Apr 232013
 
C 295 Uji Rudal Marte

C 295 Uji Rudal Marte

Indonesia akan membeli 7 tambahan pesawat C 295 untuk melengkapi 9 pesanan terdahulu, sehingga total pesawat menjadi 16 unit. “Angkatan Udara membutuhkan tambahan 7 pesawat”, agar menjadi full skuadron 16 pesawat”, ujar  vice-president marketing and sales PT DI, Arie Wibowo.

Sebelumnya TNI AU telah menandatangani pembelian 9 pesawat C 295 di  Singapore air show, Februari 2012. Selain untuk TNI AU, PT DI juga menawarkan  C 295 s untuk  Densus 88 Polri, Malaysia dan Philipina.

Indonesia telah menerima 2 unit C 295 yang diterbangkan dari Airbus Military,  Seville- Spanyol. 5 pesawat lainnya akan disiapkan setengah jadi (green condition) oleh  Airbus Military Spanyol, untuk difinalisasi (customise) oleh PT DI di Bandung- Jawa Barat, sesuai permintaan TNI AU. Sementara 2 sisanya lagi akan dirakit di PT DI Bandung seutuhnya dengan menggunakan sebagian komponen dari Airbus Military yang kemudian dilanjutkan dengan 7 pesanan  C 295 lainnya.

CN 295M TNI AU

CN 295M TNI AU

Peran PT DI dalam pembuatan pesawat C 295 masuk kategori tier one, yang membuat bagian utama pesawat (main frame) termasuk: rear fuselage dan tail empennage.

Akhir- akhir ini konsep multirole (utility) bukan hanya dianut oleh helikopter, melainkan juga merambah ke dunia pesawat fix wing.  Pesawat twin-engined turboprop C 295 awalnya disiapkan sebagai pesawat angkut (Cargo) dan transport militer.  Namun para teknokrat militer terus mengembangkannya agar memiliki fungsi  lebih melebar,  menjadi pesawat peringatan dini AEW&C, Anti Kapal Selam dan Anti Kapal Permukaan.

Tujuannya tak lain untuk memangkas biaya operasi dan perawatan. Dengan mengelompokkan berbagai alutsista dalam satu platform, dana operasional akan dihemat cukup signifikan, terutama urusan perawatan pesawat. Persoalan ini biasanya dihadapi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

C 295 AEW&C

c295aew111.jpg

Awal tahun 2011, EADS CASA Airbus Military menandatangani kesepakatan dengan Israel Aerospace Industries (IAI), untuk mengembangan pesawat pendeteksi dini CN 295 AEW&C (Airborne Early Warning & Control system).  Pesawat itu kemudian diuji coba bulan Februari 2012, dan diklaim sukses. Dalam uji terbang itu, C-295 AEW atau AEW&C mampu terbang 8 jam lebih dengan maksimum altitude antara 20,000ft (6,100m) hingga 24,000feet.

C 295 ini diinstal perangkat “integrated tactical system mission” milik IAI/ Elta sebagai penyuplai  active scanned array radar, serta piranti pendukung lainnya. C-295 juga dilengkapi dilengkapi modul anti-surface dan anti-submarine warfare.

Pesawat AEW&C atau AWACS berfungsi sebagai:BVR Missile Guidance, Electronic Warfare (EW) dan Reconnaissance. Ia menjadi mata dan backbone informasi bagi armada tempur sebuah negara.

C 295 AEW&C kini sedang dipasarkan oleh Airbus Military dan mereka yakin Indonesia merupakan salah satu negara pembeli potensial. Jika Indonesia memiliki sekaligus bisa memproduksi C 295, tentu menjadi sebuah lompatan besar. Sebagai produsen sekaligus konsumen.

Tidak itu saja, Airbus Military juga terus mengembangkan kemampuan pesawat C 295.

C 295 Anti Kapal Selam dan Anti Kapal Permukaan

Saat ini  Airbus Military dan MBDA juga telah sukses mengujicoba instrumen Marte MK2/S anti-ship inert missile yang diinstal di bawah sayap C 295  maritime patrol.

C 295 Anti Kapal Permukaan

C 295 Anti Kapal Permukaan

Uji terbang dan “penembakan” ini merupakan uji terakhir dari rangkaian test performa kerjasama Airbus Military – MBDA untuk validasi integrasi aerodinamis dari rudal Marte di pesawat C 295.  Keberhasilan ini membuat pesawat C 295 memiliki kemampuan baru dalam menjalankan misi militer. Marte MK2 merupakan rudal anti kapal kelas menengah dengan bobot 70 kg, flight altitude sea skimming untuk memburu kapal sejauh 25 km. Rudal buatan Italia dan Spanyol (MBDA) ini telah diinstal di helikopter Italia: AW-101 dan NFH (Naval NH90) serta sedang diintegrasikan di pesawat tempur Eurofighter Typhoon untuk jenis Marte ER.

C 295 Tembakkan Torpedo MK46

C 295 Tembakkan Torpedo MK46

Sebelumnya C 295 juga telah sukses mengujicoba peluncuran rudal anti-submarine warfare (ASW) torpedo MK46.

