Mar 192015
 
agustawestland

Kontrak pertama kali diumumkan pada acara LIMA di Malaysia adalah penjualan oleh helikopter AW139 SAR AgustaWestland untuk Badan SAR Nasional (Basarnas).

Langkawi – AgustaWestland mengumumkan telah menandatangani kontrak dengan Badan SAR Nasional (Basarnas) Indonesia, untuk pengadaan helikopter menengah bermesin ganda AW139 untuk keperluan operasi SAR. Pembelian ini mencakup pelatihan aircrew dan teknisi serta paket dukungan awal. Helikopter akan disampaikan akhir 2015 dan akan dilengkapi: rescue hoist, radar, cabin console serta peralatan SAR lainnya.

Penjualan ini merupakan tonggak penting bagi AgustaWestland di pasar helikopter publik Indonesia danmemungkinkan untuk meningkatkan kerjasama dengan industri lokal untuk mendukung tumbuhnya pasar helikopter Indonesia.

Basarnas akan mendapatkan keuntungan dari berbagai layanan dukungan untuk AW139 mereka yang disediakan oleh Indopelita Pesawat Service. Perjanjian telah ditandatangani oleh AgustaWestland dan Indopelita November lalu untuk membangun dukungan dan pemeliharaan di Indonesia. AgustaWestland baru-baru ini mencapai keberhasilan penjualan yang signifikan di Indonesia dengan AW119 mesin tunggal, GrandNew light twin engine dan helikopter menegah mesin ganda AW139 untuk keperluan berbagai misi.

Helikopter AW139 memberikan kemampuan Search and Rescue (SAR) terbaik kinerja di kelasnya, dengan kemampuan: high cruise speed (165 knots / 306 kph), long range of (up to 675 nm / 1250 km) and endurance up to 6 hours for extended search patrols. Dengan cadangan daya yang tinggi, berkat mesin turboshaft PT6-67C yang kuat, helikopter AW139 memiliki kemampuan hovering yang excellent, termasuk ketika satu mesin tidak beroperasi (OEI), bahkan di lingkungan yang panas-dan-tinggi ekstrim.

Helikopter AW139 yang besar, memiliki kabin serbaguna (8 m3 / 283 ft3) yang dapat dikonfigurasi dalam berbagai layout, dengan akomodasi untuk operasi FLIR station, perawatan medis dan persyaratan evakuasi korban. Sebuah pintu geser besar di setiap sisi kabin menyediakan akses yang luas ke kabin untuk korban dan tandu. Uniknya AW139 memiliki tambahan 3,4 m3 (120 ft3) dari kompartemen bagasi yang dapat diakses dari dalam atau luar helikopter.

State-of-the-art avionik, display kokpit yang besar, 4-axis digital autopilot (with hover mode) and full digital electronic engine control (FADEC) meminimalkan beban kerja pilot dan mengoptimalkan efisiensi operasional. Desain ergonomis AW139 menciptakan karakteristik penanganan yang sangat baik dan tingkat getaran yang rendah sehingga meminimalkan kelelahan pilot dan meningkatkan kenyamanan penumpang.

Sebuah Health Usage Monitoring System (HUMS) dan alat diagnosa tersedia untuk memaksimalkan keselamatan pesawat dan meminimalkan waktu pergerakan di darat.

Lebih dari 900 helikopter AW139 telah dijual kepada lebih dari 220 pelanggan di lebih dari 70 negara di seluruh dunia. Helikopter AW139 juga banyak digunakan untuk angkutan lepas pantai, angkutan penumpang, penegakan hukum, transportasi medis darurat, angkutan penumpang dan jasa pemadam kebakaran. (defense-aerospace.com).

