India Selesaikan Rincian Kontrak Rafale

15
5

NEW DELHI – Rincian kontrak miliaran euro untuk 36 unit pesawat tempur Rafale telah diselesaikan dan pemerintah sekarang bekerja pada perjanjian antar-pemerintah (IGA) dengan Perancis.

Sumber pemerintah mengatakan biaya, offset dan rincian layanan telah selesai dan sekarang upaya ini adalah untuk memantapkan IGA seperti yang disebutkan dalam perjanjian yang ditandatangani pada Januari 2016 ketika Presiden Prancis Francois Hollande berada di New Delhi.

“Pekerjaan perjanjian antar-pemerintah dengan Perancis telah dimulai dan akan diselesaikan segera”, ujar salah satu sumber.

Sumber tersebut mengatakan teks dan bahasa perjanjian sedang diperbaiki dan kesepakatan berada dalam tahap akhir.

“Kesepakatan ini dalam tahap akhir”, kata Menteri Pertahanan Manohar Parrikar kepada wartawan ketika ditanya apakah telah persiapkan oleh pemerintah.

Bulan lalu, sebuah laporan yang disampaikan oleh tim negosiasi yang banyak mengantisipasi kesepakatan Rafale dengan Perancis telah dipersiapkan oleh Departemen Pertahanan. File tersebut kemudian dikirim ke kantor Perdana Menteri untuk ditinjau dan clearance.

Sumber mengatakan PMO telah mencari beberapa klarifikasi dari Kementerian Pertahanan pada biaya siklus hidup dan harga satuan pesawat.

Kesepakatan ini diharapkan akan bernilai sekitar €7,89 milyar untuk 36 unit jet tempur.

Sistem senjata termasuk bagian dari kesepakatan, juga akan menyertakan era baru, rudal di luar jangkauan visual Meteor, dan helm mounted display buatan Israel.

Pengiriman untuk pesawat tempur diharapkan mulai tahun 2019, dengan inflasi tahunan maksimal 3,5 persen.

Selama kunjungannya ke Prancis pada April tahun lalu, Perdana Menteri Narendra Modi telah mengumumkan bahwa India akan membeli 36 unit jet Rafale dalam kontrak pemerintah-ke-pemerintah.

Segera setelah pengumuman, Kementerian Pertahanan membatalkan proses pembelian 126 pesawat tempur Rafale pada rencana sebelumnya, yang dibangun oleh raksasa pertahanan Prancis Dassault Aviation.

Sumber: Defense Aerospace

15 COMMENTS

  1. wah gawat nih rudal C-705 terlambat meledak …

    Pertama diujicoba 2 kali di selat Sunda tahun 2011 dan hasilnya memuaskan

    anggaran belanja untuk pembelian rudal C-705 sudah disiapkan pada TA 2010 dan pembelian rudal C-705 pertama kali dilakukan pada tahun 2011 …

    selanjutnya perjanjian pembelian rudal C-705 kembali ditandatangani pada bulan Maret 2013 dimana setiap tahun Indonesia harus membeli rudal C-705 sejumlah tertentu selama 8 tahun (kira-kira sampai tahun 2021) …

  2. Jangan salahkan yg beli bung, tapi salahkan yg jual krn waktu uji coba sebelum beli bagus sekarang jadi gak mutu..siapa tau spekteknya udah downgrade…sembunyi sembunyi oleh produsen..

    Atau ada kesalahan teknis..kita jga gak tau..prematur sekali kalo menuduh a i u e o…

    Salam damai..

LEAVE A REPLY