Patung Icarus
Patung Icarus

Dewasa ini teknologi telah berkembang dengan sangat pesat, dan akan terus berkembang dengan potensi yang seakan tidak memiliki batas. Sehingga hanya dalam tempo satu abad saja teknologi telah merubah hampir segalanya, termasuk pola pikir dan cara hidup manusia. Salah satu yang berkembang bersama kemajuan teknologi adalah ekonomi dan peradaban. Sistem ekonomi telah berkembang luas dan lebih rumit dibandingkan dengan sistem ekonomi tradisional jaman dahulu. Sebab teknologi memungkinkan segala sesuatu dapat dilakukan dengan lebih mudah, efektif, efisien dan hampir tanpa batas.

Atas dasar alasan tersebut manusia kemudian terus mengembangkan teknologi sebagai bagian dari investasi ekonomi dan juga agar ekonomi itu sendiri tetap hidup dan berkembang. Sehingga terbentuk hubungan simbiosis simetris antara ekonomi dan teknologi. Pada akhirnya kemajuan dalam kedua bidang tersebut kemudian turut memajukan peradaban manusia. Dan meskipun peradaban manusia ikut terdorong perkembangan keduanya, namun di satu sisi hal ini juga menyimpan permasalahan. Peradaban manusia seakan menjadi tergantung dengan kedua hal itu, dan ini dapat menciptakan konflik.

Manusia sedari awal perkembangan peradabannya telah menciptakan batas – batas lingkup teritorial sosial, baik individu maupun komunitas. Dengan berjalannya waktu jumlah populasi manusia akan terus bertambah, kebutuhan ekonomis juga akan terus bertambah. Permasalahannya setiap teritori tidak menyimpan kandungan sumber daya dalam jumlah dan ragam yang sama, dan setiap teritori berdiri secara berdampingan dengan teritori lain dalam garis – garis batas. Maka solusi bagi kedua masalah atau salah satunya adalah dengan mengembangkan teritori atau menciptakan ‘remote teritory’.

Mengembangkan teritori secara horisontal atau melebar dapat menyebapkan konflik teritorial. Karena dalam prosesnya akan mengambil sebagian atau mengakuisisi seluruh teritori tujuan. Praktik semacam ini dilakukan sejak jaman kerajaan kuno, dapat dilihat dari tulisan sejarah yang memuat banyak perang teritorial, invasi dan agresi. Namun sejak berkembangnya teknologi dalam segala aspek, praktik semacam ini menjadi tidak relevan dan tidak efisien. Maka kemudian muncullah agenda remote teritory, yaitu suatu wilayah yang dikendalikan secara tidak langsung atau dalam pengertian umum kekinian biasa disebut “negara boneka”. Namun dengan semakin berkembangnya nasionalisme dan adanya faktor asimetrik menjadikan pelaksanaan remoting teritory semakin sulit. Maka pilihannya kembali pada opsi pelebaran horisontal, keduanya pada akhirnya menjadi siklus konflik berkepanjangan.

Letak permasalahan utamanya bukan pada konflik itu sendiri atau pada hasrat manusia yang tidak mengenal batas, akan tetapi ada pada planet bernama Bumi. Bumi adalah satu – satunya tempat tinggal manusia dan manusia tidak dapat meninggalkan bumi untuk hidup di tempat/planet lainnya dan di sinilah letak kebuntuannya. Maka apabila terjadi konflik terlebih dalam skala besar, bumi akan menjadi semacam ‘Hell’s Pit’ bagi seluruh umat manusia itu sendiri. Mengetahui hal ini maka dahulu semua negara besar bersikeras dan berusaha keras agar konflik perang dingin paska perang dunia kedua agar tidak meletus. Bisa dibayangkan betapa mengerikan akibatnya apabila setiap negara – negara besar saling bertukar tembakan bom nuklir. Seperti berdiam didalam rumah, mengunci pintu – pintunya lalu dengan sengaja membakarnya dari dalam. Kiamat karena arogansi kebodohan.

Satu – satunya jalan penyelesaian bagi segala permasalahan hasrat manusia di bumi adalah, manusia harus meninggalkan bumi, ekspansi vertikal ke arah luar angkasa. Cepat atau lambat segala sumber daya alam yang ada di bumi akan terkuras dan manusia akan membutuhkan tambahan lahan huni. Permasalahannya eksplorasi sumber daya alam berlebihan dapat merusak bumi, dan lagi perluasan lahan hunian tidak dapat dilakukan tanpa mendesak alam itu sendiri. Pada akhirnya manusia harus mengarahkan segala macam kepentingannya keluar, baik itu agenda politik, ekonomi, militer maupun keberlangsungan hidupnya.

