Jan 282015
 

Saudara para pembaca, kali ini akan kita bahas topik yang lagi hangat, yaitu Gripen vs Su-35, melalui beberapa skenario. Lokasi dipilih area Laut China Selatan (LCS) yang antisipasinya sebentar lagi juga akan menghangat. Namun SURPRISE kali ini Indonesia yang pegang Gripen NG melawan Su-35 China!

Gambar 1 Aksi radius J-11 (kuning) dan Su-35 (merah)

Gambar 1 Aksi radius J-11 (kuning) dan Su-35 (merah)

Lihat Gambar 1 – Bagi China, Su-35, bahkan pada bahan bakar internal saja, menawarkan keuntungan yang signifikan atas J-11 Shenyang (Su-27), yang terbatas hanya dapat terbang cepat ke tempat masalah seperti Reed Bank (lile tan) atau Scarborough Shoal (dao Huangyan) tetapi tidak punya kemampuan tinggal lama disitu. Sedangkan Su-35, mampu mencapai Natuna, dengan ekstra waktu (loiter time) di pos tersebut sangat penting bagi keinginan China untuk menghalangi tindakan Filipina atau aktor regional lainnya (Indonesia). Pesawat jarak jauh tersebut akan mampu “menunjukkan bendera” lebih lama, atau cepat mencegat pesawat Filipina (atau Indonesia) di wilayah tersebut.

Su-35 China, dengan combat radius 1700 km, tanpa drop tank dari lanud Lingshui Hainan dapat mencapai posnya di p. Natuna sembari membawa rudal BVR & WVR, atau kombinasi dengan rudal anti kapal permukaan, akan mengancam kedaulatan Indonesia. Dalam skenario ini, Su-35 juga membawa satu drop tank untuk menambah CAP loiter time menjadi 2 jam, tanpa mengurangi jumlah senjata yang dibawa.

Asumsinya, Indonesia sudah membeli Gripen NG dan menempatkannya di lanud Natuna untuk menjaga kedaulatan wilayah ZEE. Dapatkah Gripen NG ini menaklukan Su-35?

Perbandingan

(informasi disini diperoleh dari berbagai sumber: http://defence.pk/threads/comparison-among-f-22a-f-16-j-f-17-su-35-ef-2000-and-rafale-c.182172/, http://www.russiadefence.net/t1621p45-meteor-versus-rvv-bd-long-range-a2a-missile).

Aksi radius sebenarnya

Gripen NG – Menurut data dari brosur Gripen NG for the Netherlands, kapasitas Gripen NG untuk misi penghadangan adalah sejauh 460 km dan 50 menit CAP membawa load out/ external stores 2 rudal Ramjet (Meteor) BVR dan 2 rudal WVR serta satu drop tank 450 gallons. Artinya, bila membawa lebih banyak rudal akan mengurangi aksi radius dan loiter time di posisi CAP.

Su-35 – Tidak mempunyai batasan sepeti itu. Inilah kelebihan Su-35 sebagai heavy fighter dibandingkan dengan pesawat lainnya, disebut sebagai dominasi combat persistence karena punya excellent fuel fraction. Dengan aksi radius 1700 km, tanpa drop tank, Su-35 dapat membawa kombinasi rudal dan atau ECM pod, di 12 hardpoints-nya. Bila dikehendaki lebih besar waktu loiter time di posisi CAP, maka barulah membawa drop tank.

Radar dan Rudal BVR

Radar – Irbis-E punya Su-35 dapat mendeteksi RCS 3 m2 dari jarak 350-400 km. Bila disumsikan bahwa RCS Gripen NG kira-kira sama dengan Rafale, maka secara teoritis Su-35 dapat mendeteksi Gripen NG pada jarak 150 s.d. 203 km; sebaliknya Gripen NG dapat mendeteksi Su-35 pada jarak 87 s.d. 130 km.

Rudal BVRDalam sales presentation-nya, Saab selalu menampilkan rudal Meteor + Gripen NG sebagai kombinasi yang dijagokan. Dalam sejarahnya rudal Meteor dikembangkan untuk menangkal rudal Rusia RVV AE PD long range yang menggunakan ramjet. Ironisnya sebelumnya dalam urusan rudal BVR Rusia selalu mengekor USA, terlihat dalam seri RVV yang biasa disebut “Amraamski”.

