Okt 082019
 

Pesawat tempur omnirole Rafale (foto : DNA India)

Angkatan Udara India (IAF) secara resmi akan menerima jet tempur Rafale pertama di Merignac setelah menunggu selama hampir dua puluh tahun lamanya, lansir The Print.

Pada akhir Mei 2020, empat pertama dari 36 jet Rafale yang dipesan oleh pemerintah Narendra Modi akan dibawa ke langit India. Dan pada akhir tahun depan, Rafale ini akhirnya akan diintegrasikan dengan paket senjata canggih.

Set pertama pesawat tempur akan ditugaskan ke dalam Skuadron 17 ‘Golden Arrows’ di Ambala dan satu skuadron kedua akan ditempatkan di Hasimara untuk mengamankan perbatasan Timur selama masa damai dan perang. Dengan integrasi ini, IAF akan memiliki pesawat tempur generasi 4,5 paling kuat.

PM Modi pernah mengatakan hasil dari pertempuran udara yang dialami India akan menjadi “berbeda” andai India sebelumnya sudah memiliki jet tempur Rafale.

Pesawat tempur Sukhoi Su-30 MKI dan Mirage 2000 kesulitan dan akan kalah oleh jet tempur F-16 yang mampu menembakkan rudal jarak jauh AIM-120, Advanced Medium Range Air to Air Missile (AMRAAM).

Sumber-sumber IAF menegaskan Pakistan tidak akan pernah berani melakukan serangan seandainya Rafale sudah dimiliki sebelumnya.

“Saat ini, kami harus mengerahkan dua jet tempur Su-30 MKI untuk satu F-16 Pakistan. Tabel akan berubah sekarang. PAF harus mengerahkan dua F-16 untuk menghadapi satu Rafale. Ini karena Rafale tidak hanya mengalahkan mereka tetapi juga memiliki kemampuan yang luar biasa di luar jangkauan visual, ”kata seorang sumber.

Rafale yang dimaksudkan untuk India adalah salah satu jet tempur paling ampuh yang dilengkapi dengan 13 perangkat tambahan khusus India, termasuk helmet-mounted display buatan Israel, radar warning receivers, low band jammers, rekaman data penerbangan 10 jam, dan sistem pencarian dan pelacakan infra merah.

Dilengkapi dengan berbagai macam senjata, Rafale dirancang untuk melakukan dominasi udara, pengintaian udara, dukungan serangan darat, serangan udara jarak dekat, serangan anti-kapal dan misi pencegahan nuklir. Rafale disebut sebagai pesawat tempur “omnirole” oleh pabrikannya, Dassault Aviation.

Dengan bobot kosong 10 ton, Rafale dilengkapi dengan 14 hardpoint dan lima di antaranya mampu membawa persenjataan berat dan tabung bahan bakar eksternal.

Menurut Dassault Aviation, total kapasitas muatan eksternal adalah lebih dari 9 ton, yang berarti Rafale dapat mengangkat muatan setara dengan bobot kosongnya sendiri.

Keuntungan terbesar dari Rafale adalah mampu membawa senjata nuklir. Sementara India belum membeli rudal serang dengan hulu ledak nuklir, sumber mengatakan integrasi ke dalam sistem India tidak akan menjadi masalah ketika India memutuskan untuk melakukannya.

Rudal game changer yang melengkapi Rafale adalah Meteor. Diproduksi oleh perusahaan Eropa MBDA, Meteor adalah roket jarak jauh dan rudal udara-ke-udara bertenaga ram-jet. Integrasi ke dalam sistem senjata Rafale membawa perubahan paradigma dalam pertempuran udara-ke-udara karena memiliki jangkauan lebih dari 120 km. Ini berarti jet Rafale India akan dapat menembak jatuh sebuah pesawat musuh berjarak lebih dari 100 km tanpa melintasi ruang udara India.

“Tidak ada zona pelarian ketika seorang pilot melihat radarnya dan menarik tombol bunuh,” kata seorang pejabat MBDA, menambahkan tidak ada rudal udara-ke-udara yang dapat menandingi Meteor saat ini.

