Helikopter AgustaWestland AW139 untuk Basarnas

36
172
agustawestland
Kontrak pertama kali diumumkan pada acara LIMA di Malaysia adalah penjualan oleh helikopter AW139 SAR AgustaWestland untuk Badan SAR Nasional (Basarnas).

Langkawi – AgustaWestland mengumumkan telah menandatangani kontrak dengan Badan SAR Nasional (Basarnas) Indonesia, untuk pengadaan helikopter menengah bermesin ganda AW139 untuk keperluan operasi SAR. Pembelian ini mencakup pelatihan aircrew dan teknisi serta paket dukungan awal. Helikopter akan disampaikan akhir 2015 dan akan dilengkapi: rescue hoist, radar, cabin console serta peralatan SAR lainnya.

Penjualan ini merupakan tonggak penting bagi AgustaWestland di pasar helikopter publik Indonesia danmemungkinkan untuk meningkatkan kerjasama dengan industri lokal untuk mendukung tumbuhnya pasar helikopter Indonesia.

Basarnas akan mendapatkan keuntungan dari berbagai layanan dukungan untuk AW139 mereka yang disediakan oleh Indopelita Pesawat Service. Perjanjian telah ditandatangani oleh AgustaWestland dan Indopelita November lalu untuk membangun dukungan dan pemeliharaan di Indonesia. AgustaWestland baru-baru ini mencapai keberhasilan penjualan yang signifikan di Indonesia dengan AW119 mesin tunggal, GrandNew light twin engine dan helikopter menegah mesin ganda AW139 untuk keperluan berbagai misi.

Helikopter AW139 memberikan kemampuan Search and Rescue (SAR) terbaik kinerja di kelasnya, dengan kemampuan: high cruise speed (165 knots / 306 kph), long range of (up to 675 nm / 1250 km) and endurance up to 6 hours for extended search patrols. Dengan cadangan daya yang tinggi, berkat mesin turboshaft PT6-67C yang kuat, helikopter AW139 memiliki kemampuan hovering yang excellent, termasuk ketika satu mesin tidak beroperasi (OEI), bahkan di lingkungan yang panas-dan-tinggi ekstrim.

Helikopter AW139 yang besar, memiliki kabin serbaguna (8 m3 / 283 ft3) yang dapat dikonfigurasi dalam berbagai layout, dengan akomodasi untuk operasi FLIR station, perawatan medis dan persyaratan evakuasi korban. Sebuah pintu geser besar di setiap sisi kabin menyediakan akses yang luas ke kabin untuk korban dan tandu. Uniknya AW139 memiliki tambahan 3,4 m3 (120 ft3) dari kompartemen bagasi yang dapat diakses dari dalam atau luar helikopter.

State-of-the-art avionik, display kokpit yang besar, 4-axis digital autopilot (with hover mode) and full digital electronic engine control (FADEC) meminimalkan beban kerja pilot dan mengoptimalkan efisiensi operasional. Desain ergonomis AW139 menciptakan karakteristik penanganan yang sangat baik dan tingkat getaran yang rendah sehingga meminimalkan kelelahan pilot dan meningkatkan kenyamanan penumpang.

Sebuah Health Usage Monitoring System (HUMS) dan alat diagnosa tersedia untuk memaksimalkan keselamatan pesawat dan meminimalkan waktu pergerakan di darat.

Lebih dari 900 helikopter AW139 telah dijual kepada lebih dari 220 pelanggan di lebih dari 70 negara di seluruh dunia. Helikopter AW139 juga banyak digunakan untuk angkutan lepas pantai, angkutan penumpang, penegakan hukum, transportasi medis darurat, angkutan penumpang dan jasa pemadam kebakaran. (defense-aerospace.com).

36 KOMENTAR

    • Agusta Westland memiliki Helikopter Anti Kapal Selam (AKS) khusus type nya AW 159. Helikopter AW159 ini merupakan pengembangan dari Embrio helikopter milik TNI AL pertama kali yakni Wass by Westland, kemudian berkembang menjadi Lynx, Super Lynx, Future Lynx (AW159). kalo untuk Helikopter AKS Agusst AW159 ini the best di kelas nya. Ga ada saingannya dan memang dirancang airfram nya sejak tahapan perencanaan khusus untuk Helikopter AKS. Helikopter AKS itu ga bisa dibuat seperti orang bangun tidur terus Ngeliat Toyota AVANZA jadi Mobil Offroad, Dia harus dirancang dan direncanakan dari awal Airframe nya akan seperti apa, Terpode akan dipasang diamana, Dipping Sonar akan dipasang dimana, FLIR camera dan Searching Radar akan ditaro dimana.

  1. Aduh kenapa nggak beli di DI aja, kalau urusan Helicopter + plus modifikasi DI sudah mampu, apa karena gengsi ya…kalau dilihat bentuk nya biasa2 lalu kelebihannya dimana ya…kalau dalam negeri sdh bisa buat kenapa masih beli produk luar negeri ya…nggak habis pikir saya.

  2. Habis lihat 2 di Wikipedia sebentar, dikatakan kalau AW139 ini lebih besar dari EC155 Dauphin dan lebih kecil dari Puma.

    IMO, sayang sekali Basarnas beli AW139. Pengamatan orang awam seperti saya, ukuran AW139 ini nanggung karena ukurannya di tengah2 antara Dauphin dan Puma. Dari kasus kecelakaan Sukhoi kemarin dan beberapa bemcana alam, Basarnas perlu heli besar seperti Puma karena kapasitas mesin dan angkut yang besar. Selain itu Basarnas akan punya makin banyak variasi pesawat, padahal, biasanya, perusahaan atau organisasi akan berusaha meminimalisasi jumlah variasi pesawatnya untik memudahkan pelatihan dan perawatan.

    IMO, Basarnas tidak harus membeli pesawat baru. Pesawat bekas juga gpp, untuk TNI uang harus baru. Sebab TNI perlu pesawat dengan jam terbang tinggi untuk operasi dan banyak latihan, kalau Basarnas kan hanya untuk keperluan darurat seperti bencana atau kecelakaan. Heli bekas ini saya inginnya beli Blackhawk atau Seahawk dan Chinnok beberapa biji. Masalah embargo todak perlu takut karena heli AS kita pakai untuk SAR saja. Kelebihan lain beli bekas, kita bisa belajar tentang Heli AS nggak cuma Eurocopter melulu dan karena beli bekas bisa dapat lebih banyak daripada baru jadi bisa menempatkan minimal 2 Helikopter di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Irian, NTT/NTB, dan Jawa.

    Jangan dimarahin ya kalau saya kasih saran beli bekas, punya AS lagi… Heheheh…