Rudal Meteor berat 185 kg, panjang 3,65 m dan diameter 0,178 m, jarak jangkau brosur 100+ km. Ada yang menulis bahwa 100+ km itu artinya 180-200 km, akan tetapi mengingat berat dan dimensinya, rasanya paling hanya 150 km, atau kira-kira sama dengan AMRAAM AIM-120 D. No escape zone (NEZ) yang selalu ditonjolkan, secara teoritis adalah 40% jangkauan, jadi sekitar 60 km. Selain itu karena menggunakan ramjet, maka efisiensinya akan berkurang dengan ketinggian; ramjet menghisap oksigen yang berkurang dengan ketinggian.

Gambar 2 Meteor

Gambar 2 Meteor

Di pihak Rusia, tampaknya telah menghentikan program rudal ramjet (karena kelemahan di atas) dan menggantinya dengan program rudal baru RVV BD dan Kh-58UShE (diperkenalkan pada MAKS 2011), yang nampaknya khusus untuk PAK FA dan tapi juga dapat diusung oleh pesawat tempur lain seperti seri Flanker atau MiG :

  • Rudal udara-udara RVV BD mempunyai jangkauan 200 km. Propulsi, berat dan dimensinya yang tepat belum ada informasinya. Karena merupakan pengembangan dari R-37 maka diperkirakan berat 510 kg, panjang 4,20 m dan diameter 0,38 m. Jarak jangkaunya adalah 200 km, kecepatan Mach 4-5. Ini versi ekspor, kalau aslinya akan lebih jauh lagi jangkauannya.
  • Rudal udara-udara RVV SD, mungkin sebagai pengganti RVV AE, mempunyai jangkauan sampai dengan 110 km.
  • Sedangkan Kh-58UshE adalah rudal anti radiasi / anti AWACS, kecepatan Mach 4 dengan jangkauan sampai dengan 240 km.
Gambar 3 RVV BD

Gambar 3 RVV BD

Skenario 1

Baik China maupun Indonesia mempunyai kelemahan di pangkalan aju. Bagi China jaraknya terlalu jauh, sedangkan bagi Indonesia, lanud Ranai di p. Natuna mempunyai keterbatasan pra-sarana dan sarana. Oleh karena itu, skenario yang realistik adalah 4 lawan 4.

Su-35 China mendekati daerah ZEE Natuna dan dideteksi oleh Satrad 212 Ranai pada jarak 440 km. Gripen NG di-scramble dengan konfigurasi dilengkapi 2 rudal Ramjet (Meteor) BVR dan 2 rudal WVR serta satu drop tank 450 gallons, terbang 26 menit supercruise ke posisi dan 50 menit CAP. Apakah akan terjadi saling menembak dengan rudal BVR? Dalam skenario ini, ada 2 alternatif :

  1. China masih kuatir dengan kinerja Meteor, maka dengan cerdik 1 elemen (2 Su-35) China memanfaatkan radar Irbis E dan excellent fuel fraction-nya untuk menjaga pada jarak 200 km, sedangkan 1 elemen lainnya diperintahkan melambung pada radius 200 km. Semacam kucing-kucingan. Kalau ini dilakukan pada jarak >440 km maka Satrad 212 Ranai tidak bisa membantu situational awareness Gripen NG. Dengan taktik ini Su-35 memaksa Gripen NG menunggu lebih kurang 50 menit sudah “bingo” dan harus kembali ke Natuna. Pada saat yang tidak menguntungkan bagi Gripen Indonesia ini, semua Su-35 China maju dengan supercruise dan menembakkan rudal BVR RVV SD.
  2. Kalau Su-35 China misalnya sudah membawa RVV BD, maka tunggu sampai jarak 200 km luncurkan RVV BD. Gripen NG Indonesia tidak bisa membalas dengan Meteor karena jaraknya masih terlalu jauh, dan karena repot menghindari RVV BD, Su-35 China dengan leluasa dapat meneruskan dengan merge WVR, first look first kill.

Mau bagaimana lagi, skor 0 – 1 untuk China.

Gambar 4

Gambar 4

Gambar 5

Gambar 5

Skenario 2

Indonesia berpikir keras bagaimana mengalahkan Su-35 China. Mau beli F-22 tidak mungkin, beli PAK FA masih 4 – 5 tahun lagi. Ada yang mengusulkan coba lihat di blog JKGR, oh iya kenapa tidak beli Su-35 saja. Meskipun menggunakan pesawat yang sama, tapi Indonesia punya keuntungan yaitu teater operasinya masih di atas wilayah kita Natuna, sedangkan bagi Cina sangat jauh pada batas luar combat radius Su-35. Faktor ini ditambah penggunaan taktik yang tepat dapat mengungguli China.