Kira- kira apa motif  TNI AU membeli 9 pesawat C 295 lalu kemudian menambahnya dengan 7 pesawat sehingga akan memiliki 16 pesawat C 295 ?. Apakah seluruhnya akan dijadikan pesawat angkut militer ?.  Tentu kita harapkan obsesi TNI AU tidak hanya segitu. Militer adalah alat pemukul negara terhadap gangguan asing.  Ketemu lawan (surveillance), sikat dan pulang, adalah kondisi yang ideal. (JKGR).

  32 Responses to “How Low Can You Go C 295 TNI AU”

  1. saya berharap pengadaan 3-4 AEW&C segera terwujud.

  2. Menyambung yang kemarin … CN-295 versi patroli maritim (MPA) sepertinya masih bisa untuk membawa Yakhont yang bisa mencapai 300 km, disamping yang sudah pasti bisa: Exocet, Harpoon, Torpedo, dst, yang digantung di sayap.

    Dulu waktu masuk ke dalam CN-235 MPA, di dalam badannya memang banyak panel instrument sistem MPA nya, sebagian untuk jalan akses. CN-295 yang badannya lebih panjang 3 meter dari CN-235 akan menyediakan more space untuk reposisi panel2 instrument ini sehingga ada space lega untuk ditempati 1 Yakhont sepanjang “hanya” 8 meter dan diameter 0.7 meter. Dropping Yakhont seberat 2.5 – 3 ton dengan parasut juga bukan hal sulit bagi CN-295. CN-235 saja sudah lazim untuk dropping kargo 3 ton. Penyalaan motor roket Yakhont perlu sedikit ditunda saat sedang ditarik parasut keluar pesawat.

    Radar MPA cukup jauh jangkauannya, sehingga sayang kalau “hanya” bawa Harpoon dan sederajat. Dengan membawa Yakhont, CN-295 akan lebih dahsyat krn lebih memiliki capability “first-look first-kill”, bukan “first-look first-run”. Selain itu biaya untuk membawanya cukup “murah” dan tidak complex, bandingkan dengan CN-295 vs KRI + Helikopter OTHT. Di samping itu, pada dasarnya pesawat akan relatif bebas dari resiko serangan kapal selam musuh.
    Ya, … dgn kemampuan ini, CN-295 MPA + 1 Yakhont + 2 Harpoon + 2 Exocet + 2 AAM (untuk pertahanan diri) tiba-tiba akan menjelma menjadi sosok yang menakutkan, sebuah “bomber” strategis dengan spesialisasi ship hunter & killer. Apalagi kalau ditambah winglet di kedua ujung sayapnya, jangkauannya akan lebih jauh lagi.
    (Note: Winglet akan memperbaiki aliran udara di bagian ujung atas sayap sehingga distribusi gaya angkat di area sekitar ujung sayap akan bertambah. Winglet akan “menghilangkan” aliran udara vortex di ujung sayap, yang selama ini menganggu aliran udara laminer di situ)

    Btw, sampai saat ini kita juga belum ada informasi bagaimana caranya SU-35 BM dan PAK-FA (dan turunannya) akan membawa Brahmos (turunannya Yakhont).

  3. Jaman sekarang mungkin sulit menemukan peperangan dog fight, yang ada…yang pertama melihat memiliki peluang besar menyikat lawan.

    Menarik juga pemikiran Om WH yang membandingkan Frigate + heli OTHT dengan C 295 “benteng terbang”

    Daripada Susah Susah membuat frigate yang gak jelas terus, lebih baik mengembangkan benteng terbang C 295 yang memang mampu kita buat. pemikiran out of the box nih.

    Om WH, Kira Kira apa kelamahan Dan kelebihan benteng terbang c 295 dibandingkan frigate. Tentu jumlah amunisi yg dibawa. CIWS bisa dipasang gak ya di C 295, biar lebih ajip lagi.

  4. Kelemahannya adalah pangkalan CN 235 yg relatif jauh dari daerah operasi fregate sehingga membutuhkan waktu untuk mencapainya, hal ini berdampak pada kecepatan terhadap suatu penindakan terhadap target yang kemunculannya mendadak. Namun CN 235 akan ampuh untuk operasi yang sudah terplanning. Saya justru melihat kemungkinan kapal terbang amphibi seperti Aaron dari Korsel kemarin dapat dimodifikasi dengan kemampuan payload lebih besar ataudimensi lebih besar sedikit untuk dikasih cantelan rudal anti kapal. Mengingat wahana kemarin mempunyai kemampuanberlayar dengan kecepatan tinggi dan terbang rendah diatas permukaan laut shg dapat tdk terendus oleh radar lawan dan akan menjadi unit serang yeng menakutkan buat kapal permukaan lawan, meski untuk operasinya tetap membutuhkan pengawalan unit pesawat tempur.

