Hot News : Melacak Transfer Teknologi Rudal C-705 Indonesia

128
26

Senang sekali rasanya setelah mengetahui transfer of technology rudal C-705 dari Tiongkok ke Indonesia, masuk ke dalam rencana kerja pemerintah tahun 2017. Transfer teknologi rudal C-705 ini merupakan bagian dari penguatan industri pertahanan, bersama tiga proyek besar lainnya, yakni :

1) Pengembangan Pesawat KFX/IFX
2) Pembuatan prototype medium tank
3) Habituation roket R-Han 122 B

Dari informasi yang diterima JakartaGreater, 6/9/2016, program kegiatan prioritas dari rencana kerja pemerintah tahun 2017 di bidang penguatan industri pertahanan, memiliki empat sasaran proyek penting :

1) Pengembangan Pesawat KFX/IFX
2) Pembuatan prototype medium tank
3) Transfer of Technology Rudal C-705
4) Habituation roket R-Han 122 B

Mendengar berita ini, gembira sekali rasa di hati. Hati melompat-lompat saat melihat Transfer of Technology Rudal C-705, masuk ke dalam RKP 2017.

Ini artinya proyek rudal nasional melalui ToT Rudal C-705 tetap berjalan pada tracknya. Kita kilas balik dulu, sedikit ke belakang.

Bertempat di Beijing, Tiongkok, pada tanggal 27-28 Agustus 2015 delegasi Kementerian Pertahanan Indonesia dan SASTIND China melakukan review perkembangan hasil pertemuan yang digagas pada DICM ke 3, antara lain proyek : Rudal Anti Kapal C-705, Rudal Panggul QW-3, KS-1A/FK-3 Air Defence Missile, SmartHunter TH-S311/711 of CPMIEC, GCI Radar & DECI Program of CETC, JRSCCS & KCR-60 of CSOC, UAV, PGB, LY-80 Air Defence Missile of ALIT, AA Gun & Ammunition of NORINCO dan sebagainya.

rudal c705

Kerjasama transfer of technology rudal C-705 telah ditandatangani pada tahun 2013, antara Indonesia dan Tiongkok melalui sebuah kerjasama karena kedekatan dan persahabatan dari kedua negara. Hal ini dituangkan ke dalam Kontrak ke 2.

Adapun kontrak ke 3 dari kerjasama rudal C-705, ditandatangani akhir tahun 2014. Sebagai tindak lanjut dari kontrak tersebut, dikirimlah sejumlah rudal C-705 (sesuai kontak ke 3) untuk dilakukan tes uji penembakan oleh Indonesia pada tahun 2015. Persetujuan kredit segera disetujui dan L/C segera dibuka.

Indonesia pun menyiapkan segala kebutuhan untuk uji rudal C-705 tersebut. Tiongkok akan menyiapkan program bagi prajurit TNI AL untuk melakukan training di Tiongkok, setelah Indonesia menyetujui uji rudal yang dilakukan oleh pabrik yang bersangkutan.

Tiongkok menyarankan TNI AL membeli kendaraan peluncur rudal anti-kapal permukaan C-705, untuk memudahkan operasional, perawatan dan perbaikan di kemudian hari.

Dari kurun waktu itu, pada tanggal 27 Agustus 2015 dalam pertemuan DICM di Beijing, Tiongkok, diskusi program transfer of technology (ToT) rudal C-705 kembali mengemuka. Saat itu SASTIND Tiongkok mengatakan segera mempelajari perjanjian dasar terbaru dari Program Transfer Teknologi Rudal C-705, antara Kementerian Pertahanan RI dan SASTIND Tiongkok, yang perjanjiannya diusulkan oleh Kementerian Pertahanan. Tiongkok mengatakan pada tahun 2015 itu, mereka segera merespon.

Diskusi antara CPMIEC China dengan perwakilan PT DI menyangkut fasilitas Program ToT Rudal C-705 juga berlangsung di DICM ke 4, yang membahas: jumlah material dan jumlah rudal yang akan disiapkan.

Indonesia akan menyiapkan budget untuk kepentingan penyediaan material dan Final Assembly Line facilities dari rudal C-705 dan komponen rudal tersebut (SKD parts).

PTDI yang ditunjuk oleh KKIP sebagai pemimpin proyek ini, yang akan diberikan Transfer Teknologi oleh CPMIEC China, agar memiliki kemampuan memproduksi sistem rudal C-705.

PT DI (PT Dirgantara Indonesia) akan menjadi supplier bagi Angkatan Laut Indonesia, setelah memiliki kemampuan memproduksi sisten rudal C-705.

Kedua pihak kemudian membuat list / daftar urutan pekerjaan yang akan dilakukan PT DI seperti missile shock/overload test system, electric system pre-installation dan sebagainya.

PT DI menyatakan sanggup memenuhi dan melakukan sebagian besar list yang harus dikerjakan (ada 10 item). PT DI juga diminta berbagi ilmu pemasangan rudal dan teknik persiapannya kepada TNI AL.

