Mei 152017
 

Pesawat tempur Super Flanker, Sukhoi Su-35 Rusia (Aktug Ates)


Pemerintah Rusia tertarik dengan produk karet asal Indonesia. Hal tersebut diutarakan Rusia menanggapi kebijakan Pemerintah Indonesia dalam mengimplementasikan imbal beli dengan negara produsen senjata.

Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan, Oke Nurwan menyampaikan bahwa produk karet yang diminati itu adalah crumb rubber (karet remah). “Mereka tertarik di crumb rubber. Tapi belum kami putuskan,” ujar Oke, seperti dikutip kontan.co.id pada Senin (15/5).

Komoditas karet menjadi salah satu yang tengah dikaji oleh pemerintah untuk imbal dagang dengan produk senjata Rusia. Menurut Oke, payung hukum dari jenis produk yang disepakati dengan mekanisme imbal dagang akan dibuat dalam bentuk Peraturan Menteri.

Dengan Rusia, produk yang diinginkan oleh Pemerintah Indonesia adalah pesawat tempur Sukhoi. Adapun nilai imbal dagang yang akan dilakukan dengan Rusia sekitar 600 juta dolar AS.

Pengadaan Jet Tempur Su-35, Gunakan Skema Imbal Beli

Skema imbal beli atau pola yang diterapkan oleh pemerintah dengan mewajibkan eksportir negara mitra dagang untuk membeli produk dalam negeri, dinilai mampu untuk meningkatkan ekspor serta membuka pasar-pasar baru tujuan ekspor.

Direktur Fasilitasi Ekspor dan Impor Direktorat Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Nusa Eka, Jumat mengatakan bahwa skema imbal beli tersebut wajib untuk pengadaan barang pemerintah yang berasal dari impor dengan nilai tertentu dan atau berdasarkan peraturan perundangan.

“Saat ini kita melihat ada perlambatan ekspor, dan imbal beli ini bisa kita pergunakan sebagai salah satu instrumen untuk penetrasi produk ekspor. Selain itu juga salah satu instrumen untuk mengatasi hambatan dan kendala ekspor,” kata Nusa Eka, di Jakarta. 16/12/2016.

Kementerian Perdagangan telah mengeluarkan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 44/M-DAG/PER/6/2016 tentang Ketentuan Imbal Beli Untuk Pengadaan Barang Pemerintah Asal Impor sebagai landasan hukum untuk instrumen tersebut.

Skema imbal beli merupakan suatu cara pembayaran barang yang mewajibkan pemasok luar negeri untuk membeli dan atau memasarkan barang tertentu dari Indonesia sebagai pembayaran atas seluruh atau nilai sebagian barang dari pemasok luar negeri.

Selain imbal beli, instrumen lain yang bisa dipergunakan oleh pemerintah antara lain adalah barter atau pertukaran barang dengan barang lain, pembelian kembali dan offset atau pembelian barang dimana pemasok luar negeri menyetujui untuk melakukan investasi kerja sama produksi dan alih teknologi.

Skema imbal beli tersebut wajib dilaksanakan pada program pengadaan barang asal impor, seperti oleh Kementerian Lembaga, Badan Usaha Milik Negara, Badan Usaha Milik Daerah, Lembaga Pemerintah Non Departemen, yang menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.

Salah satu contoh rencana pengadaan barang oleh pemerintah dengan menerapkan skema imbal beli dan offset adalah pengadaan delapan unit pesawat tempur Sukhoi SU-35 senilai 1,14 miliar dolar AS. Dalam kesepakatan tersebut, skema imbal beli yang wajib dilakukan oleh pihak Rusia senilai 570 juta dolar AS.

Dalam konteks imbal beli, Indonesia sudah menawarkan sebanyak 35 produk ekspor kepada pihak Rusia. Sejauh ini pihak Rusia sudah menyampaikan keinginan mereka untuk membeli karet alam produksi dalam negeri, namun tidak menutup kemingkinan untuk membeli produk lainnya.

