Aug 102014
 
Grafiti tulisan "Indonesia" di Gunung Fuji Jepang

Grafiti tulisan “Indonesia” di Gunung Fuji Jepang

Pejabat KBRI Tokyo mengaku telah mengetahui adanya grafiti kata “Indonesia” dan tanda panah penunjuk di jalan pendakian Gunung Fuji. Mereka menyebut tidak ingin terburu-buru mengatakan jika pelakunya merupakan warga Indonesia.

Demikian isi siaran pers pada Minggu, 10 Agustus 2014 dari KBRI Tokyo. Perwakilan KBRI mengatakan kasus coret-coret di Gunung Fuji, juga telah disorot oleh media Jepang antara lain Fuji TV dan fnn-news.com edisi Jumat kemarin.

Untuk menyelidiki kasus ini, KBRI Tokyo telah menghubungi Koordinator Gunung Fuji, Kosaka Ishio.

fuji1

“Kenyataan adanya corat-coret pada batu di Gunung Fuji yang dianggap suci oleh masyarakat Jepang itu ada dan memang benar. Tapi pihak koordinator Gunung Fuji belum memiliki bukti hal itu dilakukan oleh WNI,” tulis KBRI Tokyo.

Oleh sebab itu, lanjut perwakilan KBRI Tokyo, mereka belum akan mengambil sikap dan mengeluarkan pernyataan apa pun kepada Pemerintah Jepang terkait aksi vandalisme itu.

Pernyataan serupa juga disampaikan oleh Dubes RI untuk Kerajaan Jepang, Yusron Ihza Mahendra. Dia tidak akan gegabah dan bertindak prematur atas persoalan tersebut.

“Jika akan mengeluarkan pernyataan maaf, pernyataan itu perlu dirancang dengan baik. Termasuk pilihan untuk maaf itu sendiri. Tapi sebelum itu, duduk persoalannya harus diketahui secara jelas dulu,” ungkap Yusron.

Oleh sebab itu, Yusron masih menunggu laporan dari pengelola Gunung Fuji dan baru akan mengambil langkah tepat dan proporsional.

“Jika tidak ada bukti bahwa grafiti itu dilakukan oleh WNI atau jika hal itu dilakukan oleh pihak ketiga, maka permohonan maaf tentu akan menjadi tidak relevan,” imbuh Yusron.

Sebelumnya laman Japan Today edisi Jumat kemarin melaporkan adanya grafiti yang ditemukan di empat lokasi titik pendakian menuju Gunung Fuji pada akhir Juli kemarin. Dua di antaranya merupakan grafiti bertuliskan “Indonesia” berwarna oranye dan terdapat penunjuk panah berwarna putih.

Gunung Fuji yang dianggap sakral oleh penduduk Jepang

Gunung Fuji yang dianggap sakral oleh penduduk Jepang

Sementara pejabat Prefektur Shizuoka mengatakan grafiti lainnya bertuliskan “Oosis Rudai” berwarna merah. Grafiti kedua ditemukan di ketinggian 3.600 meter di atas permukaan laut.

Aksi vandalisme itu diketahui setelah petugas melakukan patroli jalan pendakian menuju ke gunung tersebut. Grafiti ditemukan di titik masuk tujuh dan sembilan serta dua area lainnya.

Gunung Fuji termasuk ke dalam daftar warisan budaya UNESCO, sehingga tindakan kriminal apa pun dapat membawa konsekuensi pelaku dibui hingga lima tahun atau denda senilai 300 ribu Yen atau Rp34 juta.

Pejabat berwenang mengaku telah membersihkan grafiti itu pada Jumat kemarin. (vivanews.com).

  56 Responses to “Grafiti Indonesia di Gunung Fuji (intermeso)”

  1. Premium?

    • memang blm tentu org indonesia, tp jika dilihat realita di dlm negeri, coba lihat di area pendakian, bukankah byk corat-coretnya? belum lagi di byk wisata alam lainnya. maka dr itu hentikan kebiasaan buruk ini, agar kita2 yg tdk tahu persoalan nggak kena pulutnya.

      • Assalamualaikum wr.wb
        yang susah bila yang melakukan pihak ketiga 🙂
        lebih tepat menunggu konfirmasi dulu saja 🙂
        ada baiknya pemerintah Jepang memasang kamera pengintai 🙂
        kalau salah ya maaf 😀
        maaf oot 😀

  2. Nyimak babaranya

  3. keduax

    malu malui yer…

    • Belum tentu orang indonesia, bisa jadi orang yang ga suka indonesia hingga mendiskreditkan NKRI. Bisa jadi jiran yg ga suka ? Kalau asal menyalahkan gampang, karena omongan ga pakai materai. Pihak jepang pun belum komplain tuduh kita kok.

  4. salah satu Kebiasaan buruk orang indonesia.. Hehee .

