Jan 292019
 

JakartaGreater.com – Angkatan Laut AS atau US Navy pada tanggal 26 Januari 2019 telah menugaskan sebuah kapal perusak rudal baru, USS Michael Monsoor, seperti dilansir dari laman National Interest pada hari Senin.

Diberi nama seperi anggota SEAL yang menerima penghargaan anumerta “Medal of Honor” untuk tindakannya di Irak pada tahun 2006, Monsoor adalah yang kedua dari 3 kapal kelas Zumwalt.

Sekarang, dengan dua perusak rudal kelas Zumwalt, Angkatan Laut masih berjuang untuk mencari tahu apa yang harus mereka lakukan dengan kapal perusak tersebut. Angkatan Laut berencana untuk menempatkan ketiga kapal perusak tersebut di San Diego.

Mereka bisa menjadi kapal perang permukaan khusus, atau berlayar sendiri atau mungkin dalam kelompok kecil kapal perang lain untuk memburu kapal perang musuh. Mereka juga dapat bergabung dengan skuadron eksperimental yang sedang dipertimbangkan Angkatan Laut AS dalam rangka mengembangkan taktik untuk kapal dan robot baru.

Dan masih ada kemungkinan bahwa Zumwalt dapat melakukan misi yang mereka rancang, menyelinap dekat ke pantai untuk membombardir pasukan musuh dalam persiapan untuk serangan amfibi oleh Marinir AS.

Terlepas dari pertimbangan dimana Zumwalt itu akan berakhir, perjalanan selama 20 tahun mereka ke dalam layanan garis depan telah menjadi “rumit”.

Pengerjaan kelas Zumwalt dimulai pada tahun 1990-an. Tujuannya waktu itu adalah untuk mengembangkan kapal besar, bersenjata lengkap dan sangat bisa bertahan. Selama dekade itu konsepnya pun berubah. Dengan Angkatan Laut yang lebih fokus pada perang di dekat pantai, Zumwalt berevolusi menjadi kapal pendukung tembakan yang tersembunyi dengan meriam 155 milimeter yang kuat.

Biaya naik tajam. Angkatan Laut memangkas pesananan kelas Zumwalt dari 32 unit menjadi hanya 3 unit saja. Tetapi mahalnya litbang berkontribusi kepada biaya per kapal yang sangat besar, hampir $ 8 miliar per unit, yang mana empat kali lipat dari biaya kapal perusak kelas Arleigh Burke terbaru.

Zumwalt dilengkapi fitur lambung “tumblehome low-signature”. Sel peluncur misil mereka berada di sepanjang lambung bagian luar dan berfungsi ganda sebagai pelindung. Kanon 155 milimeter mereka lebih kuat daripada model 127 milimeter di kapal permukaan lainnya dan dapat menembak lebih jauh.

Tetapi kapal memiliki masalah lainnya di samping biaya yang tinggi. Senjata mereka tidak kompatibel dengan amunisi standar milik Angkatan Laut AS. Upaya untuk mengembangkan amunisi yang dipandu secara akurat dan presisi telah gagal karena rendahnya permintaan ini mengakibatkan bengkaknya biaya produksi. Pada awal tahun 2019, kedua perusak Zumwalt kekurangan amunisi untuk senjata mereka.

Dengan panjang 610 kaki dan bobot 16.000 ton, Zumwalt sangat lapang, menjadikannya kandidat utama untuk peningkatan. Mereka membanggakan sistem kelistrikan yang canggih. Tanda tangan radar yang lebih rendah daripada kapal sejenis lainnya.

Bertujuan untuk memanfaatkan ketiganya begitu mereka semua dalam pelayanan, pada awal 2018 Angkatan Laut AS meminta uang kepada Kongres untuk mengubah Zumwalt menjadi “ship-killer” alias pembunuh kapal. Dana $ 90 juta akan digunakan untuk integrasi rudal SM-6 dan Tomahawk. SM-6 adalah rudal permukaan-ke-udara jarak jauh yang juga dapat menyerang kapal permukaan.

Pada awal 2018, Laksamana Harry Harris, yang saat itu menjabat komandan pasukan AS di kawasan Pasifik, membenarkan konversi sebagai cara untuk melawan Angkatan Laut China yang sedang tumbuh. “Saya perlu meningkatkan letalitas, khususnya kapal dan pesawat yang dilengkapi dengan sistem senjata yang lebih cepat dan lebih bisa bertahan”, menurut Harris kepada Kongres AS. “Senjata ofensif jarak jauh di setiap platform adalah keharusan”.

Dengan hanya memiliki tiga perusak kelas Zumwalt, Angkatan Laut mungkin hanya dapat mengerahkan mereka satu per satu. Di antara penyebaran, 2 kapal lain dapat berpartisipasi dalam skuadron eksperimental yang ingin didirikan cabang tersebut.

Pada Januari 2019, Laksamana Madya Rich Brown komandan pasukan permukaan US Navy, mengatakan dia ingin melakukan “eksperimen agresif” untuk mengambil keuntungan dari kapal perang dan senjata baru. Selain Zumwalt ketiga dan yang terakhir, armada permukaan berencana di tahun-tahun mendatang untuk memperoleh fregat rudal baru dan robot kapal perang besar.

Mengutip eksperimen taktis yang terjadi dalam komunitas perang ranjau Angkatan Laut AS, Brown mengusulkan untuk membentuk “skuadron pengembangan permukaan”. Idenya itu kembali ke awal 2018, ketika pejabat lain menyerukan “skuadron eksperimental” untuk bisa menyusun taktik bersama bagi kapal-kapal Zumwalt, tak berawak, Kapal Perang Littoral dan kapal perusak kelas Arleigh Burke.

“Kami membutuhkan skuadron ini untuk mengembangkan solusi atas masalah operasional yang sulit, mempercepat kemampuan peperangan baru dan dengan cepat membantu dalam pengembangan dan validasi taktik, teknik dan prosedur”, kata Brown.

Di sepanjang perjalanannya, Zumwalt akhirnya mungkin mendapatkan peluru untuk meriam berteknologi tinggi mereka. Dalam sebuah tes di musim panas 2018, sebuah kapal perusak kelas Arleigh Burke menembakkan 20 proyektil hypervelocity dari senapan 127 milimeter. Amunisi itu dirancang oleh BAE Systems, merupakan amunisi sabot, yang berarti mencakup penetrator dan casing yang terpisah dari penetrator setelah penembakan.

Dengan memperbesar casing, itu bisa memasukkan penetrator yang sama ke senjata kaliber yang lebih besar seperti senjata 155 milimeter milik Zumwalt. “Itu adalah satu hal yang telah dipertimbangkan sehubungan dengan kemampuan untuk kelas kapal perusak ini”, menurut Komando Sistem Angkatan Laut Kapten Kevin Smith. “Kami melihat peluru jarak jauh yang terjangkau, dan itulah satu hal yang dipertimbangkan”.

Peluru baru buatan BAE dilaporkan menelan biaya sekitar $ 90.000 per butirnya, kira-kira sepersepuluh dari biaya amunisi yang dikembangkan Angkatan Laut, kemudian dibatalkan, untuk kelas Zumwalt.