Oct 122016
 

(defence.pk/madokafc)

(defence.pk/madokafc)


Perusahaan swasta asal Brasil, GESPI Defense Systems, sedang menjajaki negosiasi dengan beberapa negara untuk menjual 84 mm Arma Leve Anti-Carro (ALAC) man-portable shoulder-launched medium-range light anti-armour weapon system yang dikembangkan dalam kerjasama dengan Pusat Teknologi Angkatan Darat Brasil (CTEx).

GESPI Defense Systems sedang melakukan negosiasi lanjutan dengan Meksiko, yang telah meminta 1.200 one-shot anti-armour weapon, dan dengan Irak yang sedang mempertimbangkan 2.000. Azerbaijan meminta tranche awal 50 dan sedang mempertimbangkan di-negara manufaktur unit tambahan. Diskusi awal kemungkinan dilakukan dengan beberapa negara lain, seperti Indonesia dan Portugal, untuk menjajaki kemungkinan penjualan.

(defence.pk/madokafc)

(defence.pk/madokafc)


ALAC merupakan senjata panggul berjenis roket dengan peluncur yang tidak dapat diisi ulang (disposable). Dengan sifatnya yang disposable, pihak pabrikan menyebut senjata ini akan menurunkan biaya logistik dan pemeliharaan. Panjang keseluruhan senjata ini adalah 1020 mm.

ALAC 84 mm memiliki jangkauan tembak efekfif hingga 300 meter. Dalam sekali tembakkan, roket dapat melesat ke sasaran dengan kecepatan 240 meter per detik. Dalam jarak tembak sejauh 300 meter, maka lamanya roket di udara hanya 1,5 detik.

Hulu ledak roket berupa amunisi High Explosive Anti Tank (HEAT) yang dapat memembus lapisan baja setebal 300 mm. Guna memudahkan program pelatihan personel, Gespi Defence System menyiapkan cartridge simulator kaliber 9 mm untuk training. Peluncur ALAC dibuat dari bahan komposit dengan bobot 7,5 kg, sudah termasuk bobot hulu ledak HEAT 2,4 kg.

Sumber: IHSJanes

Berbagi

  60 Responses to “GESPI Defense Systems Jajaki Penawaran Roket ALAC ke Indonesia”

  1.  

    ayok diborong

  2.  

    Sudah saatnya TNI, khususnya TNI AD menyeragamkan sista roket anti material yg dlm lingkungan TNI d golongkan dlm SEBANIF (SENJATA BANTU INFANTRI) yg saat ini sangat beraneka ragam dan belum melekat dalam satu regu TNI. jumlahny jg sgt terbatas, hanya unit2 khusus sj yg masih menentengnya. Berbeda dgn marinir yg sdh memiliku rpg 7 dlm kelengkapan regu. Terlepas apakah ini ato rpg 7, ato M72 LAW yg jelas TNI perlu sekali utk melengkapi satuan regunya dengan sista sejenis ini.

  3.  

    Indonesia jangan berkutat pada rudal tehnologi rendah .Ini RUDAL TEHNOLOGI TAHUN 80 AN

    •  

      Tenang bung…
      ALAC ini masih sanggup menembus Tank Scorpion kita…
      Kalau yang mau di hantamnya Tank Leopard tentaranya pasti pulang lagi kembali ke barak dan laporan ke komandannya, “BESOK LUSA ATAU YANG AKAN DATANG BELI ALUTISTANYA YANG GRENG PAK.”

  4.  

    kpn kita menjajaki kerjasama pembuatan rudal kelas berat pak.. knp dr dulu kelas ringan pak. lha mbok se kali2 rudal yg berat2 to pak..

  5.  

    belum teruji lawan mbt jangan dibeli… beli saja kornet atau rpg dari rusia, di jamin battle proven

    •  

      @mr gabus

      ah… masaaaa…???
      sehat………?
      hihihihi…

    •  

      Igla juga bung..
      Betul rusia saja..jangan brazil..apalagi senjata ATGM brazil inj disposable sekali tembak buang..apa apaan itu..jarak tembak 300 meter..apa apaan..
      ..SPR 2 saja 2000 meter..