  5. Bung Diego,

    Berikut ini kira-kira plus minus dalam nguber & kill kapal (atas & bawah permukaan):

    Kelemahan C-295:
    1. Betul sekali, jumlah amunisi terbatas dan reload time nya lama. Musti balik lagi ke landasan terdekat, (cukup landasan sepanjang 1000 meter, nggak perlu mulus diaspal).
    2. Rawan dilumpuhkan dgn misil dari fighter apalagi yang dipandu AEW. C-295 adalah pesawat yang dilahirkan untuk terbang stabil, shg tidak segesit fighter untuk manuver.
    3. Endurance nya yang pendek dibanding fregat.

    Kelebihan C-295:
    1. Relatif lebih cepat menemukan kawanan kapal musuh: krn speed lebih cepat dan jangkauan radar lebih jauh.
    2. Ancaman “hanya” dari 2 level: udara dan kapal permukaan. Dari kapal selam cukup minor.
    3. Nilai aset (alat & personel) relatif lebih kecil dibanding fregat + heli OTHT.
    4. Mampu mengarahkan fregat + heli OTHT teman ke jalan yang benar (memang ini kerjaan utama MPA)

    Kelebihan Fregat:
    1. Bisa reload missile, logistik dan BBM di tengah laut, di tengah medan pertempuran, yang jauh dari daratan.
    2. Senjatanya lebih banyak dan bervariasi.
    3. Endurance lebih lama (beberapa minggu di laut).

    Kelemahan Fregat:
    1. Ancaman dari 3 level: udara, permukaan laut, dan bawah laut.
    2. Lebih lambat menemukan kawanan kapal musuh.
    3. Nilai aset nya jauh lebih mahal, baik peralatan maupun personelnya. (Sekalinya tenggelam, jauh lebih heboh.)

    Tapi tentu hal-hal spt ini bisa diatasi dengan doktrin TNI yg sepadan. Misalnya:
    – Tiap fregat berlayar harus ditemani KS, KCR, heli OTHT, dll.
    – Tiap C 295 MPA mencari target harus ditemani Flanker, C 295 AEW, dst.
    – Meningkatkan status pangkalan2 udara di seluruh tanah air, beberapa bisa untuk menyimpan stok logistik & senjata.

    CIWS – Close-In Weapon System (sistem senjata jarak dekat) – sistem senjata untuk menangkis datangnya ancaman (misil atau pesawat lawan) yang sudah dekat jaraknya, untuk dipasang di aircraft belum tahu nih. Sebetulnya, technically kita bisa ngapa-ngapain CN-235 & C-295, yang membatasi adalah request dari TNI (kemauan, doktrin dan dana?). CN-235 kita punya lengkap seluruh datanya. C-295 saya nggak tahu, namun andaikan stretching 3 meter itu di desain Airbus Military, saya pastikan PT DI bisa mendevelop sendiri. Data-data CN-235 yg sudah on hand di combine dgn dari fisik pesawat C-295 yang sudah datang, dan mungkin beberapa komponen baru C-295 yang dibuat di PT DI. Data-data ciptaan sendiri (reverse engineering) ini penting untuk melakukan simulasi model in house (kestabilan, kontrol, dll) seandainya TNI ingin konfigurasi baru di luar pakem yang sudah ada dari Airbus Military.

    Misalnya untuk menggotong & menembakkan Yakhont, dll. Mau dibuatkan yang bisa bawa meriam di kiri kanan bodinya mirip C-130 versi gunship untuk membantu serangan darat juga bisa oleh PT DI. Atau dibuat konfigurasi bomber murni, mirip B-52 Flying Fortress, untuk menebar puluhan bom-bom pintarnya Pindad berpandu GPS juga bisa oleh PT DI — lumayan daripada bom2 ini diangkut Flankers.

    • Peran sebagai ANTI MARITIM AIRCRAFT di doktrin kita sementara diperankan oleh Armada Sukhoi yang baru datang dengan type TX nya juga dengan Rudal Rudal anti shipnya yaitu rudal dengan Rudal RADUGA nya
      Raduga Kh-59:
      Kh-59ME(export) : daya jangkau 115 km (62 nmi)
      Kh-59ME : daya jangkau 200 km (110 nmi)
      Kh-59MK : daya jangkau 285 km (150 nmi)
      au
      Sedangkan untuk membawa Rudal Yakhont versi Udara atau KW nya Brahmost Sukhoi kita belum mempunyai launcher dan rudalnya..
      Saya kira sudah diwakili dengan KH 59MK yang jaraknya 285 km sudah hampir setara dengan Yakhont yang jarak maksimalnya 300km.

      Untuk C295 MPA saya kira TNI AU sudah mempunya CN 235 MPA dan bisa dimodofikasi untuk bisa menggotong rudal RADUGA..cari typenya yang sesuai payloadnya

      Sedangkan untuk perlindungan dirinya untuk memuat CIWS saya kira akan overload dan kurang efisien..paling hanya bisa menambahkan launcer decoy flare saja mengingat keterbatasan cabin dan payload yang sudah sesak membawa perangkat MPA

      • Ya, Kh-59MK bisa juga dipasangkan di sayap C-295, hulu ledak 300 kg, speed 0,8 Mach, jaraknya bisa 285km, sekitar 2 kali Exocet or Harpoon. Guidance-nya pakai kamera TV, dimana pada jarak 10km dari target TV nya akan aktif di layar kru pesawat untuk memandu ke target yang diinginkan sampai kena.