Bagikan Artikel :

  36 Responses to “Helikopter AgustaWestland AW139 untuk Basarnas”

  1. PERTAMAK BROOO……

  2. Mantap

  3. Gw kmren liat tuh heli, dipake sama bos gdng grm……

  4. wihh mantab

  5. Heli AgustaWestland ini, apakah bisa di modifikasi menjadi heli anti kapal selam ……… ???

    • Agusta Westland memiliki Helikopter Anti Kapal Selam (AKS) khusus type nya AW 159. Helikopter AW159 ini merupakan pengembangan dari Embrio helikopter milik TNI AL pertama kali yakni Wass by Westland, kemudian berkembang menjadi Lynx, Super Lynx, Future Lynx (AW159). kalo untuk Helikopter AKS Agusst AW159 ini the best di kelas nya. Ga ada saingannya dan memang dirancang airfram nya sejak tahapan perencanaan khusus untuk Helikopter AKS. Helikopter AKS itu ga bisa dibuat seperti orang bangun tidur terus Ngeliat Toyota AVANZA jadi Mobil Offroad, Dia harus dirancang dan direncanakan dari awal Airframe nya akan seperti apa, Terpode akan dipasang diamana, Dipping Sonar akan dipasang dimana, FLIR camera dan Searching Radar akan ditaro dimana.

  6. basarnas bukannya dh pake dauphin tu??

    • jni upgrade dari dauphin boss

    • Lho Basarnas kan udah pakai Eurocopter AS-365 Dauphin (versi AKSnya Panther yg mau di beli TNI AL)…Kalau AgustaWestland kan Italy….maksudnya gmn ini Eurocopter (Enggris Spanyol Jerman Italy) ……Bung gajah suryo bilang upgradenya dauphin….tolong infonya bung

    • upgrade dauphin?? bsa minta infonya bung gajah??

    • ini bukan upgrade tapi beli baru, mungkin BASARNAS ga puas dengan performance DOLPHIN di kegiatan Pencarian Air Asia kemarin yang hanya mampu bawa korban satu setiap kali operasi pencarian, artinya lama nyari dan lama menyelamatkan korbannya. FILOSOFI BASARNAS adalah MENCARI SECEPAT2nya dan MENOLONG SEBANYAK2nya, jadi ya mungkin dari pada ngandelin Dolphin yang kalo engine nya mati 1 langsung ga bisa ngangkut apa2 maka BASARNAS berfikiran maju dengan membeli AGUSTA AW139 yang mampu dengan SIngle Engine masih bawa 4 korban dan 4 tenaga Medic dan masih Bisa HOVERING di ketinggian 11ribu feet. BRAVO BASARNAS !!!

  7. Aduh kenapa nggak beli di DI aja, kalau urusan Helicopter + plus modifikasi DI sudah mampu, apa karena gengsi ya…kalau dilihat bentuk nya biasa2 lalu kelebihannya dimana ya…kalau dalam negeri sdh bisa buat kenapa masih beli produk luar negeri ya…nggak habis pikir saya.

    • Kayaknya pemerintah mengambil win win solution atas gugatan AW yang kalah ma Airbus waktu pengadaan helo maritim patrol buat TNI AL kapan hari bung arjuna…

    • Setuju bung Arjuna. Lebih baik sebagian duit masuk ke DI, yang tidak kalah penting Commonality dengan heli yang sudah ada. Kalau alasan maintenance, emangnya DI bisa bikin (ataupun ngerakit) gak bisa maintenance??

    • Kayaknya karna pertimbangan double engine deh,…kan selama ini DI masih fokus di single engine… Mgkin ini merupakan langkah PT DI menuju produksi doubke engine… Maaf kalo salah

    • Dalam negri belon ada yang bisa bikin helikopter, Beli jadi Test terbang di negara asalnya trus sebelum dikirim dilepas dulu baling2nya, sampe indonesia baru dipasang lagi baling2nya trus dicat. baru sampe masang ulang baling2 dan nge cat aja kalo indonesia mampunya. Mudah2an dengan adanya helikopter2 lain yang masuk dan bekerja sama dengan Indoneia akan membuat Indonesia Melek teknologi dan mau buka diri untuk belajar, ya ujung2nya buat indonesia juga

  8. Ini bukannya produsen yang komplain karena kalah sama Panther dalam pengadaan heli ASW TNI-AL ya?
    Btw bagus juga buat Basarnas menduetkan AS-365 Dauphin sama AW 139 Westland..