Icarus terbang ke matahari dan akhirnya mati (photo: deviantart.net)
Icarus terbang ke matahari dan akhirnya mati (photo: deviantart.net)

Dengan mengalihkan prioritas manusia keluar maka secara langsung juga akan mengalihkan potensi konflik keluar. Dalam artian potensi perang akan terjadi diluar bumi dan lebih jauh -dengan kesepakatan bersama- bumi dapat hanya dijadikan sebagai tempat yuridiksial saja. Maka bumi akan menjadi tempat yang aman dan manusia dapat menjamin tingkat survivabilitasnya meskipun manusia berperang secara habis habisan diluar angkasa.

Bagi sebagian, wacana eksplorasi ruang angkasa masih terdengar futuristik. Sebagaimana dahulu orang menanggapi wacana pergi ke bulan adalah khayalan mimpi belaka. Sebagian negara telah berlomba – lomba menapaki ruang angkasa, sebab mereka mengetahui potensi besar apa yang tersimpan disana. Terutama adalah karena siapa yang pertama kali menguasai ruang luar angkasa maka secara otomatis dia pula yang akan menetapkan hukum pertama di luar angkasa. Hal ini menjadi sangat penting sebab hukum tersebut dapat menjadi aturan yang memungkinkan monopoli bagi negara atau pihak tertentu. Pada akhirnya, meskipun ruang angkasa itu begitu luas melebihi imajinasi manusia, namun tidak cukup luas untuk menampung hasrat manusia. Dan inilah yang pada nantinya akan menjadi awal konflik dalam episode eksplorasi luar angkasa, star wars dalam artian sebenarnya.

Untuk mencapai luar angkasa tidak mungkin dapat dilakukan tanpa adanya teknologi, sementara teknologi tidak mungkin akan berkembang tanpa adanya dukungan finansial, kembali lagi ke ekonomi. Indonesia dari ufuk timur hingga ufuk barat telah dianugerahi dengan aneka ragam sumber daya alam yang melimpah ruah. Nenek moyang kita menyebut negeri kaya ini dengan sebutan Nusantara Gemah Rimpah Loh Jinawi. Segala kekayaan itu, jika Indonesia dapat menjaga dan mengelolanya dengan baik akan dapat digunakan untuk mensejahterakan rakyatnya, dan tentunya dapat menjadi modal untuk menggapai ambisi yang lebih tinggi, invasi luar angkasa. Mengapa tidak?!.

Meskipun tidak sejauh upaya yang telah dilakukan oleh negara – negara besar namun Indonesia telah merintis jalan ke arah sana. Sebagai mula – mula Indonesia menelurkan proyek roket RX yang diorientasikan dapat meluncurkan satelitnya sendiri. Cukup sederhana bila dibandingkan dengan ambisi Amerika yang telah ingin menjadi negara pertama yang menapakkan kakinya di planet Mars. Meskipun demikian upaya untuk melongok ke luar angkasa telah ada dan harus terus dijaga dan diteruskan. Sebab mengejar mimpi luar angkasa tidak hanya memberikan prestise, tapi teknologi serta produk yang dihasilkan darinya dapat memberikan insentif ekonomi yang besar, potensi pengembangan militer dan terutama bagi kemanusiaan itu sendiri.

Masa depan peradaban manusia ada diluar angkasa, diluar batas – batas atmosfir bumi, di sela – sela bintang, diantara ruang dan waktu. Eksplorasi luar angkasa sudah menjadi bagian dari takdir manusia. Dengan segala modal awal yang dimiliki negeri ini, sudah waktunya bagi Indonesia untuk menatap dengan percaya diri masa depan yang lebih jauh, memantapkan kaki untuk melompat lebih tinggi. Namun segala hal di dunia ini tidaklah berjalan secara instan, segalanya berjalan melalui proses upaya dan perjuangan yang panjang. Setiap langkah besar selalu diawali dengan langkah kecil. Dan langkah kecil itu bisa kita mulai dari sekarang, bahkan mungkin, kita sudah lama memulainya. With regards,

by STMJ

Tinggalkan komentar