May 212016
 

Uupaya Indonesia untuk meningkatkan deteren militernya berada di jalur yang tepat, yang kemajuannya terlihat dalam pembicaraan untuk pembelian alutsista canggih Rusia dan produksi bersama amunisi dan senjata.

Selama pertemuan antara Presiden Indonesia Joko “Jokowi” Widodo dan Presiden Rusia Vladimir Putin, Jokowi disajikan daftar belanja negara, yang mencakup kapal selam kelas Kilo dan jet tempur multi-peran Sukhoi Su-35.

Indonesia juga memiliki rencana untuk pembangunan pusat perawatan untuk sistem persenjataan yang dibeli dan produksi bersama amunisi dan senjata lainnya di Indonesia.

“Kami sedang dalam pembicaraan untuk pembelian kapal selam, tetapi, tentu saja, ada persyaratan yang perlu diatasi,” kata Duta Besar Indonesia untuk Rusia M. Wahid Supriyadi, menambahkan bahwa akan ada pembicaraan lanjutan antara pejabat Departemen Pertahanan Indonesia dan rekan-rekan mereka dari Rusia.

Kilo class Diesel Electric adalah kapal selam serang, terutama dirancang untuk operasi anti-kapal dan anti-kapal selam di perairan yang relatif dangkal. Pertumbuhan ekonomi di Asia telah membuat keamanan laut menjadi masalah vital, dan kekuatan angkatan laut regional sedang dalam perlombaan untuk memperluas kemampuan rudal bawah laut mereka melalui pembelian kapal selam canggih.

Meskipun Indonesia menjadi negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia hanya memiliki dua kapal selam usang yang beroperasi. Untuk itu Indonesia diharapkan segera menerima tiga kapal selam dari Korea Selatan, tapi dengan teknologi rendah dibandingkan Kilo class.

Sejak tahun 2007, Indonesia telah melakukan pembicaraan dengan Rusia untuk membeli setidaknya dua kapal Kilo-class, namun kemajuan berjalan lambat sampai pertemuan terakhir antara Jokowi dan Putin di resor Laut Hitam, Sochi, Rusia, di KTT ASEAN Rusia Ketika yang berlangsung di Rusia.

Kepala badan ekspor senjata Rusia, Alexander Fomin, mengatakan Rusia ingin memproduksi munisi militer di Indonesia, termasuk amunisi, Reuters melaporkan. Dia menambahkan bahwa Indonesia tertarik dengan kapal selam dan jet Rusia. “Namun, Rusia memiliki saingan, seperti Amerika Serikat dan China”.

Rusia, eksportir senjata terbesar kedua setelah AS, berencana menjual senjata senilai US $ 14 miliar tahun ini, menurut Reuters. total portofolio Rusia untuk pesanan senjata saat ini lebih dari $ 50 miliar.

Pembicaraan antara Jokowi dan Putin dilanjutkan dengan penandatanganan Nota Kesepahaman antara Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi dan rekan-nya Sergei Lavrov di Bocharov Ruchei, kediaman resmi presiden Rusia, Rabu malam.

Perjanjian tersebut memfasilitasi pertukaran data intelijen, kerjasama di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, dan pembentukan fasilitas industri bersama. “Kami telah sepakat untuk memperluas kontak antara kementerian pertahanan dan badan-badan keamanan,” kata Putin pada konferensi bersama dengan Jokowi.

MoU yang ditandatangani merupakan tindak lanjut dari kesepakatan kemitraan strategis komprehensif 2003 antara Indonesia dan Rusia. “Ini adalah untuk mengakomodasi kebutuhan militer kita. Tampaknya kebutuhan mereka sejalan dengan apa yang Rusia memiliki, “kata Retno, menambahkan bahwa Rusia selalu responsif terhadap Indonesia.

Di tengah sanksi ekonomi yang diberlakukan oleh negara-negara Barat, ekspansi Rusia dalam hubungan dengan Indonesia memberikan tanda yang melegakan. “Kerja sama ini juga telah mengangkat pengaruh Rusia, karena mendapatkan penerimaan dari Indonesia, negara besar Asia,” kata Tirta Mursitama, kepala departemen hubungan internasional di Universitas Bina Nusantara.

“Dari perspektif geopolitik, Indonesia dan Rusia berusaha untuk mengangkat posisi tawar mereka di tingkat global dan regional dengan kerja sama pertahanan ini.” Selain masalah pertahanan, Jokowi juga membahas masalah-masalah perdagangan dan investasi dengan Putin dan diadakan pula pertemuan one on one dengan para eksekutif dari beberapa perusahaan, seperti infrastruktur dan transportasi perusahaan Russian Railways dan perusahaan investasi Vi Holding Group.

Data dari Badan Koordinasi Penanaman Modal Indonesia (BKPM) mengungkapkan bahwa sebagian besar investasi Rusia di sektor pertambangan. Investasi yang direalisasikan mencapai $ 1.01 juta tahun lalu, yang menurut Retnon di bawah potensi yang dimiliki Indonesia dan Rusia.

“Kami telah menyarankan kepada Rusia untuk diversifikasi investasinya di Indonesia, dan mereka tampaknya tertarik,” kata Retno.

Daftar belanja termasuk kapal selam kelas Kilo dan jet tempur Sukhoi Su-35. Sebuah kesepakatan ditandatangani untuk memfasilitasi pertukaran data intelijen.

Sumber : The Jakarta Post

  78 Responses to “Indonesia Beralih ke Rusia untuk Persenjataan”

  1.  

    Su 35 udah nongkrong di biak,,,

 Leave a Reply