        Yakhont menawarkan feature sbb: hulu ledak 300kg, jarak similar (300km), speed 2,5 – 3 Mach. Dengan speed yang sangat tinggi, profile terbang membingungkan, dan radar dimatikan lagi 30km sebelum mengenai sasaran, Yakhont akan cukup sulit ditracking & ditangkis sistem pertahanan kapal. It’s a real fire and forget missile.

        • Yakhont sangat efisien tuk membunuh kapal berbadan besar sekelas fregaat ,destroyer,perusak dan kapal induk..
          sesuai sekeer headnya yang diperuntukkan untuk menindai kapal besar..

          Tuk sekelas korvet dan dibawahnya cukup dengan Raduga.lebih jitu dengan kamera guidance nya..

          Bila kita mempunyai skadron C295 campuran versinya ada MPA yang dikembangkan oleh PT DI bisa membawa rudal rudal raduga atau Yakhont juga versi ASW membawa Torpedo kelas berat ditemani versi AEW&C +jammer
          akan sangat deterren dan sbg doktin baru dalam anti ship warfare…
          Sehingga peran Sukhoi kembali sebagai Tempur Strategis yang jumlah unitnya masih sangat KURANG

          • Betul sekali memang Yakhont cocoknya untuk melumpuhkan kapal-kapal besar fregat ke atas nan penting, termasuk LHD Canberra terbaru (27,000 ton) yang akan membawa banyak asset mahal (F-35, Sea Hawk, IFV, marinir, dll).
            Tapi dalam serangan terdiri Yakhont + beberapa Kh 59MK yang mencapai target secara bersamaan akan lebih membingungkan lawan, kill probability nya lebih tinggi lagi.

            Dan juga sebaiknya memang pedang Flanker diasah terus untuk duel dengan F-35, Super Hornet, F-15, dst …, meskipun jangan lupa kalau ada sasaran empuk di laut.

            Pesawat MPA yang dengan senjata mematikan akan sangat powerful. Dalam PD II kapal-kapal perang Inggris pernah kebingungan saat menguber destroyer terbesar Jerman Bismarck yang menghilang dari deteksi radar. Bayangkan kalau HMAS Canberra memimpin group tempur negara-negara Commonwealth untuk invasi Indonesia. Tentunya TNI akan mengerahkan segala alutsista terbaik untuk mencari dan menenggelamkannya.

  6. Saya bagian membahas C295 AEW&C nya saja

    AWACS Airborne Warning and Control System. Adalah Pesawat yang dilengkapi systim Radar Peringatan Dini.
    Pada generasi awalnya system yang di gunakan adalah C3I dan n sekarang C4I.( Command Control Communication and Computer&Informa tion).

    Prinsipnya Pesawat yang menjadi Puskodal udara. Dalam kinerjanya menggunakan freq dan database lengkap dari type pesawat yang digelar baik pesawat friend (kawan)atau pesawat foe (musuh) secara Real Time..

    Sedang yang dimaksud disini adalah C4I -nya.( Command, Control, Commionunicat, Computer dan Informasi / Intelijennya),
    Sehingga pesawat AWACS tersebut bak “Dirigen Udara” yang dapat mengontrol sorti penerbangan pesawat sendiri, menjadi repeater bagi sistim comm antar pesawat secara timbal balik, pemberian informasi tentang posisi pesawat musuh serta memberi early warning terhadap serangan rudal darat ke udara atau udara ke udara dan tentu memberikan bimbingan/ informasi pesawat sendiri thd kondisi climatologi seputar wilayah operasi tempur.

    Juga bisa sebagai pengendali pesawat UAV dan UCAV

    Pesawat AEW&C atau AWACS berfungsi sebagai:BVR Missile Guidance, Electronic Warfare (EW) dan Reconnaissance. Ia menjadi mata dan backbone informasi bagi armada tempur sebuah negara.
    AWACS bisa menjadi mata dan backbone informasi bagi armada tempur sebuah negara.
    Juga bisa sebagai pengendali pesawat UAV dan UCAV

    .

    C-295 dapat berfungsi sebagai AWACS dengan pemasangan rotadom dann integrasi c4i tadi
    Dalam uji terbang itu, C-295 AEW atau AEW&C( Airborne Early Warning & Control )aircraft, mampu terbang 8 jam lebih dengan maksimum altitude antara 20,000ft (6,100m) hingga 24,000feet.
    C 295 ini diinstal perangkat “integrated tactical system mission” milik IAI/ Elta Israel sebagai penyuplai “active electronically scanned array radar”, serta piranti pendukung lainnya. C-295 juga dilengkapi dilengkapi modul anti-surface/anti-submarine warfare.

    Kehadiran C-295 AEW&C akan memberikan airborne systems: membimbing pesawat tempur untuk mencari titik lemah formasi pesawat musuh, memberikan kordinat pesawat musuh, melakukan electronic counter. Singkatnya C-295 AEW&C akan menjadi “theatre of battle management”.