      Ahhh barang ginian masih beli..?? Kelas negara besar kok cuman beli ginian..buat sendiri kenapa..?? “Tempeling aja orang pt DI sama pindad pasti jadi barang ginian..wakakaaka”

      Kalo pindad mau mikir..
      amunisi MU3 BLAM SPR 2 DIGEDEIN kalibernya sampe 30 MM..atau lebih. ujung proyektil carbida tungsten yang bisa tembus baja..dan juga efek bakar ledaknya sangat efektif..
      Otomatis juga jarak tembaknya makin jauh bisa 5000 meter..mungkin lebih…kan keren tuhh sniper tank…konsep baru cara menyiksa tank…hahahaha..

      •  

        Kok cuma carbida tungsten, bung? Bagaimana kalau titanium dengan mata intan?

        •  

          Intannya buat saya saja..hahaha..
          Carbida tungsten cukup bung..gak tau titanium..efeknya gimana..silahkan dicoba di kamar..wakakaka…salam damai bung..

      •  

        Jarak efektif 300 meter itu sama saja uji nyali bro…
        Dalam peperangan zaman sekarang 300 meter di medan pertempuran sepertinya bagaimana gitu…
        Sebagai bahan perbandingan SPR 2 PT PINDAD saja dapat memuntahkan pelurunya dengan range maksimalnya 2000 meter dan mungkin akan lebih efektif kurang dari range 2000 meter…

      •  

        WKWKWKWKWKWKWKWKWKWK.. πŸ˜€

      •  

        Kalau soal logam serahkan saja ke orang madura. Sekeras apapun bakal rontok jadi duit

      •  

        Hahaha…boleh juga tuhh..

      •  

        depleted uranium termasuk barang yang di larang di gunakan dalam perang sekalipun ,karena jangka efek radiasinya jangka panjang sekalipun lemah .Radiasinya tetap bisa mengakibatkan resiko kanker baik bagi yang mengoperasikan maupun tempat di tembakkan .Terbukti tentara us sendiri saat perang irak banyak jadi korban mengalami kanker setelah beberapa lama kemudian.

    •  

      Wah ini bagus bro.. sekali tembak LUPAKAN (Bungkusnya).. wkwk..

      Dari pada perancang petenteng bawa yg gak ada isinya mending yg sekali pake Buang haha..

  6.  

    Bukan bermaksud mencibir, dengan anggaran militer Indonesia yang kemungkinannya terkoreksi, apa tidak lebih baik membeli alutista yang sudah botol pulpen.
    Contohnya Jevelin blok 3 ataupun Komet.
    Meskipun sedikit, akan tetapi nilai errornya kecil…
    Daripada banyak, akan tetapi banyak juga kekurangannya.
    Terlebih lagi ALAC ini jangkauan efektifnya kurang dari 500 meter.
    ALAC ini sama saja seperti RPG yang semuanya serba manual.
    Perbedaannya hanya dari segi daya ledaknya saja, itupun jika yang membidiknya dalam range ratusan meter dalam pertempuran tepat sasaran.

    Btw itu hanya pendapatsaya saja, mungkin ada koreksi ataupun pencerahan dari WARJAG yang lainnya.

    Trims…

    •  

      ALAC jangkauan efektifnya hanya 300 m, bung. Infantri yang nembakin rudal harus punya nafas panjang agar bisa kabur secepat-cepatnya kalau rudal gagal melumpuhkan main battle tank ….

      •  

        Sehubungan dengan niatan koreksi anggaran militer kita, kalau saya sih berfikir ke alutista yang efektif dan sudah botol pulpen.
        Mungkin saya lebih memilih JEVELIN blok 3 atau Komet.
        Btw jarak 300 meter dalam medan perang itu sama saja uji nyali bro…
        Sebagai pedbandingan jika butuh sniper tank maka kita butuh yang lebih dari yang rangenya 500 meter.
        SPR 2 made in Pindad saja range tembaknya hingga 2000 meter dan yang di bidiknya adalah prajurit lawan dan kendaraan tempur ringan.
        Kalau yang ini TANK dengan body armor yang wahh seperti Tank Leo kita mungkin akan berakibat memar ringan saja.

