeli berubah menjadi onggokan besi tua. Ironisnya walaupun telah di embargo hutangnya masih tetap di tagih oleh mereka, menjadikan Indonesia membayar mahal onggokan besi tua yang tidak terpakai. Akan ada lagi yang berkata, semua itu adalah salah kita yang telah berpaling pada barat sehingga wajar saja jika Uni Soviet mengembargo Indonesia. Menanggapi ini saya menjadi bertanya, sebenarnya manakah yang lebih anda cintai, Indonesia ataukah Uni Soviet/Rusia sehingga anda begitu mudah memandang ringan pengalaman di masa lalu dan jutaan nyawa yang terkorbankan. Kalau mau fanatik itu fanatik pada Indonesia, bukan pada Rusia!!!

Barat pun setali tiga uang, selama era pak Suharto negeri ini telah diperas habis habisan jiwa dan raga, dibodohkan dan diperparah kerusakan mental – moralnya dengan paham liberalisme yang diplesetkan menjadi hedonisme. Korupsi, kolusi dan neportisme tumbuh subur seperti jamur di musim penghujan hingga produk sisanya pun masih terasa hingga masa kini. Kita pernah ditipu, diperalat dan dikhianati dalam kasus Timor Timur, namun lucunya banyak yang lebih mempermasalahkan embargo militer Amerika dari pada darah para pejuang Indonesia yang telah tertumpah sia – sia di Timor Timur.

Pernahkah anda bertanya “berapa jumlah pejuang yang gugur dalam operasi Seroja?”. Entah mengapa nyawa manusia Indonesia terkesan lebih tidak penting dibanding kemilau benda buatan, beginikah cara kita menghargai dan mengingat pejuang bangsa kita sendiri? Padahal 10 november baru saja berlalu ataukah semua itu hanyalah peringatan kosong?. Tidak hanya itu, barat pun telah dua kali mengobok obok pemerintahan Indonesia karena dianggap tidak sesuai dengan kepentingan barat. Seolah – olah pemerintahan yang berdiri di negeri ini hanyalah pentas dagelan yang bisa diintervensi seenaknya, kedaulatan negeri ini telah diperhinakan dan dipermalukan. Barat maupun timur keduanya sama sama #&%@*$#%*@.

UUD 45 telah mengamanatkan bahwa Indonesia adalah negara non blok, kita tidak bersekutu dengan blok manapun namun itu tidak menghalangi kita untuk bersahabat dengan siapa pun. Dan untuk mewujudkan semua itu Indonesia harus menjadi kuat, luar dan dalam, bukan sekedar militer namun juga ekonomi. Sebab tanpa ekonomi yang kuat tidak akan ada militer yang kuat, dan tanpa ekonomi yang baik tidak akan ada kemakmuran di negeri kita.

Indonesia cukup berteman dengan siapa saja yang mampu dan bersedia memberikan manfaat lebih bagi Indonesia, tanpa kita harus turut ikut campur dan terlibat dalam masalah mereka. Karena bernegara itu tidak sama dengan acara nongkrong geng anak SMA, million friends zero enemy. Namun jika ada yang ingin membuat masalah dan mengusik kedaulatan NKRI, maka Indonesia tidak takut untuk menghadapinya.

Orang bijak adalah orang yang tahu apa yang ia perbuat dan ia ucapkan, orang bodoh adalah orang yang tidak tahu apa yang ia perbuat dan apa yang ia ucapkan. Para pendahulu kita yang menetapkan dasar negara ini bukanlah sekumpulan orang naif, mereka telah berkorban dan mengerahkan segalanya demi kebaikan negeri. Jadi jaga perkataan anda sebelum anda mengecap para pahlawan dan orang – orang besar negeri ini sebagai orang naif. Mereka telah berbuat banyak dan berjasa besar, bagaimana dengan anda?!

Sudah waktunya Indonesia bangkit dan memperbaiki segala kenangan buruk di masa lalu, jalannya memang panjang dan terjal namun kita harus yakin mampu malaluinya. Kecuali jika kecintaan anda pada negeri ini telah begitu turun sehingga anda kurang menghargai atau bahkan tidak mempercayai kemampuan bangsa anda sendiri untuk melakukan hal besar dan menjadi besar, maka selamanya kita akan menjadi mainan asing.