Rata-rata impor Rusia dari dunia untuk karet alam pada 2011-2015 tercatat sebesar 11,5 juta dolar AS per tahun. Namun, dari rata-rata nilai impor tersebut, Indonesia sama sekali belum menjadi negara pemasok kebutuhan Negeri Beruang Merah tersebut.

Produk yang ditawarkan dalam skema imbal beli antara lain adalah produk manufaktur seperti produk kayu, produk kimia, peralatan konveksi, elektronik dan lainnya. Sementara untuk produk industri primer adalah logam mulia, kopi olahan, ikan olahan dan lain-lain, serta komoditi primer seperti udang, rumput laut, batu bara dan karet alam.

“Mereka sudah menyampaikan keinginan untuk membeli karet alam kita, tapi tidak menutup kemungkinan untuk produk lain,” kata Nusa Eka.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), pada November 2016 tercatat ada peningkatan impor senjata dan amunisi sebesar 51,3 juta dolar AS. Secara kumulatif, pada periode Januari-November 2016 nilai impor Indonesia secara keseluruhan mencapai 122,86 miliar dolar AS.

Sementara untuk ekspor, pada periode yang sama mencapai 130,65 miliar dolar AS atau menurun 5,63 persen dibanding periode yang sama tahun 2015. Dengan demikian, hingga November 2016, neraca perdagangan masih mengantongi surplus sebesar 7,79 miliar dolar AS.

Sumber: kontan.co.id dan JakartaGreater

jakartagreater.com

  133 Responses to “Imbal Dagang 600 Juta USD, Rusia Tukar Sukhoi dengan Karet”

  1.  

    nah setuja nih imbal beli. jadi enggak ada dolar yang keluar negeri. greapen dan sukoi bisa jalan bareng. good lah

  2.  

    komen saya di telan bumi

  3.  

    masih ingat as australia menyadap RI yg ingin tau cr pembayarn trnsaksi alutsista yang di beli dari russia ? mungkin ini pengaburan pemerintah untuk menyamarkn jumlah dan cara pembayarnya
    asal tebak aja bung para senior jkgr..hihihi

  4.  

    wow … mantap … lanjutkan

  5.  

    Ya ampuuunnnnn…saking mahal nya ni perawatan/harga pesawat rongsok sampe2 harus jualan karet segala….udah pak….ambil yg pasti2 aja pak, pesawat dg teknologi baru nan canggih yg perawatan nya pas di kantong negara kita pak….betul pak pesawat tempur gripen jawaban nya pak….

  6.  

    HUAHAHAHA !!! Kagak useh karet…Lah limbah pabrik tahu aje pantes ditukar ame ni barang…

  7.  

    S7 pendapat tn phd..kita hanya memenuhi mef th 2019..itu hanya tambahan Sukhoi yang mo di kirim ke sini,wong Om panda aja ngebet bli banyak.. pertanyaan nya ngapain Om panda bli bnyak ni barang..ahay..??? mungkin tn phd bs diskusikan..Gripen,bdai da pada nongkrong di mari ko.. apalagi 35…hahahaha.. nyuruput kopi lagi..ngarep.com

  8.  

    bung Edo tak usah gengsi langkah pemerintah kalau clear sudah sangat bagus dan cerdas

  9.  

    sekenyal kenyalnya karet masih lebih kenyal calon transaksi su-35 kali ini
    bahkan alot pula
    meskipun dari awalnya sudah ada opsi barter dengan karet alam namun setelah jauh melangkah baru menimang kenyalnya karet
    jadi kaget terkenyal kenyal bila memang nanti suatu hari su-35 betul betul jadi batal mendarat di bumi pertiwi tercinta

  10.  

    Hahaha … Sekarang Cintia pindah kewarganegaraan Malon

    Cin … Ngurus negara itu gak cukup punya peralatan dan pasukan perang hebat, hrs punya taktik politik yg jooss, walaupun kita punya 1 jt rudal tetap aja kita bakal kalah sama negara2 di dunia xixixi

  11.  

    Siapa ya?? Aer Panas? Merem Belinya? Adi bin Slamet?