Grafiti Indonesia di Gunung Fuji (intermeso)

56
180
Grafiti tulisan "Indonesia" di Gunung Fuji Jepang
Grafiti tulisan “Indonesia” di Gunung Fuji Jepang

Pejabat KBRI Tokyo mengaku telah mengetahui adanya grafiti kata “Indonesia” dan tanda panah penunjuk di jalan pendakian Gunung Fuji. Mereka menyebut tidak ingin terburu-buru mengatakan jika pelakunya merupakan warga Indonesia.

Demikian isi siaran pers pada Minggu, 10 Agustus 2014 dari KBRI Tokyo. Perwakilan KBRI mengatakan kasus coret-coret di Gunung Fuji, juga telah disorot oleh media Jepang antara lain Fuji TV dan fnn-news.com edisi Jumat kemarin.

Untuk menyelidiki kasus ini, KBRI Tokyo telah menghubungi Koordinator Gunung Fuji, Kosaka Ishio.

fuji1

“Kenyataan adanya corat-coret pada batu di Gunung Fuji yang dianggap suci oleh masyarakat Jepang itu ada dan memang benar. Tapi pihak koordinator Gunung Fuji belum memiliki bukti hal itu dilakukan oleh WNI,” tulis KBRI Tokyo.

Oleh sebab itu, lanjut perwakilan KBRI Tokyo, mereka belum akan mengambil sikap dan mengeluarkan pernyataan apa pun kepada Pemerintah Jepang terkait aksi vandalisme itu.

Pernyataan serupa juga disampaikan oleh Dubes RI untuk Kerajaan Jepang, Yusron Ihza Mahendra. Dia tidak akan gegabah dan bertindak prematur atas persoalan tersebut.

“Jika akan mengeluarkan pernyataan maaf, pernyataan itu perlu dirancang dengan baik. Termasuk pilihan untuk maaf itu sendiri. Tapi sebelum itu, duduk persoalannya harus diketahui secara jelas dulu,” ungkap Yusron.

Oleh sebab itu, Yusron masih menunggu laporan dari pengelola Gunung Fuji dan baru akan mengambil langkah tepat dan proporsional.

“Jika tidak ada bukti bahwa grafiti itu dilakukan oleh WNI atau jika hal itu dilakukan oleh pihak ketiga, maka permohonan maaf tentu akan menjadi tidak relevan,” imbuh Yusron.

Sebelumnya laman Japan Today edisi Jumat kemarin melaporkan adanya grafiti yang ditemukan di empat lokasi titik pendakian menuju Gunung Fuji pada akhir Juli kemarin. Dua di antaranya merupakan grafiti bertuliskan “Indonesia” berwarna oranye dan terdapat penunjuk panah berwarna putih.

Gunung Fuji yang dianggap sakral oleh penduduk Jepang
Gunung Fuji yang dianggap sakral oleh penduduk Jepang

Sementara pejabat Prefektur Shizuoka mengatakan grafiti lainnya bertuliskan “Oosis Rudai” berwarna merah. Grafiti kedua ditemukan di ketinggian 3.600 meter di atas permukaan laut.

Aksi vandalisme itu diketahui setelah petugas melakukan patroli jalan pendakian menuju ke gunung tersebut. Grafiti ditemukan di titik masuk tujuh dan sembilan serta dua area lainnya.

Gunung Fuji termasuk ke dalam daftar warisan budaya UNESCO, sehingga tindakan kriminal apa pun dapat membawa konsekuensi pelaku dibui hingga lima tahun atau denda senilai 300 ribu Yen atau Rp34 juta.

Pejabat berwenang mengaku telah membersihkan grafiti itu pada Jumat kemarin. (vivanews.com).

56 KOMENTAR

    • memang blm tentu org indonesia, tp jika dilihat realita di dlm negeri, coba lihat di area pendakian, bukankah byk corat-coretnya? belum lagi di byk wisata alam lainnya. maka dr itu hentikan kebiasaan buruk ini, agar kita2 yg tdk tahu persoalan nggak kena pulutnya.

    • Saya biasanya backpacker bung freaxout, sebelum pergi biasanya cari wejangan dulu sama mbah google utk info tiket murah, hotel sampai hostel murah supaya irit dan bisa kita alokasikan utk lihat lokasi wisata lebih banyak dari pada bayar hotel mahal2 cuma utk di tidurin malam aja.

  1. Alah ga perlu di besar”kan..buktinya az blm ada , selidiki az dulu..!!! Bisa az orang yg ga suka sama indonesia yg bikin fitnah…jepang az dah nyoret” bangsa ini bukan dg tinta,malah dg bom,senapan selama 3,5 tahun malah coretanye ga bisa hilang lagi sampe akhir zaman…!!

    ….NKRI HARGA MATI…

  2. jepang kaga akan marah kalau memang orang indonesia yg bikin coretan, sebab jepang juga bikin banyak coretan dalam sejarah republik indonesia, mereka menulisnya bukan dengan cat atau tinta tapi dengan darah, ngapain kita meributkannya…. kejahatan jepang terhadap indonesia jauh sangat besar alias super besar

    • setuju, berapa nyawa tuh waktu romusha? belum lagi korban2 kejahatan seksual. belum lagi korban2 alat perang mereka? kalau memang orang indonesia pelakunya sebaiknya jepang ga usah terlalu ribut, dulu berapa banyak gadis2 yg mereka rusak kesuciannya oleh tentara bengis jepang?