      •  

        Anda benar bung…
        Jarak efektifnya hanya 300 meter dan saya menuliskan 500 meter itu hanya oerkiraan jangkauan terjauhnya yang sudah tentu kurang efektif.

        Btw ada yang aneh dari TNI jika ALAC ini tetap di beli oleh mereka.
        Hal tersebut dikarenakan TNI AD kita sudah memiliki JEVELIN Blok 1.
        Menurut saya pribadi antara JEVELIN dengan ALAC ibarat langit dan bumi.
        Terlebih lagi dengan 300 meter jarak efektifnya, itu sama saja seperti uji nyali untuk prajurit kita.

        Jika memang niatan kitamembeli roket anti tank mengapa tidak membeli product yang sudah botol pulpen?

        Jika memang niatan TNI kita membeli alutista (peluncur roket gendong untuk menghancurkan tank) mengapa tidak membeli yang rangenya dekat?

        SPR 2 Made In Pindad saja range maksimalnya 2000 meter dan jarak efektifnya -+ 1800 meter dapat menghancurkan tank kelas ringan.
        ALAC dengan jarak 300 meter mau menghancurkan tank kelas apa?
        Apa hanya khusus menghancurkan tank sekelas Scorpion?

        •  

          Gue denger Brazil masih coba tawarin tuh rudal ke Meksiko. Kabarnya Indonesia masih dalam tahap rencana pengenalan produk. Kalaupun toh ternyata diakuisisi, TNI harus putar otak masalah taktisnya. Nih rudal gak mungkin di pakai di medan terbuka. Mati konyol namanya.
          Kalau dipakai secara taktis di hutan rimba atau hutan beton sebagai bagian perang gerilya masih bisa dinalar, tapi tetep butuh prajurit “gila” karena gak mungkin tank bergerak secara independen, pasti ada infantri pengiring. Target yang berpeluang untuk dihancurkan adalah tank ringan dan armored vehicle kelas dibawahnya.

          •  

            @joss gndos

            Jawab jujur ya bang…abang denger apa baca?

            Xixixixi…..

          •  

            Hahahahaha… πŸ˜€

            Di kita kan masih banyak tentara yang extra nyali…
            Coba perhatikan tentara yang baru lulus pendidikan…
            Mereka lebih galak dari pangkat sersan ataupun letnan.
            Btw kalau di pakai di hutan mekangnya bisa belok muterin batang pohon?
            Tetap saja bro…
            Jarak rendah dan manual lebih banyak kekurangannya.
            Nihh saya kasih contoh : Untuk Jevelin blok 1 milik TNI AD jarak tembaknya 20 meter hingga (kalau ga salah / gue malaa buka contekan) 2500 meter.
            Dan kesemua itu ada sistem membidiknya (tidak manual)
            Kalau ALAC saya pikir sih tidak beda jauh dengan RPG yang sering ada di film action perang.
            Belum lagi TANK yang mau di tembaknya seperti MBT LEOPARD.
            Gue yakin itu prajurit kalau bisa balik dwngan selamat ke barak saja sudah untung.
            Gue juga yakin iru prajurit pasti laporan ke komandannya lain kali bawa alutistanya yang lebih “greng”

            Kalau ALAC tetap nekat di beli menurut penikiran saya pribadi sama aaja pemborosan anggaran bwlanja militer.
            Alasannya sih yang logikanya meburut saya pribadi “DOWN GRADE DARI ALUTISTA YANG SUDAH TNI MILIKI”

          •  

            @PM : Dia baca sambil denger…

            xixixixixi… πŸ˜€ πŸ˜€

          •  

            Maaf bro tulisannya belepotan…

            Harap maklum hp saya merk semoga awet, tapi bukan buatan KW seperti mbah bowo…

            Maaf ya mbah….

            wkwkwkwkwkwk… πŸ˜€

          •  

            @ Pocong Melek

            Apa boleh buat, gue denger dari youtube sambil merem ….

          •  

            Soal pemakaian di hutan rimba atau hutan beton, bukan rudalnya yang muter tapi orangnya yang muter-muter alias mengendap-endap.
            Begitu target masauk jangkauan langsung tembak, buang casing dan

            K A B U R

          •  

            Mungkin TNI kita selain harus punya extra nyali, harus juga jago sprint mungkin juga harus di bekali ilmu langkah duaribu seperti yang bung Joss Gandoss tuliskan…

            Ane jadi ketawa sendiri nih gan…

            Asli… πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€

        •  

          si wellleeeh

  7.  

