India-Cina Memanas, Sukhoi dan J-16 Parkir di Perbatasan

Jet tempur J-16 Angkatan Udara PLA di Western Theater Command © Liu Yinghua via China Military

Jakartagreater – Ketegangan antara China dan India sempat memanas meskipun kedua negara sepakat untuk mengakhiri sengketa perbatasan di kawasan Ladhak. Sebelumnya Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) China memarkirkan pesawat pembom baru J-16, sementara India mengerahkan Sukhoi Su-30MKI buatan Rusia.

Kementerian Luar Negeri India, seperti dikutip sejumlah media mengatakan militer India dan China sepakat menarik pasukan tambahan dari wilayah sengketa di Ladhak. Sementara diplomat kedua negara telah berkomunikasi terkait hal itu.

Jet tempur J-16 Angkatan Udara PLA di Western Theater Command © Liu Yinghua via China Military

Baca Juga:

Su-35 dengan Avionik Buatan Barat?

General Electric Kirimkan Mesin untuk Prototipe KF-X

Pakar Tiongkok Kagum dengan Kemampuan Jet Su-57

J-16 China, Berfitur Siluman, Bisa Gotong Banyak Senjata

“Sebagai langkah awal, Militer India dan Cina (PLA) akan fokus menarik pasukan tambahan dan perlengkapan yang sudah diterjunkan ke lokasi sengketa (Ladakh),” ujar pernyataan pers Kementerian Luar Negeri India

Sebelumnya, South China Morning Post Kamis, 4 Jumi 2020 melaprokan ketegangan di wilayah Ladhak memicu peningkatan jumlah pasukan dan senjata oleh kedua negara.

PLA bahkan melakukan pengujian senjata dalam beberapa hari terakhir. Media yang berbasis di Hong Kong itu melaporkan PLA mengirimkan jet tempur ke dataran tinggi Tibet. Kawasan itu berbatasan dengan negara India.

Bahkan dari laporan satelit, pangkalan udara di wilayah tersebut sudah diperluas. PLA secara khusus memarkirkan J-16 yang merupakan pesawat pembom jenis baru yang dimiliki negara itu.

Hal yang sama juga dilakukan India dengan memindahkan batalion dari divisi infantri ke wilayah itu. India mengerahkan pesawat Sukhoi Su-30MKI yang menjadi andalan Angkatan Udara India.

Selain itu menurut pantauan media, terdapat 80 hingga 100 tenda pasukan yang bermunculan di sisi China.

Dilansir dari sejumlah sumber, persoalan perbatasan Himalaya menyebabkan ketegangan antara kedua negara. Keduanya bahkan meningkatkan penjagaan militer di lembah Galwan, di dataran tinggi Ladakh. Persoalan perbatasan itu sudah mencuat dan sempat menimbulkan peperangan pada 1962.

11 pemikiran pada “India-Cina Memanas, Sukhoi dan J-16 Parkir di Perbatasan”

  1. Shohih @Bung Ruskey yang Asli lebih Strooonggg….

    Btw @Bung Ruskey sebagai perwakilan RosoboronExport di Indonesia masak tidak bisa membantu mempecepat kedatangan Sukhoi SU35 ke Indonesia ?

    Jika Pesawat Strooonggg bingit SU35 sudah datang ke Indonesia ane Haqqul yakin bakalan bisa membuat para sekutu PakDe SAM dikawasan menjadi Meriang, Panas dingin, Deman serta Masuk angin…

    • Begini ceritanya bung @MasBay

      Pembelian kita ini agak unik, ada terganjal UU yg mengharuskan TOT atau jika tdk bisa melalui offset atau jg imbal beli dng produk eksport Indonesia utamanya produk pertanian.
      Kalo TOT tentu ada biaya tambahan yg dikeluarkan walaupun ToT maintenance sekalipun (krn tot banyak macamnya). Kalo offset sptnya PT.DI rugi kalo hanya disuruh produksi sirip ekor utk 11 pasang (spt f-16 block 15 OCU kita) krn nilainya kecil, kalo utk sayap utama gak mungkin krn disitu struktur vital kemampuan pesawat tempur.