Rudal kunci lain yang ada di miliki Rafale adalah rudal jelajah udara-ke-darat Scalp.

Dengan berat 1.300 kg dan panjang 5,1 meter, Scalp memiliki jangkauan 600 km dan dikenal karena presisi. Rafale tidak harus melintasi wilayah udara India untuk mencapai target yang berjarak sekitar 600 km di wilayah musuh. “Ini adalah senjata strategis yang dapat digunakan dalam mode penetrasi, mode impact atau airburst. Rudal bahkan dapat menyerang dalam skenario anti-access dan area denial, ”tambah pejabat itu.

Rafale juga akan dilengkapi dengan rudal udara-ke-udara jarak pendek Mica. Selain itu IAF berencana untuk mengintegrasikan lebih lanjut rudal BrahMos NG dengan Rafale.

Indian Rafale dilengkapi dengan pod Litening buatan Israel untuk kesamaan sensor di seluruh platform dan bukan pod designator laser Thales TALIOS yang digunakan Prancis. Selain itu, Rafale India lebih memilih kit pandu untuk rudal Spice daripada bom presisi Hammer Sagem.

Rafale dilengkapi dengan radar RBE2 Active Electronically Scanned yang jika dibandingkan dengan radar dengan antena konvensional, memberikan tingkat kesadaran situasional yang jauh lebih baik dengan deteksi dan pelacakan lebih awal pada beberapa target.

Rafale juga memiliki sistem “Front Sector Optronics” (FSO) yang membuat radarnya kebal terhadap gangguan jammer saat beroperasi dalam gelombang optronic panjang.

Rafale juga dilengkapi dengan rangkaian peperangan elektronik terintegrasi Spectra yang menyediakan deteksi jarak jauh, identifikasi, dan lokalisasi ancaman inframerah, elektromagnetik, dan laser. Sistem ini menggabungkan penerima peringatan radar, laser dan rudal untuk mendeteksi ancaman plus jammer radar AESA dan dispenser flare untuk melawan berbagai ancaman.

Pada 2011, Rafale milik Angkatan Udara Prancis (FAF) dan Angkatan Laut Prancis terlibat dalam operasi koalisi di Libya. Ini adalah pesawat tempur pertama yang beroperasi di Benghazi dan Tripoli dan mampu melaksanakan seluruh spektrum misi yang dirancang untuk Rafale.

FAF Rafales juga mengambil bagian dalam operasi di Mali dan membantu menghancurkan infrastruktur musuh dan mendukung pasukan koalisi.

Empat Rafale pernah melakukan serangan terpanjang dalam sejarah Angkatan Udara Prancis, terbang dari Saint-Dizier di Prancis timur dan mendarat di N’Djamena, Chad, setelah mencapai 21 target dan menghabiskan tidak kurang dari 9 jam dan 35 menit di udara, yang memberikan satu wawasan tentang kemampuan pesawat tempur Rafale.

Bagikan:
 Posted by on Oktober 8, 2019

  26 Responses to “India Mengklaim Satu Rafale Dapat Atasi Dua F-16”

  1.  

    kalimat ini yang bagus untuk di ulas
    “Saat ini, kami harus mengerahkan dua jet tempur Su-30 MKI untuk satu F-16 Pakistan”

    •  

      ga usah di ulas bro cukup tau gimana kualitas pilot dan pesawat serta kualitas perawatan pesaawatnya di india itu ternyata ….beda negara beda maintenance serta kualitas pilotnya..terlalu mendewakan barang tapi kualitas yg pake ecek2 ya sama aja..

