Feb 092017
 


Helikopter Agusta Westland (AW) 101 terparkir dengan dipasangi garis polisi di Hanggar Skadron Teknik 021 Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Kamis (9/2/2017). Kepala Staf Angkatan Udara (KASAU) Marsekal TNI Hadi Tjahjanto telah membentuk tim investigasi untuk meneliti proses perencanaan, pengadaan, dan menelisik pengiriman helikopter tersebut.

Sumber: ANTARA FOTO/POOL/Widodo S. Jusuf/kye/17

https://twitter.com/suparjorohman

  90 Responses to “Helikopter AW 101 Terparkir di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma (foto)”

  1. helinya sangarr

  2. Akhirnya muncul. tp gue gak abis pikir ini kenapa jadi polemik?
    sudahlah ambil aja toh barang bagus

  3. Yang jelas ada Teknologi yg di incar TNI dan PT.DI ada Heli ini, cuma kok bs jd dagelan saling lempar tanggung jawab!

  4. saya lihat di youtube nya,,,secara fisik ga jauh beda dengan punya PT.DI super puma. namun untuk isi dalam nya terlihat serba digital dan touch screen layarnya.,,
    jika bole memilh coba yg langsung parkir di garasi nya TNI AU itu sukhoi SU-35 …6 biji,,

  5. Kalau ec725 walaupun bukan buatan PTDI ttp mereka dapat order merakit body helikopter sampai selesai itu sudah pekerjaan. Kalau aw 101 kita tidak dapat pekerjaan apapun. Itulah keunggulan ec725 dibandingkan aw101 bg RI.

    • Wong koclok@ sampe kpn PT DI merakit terus bung,selama 40 thn kerjasama PT DI dgn Airbus,PT DI cuma jd sales produk airbus,seharusnya selama 40 thn kerjasama itu PT DI sudah dpt TOT dari airbus dan PT DI telah punya kemampuan membuat heli buatan sendiri bkn merakit heli buatan airbus…beda dgn Leonardo produsen aw101 yg menjanjikan pabila indonesia membeli aw101 sebanyak 13 biji maka akan diberikan lisensi atau offset pembuatan aw101

      • @johan

        Selama belum bisa merancang bangun heli pangkatnya tetep sama aja kan(mo buatan airbus/leo)…sbg perakit helikopter?

        Mungkin om @johan belum tau (makanya percaya mentah2 omongan pok koni), pt.di tidak sekedar merakit heli dr airbus tapi juga membuat fuselage(bag.badan)&tailboom(ekor) heli cougar. Sampe 2025 pt.di punya kewajiban mensuplai 125 set fuselage&tailboom utk airbus.

        #memang selama ini pesanan heli buatan airbus dr tni ada berapa biji om?

  6. Mungkin yang beli habib riziq,hahahaha

  7. Mantap…heli mesin tiga..ga..usah jadi dagelan…

    • @riyadi

      Selama ini ada memberikan info yang bias ttg heli bermesin-3…bahkan ada yang mengatakan mesin-3 lebih safety dibanding bermesin-2

      Rahasia heli bermesin (merek apapun: aw-101, ch-53, super frelon)…adalah untuk membantu memberi. tambahan daya angkat (karena bobotnya yang besar) ketika heli melakukan take-off/landing. Setelah heli berhasil mengudara dan mencapai kecepatan jelajah, maka pilotny bisa memilih menggunakan 2 mesin supaya irit BBM (endurannya jauh) atau 3 mesin untuk menopang muatan yang berat (konsekuensinya jelajahnya terbatas)

      Tanpa mesin ke-3 ini, dipastikan heli tidak sanggup take-off/landing

      • Hal Ini yg kebnykan org tdk mengetahui.??

        • @abs

          Yup om…

          Info ini saya baca dari tulisan satu2nya “test pilot” heli Indonesia. yang pernah melakukan asesmen heli eh-101….jauh2 hari sebelum ada kontroversi ini (sekitar era-80/90an).

          Heli ini canggih…sangat canggih malah, tapi sebanding dg konsekuensinya.

          Dijaman tsb, heli ini sdh menerapkan full-glass cockpit, punya sistim mekanik utk melipat ekor secara elektrik, sementara utk mensinkronkan ke-3 mesin heli memakan waktu yang lebih lama.