Oleh karenanya kita harus mandiri dan tidak bergantung pada asing, meskipun tidak dalam segala hal paling tidak dalam hal – hal yang sensitif seperti militer kita harus dapat berdikari. Sedikit demi sedikit, selama kita percaya, kita pasti bisa! Dengan kepercayaan penuh, saya yakin bahwasanya mereka – mereka yang duduk di kursi pemerintahan negeri ini bukanlah sekumpulan abg labil yang tidak berpikir panjang dan hanya mengikuti kesenangan sesaat. Saya yakin mereka – mereka adalah orang – orang bijak pandai yang memperhitungkan dan merencanakan keberlangsungan negeri ini hingga kemasa depan, bukan Cuma 1 atau 5 tahun.

Saya tidak mengenal banteng ataupun garuda karena bagi saya yang ada hanyalah Indonesia, dan sehubungan dengan hari 10 november yang baru saja berlalu. Marilah kita mengenangnya dengan ikut berjuang melakukan yang terbaik dibidang kita masing – masing, mendukung dan mengkritisi secara sehat pemerintahan kita untuk melakukan yang terbaik bagi negeri ini dan seluruh rakyatnya. Karena pada akhirnya kita ini rakyat Indonesia dan Indonesia itu milik kita.

Komentar panjang ini saya tulis untuk menanggapi artikel ini, artikel tentang Crimea, isu tentang Rusia strong dan isu Indonesia keluar dari nonblok dan bergabung dengan timur. Sengaja saya gabung menjadi satu, jadi mohon maaf jika ceritanya kemana mana. Meminjam perkataan bung Lare Sarkem, it just IMSO-in my sotoy opinion only, koreksi saya jika salah.

Salam

  102 Responses to “GeoPolitics, the New World Order”

  1.  

    artikel berbobot dari bung @STMJ yg bisa membuat jidat berkerut untuk menganalisa nya, he he. jadi mengikuti arah angin ya bung..setelah terakhir ngulik bagian map of conflict part 6 (diskusi kita terakhir dulu) sekarang ke yg lebih global dan kompleks ye kawan. good! salam hangat kawan,

    •  

      http://jakartagreater.com/map-conflict-series-6/ kapan-kapan jika anda ada waktu mungkin bisa diteruskan perkembangan bung..sekalian kita lihat apakah dengan kepemimpinan baru di negeri ini bisa banyak belajar dari dinamika negara2 kawasan tsb.

      •  

        Bung Papa, buat tambahan referensi, bisa ditelisik juga dari program Nawa Cita Jokowi-JK…

        •  

          bagus itu 9 agenda prioritas Presiden dan Wakil Presiden kita. saya dukung! semoga saja implementasi dan hasilnya tepat dan benar dan bermanfaat bagi selurah rakyat..semua aspek hampir terwakili, namun jika ditambah agenda “kekuatan dan ketahan pangan” maka akan lebih ok lg tuh. imho. mari kita doakan bersama kawan, selamat makan siang

          •  

            Untuk kekuatan sudah masuk di program 1.5% anggaran pertahanan dan industri strategis dalam negeri, sedangkan ketahanan pangan masuk dalam program inovasi ekonomi. Program ini pasti akan sangat berpengaruh pada kondisi Geo-politik Internasional. Oke selamat makan siang bung

  2.  