Namun pada akhirnya setelah tahu kita beli Su-35, politik China di LCS berubah haluan. Dia setuju Code of conduct yang diusulkan oleh Indonesia/ ASEAN. Damai di dunia!

Kesimpulan

Dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :

  1. Keduanya Su-35 dan Gripen NG adalah pesawat yang bagus sesuai tupoksinya masing-masing.
  2. Keunggulan Su-35 terhadap pesawat lain terutama adalah pada (a) combat persistense (fuel fraction, combat radius dan loiter time), (b) radar Irbis E dengan power aperture kira-kira sama dengan F-22, dan (c) kinematika (TVC 3D). Kalau ECM-nya kira-kira sama.
  3. Dengan munculnya RVV BD, RVV SD dan rudal lain yang khusus dikembangkan untuk PAK FA/ FGFA (yang juga dapat dibawa oleh seri Flanker dan MiG), maka nampaknya telah muncul kembali krisis missile gap di pihak Barat.
  4. Pembelian alutsista yang tepat dapat berpotensi meredam krisis regional, bukan sebaliknya.

Penutup

Semua di atas dapat dianggap sebagai khayalan imho penulis, meskipun juga sebagian berdasarkan pada fakta geografis, spesifikasi masing-masing pesawat dan rudal.

Terima kasih telah membaca. (by Antonov).

  303 Responses to “Gripen vs Su-35”

  1.  

    cerdas.

  2.  

    Saya mau menambahkan untuk selalu menyeimbangkan kekuatan tempur kita baik dari Barat dan Timur terlepas dari pengintegrasian sistem pertahanan darat, laut dan udara. Memang pengintegrasian kekuatan pertahanan secara terpadu adalah hebat. Namun, apabila rasa kekuatan tempur kita hanya rasa satu blok saja, maka akan cukup riskan di masa depan bila situasi politik kawasan maupun global telah berubah. Terutama menyangkut wilayah ujung timur negara kita jika di masa depan kemampuan produksi mesin tempur kita belum berdikari secara sempurna.

  3.  

    ada hal janggal yang saya rasakan,
    1. mesin tunggal dibandingkan dengan mesin ganda?
    2. membandingkan embargo rusia yg belum pasti dengan embargo barat yang sudah kita alami dan mungkin akan ada jilid selanjutnya?
    3.dll, dll, dll
    percuma dong beli grippen yang katanya aman embargo suku cadangnya ada sampai berapa ratus tahun kalo pesawat tetangga lebih gahar. bisa jadi sebelum di upgrade udah jatuh kelaut duluan.hahaha
    sedikit beralih kalo rusia rawan embargo, gimana nasib lontong ghaib kita? maaf cuma pecinta indonesia

  4.  

    “Sukhoi dan kawan-kawannya tidak dapat diintegrasikan dengan jaringan radar kohanudnas yang notabene sebagian besar buatan barat dan sudah pasti tidak akan bisa di integrasikan dengan AWACS barat”

    kenyataannya su-30mki india dengan awacs phalcon bisa bertukar datanya. selama ada dana, pihak ketiga seperti thales, saab atau negara timur tengah bisa menyatukan datanya.

    •  

      Avionik Su-30 MKI India buatan mana bung Alugoro? Dan kenapa mereka memilih custom dari luar, kenapa tidak ori dari pabrikannya saja? Bicara dana, apakah kemampuan pendanaan Indonesia sekuat India sehingga bisa santai saja menghamburkan uang untuk coba-coba? cmiiw

    •  

      Avionic untuk Su-30MKI buatan Perancis. Kabarnya ini menjadi template untuk setiap Sukhoi Su-30 Canards yang lain.

      Su-30MKM, Su-30MKA, dan Su-30SM (60 unit dibeli sendiri oleh AU Russia), semuanya memakai avionics yg sama.

  5.  

    Mohon pencerahaan? Apakah mutlak setiap pembelian alutsista harus disertai TOT? Jika kita mau beli pespur yg tiga klas, semuannya apa harus dengan TOT? Apa kita sudah punya blue frame teknologi dari alutsista yg perlu di TOT kan? Mohon maaf jika salah kata

  6.  