          Konsekuensi dari kecanggihan plus bobot berat, bermesin 3 adl biaya operasional yang tinggi dan membutuhkan maintenen yang jelimet plus perawatan intensif…krn berat dan bermesin 3, pasti boros bbm shg dg sendirinya jangkauannya lebih rendah dibanding bermesin 2 (dg muatan yang setara).

          Maka diakhir catatannya beliau menuliskan…sah-sah saja bagi negara yang mampu dan mumpuni mengoperasikan heli ini.

          Unuk negara kita (saat ini)….silahkan diukur sendiri saja

  8. dr proses perencanaan sdh ribut sampe muncul petisi penolakan yg akhirnya presiden & DPR jg menolak… d tolak sbg heli VVIP kemudian berubah rrencana jd heli angkut… itupun tdk d setujui… tp ternyata semua penolakan itu tdk menyurutkan keinginan operator untuk mendatangkan heli itu…. diam2 calon operator tetap medatangkannya… KASAU (yg dl) pernah berkata bhw heli ini sesuai keinginan TNI-AU & kemampuannya d atas heli yg d rakit PT. DI…. intinya dg d awali kalimat “Saya Presiden Komisaris PT. DI…” bpk presiden komisaris sbg operator hrs dpt heli ini… peduli amat ada yg nolak ato tdk… diag sadar bhw uang yg d pake itu uang rakyat…

  9. Ini pa luhut binsar, biar dia pake sensiri. Ujungnya dimiliki polri deh

  10. Kontrak pembelian nya pasti sdh lama. Karena beli barang macam Heli itu tdk dalam waktu 3-4 bulan sejak kontrak langsung jadi & dikirim. Dan kontrak tsb tidak dgn mudahnya bisa dibatalkan. Mungkin yg masih dlm perencanaan dan kmd dibatalkan adl ver VVIP.

    • Heheheheh…pasti perencanaannya sudah lama dan pengirimannyapun “dilama-lamain”, biar kesannya heli ini brand new, baru keluar dari pabrik

  11. Ambil aja barang bagus lagipula ini kan cuma masalah koordinasinya saja dan saat ini ec 725 Cougar sampai saat ini sudah di resmikan tapi belum bisa terbang karena 2 ec 725 hanya yang satu bisa terbang yang satu masih mengalami masalah engine lagi pula ec 725 bukan produk dalam negeri ini harus diluruskan agar tak simpang siur

    • @johan rumajar

      Itu info sesat dari koni kan bro…??????

      Skadron heli angkut berat dilanud ATS sudah memberi sanggahan (plus foto2)…selama ini kedua heli EC-725 tsb sedang menjalani masa induksi (pengenalan pengoperasian heli dan alat pendukungnya spt FLIR, door gun, hoist dan sistim penembakan roket/pod gun yang terintegrasi dg FLIR)

      AU baru pertama kali ini mengoperasikan heli yang memiliki kemampuan penembakan yang terintegrasi dg sistim bidik FLIR dan komputer penembakan

    • Lihat wawancara mas koni di inews, jadi berpikir, kok mirip sales. Apa emang lagi jualan…?

  12. @hari setyawan tapi bro setuju kan kalau pt di cuma jadi tukang rakit karena ec 725 cougar bukan produk dalam negeri kan!

    • Beda dong antara merakit doang vs bisa produksi komponen…contohnya indopelita hanya merakit heli.

      Memang sampai saat ini pt.di belum punya kemampuan rancang bangun helikopter, tapi tak apa…dg keterbatasannya saat ini lebih baik. fokus pd bidang yang betul2 dikuasai yaitu rancang bangun pesawat propeler yang marjin dan pangsa pasarnya jauh lebih besar dibanding hanya merakit

    • perusahaan hp di cina pun juga tukang rakit kok bung, sama seperti perusahaan kapal dan aircraft nya. Bedanya mereka lebih berpngalaman dari kita sejak 50 th ini dan sdh bisa buat mesin sendiri, teknolgi kunci tetep impor.

    • Dari dulu semua pengerjaan Heli di PT DI baru berupa Assembling, kadang offset pembuatan parts/bagian dr Heli tsb.