    Pertanyaannya apakah armada Sukhoi dapat tx/rx dengan F16.hawk dan F5 dan hawk kita atau bahkan dengan pesawat lain?
    Jawabannya gak masalah selama freqfensi yg dipakai sama dan sesuai dengan protocol yang berlaku

    Kelemahannya C295 AEW&C yang dilembangkan oleh spanyol ini masih memakai piringan putar (ROTADOM).Selain susah merawatnya karena harus berputar/bergerak terus juga sudah ketinggalan jaman (JADUL)
    Sekarang jamannya memakai radar modern macam Erieye airborne radar dari Saab Microwave Systems yang digotong oleh EMBRAER R-99 AEW&C dan saab 340 AEW&C.
    Juga masih memakai pesawat kitiran yang terbatas altitudenya (Ketinggian) berpengaruh dengan COVERAGE area radarnya

    Bung Diego kalau mau lengkap membahasnya seperti apa kebutuhan Ideal pesawat AEW&C bagi AIR POWER Indonesia saya bisa sumbang tulisan dan saya kirimkan ke anda bila berkenan

    • Siap. Dengan senang hati Mas Satrio.

      • Gak jadi bung diego..
        Komentar disini saja anda bisa rangkum tuk jadikan artikel..
        Sebab bahasan bung WH juga menarik untuk menjadi IDE acuan bagi petinggi kita
        Jadi juga bisa dirangkum dan dijadikan artikel

        Nanti malam saya tambahin materi bagaimana cara melumpuhkna pesawat AEW&C lawan terutama si Wedgetail yang full jamer

        • Mantap nih. Nanti kita wrap up menjadi satu tulisan: Genre Baru Alutsista TNI di era Modern..xixi

          • Bung Diego, usul judulnya ‘Cikal bakal kemampuan A2/AD (anti access/area denial) TNI’, karena sudah mengarah pada kemampuan penghambatan / penghancuran musuh dalam perjalanan menuju wilayah RI, tidak hanya sekedar deteksi keberadaan mereka (jalan menuju wilayah RI yang negara kepulauan tentunya laut + ruang udara diatasnya).

            ‘Impian’ Menhan untuk memiliki 10(?) skuadron Sukhoi juga selaras dengan ‘roadmap’ ini.

          • Siap Mas Danu

  7. Sedangkan Australia sudah memakai dan memiliki 4 unit Boeing 737 AEW&C WedgeTail.

    AEW&C system adalah Penggabungkan kinerja tinggi Boeing pesawat 737-700 increased gross weight (IGW) dengan RADAR the Northrop Grumman Multi-role Electronically Scanned Array (MESA).
    Termasuk dalam sistim canggih identification friend or foe (IFF) an expanded, passive surveillance system(sistim memperluas survilance pasif); a flexible, open-system dan kemampuan pertahanan diri yang sangat efektif.

    Menggunakan teknologi sensor terbaru, Northrop Grumman 360 derajat mampu mengarahkan beam MESA..
    RADAR dapat melacak target udara dan laut secara simultan dan dapat membantu melacak high-performance aircraft. Sementara Operator terus men scaning daerah operasionalnya..

    Dengan melewati Lebih dari 1500 jam pengujian di wind tunnel (terowongan angin) Telah menunjukkan kompatibilitas pesawat dan radarnya.

    Angkatan Udara Australia (RAAF) Pada bulan Juli 1999 memilih boeing sbg pemenang tender dan pada bulan Desember 2000 mengadakan kontrak pembelian 4 pesawat 737 AEW&C Project Wedge tail dan pada tahun 2006 Dua pesawat diserahkan kepada Australia.. Kontrak tersebut juga menyediakan untuk ground-based support untuk penerbangan dan pelatihan awak misi, segmen pendukung misi dan fasilitas pendukung sistem lainnya dan suku cadang

    ADF ausy akan memiliki kemampuan untuk surveilans, kontrol perintah, dan mengkoordinasikan pertempuran udara / laut / darat gabungan secara real time

    SEDANGKAN sekarang kita cuma mempunyai pesawat Intai maritim Boeing 737 Surveiler thn 80an

    pesawat boeing 737 surveleir :
    Pesawat boeing 737 -200 2X9 surveleir milik Indonesia
    Fitur utama dari varian pesawat intai maritim ini dengan dua blade antennas (antena pisau) di atas fuselage forward of the fin(sirip) masing-masing 4,87 meter panjangnya.
    Antena Ini menserve Motorola SLAMMR (side-looking airborne modular multi-mission radar).
    Yang bisa melihat sebuah kapal kecil di laut luas pada kisaran 185 km dari ketinggian 9,150 meter.

    Dihidungnya ada radar double agent AN/APS-504 (V)5. selain berfungsi konvensional, radar ini bisa diset mendeteksi sasaran di permukaan atau di udara. Jarak pindainya luar biasa, 256 Nm (Nautical Mile). Navigasi dan komunikasinya juga kompak. Saat ini B737 dilengkapi sistem navigasi INS LTN-72R terintegrasi dengan GPS. Karena memainkan peran penting dalam air intelligence, komunikasi tidak saja masuk kategori wajib, tapi juga harus mempunyai tingkat aksesbilitas tinggi.
    Untuk B737, saluran telepon bisa terhubung langsung dengan komando pusat. Tampilan instrumen yang menawan (pilot color high resolution display), makin mempercanggih suasana kokpit.

