Apr 042014
 

Antrian BBM. images.detik.com

Bank Dunia, ADB, Hingga BI Minta RI Naikkan Harga BBM

Jakarta -Sejumlah pihak hingga lembaga asing meminta pemerintah Indonesia mengurangi subsidi BBM yang dinilai terlalu membebani anggaran. Anggaran subsidi BBM Rp 211 triliun tahun ini, 94% dinikmati orang mampu.

Tidak tepat sasarannya subsidi BBM ini, bahkan membuat pemerintah didorong untuk menghapuskan saja subsidi BBM ini.

Lembaga internasional Bank Dunia jadi salah satu yang konsisten meminta pemerintah Indonesia mengurangi subsidi BBM. Kepala Perwakilan Bank Dunia Rodrigo Chaves mengatakan, seharusnya kebijakan pemerintah Indonesia sejalan untuk memperkuat ekonomi Indonesia. Termasuk kebijakan subsidi yang dikeluarkan seharusnya ditujukan untuk kepentingan yang mendesak.

“Harus ada penyesuaian kebijakan-kebijakan yang mencakup pengalihan belanja subsidi yang signifikan, seharusnya subsidi dialokasikan untuk kebutuhan-kebutuhan yang lebih mendesak, seperti subsidi untuk investasi dalam bidang infrastruktur, perbaikan iklum investasi, dan perbaikan pelayanan masyarakat,” ujar Rodrigo Maret 2014 lalu.

Bila pemerintah tetap memberikan alokasi BBM subsidi yang terlalu besar, menurut Bank Dunia akan menekan pertumbuhan ekonomi Indonesia.

“Jika tidak ada perubahan kebijakan khususnya alokasi subsidi, maka akan menekan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini yang kami perkirakan hanya 5,3% turun dibandingkan tahun sebelumnya pada 2013 yang mencapai 5,8% dan 6,2% pada 2012,” ungkap Rodrigo.

Bahkan Bank Dunia mendorong agar pemerintahan baru nanti hasil pemilu 2014, menaikkan harga BBM subsidi Rp 8.500 per liter.

“Menaikkan ada dua, bisa Rp 8.500 per liter, atau menaikkan harga sebesar 50%,” ujar Ekonom Utama Perwakilan Bank Dunia di Jakarta Jim Brumby.

Hal yang sama juga diminta Asian Development Bank (ADB). Lembaga asing tersebut menilai ekonomi Indonesia akan makin berat tumbuh, bila subsidi BBM masih ada, apalagi dengan anggaran alokasi yang cukup besar.

“Defisit neraca berjalan Indonesia masih cukup mengkhawatirkan, salah satunya makin besarnya anggaran subsidi BBM tiap tahun. Makin besar subsidi BBM makin berat ekonomi Indonesia untuk tumbuh,” kata Deputi Direktur ADB untuk Indonesia Edimon Ginting beberapa waktu lalu.

Edimon mengatakan, ADB bukan anti terhadap subsidi, subsidi tetap baik, asal subsidi tersebut tepat sasaran. Sementara, subsidi BBM di Indonesia dinilai tidak tepat sasaran.

“Subsidi BBM itu baiknya dialihkan untuk sesuatu yang lebih baik, mendorong ekonomi Indonesia, bukan dihapus, tetapi dialihkan ke pembangunan infrastruktur dan pendidikan,” ucapnya.

Pasalnya, harga BBM yang murah karena disubsidi pemerintah karena mendorong orang untuk berlebihan menggunakan BBM.

“Orang kalau BBM-nya murah dia cenderung boros, over consumption, tentu efeknya buruk, sudah anggaran negara terbebani, polusi dan lainnya, coba kalau dialihkan ke infrastruktur dan pendidikan, apakah kalau over infrastruktur atau over pendidikan jelek dampaknya? Tentu tidak, efeknya jauh lebih bagus,” ungkapnya.

Tidak hanya asing, di dalam negeri sendiri, Bank Indonesia masih menyoroti anggaran subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) yang masih tinggi tahun ini. Tercatat pada APBN 2014, anggaran subsidi BBM mencapai Rp 211 triliun dari total anggaran Rp 1.800 triliun.

Gubernur BI Agus Martowardojo juga mengatakan, harus ada kebijakan yang dapat mengarahkan subsidi BBM menjadi lebih efisien. Apakah itu dari sisi harga atau menahan laju konsumsi.

