SAAB Mencuri Perhatian TNI dan Kemenham

88
155
image
Menhan dan KSAL memandangi mock up Gripen SAAB, Swedia (all photos: Telik Sandi).

Jakarta – Indo defence 2014 telah berakhir, sebuah event yang diselenggarakan setahun sekali oleh Kementerian pertahanan RI. Banyak negara terlibat untuk sekedar melihat atau pun ikut mencoba peruntungan dengan menjajakan barang dagangannya. Sebut saja Inggris dengan Eurotyphon, Perancis dengan Rafaele, Rusia dengan Sukhoi family dan Amerika Serikat tentu saja tidak ketinggalan.

Namun ada satu negara yang mencuri perhatian Kemenham dan TNI. Negara itu adalah Swedia dengan SAAB yang mampu mencuri perhatian sejenak pejabat TNI AU /KSAU dan Kemenham, dimana SAAB membawa produk pesawat tempur Gripen dan kapal siluman laut drone bonefish. Dan tentu saja KRI Klewang II yang sedang dalam proses Under Construction” di PT.Lundin, Banyuwangi.

Walaupun Eurotypon telah menandatangani MoU / kerja sama pemasaran dengan PT.DI, namun sang user sesungguhnya lah yang akan menentukan pesawat mana yang menjadi penganti F-5 tiger TNI AU. Artinya kandidat pesawat tempur masih berpeluang untuk dipilih. Sebut saja SU-35, Typhoon, F16-Block 52 dan Gripen semakin nyata.

Untuk pesawat Gripen, KSAU Marsekal Ida Bagus Putu Dunia bahkan mencoba secara langsung cokpit simulator Gripen di saksikan Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu. Berikut photo-photo hasil blusukannya (by: Telik Sandi).

image
Mock up KRI Klewang II (all photos: Telik Sandi)
image
Trimaran Bonefish (all photos: Telik Sandi)

image

image
KSAU Marsekal Madya TNI Ida Bagus Putu Dunia mencoba simulator Gripen (all photos: Telik Sandi)

image

image

image

image
Desain KRI Klewang II (Photo: Telik Sandi)

88 KOMENTAR

  1. Analisa saya Gripen tetap dibeli tapi bukan kita yang membayarnya,, kita sebagai Tester dan pengambil keputusan layak nggak dibeli agar bisa terintegrasi dengan Kohanudnas dan Kawasan,
    Bila kita ok ..yang membeli pasti ok, dan bayar, makanya Saab sibuk juga memromosikan kepada testernya , agar laku,,

    Demikian Juga F 16 block 60 ,, kita juga ikut mencobanya, walau gak ikut membeli dan membayarnya

    Imho

    • sayang harapan dikau tdk terkabul

      skuadron 14 tni au bakalan pake f-16 block52+ yg msh kinyis2

      3 skuadron baru tni au untuk kawasan timur indonesia bakalan mendapat f-16 block52id hibah

      tp yg menarik tentunya p3c orion yg menurut sumber gw bakalan dipake untuk aew-c (semi awacs) jg anti submarine

      sebetulnya saya lbh berharap hibah e2 hawkeye yg full awacs

  2. Assalamualaikum wr.wb.
    imho
    gripen punya mesin tunggal jelas tidak cocok dengan IFX dan luas wilayah kita.
    namun cocok bila di padukan dengan kapal induk
    masalahnya kita tidak punya kapal induk :mrgreen:
    saya mau tanya rudal apa saja yang bisa atau cocok dengan sistemnya grypen?

    kalau salah ya maaf πŸ˜€

    • Yang Itu baru jilid 1, TNI angkatan Darat.

      Jumlah nya bisa bikin muntah yang ga doyan Hoaxs.
      * Ka-52 “Alligator Puluhan
      * Apache Puluhan
      * Astros
      * Pantsir
      * Buk Minah
      * Startrect
      * Leo yang jumlah nya bikin merinding sekalian TOT, senjata, cahsis,
      and armour.
      * Meriam KH

      Pokoknya Bikin mules dah denger nya.

  3. Bung ST makasih atas listnya …

    Kita semua berharap seperti ini nih TNI kita kedepan dengan dilengkapi alu
    tsista yang mumpuni dan modern …

    Keinginan kita pun sama, semoga apa yg direncanakan dapat dilaksanakan ..

    Kita sangat tahu betul aspek perencanaan dapat terwujud erat sekali dipengaruhi dgn kemampuan budgeting disamping itu pula SDM yg melaksanakannya … karena saya sendiri adalah praktisi perencanaan pembangunan..

