Jul 212017
 

Army Tactical Missile System (ATaCMS) tua. © Kopral Kihyun Kwon

Mestinya AS mengambil supremasi udara dan laut begitu saja, mampu pertahankan diri dari kemungkinan ancaman dan proyeksi kekuatan dimanapun mereka inginkan, seperti dilansir dari Defence Blog.

Tampaknya, sejumlah kalangan militer mulai khawatir bahwa terdapat kekuatan yang terus berkembang dan mengancam keadaan ini, yaitu China.

Menurut pakar militer, dalam 20 tahun terakhir ini, China telah membangun pertahanan melawan musuh potensialnya yakni AS. Untuk tujuan tersebut, China telah membangun beragam sistem senjata yang berbeda dan dirancang untuk secara efektif melawan grup serang kapal induk Amerika Serikat. Persenjataan itu termasuk rudal berbasis darat, jet tempur generasi baru dan penyebaran armada kapal selam.

Persenjataan itu dirancang terutama untuk pertahanan, tentu saja tak mungkin bagi China untuk menyerang AS dalam waktu dekat. Kekhawatiran utama adalah mengenai tindakan China di Laut China Selatan baru-baru ini yang memutuskan AS untuk campur tangan.

Respon

Meskipun bisa dikatakan mereka agak lamban untuk mengenali masalahnya, tapi sekarang tampaknya militer AS merespons hal tersebut. Tapi alih-alih melalui proses panjang yang mahal untuk menugaskan persenjataan baru, mereka lebih memilih pendekatan baru dan mendesain ulang persenjataan tua.

Kembali pada tahun 2016, Pentagon mengumumkan bahwa Army Tactical Missile System (ATaCMS) akan diajukan kembali. ATaCMS adalah rudal yang biasanya di luncurkan dari sebuah truk dengan sasaran darat, namun setelah diupgrade senjata ini akan diarahkan ke laut dan diberi sistem pemandu baru yang memungkinkan untuk melacak dan mencapai target yang bergerak pada jarak hingga 186 mil.

Tentu ini langkah yang mengagumkan. Kita menjadi terbiasa dengan cerita bertahun-tahun pengeluaran militer untuk membuat sistem persenjataan baru serta menghabiskan ratusan juta dolar untuk itu, hanya untuk mengetahui bahwa senjata yang tidak bekerja, atau telah usang dalam beberapa dekade untuk beroperasi. Memanfaatkan kembali persenjataan tua seperti ini menunjukkan pragmatisme yang menyegarkan.

Pendekatan Baru

Penggunaan kembali rudal tua juga masuk akal dari sudut pandang taktis. Sistem rudal telah digunakan secara luas di Irak dan Afghanistan serta memiliki catatan sukses yang terbukti di sana.

Hal tersebut terutama karena kemampuannya untuk mencapai target bergerak secara tepat dalam jangkauan operasionalnya, adalah sebuah fakta yang mestinya tidak mengejutkan mengingat jangkauan itu telah dikurangi agar sesuai dengan Perjanjian Kekuatan Nuklir Jarak Menengah.

Senjata “baru” itu menandai adanya pergeseran penekanan Angkatan Laut Amerika Serikat. Pertahanan anti kapal belum pernah dipikirkan Angkatan Laut AS sejak tahun 1960-an.

Sementara senapan pesisir berukuran besar masih memainkan peran sejak Perang Dunia 2, peningkatan jumlah pesawat tempur dan artileri berbasis kapal yang cepat menjadikan itu semua usang tak lama setelah berakhirnya perang. Dan dalam kasus apapun, dalam Perang Dingin musuhnya adalah Rusia dan peperangan laut pun terlupakan.

Selama bertahun-tahun, AS tidak tertandingi di lautan, namun adalah belakangan ini situasi telah berubah. Seiring perkembangan China yang telah menghabiskan sejumlah besar uang untuk Angkatan Lautnya, dan sekarang memiliki kekuatan rudal balistik konvensional yang terbesar di dunia.

China telah mengembangkan 2 jenis rudal yang dirancang khusus untuk meremukkan kapal perang Angkatan Laut AS dan pada tahun 2020 akan memiliki Armada Laut Biru yang terbesar kedua di dunia.

Menghancurkan Kapal dengan Truk

Penumpukan ini telah menyebabkan beberapa orang dikalangan militer AS khawatir bahwa mereka telah tertinggal. Saat ini, rudal anti kapal utama yang dipergunakan oleh AS adalah rudal Harpoon, yang dikembangkan puluhan tahun silam dan pasti menunjukkan umurnya.

