Opini: “India Butuh Jet Tempur, Bukan Sekedar Pabrik”

Para pengunjung yang hadir di Aero India tahun ini bisa dimaklumi apabila merasakan dejavu. Kembali pada tahun 2011, soundtrack acara itu menderukan pesawat tempur atas tawaran yang ingin menempatkan jet tempur melalui langkah-langkah yang mereka ambil.

Multi-Role Combat Aircraft (MRCA) Su-30MKI. (© Wikipedia)

Suara kali ini juga sama, dengan jumlah peserta yang berulang kali tampil di udara termasuk Dassault Rafale, Lockheed Martin F-16 dan Saab Gripen semuanya dipamerkan di langit.

Sebagai penambah dalam obrolan yang akrab dari para sales yang menjanjikan kemampuan tempur dan yang terpenting yaitu kemitraan industri.

Enam tahun lalu, Aero India melihat klimaks dari kompetisi negara pada Medium Multi Role Combat Aircraft (MMRCA) untuk 126 unit pesawat. Kisah panjang ini memiliki enam aktor dan menampilkan plot yang alot dalam epik Bollywood paling berliku-liku.

Rafale akhirnya menang, akan tapi setelah bertahun-tahun melakukan perundingan yang berliku-liku, akhirnya New Delhi membuang program MMRCA sama sekali karena tidak tercapainya kesepakatan alih teknologi. Sebaliknya, 36 unit jet tempur Rafale yang dipesan masih dalam kondisi yang tak terkendali.

Sementara itu, armada usang MiG era perang dingin yang seharusnya digantikan oleh MMRCA kini kian membusuk, mengikis kemampuan Angkatan Udara India.

Pesawat tempur lain yang dimaksudkan untuk menjadi pengganti atas beberapa aset tua buatan Hindustan Aeronautics Limited (HAL), Tejas, telah menjadi pemain yang buruk selama bertahun-tahun.

Pesawat ini sangat lambat memasuki layanan setelah beberapa dekade dalam pembangunan. Diukur terhadap tingkat kepemilikan sendiri yang rendah, Tejas memang telah membuat kemajuan. Namun, dengan standar internasional yang sudah usang.

Pameran tahun ini terlihat jet tempur veteran MMRCA sedang bertarung pada beberapa persyaratan, yaitu pesanan yang tidak jelas untuk 100 unit jet tempur bermesin tunggal, ditambah permintaan informasi Angkatan Laut untuk 57 unit jet tempur kapal induk.

Berharap dua hal dari kespakatan. Pertama, singkatan MMRCA yang aneh akan diterapkan untuk kedua jenis jet tempur tersebut. Kedua adalah partisipasi industri dan alih teknologi, kebutuhan produsen yang sangat tinggi.

Pembagian kerja konstruksi kepada lokal tidak semuanya buruk, dan pekerjaan dirgantara dengan kemampuan tinggi akan membuat senang para politisi global. Yang mengatakan, New Delhi menempatkan terlalu banyak memberikan penekanan pada nilai industri dalam membeli pesawat tempur, dan bukannya tujuan untuk militer dalam akuisisi mereka.

Kemampuan strategis tidak bisa didapatkan hanya demi keuntungan ekonomi semata. Jika akuisisi jet tempur baru India mengalami kegagalan sama seperti program MMRCA, maka angkatan udara India akan terus menatap armada usangnya.

Flight Global

Tinggalkan komentar