      Maka pemerintah ambil obsi sebagian bayar cash keras sisanya imbal dagang dng komoditi pertanian. Namun kendalanya :
      – AS tidak mau US Dolar digunakan utk transaksi. Dia akan kasi blacklist pada Bank yg berani mengeluarkan kredit ekspor dng US Dolar.
      – Mau gunakan mata uang kedua negara berarti bicara besaran ekspor impor antara kedua negara, nilainya gak mencukupi.
      – Mau pakai komoditi terbentur pada harga kesepakatan. Rusia mau harga berlaku tetap selama kontrak. Sementara kita maunya harga pasar dunia yg dipake yg diupdate perbulan.
      – Komoditi yg diekspor tidak memiliki kebutuhan tetap di Rusia, berdasarkan penyerapan pasar. Ditambah bukan cuma Indonesia saja yg punya komoditi itu, melainkan negara lain yg terlibat perdagangan dng Rusia jg punya dan dijadikan alat bayar jg.

      Kalo dikatakan ganjalan CAATSA, tdk jg. Krn yg terkena langsung bukan kita tapi Bank penjamin. AS paham kita sdh punya Sukhoi sebelumnya jd gak masalah. Ditambah Kita juga mau beli Viper dr AS. Disini ada tarik ulurnya jg bung
      – AS maunya viper dibeli duluan sebelum SU-35.
      – Jika spt itu, kita maunya malah beli F-35 ketimbang Viper, krn menurut petinggi TNI, pengembangan F-16 sdh mentok 10 tahun kedepan. Makanya ada move dr pak Prabowo akan berpaling ke Rafale klo AS ribet banget.
      – Skrng malah ada wabah Covid-19 semua jd tambah ribet, krn ekonomi melemah, cadangan devisa anjlok. Tagihan IFX sdh menunggu. Kredit perbangkan International menetapkan pinjaman komersial bunga tinggi. Masih bersyukur klo bisa on the track sesuai rencana MEF. Tp sptnya berat. Mengingat TNI AU dan AL diakhir MEF ini belanjaannya duit gede semua. Gak ada yg recehan.
      Kita berdoa saja gak ngambil Tejas atau JF Sulfur, bakalan diketawain negara jiran klo itu terjadi….xicixicixicixicixi

  2. Avionik jelas menang J-16, kalo mesin menang Su-30MKI. Ironis, India itu lebih banyak beli Sukhoi daripada China tapi sekarang China bisa lebih bebas buat pespurnya sendiri dari J-11, J-15 hingga terakhir bisa buat J-20 dan J-31.

  3. Terima kasih banyak untuk @Bung Ruskey atas Penjelasan dan Penjabarannya. Jadi kesimpulan yang bisa saya tarik dari Penjelasan Bung Ruskey adalah lamanya kedatangan Pesawat Tempur Strooonggg bingit yang bisa Menghebohkan Mengguncang serta Menggemparkan kawasan Regional tak lain dan tak bukan adalah Pesawat Tempur SU35, karena masih belum bertemunya titik temu dan kesepakatan yang alot diantara 2 belah pihah (Russia dan Indonesia). Ditambah dengan turut ikut campurnya Negara yang “Sono” dalam Urusan dalam Negeri Indonesia….

    Sebagai warga negara Indonesia yang baik saya berharap agar Pespur SU35 dari Moskow Russia agar segera datang…

    Sehingga Indonesia bisa memiliki Pespur Heavy Fighter tersebut (SU35) dan memberikan efek Deterents / Gentar. agar tidak seperti pembelian dari Negara yang “Sono” yang hanya memberikan kepada Indonesia Pesawat Tempur Single engine yang padahal sudah dimiliki sejak Jaman Pak Harto hingga pergantian 5 Presiden berikutnya…

Tinggalkan komentar

Most Popular

Komentar