  4. Menurut saya. Indonesia perlu ambil ini pesawat minimal 3 skuadroe yang ditempatkan di NTT, papua bagian utara dan Papua bagian selatan sebagai pesawat tempur patroli dan penangkal. Kalo masalah penggetar memang harus menggunakan SU 35 2 skuadron yang ditempa di riau dan madiun. Utk ngimbangin F35 singapura dan australia. Jadi utk pespur2 1 engine lebih difokuskan untuk patroli dan pengejaran jika ada pesawat asing masuk. Sedangkan pespur double engine untuk daya pukul.

  5. beli Thypoon dan SAAB dapat TOT sedangkan SU-35 tidak, TNI AU wajib punya SU 35 karena bisa menandingi F35 australia yang segera tiba, menurut saya kalau mau kebagian tot juga tidak salahnya beli secara bertahap dulu sebanyak 6 unit Thypoon atau SAAN ( dapat TOT ) beli juga SU-35 = 6 unit tentunya bertahap ( kita punya pesawat daya getar yang tinggi walau yang ini tidak ada TOT ).

  6. Pengadaan Typhoon berikut ToTnya adalah sebagai pengganti peranan F-5 sekaligus Plan B bilamana proyek KFX/IFX membutuhkan opsi mesin jet ataupun teknologi yg dibutuhkan nantinya.

    Sedangkan SU-35 adalah opsi pesawat yg tepat dan harus dimiliki TNI sebagai penyeimbang kekuatan kawasan mengingat tetangga selatan dan Utara sudah memperkuat AU nya dengan F-35 s/d tahun 2020, bila tidak demikian maka dikhawatirkan akan mengganggu stabilitas kawasan khususnya kedaulatan NKRI.

  7. Menhan Bahas Upaya Peningkatan Kerjasama Industri Pertahanan

    Jakarta, 7 November 2014- Pada hari ketiga penyelenggaraan ajang pameran industri pertahanan β€œIndo Defence 2014 Expo and Forum” di JIExpo Kemayoran, Jumat (7/11) Menteri Pertahanan Republik Indonesia Ryamizard Ryacudu melakukan beberapa pertemuan dengan beberapa delegasi peserta Indo Defence 2014 Expo & Forum. Secara berturut-turut Menhan bertemu dengan delegasi lain dari Defense Staff of United Kingdom (UK), Boeing Defense, Space and Security, Northrop Grumman IDS dan Defense Committee of the Republic of Korea National Assembly. Pertemuan tersebut antara lain dibahas berbagai upaya dalam meningkatkan kerjasama di bidang industri pertahanan.

    Dalam pertemuan Menhan RI dengan Vice Chief of Defence Staff of United Kingdom (UK) ACM Sir Stuart Peach dibicarakan mengenai upaya peningkatan hubungan pertahanan kedua negara dengan mengembangkan kerjasama militer dan pertahanan dari yang telah ada selama ini. Selama ini kerjasama pertahanan antara Indonesia dan UK pada bidang pertukaran pendidikan Prajurit TNI dan pengadaan Alutsista.

    Wakil Menhan Inggris yang telah melihat fasilitas PMPP Sentul, mengapresiasi komitmen Indonesia dalam berkontribusi terhadap misi perdamaian PBB. Dirinya berharap dapat mengembangkan kerjasama di bidang misi perdamaian, pendidikan dan pelatihan, Alutsista, peralatan medis serta yang paling penting dalam menghadapi ancaman saat ini yaitu cyber.
    Menhan RI Ryamizard Ryacudu setuju dan menyarankan membentuk working group kedua negara untuk membicarakan lebih lanjut implementasi kerjasama pertahanan di bidang-bidang baru seperti terorisme, cyber, peralatan medis, Alutsista, serta pendidikan dan pelatihan. Working group ini akan diwujudkan dalam bentuk MoU kerjasama.

    Selanjutnya di tempat yang sama, Menhan juga melakukan pertemuan dengan Vice President for Indonesia of Boeing Defense, Space and Security, Yeong Tae Pak. Indonesia bekerjasama dengan Boeing dalam pengadaan 8 unit Helikopter Apache yang rencananya akan tiba pada tahun 2017. Menhan berharap dapat menambah 8 unit Helikopter Apache lagi sehingga menjadi 16 unit.

    Menhan menekankan agar dalam pengadaan selanjutnya telah disertakan Transfer of Technology (ToT) bagi pengembangan industri pertahanan dalam negeri serta pendidikan dan pelatihan bagi pilot dan teknisi yang akan mengawaki Helikopter Apache ini.