    Kuku-kuku Garuda harus memeluk baik dengan Tiongkok, Russia, dan USA. Tujuan akhirnya adalah Indonesia mandiri. Tirulah Tiongkok, ketika lemah mereka memperkuat ekonomi dengan taktik Industri berbasis Rumah Tangga yang dikelola oleh Holding-Holding. Basis pertanian yang sudah kuat menjadi dasar mereka mengupah tenaga kerja di masa 70an, menukar beras dengan kerja. Perumahan susun disediakan Tiongkok untuk para pekerja ekonomi itu dan dapat digunakan selama usia produktifnya. Riset dan Pemanfaatannya pun dikelola Tiongkok dengan baik berbasis industri, jika perlu mencuri ide dan teknologi dilakukan dengan halus, tujuannya agar industri berkembang menjadi SME lalu menjadi korporasi besar. Hulu dan Hilir industri pun berkolaborasi dengan baik. Berawal dari penjahit dan perakit produk negara lain, Tiongkok meminta Holding-Holding company nya membeli perusahaan-perusahaan barat yang memiliki paten teknologi namun dalam kondisi stagnan hingga menuju kolaps. Teknologi-teknologi yang diperoleh dengan membeli pemiliknya yaitu perusahaan merupakan basis Tiongkok merangkak dari industri berbasis rumah tangga menjadi industri manufaktur moderen. Industri yang booming membutuhkan energi luar biasa, disinilah Tiongkok melirik batubara, gas alam, dan minyak Asia dan Afrika. Pengamanan sumber daya energi menjadi hal utama paralel dengan pengamanan atau “pencurian” teknologi dari negara lain. Seringkali pengamanan sumber daya energi ini disertai iming-iming “perlindungan dan beking” ke rezim negara penyuplai.

    Indonesia adalah pelanduk gemuk tanpa arah di tengah kepungan para gajah. Kerangka ekonomi – industri harus mulai diset dengan baik. Thailand sudah memposisikan sebagai negara industri agrikultur. Italia memposisikan sebagai negara industri perhiasan. Belgia memposisikan sebagai negara menjual pameran, konferensi, dan sebagainya (MICE). Betul sekali jika Indonesia memposisikan diri sebagai negara industri maritim. Positioning itu belum ada yang mengklaim, padahal sejak deklarasi Juanda dicetuskan sebenarnya arah tujuan negara kita adalah ekonomi berbasis kemaritiman. Ekonomi berbasis kemaritiman ini berfokus pada migas offshore, perikanan laut lepas maupun perikanan air tawar, dan wisata maritim. Ada satu lagi potensi Indonesia yg terkait kemaritiman yaitu geologi dan vulkanologi. Daya hancur gunung volkanik yang luar biasa menyimpan potensi energi yang luar biasa dan sustainable karena berasal dari reaksi perut bumi. Selain itu material material dari gunung vulkanik mungkin menyimpan logam-logam berharga yang dapat dikelola dalam industri Indonesia.

  3.  

    Tentu saja kita lbih mencintai Indonesia sepnuh jiwa dan raga. Tapi, bukan berarti kita harus melupakan “sejarah”, siapa yang telah membantu kita menjadi sebuah negara yg disegani, dan siapa pula yang telah mem”bonsai” dan memporakporandakan negara ini.
    Mungkin kata “mengagumi” lebih pantas dari pada kata “mendewakan”.
    sebagai motivasi kita, kapan negara ini bisa maju seperti mereka.

  4.  

    Keren BangJo, hayo sapa lagi yang mau di tampar?????

  5.  

    Poin penting yg sy ambil “Jika dolar sampai jatuh dan tidak digunakan lagi sebagai mata uang internasional, maka ekonomi Amerika akan seketika kolaps dan hancur”. Belum tegasnya pemimpin kita dan pemangku kebijakan untuk menerapkan setiap pembayaran dengan rupiah, dgn mengikuti dollar sbg patokan. Contoh terkecil aja, tempat wisata (hotel-restoran) di indonesia dgn bangga memasang harga dollar. Pertanyaan yg timbul, apakah semua itu sdh di susupi dgn pihak asing, kepentingan asing di indonesia ?sehingga nilai tukar mata uang kita trs melemah terhadap dollar. Maaf klo ngawur, unek2 di kepala seorang editor tv. hhe

  6.  