    Tiga unit pesawat berada di Skuadron Udara 5 Lanud Hasanuddin makasar .dibawah kendali Pangkoopsau II TNI AU
    Sebenarnya masih bisa diupgrade lagi ini setelah upgrade terakhir thn 1993.

  8. Kalau melihat STANDART yang dinginkan user PETINGGI TNI AU yang Ideal Untuk AIR POWER Indonesia

    Secara Kualitatif kebutuhan alut sista dan penggelarannya disusun berdasarkan tugas-tugas untuk melaksanakan operasi udara dalam rangka penegakan kedaulatan di darat dan dilaut, maka idealnya harus memiliki :
    Kekuatan Pemukul Udara
    1.Pesawat penyerang yang mampu melaksanakan operasi udara strategis dan taktis untuk penghancuran sasaran darat maupun perairan sampai dengan daerah persiapan lawan.
    2.Pesawat Peringatan Dini / Advanced Early Warning (AEW) yang mampu melaksanakan manajemen pertempuran udara. Perang elektronika untuk mengganggu kemampuan gelombang elektromagnetik musuh dan menjamin kelancaran penggunaan gelombang elektromagnet sendiri.
    3.Pesawat Tanker yang mampu melaksanakan dukungan Air Refeuling bagi pesawat penyerang yang direncanakan untuk beroperasi jauh diluar ZEE.
    4.Pesawat komando yang dilengkapi dengan sarana K3I dan memiliki jarak jangkau dan kemampuan yang memadai sebagai sarana pimpinan untuk mengendalikan dan memonitor jalannya operasi yang dibutuhkan pesawat Kodal.

    Kekuatan Intai Udara
    1.Pesawat Intai udara Strategis, untuk pengintaian sampai diluar batas ZEE.
    2.Pesawat Intai udara Taktis, untuk pengintaian secara detail daerah pertempuran baik pesawat berawak maupun tak berawak.

    Kekuatan Lintas Udara
    1.Pesawat Angkut Strategis yang mampu mengangkut Batalion Lintas Udara Korpaskhas ke daerah trouble spot.
    2.Pesawat Angkut Taktis dan Helikopter.
    3.Pesawat Angkut Khusus VVIP/VIP baik fix wing maupun rotary wing.
    Kalau diturunkan ke tingkat operasional,:
    TNI Angkatan Udara memerlukan jet-jet tempur dalam beragam kemampuan sejumlah 250-300 unit

    Terdiri dari : 40 pesawat sekelas C-130 Hercules, 2 pesawat sekelas E-3 Sentry AWACS dengan pertimbangan satu di barat dan satu di timur,
    Serta 8 pesawat sekelas E-2C Hawkeye masing-masing 4 di barat dan timur.

    Tentu penggelaran kekuatan seperti ini belum MEMADAI karena TNI Angkatan Udara harus melengkapi diri dengan pesawat pembom, pemburu-pembom jarak jauh, pesawat anti gerilya Counter Insurgency (COIN), pesawat tanker, heli-heli combat-SAR, radar-radar GCI dan EW,

    Pemekaran pasukan korpaskhas dengan cara membentuk batalyon-batalyon pemukul dan batalyon-batalyon pertahanan udara berupa situs-situs rudal darat ke udara (SAM), serta artileri anti serangan udara dan merupakan gagasan ideal yang mesti masuk dalam Grand Strategy yaitu pengadaan PESAWAT SILUMAN

    Perlu dipertimbangkan lebih jauh yaitu
    DOKTRIN untuk dapat menambah dari balik cakrawala atau bahkan jauh dari belakang garis depan pertempuran.
    Kehadiran pesawat AEW dan AWAC’S akan memberikan peluang bagi pengembangan doktrin tempur. Pemberdayaan Wilayah Pertahanan Udara

    Rakyat berharap TNI beli C295 untuk patroli maritim pakai sistim radar AESA ,tidak seperti yang dikembangkan spanyol yang masih pakai piringan putar.Selain susah merawatnya karena harus berputar/bergerak terus juga sudah ketinggalan jaman.
    ATAU
    Sekalian aja peran KOMANDO dan AEW dijadikan satu untuk ngirit seperti memiliki pesawat AEWC&C Wedgetail seperti milik australia yang tentunya spesifikasinya disesuaikan dengan kebutuhan negara ini

    Makanya saya lebih setuju membeli pesawat boeing 737 Wedge Tail Atau SEKELASNYA untuk meringkas peran peran pesawat AWACS dan AEW&C..
    Sesuai standartnya yang diinginkan user TNI AU
    butuh 2 pesawat sekelas E-3 Sentry AWACS dengan pertimbangan satu di barat dan satu di timur, serta 8 pesawat sekelas E-2C Hawkeye masing-masing 4 di barat dan timur.