      • @rad

        Terus dikesankan kalo AU mengoperasikan heli aw ini, kita dikasih “mimpi” sekonyong2 bisa bikin helikopter sendiri…koni, koni…

    • @johan

      Satu lagi yang taktis kenapa pt.di enggan bekerja sama dg leonardo dalam bidang yang heli+pesawat (kalo produk lain yang tidak berkompetisi tidak masalah).

      Tidak lama lagi PT.DI dan Regio akan punya produk yang head 2 head dg produk leonardo (N-245 vs ATR-42 dan N-270/Regio 80 vs ATR-72)….jadi buat apa baik2in leonardo?????

  13. Kalo dengerin bu koni bicara tentang helikopter, agak susah ngebedain…beliau ini bicara sebagai seorang akademisi ato sebagai sales heli ya???

  14. Baru beli satu aja ribut amat, sampe berita plintir sana dan sini….yo wis di pake dulu saja….kalau joss tumpak ane….ya alhamdulillah…ora salah beli….besok-besok beli heli MI 28NE saja…di jamin cucok….asli made in Rusia….kalau untuk angkut personnel dan rescue ya super puma saja….sudah mumpuni

    • Kok cuma 1 bro…pak supri udah nganggarin buat 9 heli lho.

      Bayangin aja 9×55 juta dollar….gak papa T-50 ga pake radar, yang penting punya heli mahal

  15. @hari setyawan ini bukan saya anti produk dalam negeri ya lalu kenapa super puma harus tes terbang di Perancis kemudian kenapa Kasau yang otomatis menjadi komisaris pt di lebih memilih aw 101 sudahlah kita untuk saat ini belum bisa membuatnya dan penggunaan kekuatan, Tni au yang lebih tahu bukan saya ataupun anda dan syarat tot aw 101 harus dibeli sebanyak 13 unit lagi pula ibu koni kan punya bukti fakta sedangkan anda apa bukti anda.

    • @johan rumajar

      Dan faktanya….heli ini sedang diinvestigasi.

      Btw bu koni punya fakta apa….itu baru janji bro, emang bu koni siapa, kok hebat banget?????

  16. @hari setyawan ini bukan saya anti produk dalam negeri ya lalu kenapa super puma harus tes terbang di Perancis kemudian kenapa Kasau yang otomatis menjadi komisaris pt di lebih memilih aw 101 sudahlah kita untuk saat ini belum bisa membuatnya dan penggunaan kekuatan, Tni au yang lebih tahu bukan saya ataupun anda dan syarat tot aw 101 harus dibeli sebanyak 13 unit lagi pula ibu koni kan punya bukti fakta sedangkan anda apa bukti fakta anda sabar bro Indonesia sudah panas karena politik pilkada .

  17. @hari setyawan Bukan saya ngefans ya Selain pengamat militer Dia itu dosen di universitas pertahanan pemerintah yang punya koneksi dengan orang orang di dalam pemerintahan.

    • @johan rumajar

      Saya tau bro…

      Tapi memangnya dia bisa “ngatur” pemerintah untuk beli ini-itu?

      Dikemhan sudah ada prosedur utk pengadaan alutsista…ada undang2nya malah yang harus dipatuhi. Hal itu juga harus disinkronkan dg KKIP…ga bisa asal tunjuk barang, tanpa ditender lagi.

      Kalo kemarin2 masih bisa belanja “gaya koboi”…ya biarin aja, tapi hari ini “yang begituan” sudah lewat bro

  18. Kalau sudah di beli…kapan ya mau terbang??? mosok di kandang i aja…yellow line di lepas dulu….coba di terbangkan….bikin manuver2….di jepret/video…baru di kandangi….kalau ada media rame…ra ngurus….ayo tuan-tuan yg duduk di atas sana podo salaman…ojo grusah grusuh….wis kadung di beli yo wis piye maneh…..tapi kalau ra sido beli, yo kembalikan….andai uang bisa kembali….ya alhamdulillah….

  19. Ini kesempatan buat PT DI untuk evaluasi diri. Demikian juga user.
    Sangat tidak mudah membangkitkan usaha sarat teknologi yang hampir bangkrut, ditinggalkan karyawannya yang sudah ahli dan memulainya hampir dari nol. Butuh waktu menyiapkannya, sementara user pengin lebih cepat, lebih canggih dll.
    PT DI sendiri, harus berani meminta lebih kepada eurocopter atau cari opsi lain.