    Blok Barat dan Blok timur memang ada jeleknya dalam berhubungan dengan NKRI, tapi dalam hal ALUTSISTA setidaknya Blok Timur jauh lebih baik karena mereka memberikan ALUTSISTA yang terbaik, tidak seperti Blok Barat yang menjual ALUTSISTA ke NKRI selalu di downgrate yang hasilnya ALUTSISTA dari Blok Barat tersebut tidak boleh lebih baik dari negara-negara sekutu mereka contoh F16 Indonesia tidak akan lebih baik dari F16 singapore, KCR SIGMA meriam utamanya tidak boleh menyamai meriam negara-negara NATO. Jadi kalau membeli ALUTSISTA Blok barat jangankan untuk melawan negara yang senjatanya dari Blok Timur yg dari blok barat aja pasti Kalah Kelas. Hal ini tidak terjadi jika kita membeli ALUTSISTA dari blok timur, negara-negara sekutu blok barat pada heboh dan berkeringat dingin dan lututnya gemetaran dibuatnya. contohnya Sukoi 27 dan 30 kita membuat negara tetangga pada gemetaran dan mendengar berita NKRI akan membeli Kapal selam Kilo klas ausie dan jepanga aja pada protes. Itu artinya ALUTSISTA yang kita beli dari Rusky jauh lebih bermutu dari ALUTSISTA yg kita beli dari negara-negara blok Barat, dua-duanya dibeli pake UANG!!!

    ITUlah perbedaaan pembelian ALUTSISTA dari blok barat dan blok timur

    YG LEBIH BAIK LAGI ADALAH ALUTSISTA YG KITA BUAT SENDIRI, BAGUS-BAGUS BUATAN SENDIRI

  7.  

    Hm sakit rasanya kalo kita lihat masa lalu yang kelam, belajar dari masa orde baru kita sadari kita salah terlalu menyanyangi paman sam, kita belajar bahwa bangsa ini tiap kali di perbudak oleh mereka dengan alasan investasi kita harus bijak,teliti, dan memilah investasi mana yang harus menjadi prioritas negeri ini demi pembangunan bangsa dan masyarakat indonesia khususnya, kita seharusnya lebih cermat berkerjasama dengan mereka, maka dari itu pentingnya bagi kita bangkitkan rasa nasionalisme, jalan tengah bagi kita adalah berani expansi ke luar negeri produk domestik kita dan nasionalisasi perusahaan kilang minyak asing. Sekian dari saya mohon kritik dan saran terima kasih SALAM HORMAT

  8.  

    kita mah non blok…
    tinggal pasang mata dan telinga yang baik..
    dan tentunya gerakan otak dan otot..

  9.  

    TETEP SU 35 hrs dibeli.

  10.  

    mungkin agak sedikit diluar topik utama namun esensinya masih berkaitan. saya “mengkhususkan” hulu ledak dan senjata nuklir.
    mengapa hulu ledak dan senjata nuklir diciptakan di dunia ini dan dikembangkan.. sebagai julukan sebagai senjata pemusnah massal selayaknya senjata nuklir tidak boleh dikembangkan bahkan diciptakan. lalu apa tujuannya..? apakah sebagai alat unjuk gigi untuk menunjukan kekuatan suatu negara, atau sebagai ego bahwa “lo punya dan bisa bikin, gue juga punya dan bisa bikin”, atau sebagai alat jaminan keamanan bahwa dengan memiliki senjata nuklir maka negara-negara lain tidak akan berani neko-neko terhadap negaranya “awas kalau macem-macem gue nuklir negara lo”, atau sebagai alat untuk menguasai dunia dengan cara pengecut yang mereka anggap hebat… jika dilihat dari sudut pandang negara yang memilikinya mungkin demikian.. lalu bagaimana jika dilihat dari sudut pandang secara global dan oleh negara yang tidak memilikinya…? mereka akan melihat dunia ini sebagai bom waktu yang sewaktu-waktu dapat meledak dan hancur berkeping-keping hingga tidak ada lagi bagi manusia untuk hidup.. disamping itu mereka akan bertanya-tanya, apa yang akan terjadi seandainya para negara yang memiliki senjata nuklir itu serentak saling menghancurkan atau melucuti senjata nulirnya masing-masing..? bukankah akan mengurangi gaya adu kekuatan, pamer gigi pose body, seni ancam-mengancam, obsesi menguasai dunia, mengotori bumi dengan limbah, dan hilangnya ketakutan akan kepunahan ras manusia didunia.. hmm.. jika semua itu benar-benar dapat terwujud bukankah dunia ini akan menjadi tempat yang lebih aman, nyaman dan damai untuk ditempati seluruh ras manusia dan makhluk hidup di muka bumi..? maka selain Tuhan Yang Maha Kuasa.. hanya mereka lah yang tahu, mereka yang masih mempunyai hati nurani mencintai sesama ras manusia untuk hidup saling berdampingan dengan penuh cinta dan damai.. imho. mohon maaf jika ada kekurangan dan kesalahan saya dalam menuliskan kata-kata. salam hangat,

    “the world would never be at peace, as long as the big conflicts exist. and peace can’t be kept by big force, it can only be achieved even by little understanding”

  11.  