    Jangan kebanyakan beli Rudal yg di panggul ntar kasian tentaranya pada pegel tuch pundak..banyak2 yg beli sekali pencet meluncur dengan jarak 300-500 km baik diluncurkan dari pesawat tempur, kapal perang atau dari truck/kereta..btw tgl 15 Raja dan Pangeran Arab mau ke Indonesia..salah satu agendanya beli alutsista Tank Boat dari PT. Lundin dan PT. Pindad..kira2 dari PT. Pindad apa y..? Senjata SS2 series bkn..?

  8.  

    dah saatnya pt. pindat mmbuat,mengembangkn n mandiri tdk mmbeli terus senjata macam ini.

  9.  

    Masih lebih bagusan RPG-7 sama SPR-2 dari pada senjata kelas mercon gagal ini

  10.  

    rugi broo tidak dapat di isi ulang….beli senjata itu yg permanen keuntungannya dari tot amunisinya jadi dapat di isi ulang sendiri.

  11.  

    habis pake langsung buang….!!!!????
    rugi dah klw beli g ada isi ulangnya …

  12.  

    teruskan

  13.  

    Ini mah bukan lagi rudal Alac nama nya tapi sudah Alay…Emang nya ada prajurit mau mati konyol dengan jarak 300 meter lawan tank??? Kalo jadi di beli, wah TTeeerrlaallu… seperti kata bang Rhoma

  14.  

    Betul memang kalau satuan regu sampai peleton harus sudah menenteng senjata AT seperti ini, oke kita ambil contoh jumlah regu penembak milik US.Marine yang berisi 5-6 orang mereka harus ada yang bawa minimal 1 senjata AT-4CG berarti kalau begitu kita butuh ribuan senjata seperti ini untuk para prajurit… Jangan sampe Fireteam kita ngga punya senjata mumpuni buat jebolin IFV/APC sekelas Terex atau M2 Bradley Masa iya kita mau bawa bawa Javelin yang segitu berat dan berharaga nya hanya untuk satu regu ? sayang resource nya… .

    •  

      Sayang resource-nya?

      Jika di medan perang apa masih ada perinsip, “sayang resource-nya?”

      Masih ingat film Black Hawk Down?

      Hanya demi mayat / nyawa prajurit, mereka kembali.

      Btw TNI AD kita sudah mempunyai JEVELIN, untuk apa kita harus turun spek dari anti tank TNI AD kita.

  15.  

    pengen pipis

  16.  

    harusnya kitorang yang seperti ini bisa bikin itu pindad, kan kitorang ada TOT sama belgia,bikin senjata cantik buat pukul tank,kalo ini barang udah lapuknya itu teknologi dia punya. mamariki udah pake barang ginian waktu perang pietnam, yang dibawa2 sama infantri mereka orang,…sekarang kita masih mikirin beli yg lapuk kayak begini rupa…Ai mak jaaang,…macam mana ini, harusnya kita punya tentara bagus jadi paling tidak pake kornet untuk pukul itu tank, kalo ini barang cuma bisa gelitik gelitik aja itu tank,…macam mana kitorang mau menang perang,..Ai mak jaaang…

  17.  

    TNI udah punya banyak jenis senjata seperti ini. Senjata ini tdk relevan dgn kebutuhan TNI/Negara di saat ini. Yg sangat dibutuhkan Indonesia saat ini adalah Radar yg cover nya luas,Rudal pertahanan udara menengah/jauh utk memback up jumlah pesawat tempur yg belum memadai,dan Rudal pertahanan pesisir terutama utk penempatan di Natuna.

  18.  

    Untuk masalah pembelian senjata,Indonesia patut mencontoh Vietnam,mereka sangat smart dalam memilih dan membeli alutsista yg harus diprioritaskan pengadaannya.

  19.  

    cukup senapan runduk yang nembus baja buatan pindad,daripada barang itu (ALAC).

  20.  

    300 mm tembus???…ah yang bener aja.

 Leave a Reply