    • @pak dhe

      Dg keterbatasannya saat ini, pt.di lebih baik fokus mengembangkan produk hasil rancang bangun sendiri….yg marjinnya pasti jauh lebih besar daripada sekedar merakit pesawat/heli secanggih apapun.

      Apalagi pangsa pasar pesawat komuter (N-245/270/regio, N-219) masih sangat besar….masak kita terus terlena langit kita dipenuhi oleh pesawat ATR?

      • Setuju Bung, fokus di komuter sama pespur. Tapi gimana dengan divisi helikopternya?
        Mungkin lebih baik dibuat anak perusahaan untuk heli. Sehingga ada juga yg mengerjakan heli. Atau bisa juga realisasi Gandiwa..

        • Aduh…kayaknya masih jauh om

          Lha wong dana, sdm dan alat kerjanya serba terbatas…ga seperti waktu proyek N-250 dulu.

          Tapi kalo kapan2 mo bidik heli, yang tipe komersil aja yang pasarnya besar…kelas aw-109/aw-139/ec-135/ec-145. Ngerakit juga ga papa krn kuantitnya banyak

          • saya setuja dengan pendapat anda PT DI memang harus memperkuat basis pesawat komersil,hasil penjualan buat modal bikin pespur dan heli….

            btw gandiwa gimana kabarnya yah…?

          • @gatot

            Waduh…ga dengar lagi kabar beritanya om

            Tapi hemat kita, sesuai karakter Indonesia yang negara kepulauan, heli tempur agaknya kurang relevan. Sementara heli utility bisa dilengkapi dg kit spy bisa menembakkan rudal/roket/kanon…hampir sama baiknya seperti heli tempur.

            Heli ec-725 csar kita malah sudah dilengkapi dg kit H-Force yang diintegrasikan dg komputer balistik, flir&hmd, begitu jg heli utility lainnya spt fennec&panther.

            Kita sebenarnya butuh lebih banyak heli AKS daripada heli tempur spt apache….karena sebenarnya untuk negara kepulauan, ancaman kapal selam lebih tingkatnya lebih tinggi dibanding ancaman MBT

  20. heli yang sangat bagus dan cantik mari kita ambil hikmah dari semua ini rekan rekan warjager ambil hal hal positif dan hilangkan yang kurang baik segala sesuatunya pasti sudah dipikirkan matang matang kenapa harus membeli ini, dengan kelas yang berbeda dengan cougar bisa dipastikan tni au kepingin alat angkut kelas menengah yang heavy weight meningkat dari cougar ke aw 101 mungkin ada penjelasan lain rekan rekan

  21. Mana ada heli SAR yang tak punya sliding door di samping ?

    AW101 yang dikirim ini tak punya sliding door di samping namun dibilang ini heli SAR.

    Berarti ini adalah ulah Mafia pengadaan alutsista.

    Kelihatannya Johan Rumajar juga sales AW101 satu gerombolan dengan sales promotion granny AW101 si beruang kutub.

    Maka dia bela mati-matian si American Warteg ini.

    Nah, coba bayangkan USD 55 juta adalah terlalu mahal, sebab komisi dan suapnya terlalu banyak.

    Hitungan saya, harga asli AW101 ini nggak jauh dari USD 27-28 juta. Alias komisinya buat orang2 RI termasuk si beruang kutub betina ini terlalu besar.

    Agusta Westland adalah produsen ATR, sedangkan PTDI adalah produsen N245 yg sebentar lagi akan jadi pesaing ATR.

    Adalah haluan yg tidak bijak jika kita membiarkan pesaing kita menggunting dalam lipatan.

    PTDI dalam hal buat helikopter, sudah mampu untuk buat fuselage (badan) dan ekor.

    Lalu bagian ini dikirim ke airbus untuk dilengkapi mesin dan avionik, lalu dikirim lagi ke PTDI untuk diselesaikan proses finishing.

    Lagipula AW101 sangat nanggung kapasitasnya, untuk heli yg punya rampdoor lebih bagus jika dibelikan Chinook atau Mi26 sekalian.