    Pada pertemuan ini Menhan juga mengungkapkan ketertarikannya untuk melakukan pengadaan helikopter Chinook karena telah melihat kehandalannya dalam melakukan operasi penanggulangan bencana tsunami di Aceh pada tahun 2005 yang lalu pada saat masih menjadi Kasad. Menhan berharap Helikopter Chinook dapat membantu dalam penanggulangan bencana di Indonesia sebagai negara yang secara geografis berada dalam kawasan sabuk gempa.
    Mr Yeong Tae Pak menjelaskan bahwa garansi dan pelatihan telah masuk dalam paket pengadaan serta siap bekerjasama dalam ToT karena dirinya telah mengetahui mengenai UU Industri Pertahanan yang di dalamnya mengatur mengenai offset. Dirinya telah beberapa kali mengunjungi PT DI dan melakukan pertemuan dengan Dirut PT DI untuk mewujudkan ToT ini.
    Sementara itu, pada pertemuan Menhan Ryamizard Ryacudu dengan delegasi dari Northrop Grumman IDS yang dipimpin oleh Mr. Glenn Brown, kedua pihak membahas beberapa hal terkait dengan industri pertahanan khususnya mengenai sistem radar.

    Dalam kesempatan tersebut, Menhan sangat mengapresiasi kerjasama dengan Northrop Grumman IDS di bidang Transfer of Technology (ToT). Alih teknologi yang dimaksud adalah untuk upgrade pesawat C-130 yang dimiliki TNI AU. Kedepannya diharapkan Indonesia tidak hanya berperan sebagai pembeli saja tetapi yang lebih utama adalah dapat meningkatkan kemampuan SDM.

    Pihak Northrop Grumman IDS siap untuk mendukung kebutuhan radar GCI untuk pertahanan Indonesia. Pihak Indonesia berkeinginan adanya kerjasama pembuatan radar dengan melibatkan industri lokal.

    Menanggapi hal tersebut Northrop Grumman IDS menyatakan bahwa Indonesia merupakan partner yang sangat penting dan berharap Indonesia dapat menjadi partner utama. Selain itu diharapkan hubungan kerjasama ini dapat terjalin lebih lama lagi.

    Sebagai perusahaan yang memiliki keahlian dalam sistem radar, Northrop Grumman IDS berkeinginan untuk mendukung militer di Indonesia dan mendukung segala sistem yang dibutuhkan seperti sistem pesawat tanpa awak (UAV) dan sistem lainnya yang dibutuhkan Indonesia.

    Pada hari yang sama, Menhan juga menerima delegasi Korea Selatan yang dipimpin oleh Defence Committee of the Republic of Korea National Assembly, Shon Inchun. Pada pertemuan tersebut, Menhan RI berharap hubungan yang baik antara Indonesia-Korea Selatan dapat terus diperlihara dan ditingkatkan di masa mendatang. Menurutnya, kerjasama pertahanan khususnya di bidang industri pertahanan mengalami peningkatan yang ditandai dengan dimulainya produksi bersama pembangunan kapal selam.

    Sementara itu, Shon Inchun mengatakan hubungan diplomatik Indonesia dan Korea telah terjalin erat sejak 41 tahun yang lalu dan hingga saat ini kedua negara telah membangun bidang ekonomi dan politiknya secara bersama-sama. Saat ini, Indonesia – Korea juga telah menjalin hubungan mitra strategis di bidang pertahanan dan untuk mewujudkan hal tersebut kedua negara telah membangun industri pertahanan atas dasar saling percaya.

    Sebelumnya pada Kamis (6/11), di tempat yang sama, Menhan RI juga telah melakukan pertemuan dengan delegasi Australia, Philipina, Rusia, Belarus dan Brunei Darussalam. Pada pertemuan dengan delegasi Australia yang dipimpin Chief of Capability Development Group of Australia Department of Defence, LTGEN John Caligari, kedua pihak membicarakan kerjasama dan persahabatan kedua negara di bidang pertahanan. Lebih khusus terkait kerjasama di bidang industri pertahanan, menurut LTGEN John Caligari ada banyak kesempatan Indonesia dan Australia untuk dijajaki bersama.

    Adapun saat pertemuan dengan delegasi Philipina yang dipimpin Ass. Sec. DND of Philippine, Patrick M. Velez, dibicarakan mengenai kerjasama pertahanan Indonesia dan Philipina yang saat ini sudah berkembang hingga kerjasama bidang pengadaan peralatan militer. Menurut Patrick M. Velez, Indonesia sudah mengembangkan kemandirian di bidang industri pertahanannya, demikian juga Philipina berharap dapat mengikuti seperti Indonesia.

    Kerjasama kedua negara di bidang pengadaan peralatan militer meliputi pembelian pesawat NC212i produksi PT. DI, Kapal LPD dari PT. PAL dan juga peralatan lainnya. Lebih lanjut pihaknya kembali mengundang dan memberi kesempatan kepada perusahaan-perusahaan strategis Indonesia untuk melanjutkan kontribusinya dalam pemenuhan alutsista Angkatan Bersenjata Philipina.

    Demikian Siaran Pers Pusat Komunikasi Publik Kementerian Pertahanan RI

    http://dmc.kemhan.go.id/post-menhan-bahas-upayaa-peningkatan-kerjasama-industri-pertahanan.html