    Permasalahannya, Amerika
    tidak memiliki cadangan emas untuk
    menyeimbangkan neraca antara dolar
    yang dicetak dengan nilai aktual
    pasar.
    ————-
    Mengkritisi satu hal saja. Bukankah amerika pemilik cadangan emas terbesar? Bisa dengan mudah ditelusuri, salah satunya ini:
    http://en.m.wikipedia.org/wiki/Gold_reserve

    •  

      Emas secara fisik di dunia ini tidak ada yang tahu pasti karena tidak ada yang pernah menghitungnya secara pasti (antara data digabungkan dengan mata fisik). saya pernah melihat salah satu tayangan lewat youtube (lupa judulnya jadi tidak bisa memberikan link-nya jadi silahkan dibantah) Federal Reserve sebagai tempat menyimpan emas bukan hanya menyimpan emas milik negara sendiri namun ada simpanan emas milik negara lain seperti Inggris (UK).

      Kalau ada perhitungan riil berapa emas yang telah diekstraksi dari perut bumi berbanding dengan pernyataan cadangan emas yang diklaim dimiliki oleh negara-negara maka dapat dilihat jika sesuai maka pernyataan tersebut benar namun kalau tidak maka bisa jadi emas yang diekstraksi bisa lebih besar dari yang diumumkan atau ada yang melebih-lebihkan klaim cadangan emasnya untuk menjaga “image”nya di mata dunia.

      NB : Pendapat saya diatas juga merupakan bagian salah satu teori konspirasi yang berkembang di AS sendiri

    •  

      sejak 1971 nilai USD tidak lagi didukung / dijamin dengan emas, yang segera diikuti negara2 lain…

      The obvious question is, “Without gold, what does guarantee the value of our money?” The answer is: nothing at all.

      Nobel Prize-winning economist Milton Friedman puts it, “the pieces of green paper have value because everybody thinks they have value.”

      – – –

      One of the long-standing myths about modern currency is that it is backed by the U.S. gold supply in Fort Knox. That is, you can trade your greenback dollars to the U.S. government for the equivalent amount of gold bullion at any time.
      At one point, this was true of most paper currencies in the world. However, the U.S. took away the government backing of the dollar with an actual gold supply (known as leaving the gold standard) in 1971, and every major international currency has followed suit.
      The obvious question is, “Without gold, what does guarantee the value of our money?” The answer is: nothing at all.
      The only reason a dollar, or a franc, or a Euro has any value is because we have a stable system in which people are known to accept these pieces of paper in return for something valuable. Or, as Nobel Prize-winning economist Milton Friedman puts it, “the pieces of green paper have value because everybody thinks they have value.”
      howstuffworks.com
      – – –

      sebagian besar cadangan emas amrik disimpan di fort knox,

      http://bmgbullionbars.com/wp-content/uploads/fort-knox-gold.jpg

  12.  

    Tidak ada negara yang membantu karena murni kemanusiaan, itulah politik. Kita berbicara tentang politik hubungan luar negeri bukan sifat atau karakter manusia negaranya. Politik luar negeri tidak pernah lepas dari pemikiran kepentingan diri (negara) sendiri yang harus lebih besar dibanding kepentingan orang (negara) lain.

    Indonesia sendiri sudah sepatutnya berdiri sendiri dan mandiri tidak perlu berpihak mutlak dengan siapapun, baik berpihak ke AS-Eropa maupun Russia-China akan sama-sama memusingkan kalau tidak mau dibilang malah merugikan diri sendiri.

    Kemandirian adalah yang utama, bukan hanya soal memiliki senjata “paling gede” atau duit “paling banyak” tapi yang bisa mengelola seluruh potensinya secara maksimal.

