Agu 132018
 

Jet tempur Sukhoi Su-35S menembakkan rudal dalam latihan di Ryazan Dubrovichi, Rusia © Eugeny Polivanov via Wikimedia Commons

JakartaGreater.com – Kementerian Pertahanan RI ingin membeli 11 jet tempur Sukhoi Su-35 dari Rusia, meskipun langkah tersebut mungkin berisiko sanksi Amerika Serikat, seperti dilansir dari laman Jakarta Globe.

Sebelumnya Presiden AS Donald Trump telah menjatuhkan sanksi kepada Rusia, di bulan Agustus 2017. Sejumlah aset keuangan Rusia pun dibekukan oleh AS, akses ke pinjaman terbatas,dan ekspor-impor negara itu dengan AS telah ditutup. Sanksi tersebut pun dapat meluas ke negara manapun yang membeli produk Rusia, terutama alutsista.

Keinginan Indonesia ingin memperoleh 11 unit Su-35S dengan biaya $ 1,14 miliar untuk menggantikan armada F-5 Tiger tua. Disepakati tahun lalu bahwa Rusia akan menerima produk ekspor Indonesia seperti kopi, karet, minyak sawit dan teh dalam pembayaran.

Pada bulan Februari 2018, RI dan Rusia menandatangani kontrak untuk pengadaan, yang mencakup jet tempur Sukhoi Su-35 “full combat” atau lengkap dengan persenjataan dan peralatan pendukung lainnya.

“Jika kontrak mulai berlaku Agustus ini, maka dua unit akan tiba pada 2019,” kata kepala komunikasi publik kementerian Totok Sugiharto di Jakarta Kamis (09/08).

“Kita tidak memiliki musuh. Kita berhubungan baik dengan Amerika, karena kita juga membeli Hercules dari mereka. Kita kebetulan juga berhubungan baik dengan Rusia dan negara lainnya. Jadi, kita tidak membuat permusuhan”, katanya.

Indonesia juga berencana untuk membeli lima pesawat pembawa Hercules terbaru untuk memperkuat sistem persenjataan militer dan mengganti model lama yang tersedia.

“Jika kita tidak menemukan kendala, pesawat-pesawat tersebut kemungkinan besar akan tiba dalam waktu dua tahun. Kita baru saja memesan mereka dari Rusia”, tambah Totok.

Pekan lalu, Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan Wiranto mengumumkan bahwa rencana untuk membeli jet tempur Su-35 tidak dapat diselesaikan dalam waktu dekat, karena adanya ancaman sanksi dari AS, seperti dilansir dari JakartaGreater.

“Apa yang akan Anda lakukan jika kita terkena sanksi ini? Coba dan pikirkan konsekuensinya”, kata Wiranto, seraya menambahkan bahwa pembelian senjata tidak sesederhana membeli barang-barang biasa. Banyak faktor yang harus diperhitungkan. “Semuanya harus sinkron, mengerti?”.

Beberapa negara Asia, termasuk Indonesia, India dan Vietnam, berada dibawah ancaman sanksi Amerika Serikat untuk mengimpor sistem persenjataan yang diproduksi Rusia.

Sanksi tersebut bertujuan menghukum Presiden Rusia Vladimir Putin akibat mencaplok Semenanjung Krimea dari Ukraina, terlibat dalam perang Suriah dan intervensi dalam pemilihan presiden AS tahun 2016.

Pada bulan Juli 2018, Menteri Pertahanan AS James Mattis telah meminta ke Senat AS untuk memberikan pengecualian kepada Indonesia, India dan Vietnam. Mencontohkan bahwa Indonesia telah menjadi bagian yang semakin penting terhadap keseluruhan strategi pemerintahan Trump di Asia Tenggara.

“Indonesia, misalnya, berada dalam situasi yang sama, mencoba beralih ke lebih banyak pesawat tempur AS, sistem pertahanan AS, tetapi mereka harus melakukan sesuatu untuk dapat mempertahankan legacy militer mereka”, kata Mattis.

Akhirnya, Komite Senat Amerika Serikat untuk Angkatan Bersenjata telah meloloskan sejumlah sekutu strategis termasuk Indonesia, Vietnam dan India dari sanksi embargo Countering America’s Adversaries Through Sanctions Act (CAATSA), undang-undang yang digunakan Amerika Serikat untuk memberikan sanksi atau embargo kepada suatu negara terkait dengan aktivitas belanja peralatan militer negara bersangkutan ke Rusia yang notabene merupakan saingan dari AS.

Bagikan:

  30 Responses to “Indonesia Akan Proses Su-35, Meski Berisiko Sanksi AS”

  1.  