  9. Semoga helikopter ini dpt menunjang kinerja tim SAR kita kedepannya.

  10. Habis lihat 2 di Wikipedia sebentar, dikatakan kalau AW139 ini lebih besar dari EC155 Dauphin dan lebih kecil dari Puma.

    IMO, sayang sekali Basarnas beli AW139. Pengamatan orang awam seperti saya, ukuran AW139 ini nanggung karena ukurannya di tengah2 antara Dauphin dan Puma. Dari kasus kecelakaan Sukhoi kemarin dan beberapa bemcana alam, Basarnas perlu heli besar seperti Puma karena kapasitas mesin dan angkut yang besar. Selain itu Basarnas akan punya makin banyak variasi pesawat, padahal, biasanya, perusahaan atau organisasi akan berusaha meminimalisasi jumlah variasi pesawatnya untik memudahkan pelatihan dan perawatan.

    IMO, Basarnas tidak harus membeli pesawat baru. Pesawat bekas juga gpp, untuk TNI uang harus baru. Sebab TNI perlu pesawat dengan jam terbang tinggi untuk operasi dan banyak latihan, kalau Basarnas kan hanya untuk keperluan darurat seperti bencana atau kecelakaan. Heli bekas ini saya inginnya beli Blackhawk atau Seahawk dan Chinnok beberapa biji. Masalah embargo todak perlu takut karena heli AS kita pakai untuk SAR saja. Kelebihan lain beli bekas, kita bisa belajar tentang Heli AS nggak cuma Eurocopter melulu dan karena beli bekas bisa dapat lebih banyak daripada baru jadi bisa menempatkan minimal 2 Helikopter di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Irian, NTT/NTB, dan Jawa.

    Jangan dimarahin ya kalau saya kasih saran beli bekas, punya AS lagi… Heheheh…

    • Maaf kalau saya dikit salah ketik. Jariku kebesaran kalau ngetik di smartphone. Hehehe…

    • …IMO, Basarnas tidak harus membeli pesawat baru. Pesawat bekas juga gpp, untuk TNI uang harus baru. Sebab TNI perlu pesawat dengan jam terbang tinggi…

      sama aja bung Tria, pada insiden airasia kemarin heli basarnas ibarat kerja rodi, bahkan heli basarnas harus sagat bagus, karena bertugas ditengah liputan / perhatian pers dunia, kebayang ironisnya jika celaka saat evakuasi korban kecelakaan…

    • mungkin Basarnas perlu helikopter bukan cuma besar tapi harus mampu landing di KAPAL KATAMARAN Basarnas, jadi Puma, Super Puma, Cougar, EC725 ga bisa kepilih karena ga bisa landing di Kapal tersebut

  11. Kok gak disebutkan berapa unit yg akan diakuisisi oleh BASARNAS, bagi salesnya AW tuh dah dikasih jatah jadi gak ada masalah kan? Masih mo nuntut ke pengadilan lagi

  12. Beli terus.. kpn buat sendiri?

  13. Sekilas mirip dauphin deh

  14. saya rasa bagus untuk menambah operasi sar dengan lebih besar daya angkutnyan dan sepertinya AW sudah dipakai juga sama Susi Air

    • bukan cuma lebih besar daya angkutnya, AW139 ini kalo baca di Data Teknis nya sudah memenuhi stndard ato sertifikasi keamanan internasional, sampai2 urusan tempat duduk aja dia ada crassworthy Certificate.

  15. pilot dan teknisinya sudah dikirim ke agusta westland training center di italy dan malaysia, crew untuk AW-139 diambil dari TNI-AU, sedangkan crew Dauphin dari TNI-AL

 Leave a Reply