    Setuju dengan bung @STMJ.

    Terima kasih banyak atas pencerahannya!
    Bung STMJ sudah memberikan banyak informasi yang menambah pengetahuan semua pembaca.

    SAAB Gripen akan menjadi pilihan yang terbaik untuk Indonesia.
    Pembelian Gripen berarti 100% kedaulatan dan kemandirian pertahanan Indonesia akhirnya akan berada di tangan kita sendiri.

    Sepuluh tahun setelah Gripen pertama mendarat di tanah air, seluruh rakyat Indonesia akhirnya akan menyebut kalau ini adalah “pesawat kita”.
    Ini adalah “Gripen Indonesia”,
    bukan lagi pesawat “buatan Swedia”, “buatan Amerika”, “buatan Korea”, atau “buatan Russia”.

    Kenapa harus takut dengan sehebat apapun pesawat yang dipakai negara tetangga (seperti skenario di artikel ini)?

    Gripen-E/F di tangan pilot Indonesia yang sudah terlatih baik, dan didukung oleh sistem pertahanan yang cerdas, dan terpadu, akan dengan mudah dapat mengalahkan semua ancaman dari luar.

    Salam

  7.  

    percaya ga indonesia bisa beli SU35 ,minimal 12 tyap tahun?? jumlah penduduk =250 juta,,,,okelah itungannya 200 juta saja dg menyampingkan manula dan ABU ,jika tyap miggu semua rakyatnya memenuhi kewajiban menyumbang 2000 rupiah saja?? ,200 juta X 2000=200.000.000.000 X4= 800.000.000.000. . . . .kalo ini dijadikam kebijakan pemerintah,indonesia bisa menyaingi india..india berhasil dg sistem ini,,yakni pajaknya dilebihkan sedikit,tapi karna penduduknya banyak sedikit itu jadi besar,,dan dilebihkannya pajak itu khusus untuk anggaran militer mereka..

  8.  

    LAUT CHINA SELATAN ADALAH ARENA TEMPUR PARA SHUKOI, JANGAN COBA2 IKUT! :mrgreen:

  9.  

    The world has changed a bit. Operation Allied Force in 1999 presaged the air campaigns of the 2000s, when targets were soft but hard to find, and harder yet to pick out of the civilian environment. We can say little for certain about the nature of future conflict, except that it is likely to be led by, and revolve around, intelligence, surveillance and reconnaissance (ISR). For the individual pilot, sailor or soldier, that translates into situational awareness.

    Demographics and economics are squeezing the size of the world’s militaries—nations with more than 100 combat aircraft are few and becoming fewer. There are no blank checks for overruns.

    Much of the technology of 1995, let alone 1985, has a Flintstones look from today’s perspective. (My 1985 computer boasted 310 kb. of storage and communicated at a screaming 300 bits per second.) Software is no longer what makes machines work; an iPhone is hardware that is valued because of the apps that it supports. This technology is characterized by development and deployment cycles measured in months. In aerospace, the lead in materials and manufacturing has gone to the commercial side.

    The conundrum facing fighter planners is that, however smart your engineering, these aircraft are expensive to design and build and have a cradle-to-grave product life that is far beyond either the political or technological horizon.

    The reason that the JAS 39E may earn a Gen 6 tag is that it has been designed with these issues in mind. Software comes first: The new hardware runs Mission System 21 software, the latest roughly biennial release in the series that started with the JAS 39A/B.

    Long life requires adaptability, both across missions and through-life. Like Ed Heinemann’s A-4 Skyhawk, the Gripen was designed as a small aircraft with a relatively large payload. And by porting most of the software to the new version, the idea is that all C/D weapons and capabilities, and then some, are ready to go on the E.

    The Swedes have invested in state-of-the-art sensors for ISR and situational awareness (AW&ST March 17, p. 28), including what may be the first in-service electronic warfare system using gallium-nitride technology. It’s significant that a lot of space is devoted to the identification friend-or-foe system. Good IFF is most important in a confused situation where civilian, friendly, neutral, questionable and hostile actors are sharing the same airspace.

    Sweden’s ability to develop its own state-of-the-art fighters has long depended on blending home-grown and imported technology. Harvesting technology rather than inventing it becomes more important as commercial technology takes a leading role and becomes more global. The JAS 39E engine is from the U.S., the radar from Britain, and the infrared search and track system is Italian. Much of the airframe may be built in Brazil.