PT DI meminta pendokumentasian Transfer of Technology, dan ToT Technical Training dibebaskan dari biaya. Namun pihak Tiongkok menyanggupi jika Indonesia setidaknya memesan 100 rudal C-705 (SKD missile) pada Phase I.

Local content terkait rudal ini akan disediakan oleh PT DI.

rudal c-705 2

CPMIEC China meminta agar setidaknya dilakukan pembelian 50 rudal C-705 dalam bentuk SKD, untuk memulai transfer teknologi. Dan ToT technical documentation akan diberikan gratis pada ToT Phase I, jika Indonesia membeli 100 rudal dalam bentuk SKD. Formulasinya sedang dikaji oleh kedua pihak.

Pada pertemuan 27 Agustus 2015 di Beijing itu, pihak PT DI (PT Dirgantara Indonesia) menyatakan akan mengkaji secara internal dan melaporkannya kepada Kementerian Pertahanan Indonesia.

Kini satu tahun telah berlalu, tepatnya tanggal 6 September 2016. Pemerintah telah memasukkan proyek transfer of technology rudal C-705 ke dalam rencana kerja pemerintah tahun 2017, sebagai program/kegiatan prioritas untuk bidang penguatan industri pertahanan Indonesia.

Please jangan meleset untuk yang satu ini. Dalam beberapa langkah lagi Indonesia akan mampu membuat rudal sendiri dengan kemampuan yang hebat. Rudal ini sangat dibutuhkan kapal kapal perang Indonesia, yang kini mulai dibangun marak di dalam negeri. Go… Indonesia Go…

JakartaGreater

128 COMMENTS

    • Comment yg bagus bung KG
      Mungkin DepHan sudah mempersiapkan antidote dengan Kerja sama dgn block barat , Mesin Bolehlah china bahan peledak PT DAHANA control dari Europe
      Ide yg bagus bisa senjata makan tuan bila china macam “

  1. Semoga biasa di kuasai guide missile beserta component materials yg lain
    Sehingga bisa merekayasa krn kita tau sudah ada gap dengan China
    Optimism bisa dan bersama kita dorong Republik ini jauh lebih baik
    Article bagus bung Diego

    • BELI RUDAL CHINA BUAT LAWAN CHINA (PLA) DI LCS…..????????????????????

      ITU RUDAL BISA BALIK KEMBALI KE PENEMBAK SETELAH DILUNCURKAN..!!!!

      SARAN : BELI LAH KALIBR & BUK-M2

      CHINA TAKUT, TETANGGA JUGA TAKUT….WK..WK..WK!!

  2. Good job, I like it.

    Paling spesial disebutkannya alutsista LY-80.

    LY-80 setara Buk-M.

    Rudal darat ke udara jarak medium :
    TNI AL pakai LY-80.
    TNI AU pakai NASAMS.
    TNI AD pakai Buk-M2E.

    TOT C705 untuk PTDI sebagai alutsista AL.
    TOT RCWS Kongsberg untuk PINDAD sebagai konsekuensi pembelian NASAMS.
    Akuisisi sebuah perusahaan di Eropa oleh PINDAD untuk memperoleh TOT – Semoga ada hubungannya dengan pinjaman luar negeri sebesar USD 200 juta untuk pembelian rudal.

  3. Nah gitu donk knp nggak dari dulu aja program rudal tanah air jadi prioritas kerja pemerintah…harap”cemas semoga kagak meleset lagi program rudalnya gara”alasan klasik yaitu nggak cukup anggaran dari pemerintah…….

    • kalau beneran sukses, indonesia akan mengikuti jejak iran yg sebelumnya telah sukses membeli lisensi rudal c701,c704 dan c802., dan kini iran sudah bisa mandiri dalam teknologi rudal, dan semoga indonesia juga bisa. aminn…

  4. c-705 untuk nembak eks kri karimata.algojonya kri celurit atau kri kujang.kalo belum karam diluncurkan lagi c-802 dari fpb nav V.kalo masih belum kandas,..torpedo sut akan dilepaskan dari kri ajak.begitu kalo gk salah.

    • @sarip tambak oso

      Tholabul ilmi walla’u bishin ..jangan di artikan harus belajar ke china ( mentok disitu ) ..tapi ada yang lebih tepat ..dalam belajar ( mencari ilmu ) harus bersungguh-sungguh , jangan berputus asa , walau lama dan jauh harus dijalani , andaipun harus berjalan kaki ke negeri shin ( Jalanilah )

      Salam

  5. Bangun…tong..bangun…ente yg ngimpi sambil ngigau. Gak usah ngaku2 warga munyuk.
    Ente TKI gagal yg ketangkep tempo hari toh.? Makanya sangat teropsesi jd warga munyuk.
    Munyuk sdh mau bangkrut kok ente ngoyo mau kesono.