    WARGA JKGR SUDAH MULAI SEPI UNTUK BERKOMENTAR…. KARENA SUDAH MERASA JENGAH DENGAN KEADAAN ALUTSISTA YANG SEKARANG… BERBELIT-BELIT DALAM MENGAMBIL KEPUTUSAN….INGAT TARGET 2024 11 SKUADRON PESAWAT TEMPUR DENGAN TOTAL 124 UNIT!!! (MASIH DIBAWAH BATAS MINIMUM KEBUTUHAN PESPUR TNI AU)

    •  

      Sabar…bung.mimin emank senang mempermainkan perasaan warjag.sabar…yach bung.”diatas langit….masih?????……

    •  

      Monggo…berikut list realisasi pengadaan untuk TNI AU periode tahun anggaran 2014-2015 update 1 November 2014.

      Yang butuh ember, ini saya masih ada satu.

      1. Pembom strategis Tu-22M3 Backfire D 36 12-2014, 24-2015 Paket persenjataan AS-6 Kingfish, AS-16 Kickback, AS-17 Krypton, AS-18 Kazoo

      2. Pembom strategis/patroli maritim jarak jauh Tu-95MS Bear F 36 8-2014, 14-2015, 14-2016 Sensor dan avionik mengalami upgrade. Paket senjata sama dengan Tu-22M3

      3. Su-35SI Super Flanker 72 16-2014, 28-2015, 28-2016 Termasuk ToT penuh rudal AAM, sistem EW, radar AESA, IRST.

      4. Su-34 Fullback 64 8-2014, 22-2015, 18-2016, 16-2017 14 Il-76MD Candid 36 18-2015, 18-2016 15 Radar OTH 4 1-2014, 2-2015, 1-2016 Ex Rusia. Type classified 16 Satelit “pengindera jarak jauh” berbasis optik + radar 2 1-2015, 1-2016

      Pada Protokol X Rusia sudah menegaskan komitmennya untuk deliver seluruh pesanan kita, disana industri pertahanan mereka juga beroperasi dengan kapasitas penuh untuk penuhi 2 lini produksi. Dan dengan list belanjaan ini, Indonesia resmi menjadi mitra inhan Rusia terbesar sepanjang sejarah Rusia.

      By : Bapak Narayana Wisnu

    •  

      Yg bener? Kok tidak ada data di mabes TNI?

      😎

  2.  

    “Apa yang akan Anda lakukan jika kita terkena sanksi ini? Coba dan pikirkan konsekuensinya”, kata Wiranto, seraya menambahkan bahwa pembelian senjata tidak sesederhana membeli barang-barang biasa. Banyak faktor yang harus diperhitungkan. “Semuanya harus sinkron, mengerti?”.

    Sebenarnya sih klo kita punya UANG, mau beli alutsista ataupun kacang goreng ya tetep mudah, dan dipermudah, tapi klo pake barter ya jelas beda cerita dong paklek 😆

    •  

      Beli alutsista ga sekedar ada uang bang, karena hal itu disinkronkan dg arah pembangunan alias arah politik sangat menentukan. Pemerintah masih menggenjot sektor lain yg lebih prioritas semisal pemertaan pembagunan, pendidikan dll. Beda cerita kalo kondisi perang, ga punya duitpun ttp nekad beli demi harga diri. Ini komentar bukan berarti saya ga suka punya alutsista gahar lho ya, tp realistis aja. Mau contoh? Jerman, penopang ekonomi eropa selain Perancis kondisi militernya ga kalah memprihatinkan lohh

      •  

        Yah, saya sih gak menyalahkan pendapat anda, sebab Vietnam dan India juga gak masalah mau beli dari mana aja, sebab mereka yang punya uang, tentunya pandangan politik mereka beda dengan anda 😀 hihihihi sebab, 1x diancam sih takut, 2x diancam masih takut, tapi kalo sering diancam ya jd gak takut, sama seperti kita menakuti atau memarahi anak kecil 😛 xiixixixi

        Lagian untuk beli alutsista gak bisa saat perang, emang perang bisa bilang “brake”, kami mau beli alutsista dulu, nnti dilanjutkan tahun depan ya, atau 2 tahun lagi…

        Soalnya dalam perang, semakin cepat selesai maka lebih sedikit keluar dana dan korban dipihak sendiri.