“Anggaran subsidi BBM dan energi masih menjadi masalah yang harus dicarikan solusinya dari tahun sebelumnya hingga sekarang,” ungkap Agus Marto.

Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara menambahkan, masalah subsidi BBM adalah pekerjaan rumah bagi pemerintah.

“Siapapun pemerintahan baru kalau tidak selesaikan energi kita akan alami kesulitan. Impor BBM makin besar. Harga batu bara nggak naik-naik. Jadi CAD (current account deficit) itu sulit untuk cepat baik,” kata Mirza.

Memang menurut Mirza sudah ada perbaikan reformasi struktural dari sektor energi dari pemerintah, tapi itu harus berkelanjutan. Bila tidak diselesaikan dengan pemerintahan sekarang, maka harus menjadi tugas pemerintahan selanjutnya.

“Kalau tidak segera reformasi energi, energi impor makin besar, susah mengatasi kalau tidak reformasi,” terangnya.

Apakah Harga BBM Harus Naik Tahun Ini? Berikut Hitung-hitungannya

 

Jakarta -Pemerintah kembali membuka kemungkinan opsi kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi pada tahun ini. Meskipun belum diketahui kapan kebijakan itu akan diambil pemerintah.

Tapi apakah kebijakan ini sangat mendesak?

Kepala Ekonom Bank Danamon Anton Gunawan menuturkan, ada beberapa ukuran yang menentukan kebijakan ini mendesak atau tidak. Namun yang utama adalah defisit anggaran.

“Kalau itu soal mendesak atau tidak harus dilihat ukurannya. Paling utama adalah kemungkinan prospek defisit anggaran. Jika lewat target bagaimana mengatasinya,” ungkap Anton kepada detikFinance, Jumat (4/4/2014)

Ia menjelaskan, tahun ini defisit anggaran dipatok sebesar 1,69%. Namun diperkirakan realisasinya defisit anggaran akan melewati target pemerintah. Sebab yang pertama ada penurunan dari sisi penerimaan.

Terdiri dari produksi minyak yang diperkirakan hanya mencapai kisaran 810 barel per hari (bph) atau di bawah target yang 870 ribu bph. Kemudian asumsi nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) yang rata-rata dimungkinkan mencapai Rp 11.500.

Penerimaan pemerintah juga akan terganggu dari sisi penerimaan perpajakan. Penyebabnya adalah penurunan harga komoditas tambang dan pemberlakuan aturan minerba dengan pelarangan bahan tambang mentah.

“Dari lifting minyak itu kita akan kehilangan sampai dengan Rp 27 triliun, kemudian pajak kemungkinan juga tidak mencapai target atau kurang 5% sekitar Rp 50 triliun. Jadi perkiraan saya ada penambahan belanja sekitar Rp 77 triliun,” paparnya.

Belanja negara sampai dengan akhir tahun adalah Rp 1.800 triliun. Anton menilai sulit bagi pemerintah untuk menghemat belanja negara. Jika pun itu dilakukan, paling besar penghematan hanya sebesar 20 triliun.

Sementara itu belanja juga akan terbebani dengan peningkatan volume dari konsumsi BBM yang sebelumnya dipatok 48 juta kiloliter (KL). Karena ada agenda pemilihan umum (pemilu).

“Konsumsi BBM yang besar itu akan menambah pengeluaran negara. Mungkin setelah ada penerimaan, pengeluaran, dan penghematan masih ada sebesar Rp 60 triliun yang harus dibiayai. Itu dibiayai dari mana,” terangnya.

“Jadi perkiraan defisit itu bisa mencapai 2,7%. Bila ditambah dengan defisit dari daerah itu ada 0,5%, artinya melewati 3%. Kalau dipaksakan dari asing itu melanggar undang-undang,” kata Anton.

Opsi yang paling mungkin dilakukan adalah kenaikan harga BBM. Misalnya dengan kenaikan sekitar 30% dari harga sekarang. Defisit yang sebesar Rp 60 triliun bisa tertutupi.

“Apalagi agenda yang bisa dipangkas? Tidak mungkin proyek-proyek dari belanja modal itu dipotong kan itu pembangunan. Caranya supaya tidak defisit membengkak ya naikkan harga BBM. Tahun ini harusnya naik,” imbuhnya. – (finance.detik.com)

  111 Responses to “Haruskah BBM Subsidi Dihapus?”

  1.  