    Nah diringkas saja menjadi beli 4 wedge tail atau sekelasnya 2 ditaruh di barat dan 2 ditaruh di timur,,

    Jangan ngomong gak ada duit,,lebih baik HIBAH dari nevada ,nggak ada yang ngutangin dll,(KARENA sekarang pada banyak yang ngotot tuk menerima HIBAH itu)

    Pertimbangannya hitung hitungannya akan lebih murah dari pada kalau harus merefurbish 10 pesawat dan biaya perawatannya nanti,apalagi teknolinya jadul dan susah merawatnya,
    lihat pesawat boeing 737 survelier kita beli dari baru sudah 31 thn tapi masih SEHAT

    JADI KEDEPAN
    Kalaupun dibelikan (kopi manis) yaa tahap awal 2 unit atau maks 3 unit Boeing 737WedgeTail atau minim Embraer 99 AEW&C(Embraer ini pernah ditawarkan oleh pabrikannya kpd user tetapi gak tau kenapa gak dipublish )

    Kalau kopi rada manis yaa dibelikan 3 unit C295 AEW&C dengan radar AESA Erieye airborne radar dari Saab Microwave

    Kalau kopi pahitnya yaa dibelikan 2 unit C295 AEW&C dengan radar rotadom milik IAI/ Elta Israel
    Atau lebih MIRIS (kopi pait pol) nunggu hibah E2 and E3 dari nevada menuruti yg pada ngotot.

    Seingat saya Mbah Surip meninggal dulu kebanyakan minum kopi pahit

    Konflik LAUT dan UDARA di asia tenggara sangat mungkin terjadi kita harus SIAP dari sekarang.

  9. Pesawat AWACS B 737 AEW & C Wedgetail milik ausie mempunyai Radar dengan radius maks 600 km dengan kualitas Radar MESA,
    Radar tersebut bisa menjadi kepanjangan MATA dan JAMMER bagi armada pesawat EA-18 Growler Next Generation Jammer (NGJ) yang memiliki spesifikasi khusus jammer dengan AESA radar AN/APG 79 dan mampu membawa rudal Amraam yang mampu mencapai 180 km,
    Ausy juga dibantu dengan F-18 E/F yang juga memiliki radar Aesa,
    ini gambar si wedgetail itu http://www.ausairpower.net/ADF/Wedgetail-FF-S.jpg

    Pesawat EA 18G ini berbahaya.
    Dari missile apapun yg mengandung infra red atau laser gak akan berguna. Tanpa dibantu awacs pun tetap berbahaya
    kalau ada yg mau mengusik pesawat ini kehadirannya pun bakal di rasakan dengan kedap kedipnya radar bila growler dalam kondisi aktif..

    Sementara dari armament Sukhoi F5,F16 dan HS Hawk kita punya banyak yg mengandung infared dan laser..
    Tentunya armada sukhoi kita akan kesulitan menghadapi Wedgetail dan si Gowlier ini ..
    Tetapi jangan lupa kabarnya resiko penggunaan jammer si growler seperti pisau bermata dua selain mengenai lawan kawan sendiripun bakal terkena dampaknya ( bahkan perabotan elektronis yg ada dikockpit sigrowler pun terkena dampaknya), ini salah satu kelemahan yang bisa kita manfaatkan

    Nah Sekarang bagaimana kita melumpuhkan metoda peperangan udara ausy dalam menggerakan Gowlier ,f18 E/F nya dan Pesawat AEW&C Wedgetail juga armada tanker udaranya,,

    Untuk membunuh tankernya,dan F18 E/F..tentunya bisa dengan jarak jauh menggunakan rudal BVR yg dilepas Sukhoi kita
    Rudal udara ke udara itu adalah RVV-AE/AA-12 ADDER (BVRAAM), istilah nato AA-12 ADDER atau rusia Vympel R-77 adalah rudal jarak menengah,
    R-77: daya jangkauan 90 km (55.92NM)
    R-77M1: daya jangkauan 175 km (108.7NM)

    Dan bila harus diselesaikan dengan DogFight
    Juga bisa menggunakan
    rudal AA-10 Alamo dan Rudal AA-11 Archer

    Sedangkan untuk membunuh (shot down) AEW&C Wedge Tail ausy
    Bisa Dengan Kamikaze special forces (Pasukan Kamikaze khusus) and fighter aircraft attacks should be expected,, ATAU serangan jarak jauh dengan Rudal anti-radiasi the opponent have that level of sophistication.

    Nah kita bisa menembakan KH-31 (AS-17C Krypton)dari Sukhoi dengan memilih serinya
    Kh-31:Kripton
    Kh-31A: daya jangkau 25 km–50 km (13.5–27 nmi; 15.5–31mi)
    Kh-31P: daya jangkau up to 110 km (60 nmi; 70 mi)

    Daftar rudal sukhoi http://www.ausairpower.net/XIMG/russian-aams.png
    dan ini skema daya jangkauannya http://www.ausairpower.net/XIMG/Su-30-AAMs.png

    Rudal AS-17C Krypton Dalam perkembangannya rudal ini bisa dipasang di kapal laut ataupun pesawat tempur
    Kelebihan rudal ini, mampu menghantam kapal perang, drone ataupun pesawat mata-mata.
    Untuk itu AS-17C Krypton disebut juga “AWACS killer”. Ia bisa menembak sasaran baik di darat maupun udara. panjang 5, 2 meter dengan berat 600 Kg dan mampu menembak sasaran sejauh 200 km.