        Klo bicara ekonomi, itu berarti ADA UANG dong, jadi bisa beli apa aja, bahkan saat perang berkepanjangan sekalipun, jadi gak susah beli sembako dan peralatan tempur sekalipun dari luar 😀

      •  

        @Guru langit… anda harus paham secara mendetail mengapa militer Jerman payah… apakah masyarakat Jerman merasa kawatir dengan itu??? justru tidak, ada sisi emosional dan kekawatiran serta trauma dari sejarah panjang negara Jerman yang menyebabkan masyarakat Jerman tidak terlalu mendukung negara mereka memiliki militer yang kuat…
        Itulah mengapa ketika negara Jerman militernya payah, anggaran militer rendah dan kondisi alutista mereka benar2 sangat memprihatinkan tidak ada masyarakat Jerman yang heboh dan meradang…
        Praktis negara2 Eropa tidak memiliki militer yang benar2 kuat, di pengaruhi negara2 Eropa yang luas negaranya rata2 kecil, bahkan sekelas Prancis dan Inggris pun sekarang ini bukanlah kekuatan yang benar2 gahar… Eropa secara umum bergantung pada USA sebagai penyuplai kekuatan militer terbesar, dan dilematisnya adalah ketika Trump mulai mengusik biaya yang banyak ditanggun oleh USA maka UE mulai gerah dan sepertinya bisa menjadikan Eropa akan lebih berusaha bisa mandiri… dan jika mengarah kesana maka akan ada kerumitan dalam persaingan pengaruh secara militer, antara USA – Russia – China – UE (NATO)…

    •  

      Bukan cuma sekedar punya uang bung… tapi faktanya emang pemerintah lagi fokus pembangunan infrastruktur dan berupaya meningkatkan pendapatan negara. Gwe rasa pemerintah juga ga mau kayak jaman orde lama, jor-joran beli alutsista sementara rakyat kelaparan. Kalo cuma sekedar uang aja, negara juga punya kok. Contoh: Kemaren beli saham Freeport itu $ 3,5 Miliar. Itu kalo dibeliin Su-35 dapet 3 skadron lho. Terus Bandara Kertajati… itu total kalo sampe rampung termasuk sarana pendukung bisa sampe Rp 12 T lho. Artinya hampir $ 900 juta. Contoh lebih extreme lagi: Tol Trans Sumatra. Itu biaya sekitar Rp 250 Triliun atau $ 17-an miliar. Bayangin kalo duit segitu dipake beli alutsista… cetar membahana. Tapi buat apaan? Manfaatnya apa? Jauh lebih bermanfaat buat bangun infrastruktur dan ekonomi.

  3.  

    pikir pikir sebelum beli
    tapi kl beli dari paman siam ga usah di pikir pikir dulu.
    walau qualitasnya di bawah negara lain.

    •  

      Masalahnya adalah bahwa penjualnya yg mikir, itu semua dibeli pake duit apa masih barter ya? 😆 wkwkwkwk

      •  

        Bukan barter bro. Imbal beli. Kalo barter itu rasio nilai 1:1 dan barang dituker barang.. Misal: Loe jual gorengan tahu isi Rp 5 ribu dan gwe jual sendal Rp 20 ribu. Terus kita barter misalnya sepasang sendal jepit dapet 4 tahu isi goreng. Nha itu barter.

        Kalo imbal beli beda. Contoh: Gwe nawarin sendal jepit ke loe. Terus loe bilang, oke gwe beli nih sendal jepit loe. Tapi ntar2 loe beli ya gorengan gwe… ya minimal dua apa tiga lah. Nha pas loe dapet sendal jepit, loe kasi duit Rp 20 ribu ke gwe. Terus besoknya gwe beli tahu 2 biji atau 3 biji dari loe. Bayarnya pake duit juga. Jadi disini nilainya bisa ga imbang.

        •  

          Siapa bilang barter itu 1:1 ente sekolah dimana? 😆 wkwkwk

          barter itu barang tukar barang, bukan 1 telur ditukar 1 sapi, itu ente mabok 😆

          •  

            Lhooo…telor sama sapi bukannya barang jg yaa.?

            Hmmmmm…

          •  

            Nilai dalam duitnya yang 1:1 dong dong… bukan 1 telor dituker 1 sapi… kalo goblok jangan kelewatan gitu ah… bikin malu nyak babe loe aje

          •  

            buat @blukuthuk eh maksud saya @bluesky

            Buat ente yang sok pinter, coba baca komen saya 😛 wwkwkkwkw kan saya juga bilang “bukan 1 telur ditukar 1 sapi”… koq anda ulang lagi… ketahuan nih dulu waktu sekolah suka nyontek 😆 wkwkwkw

            Lha, emangnya sebagian uang dan barang yang akan dikirim RI ke Rusia untuk menutupi biaya pembelian itu tidak 1:1 ya? Apakah menurut Anda RI membayar lebih banyak dengan mengirimkan barang-barang tersebut (seperti CPO, karet dll) ya?