      •  

        India meyakini kualitas rafale jauh mengungguli SU30 dengan pernyataan berikut:

        “PAF harus mengerahkan dua F-16 untuk menghadapi satu Rafale”

      •  

        Wah, ternyata rame juga di sini ….Sekedar share SU30 MKI, Rafale dan F16 :
        1. Yg ditembak jatuh adalah Mig21 bukan SU30mki, jadi sebenarnya beda konteks oleh sumber.
        2. tetapi ada benarnya jika f16 dengan radar 300km vs SU30 mki radar 200 km, IAF merasa inferior
        3. Lepas dari hal diatas, maka pada dasarnya sekarang “sales” sedang bertempur di India. Rencana tambahan 18 unit Mki vs 36 Rafale++ .
        4. Situasi IAF sekarang ini sangat dilematis :
        a. Tejas tak bisa mengikuti perkembangan teknologi, baru lahir dan sekaligus menjadi Kuno. (visi yang tidak jelas dan waktu pengembangan yang terlalu lama). Bahkan Tejas pun masih inferior dibandingkan dengan Sulfur.
        b. Jumlah Su30 250 unit adalah sulit untuk menjadi flexible dalam upgrade. Dalam konteks yang lain mirip 200 unit masive F16 Turki.
        (hal ini kenapa kita mengharapkan diturunkan jumlah kuota lisensi IFX karena estimasi tahun 2026 ke atas diperlukan upgrade teknologi sehingga tidak diperlukan quantity yang besar dalam satu type/block pesawat)

        5. lepas dari carut marut konsep IAF , ada satu hal yang perlu kita tiru dan perhatikan adalah, keberanian India untuk mengawinkan System Barat dan Timur walaupun banyak tantangannya.

  2.  

    Atas dasar apa india mengklaim 1 jet tempur Rafale buatan perancis yg dipersenjatai dgn rudal meteor bisa mengalahkan 2 jet tempur F16 buatan Amerika yg dipakai pakistan yg mungkin dipersenjatai dgn rudal Amraam.

  3.  

    bahkan belum mempunyai rafale saja sdh sesumbar .
    blm tentu jg rafale kl dogfight sm sukhoi 30 bs menang.asal pilotnya jgn sama2 dari india.tar kebanyakan joget jd mabuk kecubung.

  4.  

    PAF harus mengerahkan dua F-16 untuk menghadapi satu Rafale”

    Sementara FAF Prancis harus mengerahkan 2 Rafale utk menghadapi satu SU-35S

    Kesimpulannya satu SU-35S dapat menghadapi empat F-16 Viper…….xicixicixicixi

  5.  

    Kesimpulan yg mengada ada jk 1 unit SU35 bisa menghadapi 4 unit F16 lagipula utk saat ini negara diasia yg memiliki SU35 hanya china dan yg menggunakan F16 bukan hanya pakistan tetapi jg indonesia.

    •  

      Jangkauan efektif radar PESA SU-35 itu 350 Km bung. Sementara F-16 hanya 150 Km. Kemampuan radar SU-35 dpt mengunci 8 sasaran sekaligus tanpa disadari lawannya. Artinya sebelum masuk jangkauan radar F-16 utk mendeteksi keberadaan SU-35, disaat itu pula SU-35 telah mengunci target dan melepaskan rudal BVRnya.
      Kecepatan rudal BVR mach 3, itu artinya saat rudal dilepaskan hanya 2 menit kesempatan bagi pilot F-16 berada pada kesadaran situasionalnya utk membuat pilihan, tanpa tahu dimana posisi musuh. Yg mereka tahu hanya arah datangnya rudal yg mendadak dimenit terakhir sebelum sempat bertindak.

      Itu sebabnya pesawat gen 4,5 akan kesulitan utk mengelak dr kekuatan endusan radar Irbis SU-35. Maka dlm forum diskusi blog militer selalu saja yg dibandingkan utk head to head itu F-35 vs SU-35. Bukan pespur gen 4,5 kebawah, yg sdh pasti bakal ditepuk bagai nyamuk.

    •  

      Jangkauan efektif radar Irbis SU-35 itu 350 Km bung. Sementara F-16 hanya 150 Km. Kemampuan radar SU-35 dapat mengunci 8 sasaran sekaligus tanpa disadari lawannya.