    Kalau berbicara tentang pemenuhan alutsista maupun teknologi mutakhir bisa jadi secara tidak langsung kita menjadi condong merapat ke satu kubu namun kita perlu membuat batasan dan garis yang jelas bahwa kerjasama tersebut bukan berarti kita akan dan harus terikat dengan kubu tersebut. Di waktu-waktu lampau saya rasa kita masih ragu-ragu dan agak malu untuk terbuka seperti itu namun melihat momentum saat ini saya rasa kita sudah seharusnya mulai bisa bersikap lebih tegas terhadap blok-blok yang ada yang mencoba menarik kita merapat ke satu sisi.

    Sedikit mengulas bagaimana Pak Jokowi “diposisikan” diantara Presiden AS, Russia dan China di ajang APEC. Saya baca Pak Presiden Jokowi cukup bijak bersikap dan tidak gegabah terlihat condong kepada yang “lebih manis” di depannya. Satu hal yang perlu ditiru dan dijaga untuk langkah ke depannya. Russia sedang berusaha menjalin kerjasama yang lebih intens dengan kita dimana perwakilannya sedang di Jakarta membahas berbagai hal, China sudah menyatakan tertarik dengan poros maritim Asia Pasifik Indonesia, AS buru-buru melobi Indonesia lewat John Kerry dan Presiden Obama langsung ke Presiden Jokowi, semua berusaha merebut pengaruh dengan memasang “muka manis”. Kita perlu cerdik dan di satu sisi jujur agar tidak menjadi munafik namun tidak salah langkah.

    Tidak ada negara yang bebas dari kepentingan negaranya sendiri, Indonesia saat ini dinilai dapat memberi manfaat sangat besar dari blok-blok yang ada. Kita perlu cerdik sekaligus jujur.

    NB : Sekali lagi saya tidak mengaitkan kebijakan politik luar negeri sebuah negara dengan karakter masyarakat negaranya tersebut karena bisa jadi sangat berlawanan atau tidak berhubungan sama sekali.

  13.  

    maaf,pada saat indonesia di embargo uni soviet,apakah indonesia dalam keadaan perang?

    •  

      sedikit ulasan,bukan ane yg pro timur ,tetapi sejarah yang membuktikan
      Setelah pemerintahan mantan presiden Soekarno jatuh, yang diikuti hubungan Indonesia dan Uni Soviet yang memburuk dan pemerintahan mantan presiden Soeharto yang condong ke arah Amerika Serikat. Maka Uni Soviet kemudian menarik maintenance support untuk pesawat buatan Uni Soviet yang berada di Indonesia. Sehingga dengan “terpaksa” Indonesia mempensiunkan 30 Mig-17, 10 Mig-19 dan 20 Mig-21 yang dimilikinya diakibatkan kekurangan suku cadang.

      Kemudian Pemerintah Amerika Serikat dengan dalih untuk membantu mengembangkan kekuatan TNI AU maka memperbolehkan Indonesia untuk membeli peralatan militer buatan amerika serikat mulai dari T-33, UH-34D, hingga F5E/F dan OV-10. Tetapi perjanjian tersebut entah bagaimana membuat Amerika Serikat dapat membawa Mig kita ke ke Groom Lake, markas dari Red Eagles yaitu suatu skuadron yang ditugasi untuk mempelajari kelemahan dari pesawat-pesawat buatan uni soviet.

      Adapun Mig yang dibawa ke amerika serikat tersebut dari 10 Mig-21F13 dengan tail number 2151,2152,2153,2155,2156,2157,2159,2162,2166,2170; 1 Mig-21U tail number 2172 dan 2 Mig-17F tail number 1184 dan 1187.”

      Sementara Mig-19 dijual ke Pakistan. “Saya sendiri yang mengantarkan ke Pakistan, sekalian melatih penerbangnya,” aku Rusman.

      Beberapa dari pesawat Mig tersebut masih bisa dilihat di Musium Satria mandala dan ITB, beberapa kabar dari milis info militer juga menyatakan beberapa Tu-16 kita juga dibawa kesana dan sisanya discrap. Lebih menyedihkan lagi pesawat T-33 yang kita beli dari Amerika tidak dilengkapi oleh persenjataan, walaupun akhirnya bisa diakali oleh ground crew TNI AU sehingga T-33 tersebut bisa dipersenjatai dan dapat digunakan untuk operasi militer

  14.  

    yes.. ini baru brainstorming. terbukalah wawasan kita .. i like it (gambar cendolL)

  15.  

