India Segera Tandatangani Kesepakatan Rafale Senilai €7.87 Miliar

NEW DELHI – Lebih dari satu dekade setelah India memutuskan untuk membeli jajaran pesawat tempur baru, akhirnya sekarang resmi. Pada tanggal 23 September 2016, India akan menandatangani kontrak sejumlah 36 Pesawat Tempur Rafale dengan Perancis dengan nilai sebesar €7,87 miliar.

Bersamaan dengan 36 pesawat tempur, India juga akan mendapatkan suku cadang dan persenjataan, termasuk rudal Meteor, yang dianggap sebagai salah satu rudal paling canggih di dunia.

Dari €7,87 miliar, sekitar 50 persen akan tercakup dalam offset, yang berarti Perancis akan menginvestasikan kembali sejumlah tersebut di India atau sumber peralatan dari India yang setara dengan nilai tersebut.

Menteri Pertahanan Prancis Jean-Yves Le Drian akan berada di India untuk penandatanganan kesepakatan ini.

Perjanjian Inter-Governmental antara India dan Perancis memungkinkan untuk memesan pesawat tempur Rafale dengan kenaikan biaya 10 persen. Pemerintah mengklaim bahwa mereka telah membeli dengan harga sekitar €600 juta lebih rendah dari permintaan awal.

Kesepakatan itu tidak dapat ditandatangani pada Januari 2016 ketika Presiden Prancis Francois Hollande datang sebagai Tamu Kehormatan untuk HUT Republik India karena berharap harga yang lebih baik.

Negosiasi pada 26 Januari 2016 berlangsung sampai pukul 02:00 dini hari, namun kesepakatan harga tetap tidak bisa tercapai. Akhirnya India dan Perancis sepakat untuk menandatangani kesepakatan umum tanpa menyebut harga.

Bagi Angkatan Udara India, kesepakatan terasa pahit-manis. Di satu sisi, mereka akan mendapat 2 skuadron tempur tercanggih, tapi di sisi lain jumlah tersebut jauh dari mencukupi kebutuhkan armada tempurnya (yang setidaknya membutuhkan 126 jet tempur).

India membutuhkan setidaknya 42 skuadron tempur sementara kekuatan yang ada hanya 32 skuadron. Armada tempur tersebut akan mengalami penurunan lebih lanjut oleh karena sekitar 10 skuadron pesawat tempur MiG-21 akan segera memasuki masa pensiun.

Pesawat tempur baru akan mulai memasuki layanan pada tahun 2019.

Sumber: Defense Aerospace

Tinggalkan komentar