    Dan ini skema penembakan rudal tersebut dari sukhoi
    http://www.ausairpower.net/XIMG/Su-30MK+Kh-31-2.png

    Dan ini plengky yang siap membunuh lawan lawannya dengan full tentengan
    http://th02.deviantart.net/fs70/PRE/i/2011/290/d/3/su_30mk2_tni_au_v2_by_siregar-d4a7nci.jpg

    Setelah Kekuatan udara ausy rontok baru SKWADRON C295 campuran kita menghancurkan armada kapal tempur ausy..dengan rudal rudalnya dan torpedo torpedonya

    Tentunya kita tidak melupakan peran dari TNI AL
    Dikarenakan TNI AL mampu menjatuhkan pesawat pesawat lawan dari KRI kita dengan rudal rudal barat dan rudal rudal ruskie club-N, yang dirancang untuk diluncurkan dari kapal permukaan. atau
    dari KS kita yang jauh menerobos garis ZEE kita dan merangsek masuk daerah lawan mencegat armada tempur udara musuh dengan menembakkan rudal club-S, yang dirancang untuk diluncurkan dari kapal selam (serangan dari KS yang tidak bisa diduga datangnya darimana oleh ausy)
    Dan membantu menghancurkan armada laut lawan yang tersisa
    Reply

  10. kembangkan saja dulu perisai dome untuk mengcover wilayah NKRI dari sabang sampai merauke baru memikirkan hal pesawat peringatan dini AEW&C, Anti Kapal Selam dan Anti Kapal Permukaan.

  11. Latgab tni th 2014, rudal2 sukoi yg disebut bung satrio moga2 bisa diuji coba, dan cn 235 mpa tni al yg membawa rudal/terpedo juga bisa diuji coba.
    Klo lawan ausie yg mempunyai doktrin penguasaan udara dgn mengandalkan Gowlier ,f18 E/F nya dan Pesawat AEW&C Wedgetail juga armada tanker udaranya (sebelum F35 yg dipesan dtg , mungkin 10 th lagi dtg ha ha ha), indonesia untuk kedepan harus menambah minimal pesawat tempur kelas berat 1 skawdron Su 35, dengan penempatan di iswahyudi untuk mencover wilayah mulai NTT (menghadapi ausie) sampai sumatra (menghadapi singapura/sekutu utama ausie+AS) dengan tambahan 2 unit atau maks 3 unit Boeing 737WedgeTail atau minim Embraer 99 AEW&C (sesuai hitungan bung satrio). Itu juga sesuai keinginan KSAU bahwa TNI AU lebih menaruh minat ke pesawat peringatan dini yg berbadan lebar yg bisa menjangkau seluruh nusantara krn luasnya wilayah Indonesia.
    Dan satu lagi menurut infonya TNI AU juga untuk th 2013/2014 mempunyai renc mengakusisi rudal pertahanan udara jarak menengah. Lebih cepat lebih baik, semoga tidak salah pilih, karenadatangnya barang sangat lama. (kombinasi Pantsyr S-1 + S-300 ==>jempol)
    Sebenarnya memang paling bagus efek deterent adl mempercepat pembuatan roket kendali jarak jauh yang bisa menjangkau ausie (berikan dana yg cukup untuk pengembangan itu), meniru Korut, wlo urusan kecanggihan pesawat tempur kalah dengan korsel dan amerika tapi mereka punya roket dan rudal yg bisa menghancurkan kota2 di korsel, wlo klopun terjadi perang sungguhan misalnya korut kalah dgn korsel dgn sekutunya tapi korsel juga rugi banyak dgn hancurnya byk kota+hilangnya byk nyawa. (itulah namanya efek deterent).
    Nah klo untuk menghadapi singapura+malasyia kita sudah punya modal untuk itu dengan ditempatkan roket2 kita diperbatasan jelas bisa mengjangkau wilayah mereka. Klo dengan ausie , jarak lewAt kupang dengan australia sekitar 400km maka membutuhkan roket jarak jauh (wlo pembuatan dan uji coba roket dengan jarak 500 km dirahasiakan ha ha ha wlo akhirnya nantinya bocor juga di dunia maya). Tapi itulah efek deterent yang menggetarkan ausie krn kita punya roket yg bisa menjangkau kota2 di ausie. Ingat ausie mempunyai pulau christmas yg berjarak sekitar 260 km dari sukabumi!!!!
    Kayak Israel wlo mepunyai Iron drone menghadapi roket hamas akhirnya kewalahan juga krn ada yg bisa menjangkau kota2 di israel ha ha ha.
    Ingat 1 s/d 2 tahun ke depan kolaborasi hi hi hi Inggris, Australia, Amerika, dan Singapura akan memojokkan posisi Indonesia ttg masalah Papua dll. Maka baik baiklah Indonesia dengan china, rusia yg mempunyai hak veto.

    Maaf membahasnya agak melenceng dari tema diatas , krn ngikutin coment2 teman2 diatas hi hi hi.

 Leave a Reply