    Solusi saya sebagai rakyat biasa menyerukan cinta tanah air dengan cara mengunakan produk yg di hasilkan anak bangsa agar Indonesia ini kuat secara ekonomi otomatis sektor yg lain mengikuti, kalaupun belum bisa anak negeri ini menghasilkan produk tersebut minimal yg ada berbau lokalnya.
    Dengan Indonesia kuat semoga dapat menjadi pemimpin dunia, kelak terciptanya peradaban manusia yg lebih baik, tidak ada yg namanya negara kuat maupun lemah menjadikannya umat manusia yg lebih beradab dan berkesejahteraan.

  16.  

    Bung STMJ,

    Analisis yang berbobot.

  17.  

    Kalau saya lebih suka artikel yang kemarin,,,,yang membuat otak tak tuk tak tuk,,andrenalin bertambah,,,logika diuji,,,klo artikel kyk gini,,,ngalir,,,,

  18.  

    Salah satu penulis kesukaan saya,dan akan terus jadi penulis kesukaan saya.

    Meskipun demikian,saya pribadi tetap lebih suka indonesia merapat ke blok timur. Melihat pola politik luar negri selama ini,menjadi sekutu barat artinya menjadi “kacung” yg urusan dalam dan luar negrinya harus siap disetir oleh amerika (bahkan eropapun layaknya “kerbau dungu”). Lain halnya dgn poros timur,melihat pola hubungan cina dan rusia selama ini,nerrka cenderung saling melengkapi dan melindungi tanpa harus ada pihak yg menjadi kepala dan lainnya menjadi ekor. Meskipun tidak dapat dipungkiri hal ini karena masing2 memiliki daya tawar yg seimbang antar satu dan lainnya. Inilah kenapa kedepannya indonesia harus memiliki dan menyadari potensi daya tawarnya,sehingga posisinya pun dapat setara,berjalan beriringan dgn rusia dan cina (jika ingin memihak).

    Saya bukan pendukung fanatik blok timur,hanya saja harus diakui bahwa tatanan dunia baru dibutuhkan untuk menggantikan tatanan dunia warisan masa penjajahan yg di gawangi Amerika cs yg ada saat ini yg telah terbukti hanyalah bentuk “masa kini” dari penjajahan dan imperialisme masa lalu.
    Hanya rusia dan cina lah yg mampu menyuarakan tatanan dunia yg baru,atau setidaknya hanya mereka yg berani,saat ini.
    Nah,jika kebutuhan akan tatanan dunia yg baru merupakan keniscayaan,tidak inginkah indonesia mengambil peran sedari awal?

    Salam mahasiswa perantauan

  19.  

    makasih bung diego…. bkin otak ane kenyang mantapp lanjutkan wkwkwkw

  20.  

    Nice analyse, Sangat baik bung STMJ

    Indonesia dilambangkan dengan Garuda, burung suci Wisnu … Perlambangan ini dimaknai agar kita dapat melihat secara tersirat dan tersurat setiap hal di sekitar kita .. dan jangan sampai salah guna dan salah sasaran ketika kita akan mengambil tindakan ..

    Indonesia, ditengah hegomonisasi barat dam timur memang harus bisa memainkan peran secara bijak dengan memandang kepentingan nasionalnya dalam mendorong kemandirian bangsa tanpa terikat dengam pihak manapun ..

    Indonesia yang memiliki SDA saat ini masih berlimpah namun apabila diekaplorasi terus menerus dengan dalih investasi maka akan habis dan meninggalkan kerusakan linhkungan yg sangat kritis. Hal ini sidah ditandai dengam adanya perubahan iklim dan menjadikan dineberapa daerah kesulitan memcari air bersih karena kekeeringan, gagal panen, kawasan hutan yg terbakar dll.