  5. harus diselidiki lebih lanjut, kalau tidak nama baik indonesia dimata jepang akan tercoreng

  6. krennnn

  7. waduh@@

  8. itumah bukan graviti kalo grafiti kan bagus ada seninya lha itu. apa yah namanya vandalisme ato apa yah

  9. bikin malu negara…saya ga habis pikir yang kaya begini koq bisa ngaku pecinta alam..itu palingan buang sampah juga sembarangan

  10. ealah kebiasaan ngga baca dulu. vandalisme. maap

  11. iya lupa kan tahun depan ke jepang bebas visa, apa ngga tambah parah tuh. apa sengaja biar ngga jadi hehehe. masak ginian konspirasi halah ni otak

  12. Hadeww…..!!!

  13. bung gunung jati katanya kesana yah taun depan. pingin euy cuman pernah ke korea waktu piala dunia dulu. di jepang mahal nginepnya

    • Saya biasanya backpacker bung freaxout, sebelum pergi biasanya cari wejangan dulu sama mbah google utk info tiket murah, hotel sampai hostel murah supaya irit dan bisa kita alokasikan utk lihat lokasi wisata lebih banyak dari pada bayar hotel mahal2 cuma utk di tidurin malam aja.

  14. jepang yang menghina dinakan bangsa dan negara RI selama masa penjajahan seolah tak ada dosanya..
    batu di coret gitu aja ributnya minta ampun…

    • karena orang Indonesia tidak pernah meributkan hal-hal kecil (tapi esensial) seperti ini makanya selalu kumuh, kotor dan gak maju-maju. apalagi ini tempat sakral, terlepas apapun keyakinan mereka.
      kalau grafiti seperti ini dilakukan di Borobudur atau Istiqlal masak kita ga ribut?

      • kecil tapi serius, kita jadi bangsa gak tahu aturan karena terbiasa aturan tidak ditegakkan oleh pihak2 yang tugasnya menegakkan peraturan/hukum.

        contoh umum; pengguna lalu lintas yang santai melawan arah di jalur 1-way.

        contoh ekstrim: hingga kisbah ka’bah pun dipotong untuk suvenir (tanpa risih di depan jamaah bangsa2 lain -ka’bah tidak pernah sepi, jam 2 pagi sekalipun)…

    • BETUL ‘
      Coretan jepang yang membekas dihati masyarakat Indonesia saja masih tersisa perih,,

      Jadi Ingat hoax stupa :mrgreen:

  15. bung satrio@ penasaran hoox stupa yg kmrn..ksih bocrn dikit aj..bnyk jg bleh

    minal aidzin bung.salam.

  16. jepang menjajah kita aja gak pakai grafity bung Tedjo… masalah kecil tidak perlu diperlebar, namanya aja intermezo 😀

  17. besok2 corat coret kayak enih jangan diulangin lage, kagak bagus..

    cari batu yg besaran lage, nah gambar mural disitu..

    • harusnya jangan corat coret nama Indonesia,kalau sang “pencoret” sebenarya pintar dan cinta Indonesia mah seharusnya bikin karikatur atau gambar para pejuang pejuang yang melawan jepang dulu….hehehe salam sepuluh jari Ndan Sarkem

  18. Helm ditaruh di dengkul sebab otaknya di dengkul bang, coba kalo otaknya dalam kepala, pasti tuh helm dipakai dikepala. 😀

  19. Alah ga perlu di besar”kan..buktinya az blm ada , selidiki az dulu..!!! Bisa az orang yg ga suka sama indonesia yg bikin fitnah…jepang az dah nyoret” bangsa ini bukan dg tinta,malah dg bom,senapan selama 3,5 tahun malah coretanye ga bisa hilang lagi sampe akhir zaman…!!

    ….NKRI HARGA MATI…

  20. Jepang negara maju tpi tradisinya kuat jg y, ..
    Negara Bokep tp tradisinya kuat jg y…

  21. tul ntu bang nkri..

  22. Ga mungkin WNI laahh…boro2 ke gn. Fuji, WNI kita mah sibuk liat bokep jepun di kost2an…

  23. di detikcom ada foto bertuliskan “cla-x indonesia” pecinta alam pasti tahu ini pendaki dari mana..

  24. jepang kaga akan marah kalau memang orang indonesia yg bikin coretan, sebab jepang juga bikin banyak coretan dalam sejarah republik indonesia, mereka menulisnya bukan dengan cat atau tinta tapi dengan darah, ngapain kita meributkannya…. kejahatan jepang terhadap indonesia jauh sangat besar alias super besar

    • setuju, berapa nyawa tuh waktu romusha? belum lagi korban2 kejahatan seksual. belum lagi korban2 alat perang mereka? kalau memang orang indonesia pelakunya sebaiknya jepang ga usah terlalu ribut, dulu berapa banyak gadis2 yg mereka rusak kesuciannya oleh tentara bengis jepang?

      • Saya pernah baca kalo romusha itu atas seizin sukarno agar nippon bantu kemerdekaan RI, toh di Negari Ngayogyakarta Hadiningrat ga terjadi yg namanya romusha karna kecerdikan Raja kami waktu itu Kanjeng Sultan HB IX.
        maaf kalo salah

  25. Yang paling parah gak pake lampu sein langsung motong, klo kena kta d salahin… Padahal situ yang salah

  26. Xla x : dibaca klaten daerah solo jwa tgah.

  27. baru coretan aja di ributin jepang ni,sekitar th2003 ane nemui rombongan turis jepang mendaki di gn.lawu. dengan enaknya mereka membuang sampah /sisa makanan di jalur pendakian,mau tak ingetin ane ngk bs ngomong inggris cm bs oh no oh yes doang

  28. Seandai nya tuh grafiti ada di kubah gedung putih ,, apa yg terjadi ya … 😀

 Leave a Reply