    • @TN, fehade

      Tega banget dibilangnya “beruang kutub”…padahal dosqi temen arisannya tante mirna lho, heheheh

    • Terkutuklah kau wahai mafia pengadaan alutsista !!!, saya khawatir, akan semakin bnyk mafia2 kek gini di segala bidang, Seperti mafia perjodohan, mafia batu akik, mafia buah rambutan dll.

    • He… He…. He….
      Bung Johan bukan sales Bung TN.
      Mungkin melihatnya dari sudut pandang yg lain…
      Jangan mudah percaya sama, tuh yg dibilang Bung TN dari kutub.
      Mau gak Mas Agus sama mbak Weslan ngasih tot atau offset? Padahal itu amanat UU.

  22. tadinya untuk vviv kemudian diganti untuk angkut pasukan
    tapi angarannya dari setneg?

  23. rejim skrg rejim yg aduhai kyk telenovela marimar…

  24. kalo urusan legal nya ya gak faham, maklum aku bukan ahli hukum, kata om menhan kan sdh jelas jgn ada yg meributkan … hiks hiks hiks

    • Soale kalo pada akhirnya ada yang kesrempet helikopter kan juga temen sendiri….jadi jaga nama baik institusi gitulah intinya, jangan sampe institusi dan aparat yang lain ikut kena getahnya

  25. lucu..panglima sama mentri gak sinkron. pembelian alutsista apapun wajib dikonsultasikan dg industri strategis kita dulu karena mereka yg menyerap teknologi hasil TOT. jd inget pesan bung karno, bangsa merdeka adalah bangsa yang mampu berdiri di kaki sendiri. musuh terberat bukan bangsa asing tapi bangsamu sendiri. di birokrasi banyak koruptor dan mafia berdasi yg justru tak rela negeri ini mandiri. pandai memanipulasi anggaran menyunat agar mendapatkan dana tambal sulam lagi tahun depan. gerakannya senyap rumit seperti kentut, wujudnya tidak nampak, pun sulit ditangkap tapi efeknya jelas terasa meracuni seluruh institusi negri. mereka seperti virus yg cepat mengkloning diri jd butuh software antivirus yg kuat atau sistem rekrutmen ketat. perbanyak lelang jabatan dan calon independen. dukungan senat dan partai penting tp lbh pntg lg profesionalitas dan integritas calon pemimpin kita.

    • @bocah sodron

      Upsss, jangan suudzon dulu om…

      Menurut krologisnya, pengadaan heli ini masuk pd renstra 2015-2019 jd perencanaannya dari tahun2 sebelumnya.

      Entah beliau berdua ini belum menjabat atau kalo engga, prosesnya ini sudah berjalan sebelumnya

      • kalo udah masuk renstra gpp. tp kok ribut seakan akan enggak kompak antara panglima, mentri, dan PTDI. mngkn bisa didudukkan bersama dan dicari solusinya, biar kdepan gak ribut lg. gak malu apa ditonton malaysia. hehee

        • Akur oom…

          Biarpun masuk renstra tapi proses evaluasi thd heli ini yang dipertanyakan, apalagi melangkahi UU ttg inhan…entah nomer berapa (soale cuma hapal yang nomer 34 sama 36 doang)

          Nah masalahnya yang melakukan proses evaluasi ini, personnya sudah tidak menjabat lagi…begitu oom

    • ini ceritanya kata kata bung karno vs iwan fals dijadikan satu

  26. Datangnya dikirim pakai apa ya? Tiba2 sudah disini aja…apa ferry flight dari Inggris?

  27. mungkin karena pemerintah anti FPDA uups

  28. Wah ini helikopter tahu2 datang sendiri yah :D, jgn2 helikopter ini benda ghoib, mending panggil ustad aja pak, buuu, biar diruqyahin. XD

  29. Yang Jelas ada udang dibalik peyek kan maknyoos, yang dah menikmati rempeyeknya sekarang seport jantung!ha3

    • @andre

      Belum tentu juga bung….siapa tau “sang oknum” tsb seumur hidupnya belum pernah ngrasain gurihnya “rempeyek udang”, makane sampe dibela2in bergaya koboi

  30. @TN, fehade

    “Beruang Kutub” siap-siap dimasukin “kebon binatang”….biar bisa kumpul sama “Beruang Kutub Jantan” pasangannya

 Leave a Reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

(required)

(required)