    However, what should qualify the JAS 39E for a Gen 6 tag is what suits it most for a post-Cold War environment. It is not the world’s fastest, most agile or stealthiest fighter. That is not a bug, it is a feature. The requirements were deliberately constrained because the JAS 39E is intended to cost less to develop, build and operate than the JAS 39C, despite doing almost everything better. As one engineer says: “The Swedish air force could not afford to do this the traditional way”—and neither can many others.

    It’s an ambitious goal, and it is the first time that Sweden has undertaken such a project in the international spotlight. But if it is successful, it will teach lessons that nobody can afford not to learn.

  10.  

    Royal Thai Air Force (RTAF) Wing Commander Nattavut Duangsungnaen briefs Jessee Dorset of ABC Channel2 about Gripen and talks about his experience at Exercise Pitch Black 2014.

    “We have to fly very far and we have to stay in the air for quite a long time. Without the three fuel tanks, we cannot fly that long,” explains Commander Duangsungnaen while giving a rundown of Gripen parts to the ABC journalist.

    http://www.gripenblogs.com/Lists/Posts/Post.aspx?ID=983

  11.  

    salesman grippen…kenapa ga dicoba aja su35 vs grippen di adu?? atau paling tdak su30 dehh…diatas kertas sukoi unggul.. jangan lupa,,BUAT apa beli burung pipit hanya untuk dijadikan sarapan F35 ..

  12.  

    ok, eforia orde lama, saat barisan alutsista tni buatan uni soviet “gentarkan dunia” …
    tapi segera benturkan kepala anda dan segera sadari duit negara bukan untuk berboros boros ria.
    dengan tekonologinya (Barat, yah mau ga mau baca lagi benturkan kepala anda dan bilang kiblat teknologi kita mmg dari barat, lu suka pa ga! apa lu yang siap maintenance pesawat rusia dengan teknologinya??) dan opsi ToT, Gripen pilihan terbaik kita.

  13.  

    Sebagai penutup trit ini saya copy kan kalimat indah dari Pak Haji Jagpane :

    “Sesungguhnya teknologi Sukhoi adalah “mata rantai” yang terputus yang tidak bisa masuk dalam bingkai pantauan dan remote barat. Contoh dekatnya ketika kita diundang untuk membawa Sukhoi ke Pitch Black di Australia beberapa tahun lalu, pesta penyambutan khusus untuk tamu yang bernama Sukhoi sangat luar biasa, diikuti “rekam jejaknya” sejak masuk perairan Darwin. Mereka haus dengan informasi dan postur Sukhoi. Segala manuver diamati ketat termasuk dalam seri-seri latihan tempur di even yang diikuti AS dan Singapura itu. Jangan lupa mesti sifatnya latihan sesungguhnya shohibul bait sedang mengintip ketangguhan sekaligus kelemahan pesawat tempur Sukhoi untuk kemudian disimpan dalam bank data militer Australia. 💡

    Makanya mata rantai yang terputus itu justru menjadi kelebihan jika kita memilih Sukhoi. Paling tidak membuat rasa penasaran dan menebak-nebak kehebatan dan kelemahan teknologi Sukhoi terkini, sudah menjadi beban pikiran ahli strategi militer negara sekutu. Sebaliknya jika kita memilih F16 atau teknologi barat jelas “rekam jejaknya” bahkan remotenya sudah tersimpan di bank data militer AS. Kita perlu menambah kuantitas dan kualitas jet tempur Sukhoi, kalau hanya berharap dari 1 skuadron yang dimiliki saat ini jelas masih kurang”. 😎

    http://analisisalutsista.blogspot.com/2015/02/detik-detik-memilih-jet-tempur.html

  14.  

  15.  

    tes

  16.  

    Testing

  17.  

    Testing 2

  18.  

    testing 3

  19.  

    Stlh membaca semua di laman ini, mnrt saya komentar bung STMJ adalah ‘tulisan’ yg TERBAIK

  20.  

    INDONESIA DARURAT GRIPEN VS SU35 TYPE DESTROYER !!!!
    #400KOMEN !!!! HANYA UNTUK MEMBAHAS GRIPEN !!!!! WHAT THE HELL !!!!!! ?????
    #masaJayaJktgr

 Leave a Reply