  6.  

    biar fair … mari kita dorong kasih semangat buat India vs Pakistan utk perang udara beneran 1 bulan cukup.
    hasil akhir air combat nya kita analisa rame rame … xixixi

  7.  

    Jangkauan radar F16 yg 150 km merupakan radar AN/APG 66 versi lama sedangkan radar F16 yg terbaru AN/APG 68 memiliki jangkauan lebih dari 296 km bahkan jk jangkauan radar F16 tdk sejauh SU35 pesawat F16 masih bisa mengandalkan radar yg ada didarat ataupun radar yg ada dipesawat AWE&C yg memiliki jangkauan radar yg lbh jauh.

    •  

      Ini kan yg saya bahas.jika berhadapan head to head. Kalo pake bala bantuan radar di darat dan radar AWE&C. Itu berarti bukan head to head lg pembahasannya.
      Walaupun AN/APG 68 berjangkauan 296 Km namun jangkauan maksimal, bukan jangkauan efektif. Irbis E malah 400 Km maksimalnya.
      Dan walaupun jangkauan maksimal sebesar itu tetap F-16 yg terdeteksi duluan. Artinya kesempatan meluncurkan rudal duluan khansnya ada di SU-35.
      Apalagi SU-35 dilengkapi dng rudal R37M yg mampu ngebut hingga 6 Mach atau 7.350 km/jam dan memiliki jangkauan 390 Km. Sangat padu dng radar Irbis SU-35 bung

  8.  

    Paling yg bilang itu “PAF harus mengerahkan dua F-16 untuk menghadapi satu Rafale” sutradara pilem india, tuan takur

  9.  

    yang di bahas F-16 sama rafale dengan SU-30MKI kok malah melebar ke SU-35..gak sekalian aja semua pespur ? kalau SU-35 di pake pilot inda dan dengan maintenance ala india jamin? senangnya kok melebar kemana-mana di bilang beda pilot beda pelatihan beda maintenance..

  10.  

    Pd masa sekarang pertempuran udara head to head semakin jarang lagipula jk ada negara yg memiliki pesawat tempur yg mampu menembakan rudal BVR spt rudal meteor ataupun amraam dari jarak jauh dgn bantuan pesawat AEW&C sbg alat pendeteksi pesawat utk apa bersusah payah behadapan head to head dgn pesawat lain yg beresiko tinggi lgpula harga pesawat tempur itu tdk murah dan butuh waktu lama utk melatih pilot.

    •  

      Justru pd saat sekarang ini boleh dikata pengerahan aset tempur spt AWE&C sdh tidak terjadi sejak perang teluk.
      Malah yg sering terjadi adalah head to head spt yg sering terjadi dng India dan Pakistan serta Turkey dan Yunani. Bahkan sering kita baca pencegatan pesawat Rusia oleh NATO atau sebaliknya. Dan itu tidak ada keterlibatan.AEW&C. Murni kemampuan pesawat masing2 dan kebanyak terjadi saat melakukan patroli.
      Adapun radar di darat hanya sebagai penjejak awal keberadaan pesawat musuh yg kemudian dikerahkan pesawat tempur utk.mengintersep.
      Dan keberadaan pesawat AEW&C bukan sebagai pembimbing rudal BVR tapi sebagai pesawat komando dan mata tambahan bagi pesawat tempur di palagan pertempuran.

  11.  

    yg jelaa si tuan takur sedang menghayal.
    terima pesawat jg belum kog sdh membual.
    tp emng tipikal darisono nya pintar membual sih.hbis itu sambil membual leher nya geser kanan kiri sambil bilang acha acha…..acha septiacha.

  12.  

    Jgn konyol siapa mengatakan tugas pesawat AEW&C itu membimbing rudal dan satu hal lagi Pesawat AEW&C masih digunakan misalnya saat jet tempur F16 pakistan menggunakan rudal amraam utk menembak jatuh MIG 21 india itupun berkat asistensi pesawat AEW&C Saab 2000 erieye milik AU pakistan.