    Kalau menurut saya BBM subsidi jangan dicabut, karena memberikan manuver masyarakat bawah utk mendptkan sesuap nasi dan kalau bisa pertamina mencabut perusahaan asing yg terus menyedot bahan bakar kita. Kalau pertamina bisa mencabut perus asing dr NKRI, maka kemakmuran jelas akan kita dptkan dan negara2 kawasan akan takluk dg BBM sdh di tangan NKRI. Pres akan datang hrs menyiapkan PERTAMINA sbg rumah sendiri………………………ma’af pen dpt wong cilik. He……………….he…………………………

  2.  

    subsidi harus dicabut, imbal baliknya pemerintah harus alihkan subsidinya untuk mensubsidi harga pupuk, bibit pertanian dan transportasi masal yang murah. KIta beli air mineral 600 ml 2500 perak bahkan dikafe bisa jadi 10000 tanpa protes kenapa harga bbm 10000 kita harus protes

  3.  

    SAYA SETUJU BANGET SUBSUDI BBM ” DICABUT “, DIALIHAKAN MENJADI, DIALIHKAN UNTUK MEMPERBAIKI INFRA STRUKTUR, KESEHATAN, PENDIDIKAN, + PUPUK.

    MANUSIA DICIPTAKAN TUHAN UNTUK MUDAH MENYESUAIKAN DIRI DENGAN ALAM, DAN EKONOMI.

    •  

      Setuju tetapi jgn terburu2 perlu diperhatikan juga dampak inflasinya, yg perlu di perbaiki segera hulunya agar tidak ada penyimpangan sehingga anggaran negara tidak terbuang sia2.

  4.  

    Harga BBM bersubsidi tidak boleh dihapuskan, karna banyak rakyat yang miskin. Emang Asing itu bikin sengsara rakyat kecil. Kami kasihan melihat dan memandang rakyat yang miskin. Klo miskin mau makan ap? dapet duit dari mana? trus hasil uang dari rakyat beli bensin di PERTAMINA bisa dikorupsi ama sbagian para pejabat dan membuka peluang berbuat korupsi. Jdi tidak terwujudkan deh membangun infrastruktur, bantu kesehatan, bantu pendidikan untuk semua rakyat miskin, karena dana bocor dan tidak mampu buat bantu rakyat miskin.

    •  

      Sebagian besar subsidi BBM yang menikmati adalah orang” kaya mas. Kalau emang dihapus, seharusnya pemerintah harus bisa mengupayakan subsidi yang bisa lebih tepat sasaran. Kalau seperti ini terus akan aburadul negara ini. 400 trilyun rupiah hanya dibakar oleh orang” kaya di Indonesia.

      •  

        bung tedjo@seandainya hanya solar yang disubsidi bgaimana?

        •  

          Kalau cara subsidinya seperti skr itu sama juga bohong mas e. Sebab banyak juga kendaraan pribadi yang menggunakan solar. Saya lebih setuju subsidi diberikan kepada angkutan umum atau perusahaan anggkutan umum serta nelayan. Sebab kalo spr sekarang jelas sangat rawan penimbunan dan penyelundupan.

  5.  

    ########################

  6.  

    Subsidi BBM harus di hapus, yang buat rakyat sengsara itu para pejabat ;v.
    Mau subsidi dicabut atau gk hasilnya tetap sama karena orang Indo itu banyak yang serakah.
    Satu keluarga punya mobil lebih dari 2 ;v.
    Negara yang maju seperti Jepang ja, mayoritas mereka punya mobil itu 1 untuk per kepala keluarga.
    klo perlu, sih kepemilikan kendaran pribadi itu di batasi jangan overdosis.
    BBM subsidi di Indonesia itu masuknya bukan ke rakyat kecil melainkan kepada mereka yang beruang.
    Tolong deh… pikir yang jelas dan berlogika.
    Harusnya,, yang diperbanyak itu kendaran masal seperti kereta api, bis dan lain. (yang nyaman tp terjangkau).
    bukan kendaran pribadi… apa2 mobil, apa2 motor.

  7.  

    menurut ane jangan di hapus gan http://www.mobimoto.net/

 Leave a Reply