    Para pemimpin bangsa ini memang sudah memikirkan untuk pencadangaan energi sda dan memfokuskan pada energi terbarukan .. namun lagi lagi belum optimal ..
    Bung Hattta yang telah meletakan dasar perekonomian negara berbasis ekonomi kerakyatan melalui koperasi dewasa ini mulai ditinggalkan. Sejatinya Koperasi yang dikelola oleh rakyat di tingkat desa, kecamatan, kabupaten hingga puskud di provinsi dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat mampu menjadi pengungkit perkonomian bangsa namun dalam prakteknya masih terdapat masalah atau kendala, Pemerintah lebih menyukai investor sarat modal ketimbang membenahi kondisi perkoperasian yang menopang umkm.

    terlepas dari tulisan ini, saya ingin menggaris bawahi dengan mengutip kata pahlawan bangsa, … right or wrong this is my country, lebih lebih kita mengetahui masalah yg dihadapi oleh negara kita dan jangan tanya apa yg negara dapat berikan tetapi tanyalah apa yang dapat kamu berikan untuk negara …

    #INDONESIA BERDAULAT#

  21.  

    waduh waduh waduh artikel geopolitik / geotsrategi yang sangat bagus dari bung STMJ muncul lagi .. maksih bung STMJ yang telah memberikan pandangan bagaiman seharusnya posisi negara kita untuk menghadapi negara negara besar yang punya pengaruh blok yang kuat.. oya jangan kapok kapok untuk menampilkan artikel seperti ini lagi ya he.he..he..

    oya saya ingin menambahkan bahwa untuk memperkuat kemandirian negeri ini juga diperlukan sebuah strategi yang brilian. intuk mewujudkan ini deperlukan sebuah Intelijen Negara yang kuat dan peka soalnya disinlah segala bentuk informasi yang diambil untuk diolah untuk disajikan ke pengambil kebijakan..

    intelijen disini bukan hanya maslah pertahanan dan keamanan saja, EKONOMI juga sangat memerlukan informasi dari inteljen contoh seperti bagaima cara menguasai pasar luar negeri, bagaimana cara membendung arus barang dan jasa dari luar yang masuk ke dalam negeri..

    contoh ada hal yang menarik yaiutu sebuah ide dari mantan Men BUMN Pak DI yang menyikapi membanjirnya buah buahan inport dari china seperti jeruk, Apel dll. pak DI langsung mencoba dengan mengandalkan buah buahan tropis yang hanya bisa tumbuh di indonesia untuk dikembangkan dan dijadikan andalan untuk menguasai pasar di China seperti Manggis, Mangga dll. yang tidak bisa tumbuh bagus disana..

    kesimpulannya disini adalah informasi yang diolah dan strategi yang diambil inilah yang menjadi kunci suksesnya.. semoga para pengambil kebijakan negeri ini diberikan kekuatan dan hidayah dan semakin mencintai negeri ini demi keberlangsungan hajat hidup anak cucu kita yang semakin lebih baik.. amin. amin amin..

    maaf susunan kalimatnya yang compang camping, semoga kawan kawan semua mengerti maksud tulisan ini he.he..

  22.  

    artikel nya bagus bung STMJ, dua jempol untuk anda, tapi disini, pada dasarnya adalah membahas INDONESIA dan perkembangan pertahanannya, jika ada anggota jkgr yg menginginkan bergabung dengan blok barat atau timur itu karena keinginan untuk mendapatkan akses lebih di bidang militer, bukan pahamnya, jd ini adalah cara mereka mempertahankan pendapat mereka untuk menunjukkan bahwa rusia lebih kuat ato usa lebih hebat, anda masih ingat nasakom yg dcetuskan soekarno, ato poros jakarta peking, itu jg salah satu cara soekarno untuk mendapatkan “sesuatu” yg lebih dari blok timur tanpa mengorbankan nasionalis yg ia dengungkan di masa itu, tapi jalan tengah ini nampaknya gagal, jadi jangan “ngecap” jamaah rusia strong itu cinta rusia dan jamaah usa hebat itu cinta dengan usa, ini semata2 ingin menunjukkan bahwa produk yg di bela lebih hebat dari lainnya, imho juga ya, salam hangat,,

  23.  

    mantap gan ini tulisanya berkelas dan sangat menggugah.

  24.  

    Terbukti sekarang mata uang negara asia melemah. Yuan boleh juga di jaddikan mata uang international.

 Leave a Reply