Rudal ini beroperasi dengan terbang rendah di permukaan laut, dan dengan teknologi radar saat ini jejak panasnya dapat terlihat dengan mudah.

Sebaliknya, sistem persenjataan baru bersifat balistik, dapat naik ke ketinggian yang sangat tinggi dengan kekuatannya sendiri, dan kemudian turun menuju sasaran. Ini membuat lebih sulit untuk dideteksi, begitu juga dengan kecepatannya. Saat akan mencapai target, rudal akan melaju hingga kecepatan 3 Mach.

Menembakkan rudal anti-kapal dari sebuah truk mungkin terdengar sedikit kontra-intuitif, namun menghancurkar kapal perang dengan cara ini memiliki keuntungan besar. Pertama, tentu saja, truk jauh lebih sulit dideteksi daripada kapal perang berukuran besar.

Truk juga dapat disembunyikan dan dipindahkan setelah melakukan tembakan, sehingga pada dasarnya tidak terdeteksi oleh kapal perang musuh.

Selain itu, tak ada masalah dalam pasokan yang berbanding terbalik dengan senjata berbasis kapal. Sebuah kapal perang harus membawa semua rudal yang dibutuhkan dan hanya bisa mendapatkan lebih banyak rudal dengan berlabuh di pelabuhan dan membuatnya rentan.

Truk, tentu saja, dapat dengan mudah memperoleh lebih banyak rudal kapanpun mereka membutuhkannya.

Dan pengalihan ATaCMS ini tampaknya merupakan awal dari langkah menuju persenjataan anti kapal mobile. Militer AS diperkirakan akan mengembangkan sistem rudal anti kapal baru berbasis darat dalam waktu dekat.

Sebagai Pengganti Kapal Induk?

Sistem baru tersebut, juga bisa menimbulkan konsekuensi langsung bagi strategi militer AS saat ini. Perombakan kembali fungsi dari sistem senjata yang ada, bisa saja dilakukan dalam beberapa bulan, dan mungkin membuat gruk serangan kapal induk menjadi usang.

Masih ingat patroli yang baru saja digelar mengelilingi Laut China Selatan? Nah, grup serang kapal induk dalam jumlah besar seperti ini tentu saja mengesankan, tetapi mereka memiliki sejumlah masalah.

Mereka tentu saja bisa berada di satu tempat pada saat yang bersamaan, tetapi mereka juga mudah dihantam rudal. Mereka dapat saja membuat pernyataan yang mengesankan, tetapi mungkin bisa jauh lebih buruk daripada tidak berguna sama sekali jika ketegangan yang ada terus meningkat dan China benar-benar menyerang mereka.

Sebagai gantinya, dengan memberikan armada truk roket anti-kapal kepada para sekutu AS di kawasan Pasifik, China mungkin akan berpikir dua kali untuk bermain api dengan negara-negara tetangganya.

Bagikan:

  23 Responses to ““Hancurkan Kapal”, Cara Baru Tentara AS Gunakan Rudal Tua”

  1.  

    JakartaGreater mulai rame lagi setelah sempat sepi.
    Banyak nama-nama baru bermunculan. Nggak tau itu memang baru atau warjag lama tapi dengan nick yang baru. Yang jelas makin rame makin asik lah.

  2.  

    Hahahaha…..jgn d sebut saya nama baru bg….salam SR

  3.  

    Kekuatan China di topang dgn ekonomi yg kuat dan kepintaran mengkloning senjata AS..

  4.  

    Ada yang klonengan mbah Bowo suka pakai caps lock.

  5.  

    Rudal pertahanan pantai..

  6.  

    Om trump.. Indonesia pesen satu batalion buat jagain Natuna. hehe..

  7.  

    Mbah Bowo dan Neng Carin masih bulan madu di Natuna.

  8.  

    Saya kok masih sangsi kalo sistem balistik lebih baik dari sistem jelajah. Kalo soal kecepatan itu mungkin. Kemampuan rudal jelajah AS yg hanya masih dalam kecepatan subsonik tentu kalah dari Rusia yg rudalnya bisa Supersonik. Tapi Sistem Yakhont pun perlu terbang tinggi baru turun utk mendapatkan jangkauan jauh. Bisa jadi AS mau menerapkan cara seperti itu atau memilih sistem balistik yg mudah dalam pengaturan sistemnya. Menarik utk dilihat karena jangkauannya dekitta 297 km apalagi ini true dan bukan silo macam Bastion/Yakhont versi darat. Lebih mirip ke sistem NASAM.

  9.  

    Harus nyari info di deepweb nih barangkali dapat link bocoran info terbaru buahahaha

 Leave a Reply