Jan 092016
 
Rafale

Rafale

New Delhi : Satu tim tingkat tinggi dari Prancis berada di India, 8/12/2016, untuk memberikan sentuhan akhir dari kerangka kesepakatan pemerintah-ke-pemerintah untuk pembelian 36 pesawat tempur jet Rafale yang kemungkinan akan ditandatangani akhir bulan Januari 2016.

Menteri Pertahanan Prancis Jean-Yves Le Drian diatur untuk mengunjungi India menjelang Hari Republik. Namun, tanggal belum ditentukan.

Sumber-sumber pertahanan mengatakan bahwa perjanjian, akan membuka jalan bagi kontrak akhir, kemungkinan akan ditandatangani sebelum kunjungan Presiden Prancis Francois Hollande. Hollande akan menjadi tamu utama pada perayaan Hari Republik.

“Satu tim ingkat tinggi Prancis berada di New Delhi untuk menyelesaikan perjanjian dan juga membahas ruang lingkup masa depan kerja sama militer,” kata sumber tersebut.

Jika semua berjalan lancar, kontrak akhir untuk 36 jet tempur Rafale diharapkan ditandatangani segera, yang akan datang sebagai bantuan besar bagi Angkatan Udara India yang telah mengincar pesawat selama lebih dari satu dekade.

Rafale 2

Meskipun perjanjian pemerintah-ke-pemerintah yang dijadwalkan akan ditandatangani tahun lalu itu sendiri, menjadi terombang ambing, antara lain, akibat atas isu-isu off-set, dan tweaking teknologi persenjataan.

Sumber tersebut mengatakan diskusi yang diadakan di “tingkat tertinggi” dari kedua pihak untuk mengikis hambatan.

Desakan India pada klausal 50 persen off-set, tweaking teknologi persenjataan dan rencana untuk mendirikan dua basis pesawat tempur Rafale, menghentikan negosiasi. Namun pembicaraan baru-baru ini dari Perdana Menteri Narendra Modi yang mengumumkan keputusan mengakuisisi 36 pesawat selama perjalanan ke Prancis pada bulan April, telah memecah kebuntuan. Pesawat akan dibeli dalam kondisi rakitan.

Pengumuman itu datang sebagai dorongan untuk rencana modernisasi Angkatan Udara India (IAF) sebagai kesepakatan awal untuk membeli 126 pesawat Rafale melalui proses tender, yang sempat terjebak selama bertahun-tahun. India telah membentuk sebuah komite yang dipimpin oleh Marsekal SBP Sinha untuk mengadakan negosiasi dengan Prancis.

Indiandefensenews.in

  12 Responses to “India Beli 36 Jet Rafale dari 126 yang Direncanakan”

  1. Mantap nih Takur.

  2. kapan kita beli ya…….kokcuma dibahas terus………sedih rasanya

  3. Saya cuma berharap SU35 yang di incar Indonesia tidak terkatung katung kayak India ini . Jangan terlalu di paksakan Tot harus 30% ,belinya ketengan mintanya banyak ….

    India borong 36 unit minta off-set 50 % saja susah. Realistis dikit napa?

    • Yaiyalah…

      Kontrak yang diteken 126, yang dibeli cuma 36, udah itu yang diminta macem2

      Sama kayak lagunya malesia, teken kontrak 27 kapal kedah class yang jadi dibeli cuma 6

  4. Inspektur Vijai…. gila juga kalau belanja

  5. Harusnya kita beli juga yang bisa TOT, kan katanya EuroFighter nawarin TOT kalo TNI beli yah,….

  6. Mimpiiiiii.negeri dongeng.kapal selam saja di kajii terusssss.sudah bertahun tahun cuma di kaji teruss.kalau tak punya duit cakap saja tak usah bohong.beli pesawat amphibi saja cuma 2 biji mau tot mimpiiiii.tak punya duit cuma beli 2 itupun masih DIKAJI .kwk kwk kwk. Su 35 pun cuma 12 mau tot hhaaaaaa itupun masih DIKAJI.

    • mo perang sama sopo, mas…

      Negara asing takut ama Indonesia, krna rakyat punya rasa nasional alias dari sononye emang bangsa pejuang. Laen lg klu ttg karakteristik dari org2 malon. Yg satu ini ane rada kurang tau…..

  7. ada seorang beruk malon mengatakan malaysia akan buat rafale….mana buktinya lon,malon emang tukang hoax

  8. india terlalu kemaruk mau mengambil lisensi untuk penjualan produk. mana mau prancis? bahkan dapat di yakini pesanan sejumlah 126 itu juga diragukan. jika saja tejas berjalan mulus, serta produksi sukhoi 30 mki tidak berlarut larut maka mig 21 bison dapat segera dibesituakan seluruhnya. hanya prioritas drdo yang bercabang serta mengejar supremasi rudal, beberapa proyek mengalami hentian.
    India sendiri jelas mengincar teknologi rafale untuk pespur gen 5 nya dan opsi pengembangan tejas, sehingga inventaris pespurnya menjadi sederhana.
    Naga-naganya indonesia juga demikian. setelah sudah memesan f 16 sebagai stop gap, maka wacana pesawat tempur ringan hawk bakal tergantikan oleh gripen segera. sedang nasib f 16 sendiri jadi kanibal untuk t 50 golden eagle. jika meniru india mestinya indonesia juga mungkin memesan rafale dan/atau typhoon untuk melengkapi/memenuhi teknologi pesawat ifx setelah kita berlepas dari standar kfx. sebagian peran rafale/typhoon kelak pun bisa menghapus peran f 16 kita yang harusnya berhenti saja di angka 24 unit. Agar menjaga pesanan pesawat militer dengan AS tetap ada , mungkin pilihan untuk mengalihkannya ke pesawat angkut besar justru kita sangat diperlukan (imho).
    salam tabik

  9. mari kita bermimpi
    2 ska pespur kls berat & 1 ska pespur medium di Sumatera
    2 ska pespur kelas berat & 1 ska pespur medium di Kalmantan
    2 ska pespur kelas berat & 1 ska di sulawesi & nusa tenggra
    3 ska pespur kelas berat di papua
    dan 3 ska pespur kelas berat & 1 ska pespur kelas medium di jawa dst
    .
    setelah itu bangun dan berkerja 2x lipat dari biasanya.
    1x bermimpi 2x bekerja #45

  10. wah 2 skuadron banyak juga

 Leave a Reply