Mar 242019
 

Saab JAS 39 Gripen

JakataGreater.com – Rafale, Super Hornet dan Gripen saat ini berada di barisan paling depan dalam kontrak milyaran dollar untuk akuisisi 114 pesawat tempur India.

Ketiga pesawat tempur tersebut menjadi favorit dibandingkan empat kontestan lain (Typhoon, F-16, MiG-35 dan Su-35)

Angkatan Udara India (IAF) telah menyelesaikan program Air Staff Quality Requirements (ASQR) dan telah memindahkan file untuk mendapatkan Acceptance of Necessity (AON) dari Kementerian Pertahanan.

Setelah ini, IAF akan mengeluarkan Expression of Interest (EOI) dan akhirnya Request for Proposal (RFP).

“Dengan pemilihan di tikungan, IAF mengharapkan untuk mendapatkan AON segera setelah pemerintah baru dilantik. IAF mengharapkan EOI akan dikeluarkan pada kuartal kedua tahun ini dan RFP pada kuartal terakhir,” kata sebuah sumber penting Angkatan Udara India.

IAF tahun lalu telah mengeluarkan Request for Information (RFI) setelah pembatalan akuisisi 126 jet tempur Rafale, dan mengubahnya menjadi 36 Rafales dalam kondisi siap terbang.

Lalu bagaimana peluang dari ketujuh kontestan pesawat tempur di mata Angkatan Udara India?

Rafale – Menurut India, Rafale sangat mahal harganya tetapi karena pembayaran satu kali untuk peningkatan khusus sesuai keinginan India telah dilakukan, maka pembelian Rafale di masa mendatang akan lebih murah harganya.

IAF yang telah menciutkan pesanan Rafale pada tahun 2012 dari 126 menjadi 36 unit, dan lebih tertarik pada jenis yang sama.

Gripen – Pesaing serius lainnya adalah Saab’s Gripen, yang merupakan pesawat tempur bermesin tunggal. Menyusul keputusan untuk membeli 36 pesawat tempur Rafale, IAF telah memindahkan proposal untuk membeli pesawat tempur bermesin tunggal, dan Gripen adalah pilihan terdepan. Namun, karena India sudah memproduksi pesawat tempur ringan dengan mesin tunggal Light Combat Aircraft (LCA) Tejas, maka kontrak dibuka untuk pesawat bermesin tunggal dan ganda.

Super Hornet F -18 – Jika India membuat keputusan untuk membeli pesawat tempur Amerika, maka itu adalah F -18 bukan F-16.

Sebetulnya, Lockheed Martin telah menawarkan pesawat tempur baru F-21. Namun, sumber di IAF mengatakan itu tidak lain hanyalah produksi ulang F-16 dengan beberapa fitur tambahan.

F-16 sudah bertahun-tahun dioperasikan oleh Angkatan Udara Pakistan (PAF), seteru India, yang mungkin sudah mempelajarai kelemahan, taktik dan teknik yang lebih baik dari India.

MiG-35 dan Su-35, sumber di India mengatakan bahwa Angkatan Udara India sebenarnya mencari pesawat tempur buatan Barat karena Su-30MKI sudah lama digunakan IAF.

Kelemahan pada pesawat tempur Rusia adalah ukurannya yang besar, sehingga India harus membuat hanggar khusus untuk Su-30MKI karena berukuran lebih besar dari pesawat lain yang digunakan India.

Selain itu rasio kemudahan servis dari SU-30MKI hanya sekitar 58 persen, yang berarti bahwa dari 100 pesawat, hanya 58 yang siap untuk diterbangkan. Sementara selebihnya menjalani perawatan atau tidak bisa terbang karena kekurangan suku cadang.

Sebenarnya harga MiG-35 dan Su-35 lebih murah daripada pesawat tempur negara lain, selain itu fakta bahwa Rusia tetap menjadi sekutu kuat India dan memiliki andil besar pada fasilitas produksi pesawat Rusia di India.

Eurofighter Typhoon, hal yang kurang menarik dari Typhoon adalah karena diproduksi secara multi-nasional – Eurofighter berada di bawah Airbus dan dimiliki bersama oleh Jerman, Italia, Inggris, Prancis, dan Spanyol, yang menurut sumber IAF mengatakan sebagai “masalah”.

The Print.int

Bagikan:
 Posted by on Maret 24, 2019