  6. Dan jangan dilupakan ToT untuk RBS 15 MK 3 nya dengan Swedia. Jika Indonesia sudah memiliki 2 model rudal C705 dan RBS 15 MK 3 kita tinggal kembanggakan ToT atau joint product atau mandiri yang C 802 atau sejenis harpon. Next Yakhont. Good job

  7. jumlah rudal 100 unit yang harus dibeli sebagai syarat TOT sebenarnya ndak masalah mengingat kita berencana produksi KCR banyak, kalau per KCR 2 unit rudal standby terpasang di kapal dan spare 8 buah di darat sementara rencana pengadaan KCR 20 s/d 25 buah (Renstra 1)berarti, ada 10 s/d 15 KCR kita cuma dibekali rudal dummy (palsu), memang kita berharap kelak bisa produksi rudal sendiri tapi itu kan masih butuh waktu panjang sementara kebutuhan jumlah kapal perang yang cukup untuk jaga laut sangat mendesak dan harus segera dipenuhi, kapal perang kan ada yang beroperasi, standby sebagai cadangan, dan perbaikan, tapi mestinya pihak TNI yang paling tahu harus bagaimana….kita dukung sajalah dengan kerja, kerja, kerja, dan tepat waktu bayar pajak untuk dukung pemerintah bisa beli dan buat senjata untuk TNI.

  8. dlam tot ini pasti tk da yg free selain hanya beli 100 biji. china pasti minta jatah sda kta dbeli dg murah,proyek2 bumn,impor brang2 cina dg pajak yg rendah. intinya tot dari cina apakah sepadan dg kepentingan nasiaoñal yg harus dibayar untk sebuah c 705

  9. woohh…bener kan prediksi saya bentar lagi carin nikah ma ruskye…hahaha…selamat..
    kembali ke laptop ; jujur berita nie bikin tambah bingung disatu sisi patut disukuri kalo benar adanya, di sisi lain makin terheran2 dg sikap chino terkait kawasan LCS yg semakin agresif.
    Indo-Chino sandiwara apa lagi ini…..hihihi..

  10. Bung Diego,
    sudah saya coba lewat uc browser,lewat email,atau lewat google jg tidak bisa.
    ini saya comment sekarang tapi tampilan artikelnya tadi siang/pagi waktu pertama kali buka,jumlah comment masih 20,tidak tahu skrg sudah berapa jumlahnya,saya baca balasan bung Diego di kolom paling bawah,bukan diartikel,jadi saya tidak bisa baca seluruh kalimat balasan bung Diego

  11. Jika hal ini benar…China mau berbagi ilmu lewat TOT dengan mentransfer ilmunya mengenai Rudal C705, maka China sudah naik 1 ( satu ) Point selangkah lebih maju….ditengah tengah Rakyat Indonesia sudah memudar dan membenci China karena kasus Natuna….Setidaknya China memberi anghin sejuk Buat Indonesia…….Ayo China….perbanyak TOT khusus segala Rudal
    dan Misil buat Indonesia…..

  12. Semoga saja KEMAJUAN semua hasil tot technology militer yg didapat jg disertai/diiringi dengan KEMAJUAN MORAL dan AKHLAK masyarakat negri ini…Apalah artinya alutista canggih sedangkan MORAL dan AKHLAK rakyatnya semakin tidak canggih/RAPUH,..Sesama anak bangsa saling hujat,saling menjatuhkan,saling fitnah,dll..Suatu KEMEROSOTAN MORAL anak negri yg membuat MUSUH bangsa senyum dan tertawa..Karena itulah yg diinginkan oleh mereka..”MENGHANCURKAN SUATU BANGSA TANPA PERLU DENGAN OTOT DAN SENJATA”.

    Semoga rakyat rakyat bangsa ini bisa menjadi KESATRIA2 sejati dalam menjaga negri…Amin
    Fudail bin Iyad berkata : “JIWA KESATRIA ialah memafkan kesalahan-kesalahan saudaranya.”

  13. Semua TOT prinsipnya sama om: WANI PIRO. Mereka khan pedagang jd ga mungkin mau jualan yg malah akan mengurangi untung mereka. Mereka mau klo kita beli byk dulu atau ada konsesi ekonomi lain (barter dgn proyek minyak misalnya). Mnrt saya gpp kita jajaki terus dgn cina toh mereka jg sdh jd salah satu top investor di indonesia, sdh saatnya kita tagih ke mrk. Klo ga mau kita nasionalisasi saja perush mrk dimaree. Contoh yg bgs adalah korsel, 10 th terakhir investasi mrk disini sgt kencang dan berimbas ke pembelian alutsista dan TOT yg cukup mesra (ifx, kasel, fpb, dll).

  14. Kalo gw sih udah terbiasa nanganin yang kaya gini. Sanggup beli 50 tapi dirusuh beli 100 minimal. Yaudah ambil jalan tengahnya aja. Beli 75 unit, dimana 50 sesuai jadwal dan sisanya 75 dengan cara cicil.

LEAVE A REPLY