India Kembali Membuka Tender Untuk Memasok 110 Jet Tempur

Jet tempur multiperan Su-30MKI Flanker-H Angkatan Udara India. © g4sp via Wikimedia Commons

JakartaGreater.com – Sebuah kompetisi global untuk menjual lebih dari 100 jet tempur kepada Angkatan Udara India (IAF) dibuka kembali untuk yang ketiga kali dalam satu dekade pada tanggal 6 April, seperti dilansir dari laman Flight Global.

Angkatan Udara India (IAF) pun telah merilis permintaan sebanyak 73 halaman untuk informasi kepada enam perusahaan guna memasok 110 jet tempur bermesin tunggal dan bermesin kembar untuk India selama lebih dari 12 tahun.

Menghadapi tenggat waktu hingga tanggal 3 Juli, tanggapan diharapkan akan datang dari Boeing F/A-18E/F Blok III, Dassault Rafale F3R, Eurofighter Typhoon, Lockheed Martin F-16V Blok 70/72, United Aircraft Corp MiG-35 dan Saab Gripen E.

Tender itu akan menjadi persaingan yang akrab bagi ke-enam tim tersebut. Tim yang sama-sama bertarung pada tahun 2009 untuk kontrak Medium Multi-Role Combat Aircraft (MMRCA) sebanyak 126 jet tempur. Dimana India saat itu memutuskan untuk memilih Rafale, tetapi membatalkan kontrak tersebut tujuh tahun kemudian.

Sebaliknya, IAF memberikan kontrak untuk mengirim 36 Rafale kepada Dassault pada tahun 2016, dan meluncurkan kompetisi baru pada kontrak untuk membangun 114 pesawat tempur bermesin tunggal, yang membatasi kompetisi hanya pada F-16 dan Gripen E saja.

Namun, lagi-lagi IAF membatalkan kontes tersebut dua bulan yang lalu karena tekanan dari Kongres India untuk mempertimbangkan jet-jet tempur bermesin tunggal dan bermesin kembar.

RFI baru-baru ini telah membuka kembali kompetisi untuk pesawat tempur Amerika Serikat, Eropa Barat dan juga Rusia. Tapi RFI tidak menetapkan standar untuk jumlah mesin dalam pejuang masa depan IAF, dan berulang kali merujuk pada istilah mesin tunggal atau jamak dalam permintaan data tentang sistem propulsi.

Namun ditekankan dalam RFI tersebut bahwa Sekitar 82 unit dari 110 jet tempur itu harus menjadi pesawat berkursi tunggal dan sisanya adalah pesawat tempur berkursi tandem.

Seperti yang diharapkan, transfer teknologi dan “Make in India” akan menjadi prioritas dalam evaluasi tawaran IAF. Para penawar harus menjelaskan dalam tanggapan mereka kepada RFI bagaimana mereka akan menggunakan perusahaan India sebagai pemasok untuk sistem dan produksi pesawat.

IAF juga berencana untuk menilai para penawar tentang seberapa banyak kendali yang dapat mereka berikan pada integrasi persenjataan. “Vendor adalah untuk memberikan pengguna kemampuan yang secara sepihak meningkatkan sistem atau senjata buatan India”, sebut RFI itu.

Tinggalkan komentar