    •  

      ” menembakan rudal BVR spt rudal meteor ataupun amraam dari jarak jauh dgn bantuan pesawat AEW&C sbg alat pendeteksi pesawat ”
      ————————————————————–
      Lha ini komennya siapa.???

      Lha apa hubuungannya menembak pesawat musuh dng rudal bvr dan asistensi Pesawat AEW&C.
      F16 itu punya radar sendiri, knp harus asistensi dng AEW&C.?
      Peaawat AEW&C itu digunakan jika utk kelompok tempur dng kelompok tempur musuh..
      Kalo secara sendirian gak perlulah bimbingan AEW&C, apa gunanya radar dipesawat tempur kalo masih harus dibimbing lg dng AEW&C. Kok lucu banget.
      Ingat gak kejadian bawean. Gak ada peran AEW&C disitu yg ada pendeteksian awal oleh radar darat. Demikian jg dng hornet AS, gak ada melibatkan pesawat AEW&C mereka. Murni radar pesawat tempur mereka yg bermain.

  13.  

    Lah kalau bawa bawa AEW&C, malah gampang kedetek dan ketembak duluan tuh, wong rcs AEW&C itu gede bgt

  14.  

    Tdk semua wilayah dpt dicover dgn radar darat selain itu radar darat jg dipakai utk mendeteksi pesawat yg melintas diwilayah udara sendiri jd tdk ada kebutuhan utk menggunakan pesawat AEW&C beda ceritanya jika pesawat tempur melakukan misi tempur diwilayah yg tdk dpt dijangkau oleh radar darat atau sedang melakukan misi tempur diwilayah musuh sdh pasti peran pesawat AEW&C sangat dibutuhkan selain itu radar yg ada dipesawat tempur jg memiliki jangkauan yg terbatas.Posisi pesawat AEW&C biasanya berada jauh dibelakang dan selalu dikawal oleh pesawat tempur jd menembak jatuh pesawat AEW&C tdklah mudah

    •  

      Lho gmn sih ini kok komennya, makin ngaco.
      Justru radar daratlah yg pertama mendeteksi keberadaan pesawat musuh, karena radar darat ditempatkan dekat dng batas wilayah negara. Makanya jika ada pespur lawan yg melanggar batas wilayah ditugaskan pespur yg lg berjaga utk mengintersep pesawat musuh tersebut. Saat kordinat pesawat musuh sdh terlacak oleh radar darat informasi diteruskan ke pespur yg akan intersep, disitulah peran radar pespur memandu keberadaan pespur musuh. Gak ada keterlibatan AEW&C.

      Lha kalo AEW&C berada diwilayah musuh sedang melakukan misi tempur, ente yakin itu pesawat nyampe diwilayah musuh dng selamat.? Walaupun dikawal pespur.
      Ente melenceng jauh dr pokok bahasan.
      Yg ente bayangin itu sekelompok pespur yg jg melibatkan pesawat AEW&C akan melakukan penyerangan terhadap kelompok tempur musuh. Jika spt itu maka disitu barulah tugas AEW&C dilaksanakan, utk memanagemen pertempuran udara.
      Sedang yg dibahas di awal itu dan diartikel diatas tentang head to head pespur. Jg gak nyambung banget dng komen ente. Saya pikir ente paham, rupanya makin ngelantur.
      Dimasa damai, peran pesawat AEW&C lah utk melakukan pengawasan udara yg mana jangkauan radarnya bisa melampaui ZEE suatu negara yg tidak terjangkau radar darat maupun radar kapal yg berpatroli di wilayah perairan suatu negara. Itupun jika negara tersebut memiliki AEW&C, jikapun tidak memiliki spt Indonesia, maka ditugaskanlah pespur utk berpatroli di wilayah yg kata ente blom terjangkau radar darat td. Jika semua tercover oleh radar darat cukup pespurnya bersiaga.
      Disitulah yg sering terjadi head to head dng pespur musuh

  15.  

    kalau seandainya SU 30 MKI berhadap-hadapan sama rafale diatas kertas rasio kemenangan ada dipihak siapa?