            Coba anda jelaskan apakah nilai yang dibayar RI lebih besar dari US $1,14 juta sesuai kesepakatan kontrak? 😆 wkwkwkwkw, mabok mabok deh ente…

          •  

            G*blok dipiara gini ini nih :p

            Nih, gwe jelasin pake bahasa yg gampang dimengerti ya tong… Kita bayar Su-35 kisaran $ 1,1 Milyar disertai perjanjian imbal beli komoditas. Nantinya perusahaan Russia bakal beli komoditas Indonesia dengan nilai $ 570 juta. Bayarnya cash juga, jadi bukan barter. Ini yang dimaksud bukan rasio 1:1. Ngerti sampe sini?

            Kalo barter, itu bayarnya pake barang. Jadi benda yg diserahin dianggap setara. Misal: 11 unit Su-35 dibayar pake minyak mentah 20 juta barrel. Artinya 11 unit Su-35 tadi nilainya dianggap sama dengan minyak mentah 20 juta barrel tadi. Ini yg disebut rasio 1:1 karena yg dibayar dianggap sejajar. Padahal, kalo di pasaran bebas, bisa aja harga minyak tadi lebih mahal or murah dari 11 Su-35.

        •  

          Wong Indonesia itu beli bro, tukune nyicil….emboh gawe duite sopo….

  4.  

    Monggo…berikut list realisasi pengadaan untuk TNI AU periode tahun anggaran 2014-2015 update 1 November 2014.

    Yang butuh ember, ini saya masih ada satu.

    1. Pembom strategis Tu-22M3 Backfire D 36 12-2014, 24-2015 Paket persenjataan AS-6 Kingfish, AS-16 Kickback, AS-17 Krypton, AS-18 Kazoo

    2. Pembom strategis/patroli maritim jarak jauh Tu-95MS Bear F 36 8-2014, 14-2015, 14-2016 Sensor dan avionik mengalami upgrade. Paket senjata sama dengan Tu-22M3

    3. Su-35SI Super Flanker 72 16-2014, 28-2015, 28-2016 Termasuk ToT penuh rudal AAM, sistem EW, radar AESA, IRST.

    4. Su-34 Fullback 64 8-2014, 22-2015, 18-2016, 16-2017 14 Il-76MD Candid 36 18-2015, 18-2016 15 Radar OTH 4 1-2014, 2-2015, 1-2016 Ex Rusia. Type classified 16 Satelit “pengindera jarak jauh” berbasis optik + radar 2 1-2015, 1-2016

    Pada Protokol X Rusia sudah menegaskan komitmennya untuk deliver seluruh pesanan kita, disana industri pertahanan mereka juga beroperasi dengan kapasitas penuh untuk penuhi 2 lini produksi. Dan dengan list belanjaan ini, Indonesia resmi menjadi mitra inhan Rusia terbesar sepanjang sejarah Rusia.

    By : Bapak Narayana Wisnu

  5.  

    coba tebak, foto yg digambar itu sukro menembakkan rudal atau roket…..

    yg berhasil jawab dapat ciuman dr peliharaannya bung anunymous……xixixi

  6.  

    Sebenarnya sangsi yang terlalu keras diberlakukan akan membuat negara2 yang potensial berusaha dijadikan mitra justru akan semakin menjauh…
    Contohlah India yang sampai USA memilih meninggalkan Pakistan karena memang secara umum dukungan USA ke Pakistan yang membuat India merapat ke Russia…
    Jika India dikenai sangsi, maka India akan malah makin dekat dengan Russia…
    Turki adalah masalah utama bagi USA baru2 ini… tujuan utama sangsi sebenarnya adalah untuk menghalangi Turki menjauh dari USA dan NATO… hanya saja sepertinya ada efek domino yang timbul darinya sehingga USA berusaha membuat beberapa pengecualian…
    Indonesia dan Vietnam adalah negara yang penting ga penting… Vietnam jelas menjadi vital dan penting dalam hubungan dengan ketegangan di LCS… Indonesia adalah negara yang menjadi jalur penting karena seolah2 memblok jalur menuju ke Australia, disamping di Asia tenggara Indonesia adalah negara terbesar sehingga akan sangat riskan membiarkan Indonesia justru menjadi mitra kuat Russia…
    Indonesia pernah di kenai sangsi militer dari USA dan justru akibatnya Indonesia malah menjadi kembali dekat dengan Russia, saya jadi sadar kenapa konsektasi politik saat ini selalu di arahkan ke situ…

  7.  

    coba tanyakan pada rumput goyangnya tramp

    tong dudu blek
    belk dudu tong

    nehi nehi mahabarata

  8.  

    Cukup setimpal dengan yang didapat. Lacroot

 Leave a Reply