Nov 282016
 

hdms-peter-willemoes-f362

Jakarta – Pemerintah diharapkan terus mendorong pengadaan alat utama sistem senjata (alutsista) untuk menjaga keamanan laut. Langkah ini diperlukan untuk mewujudkan Indonesia sebagai negara maritim.

Staf Ahli Ketahanan Nasional dari Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Kemenko Polhukam) Laksamana Muda TNI Agus Setiadji mengatakan, alutsista yang dibutuhkan untuk menjaga keamanan laut antara lain, sistem detektor dan kapal selam.

“Pengadaan alutsista yang strategis contohnya, sistem deteksi posisi wilayah. Kedua, kapal-kapal strategis, contohnya kapal selam, kapal frigat. Kalau perlu kapal destroyer, pesawat tempur fighter, pesawat-pesawat yang memiliki strategis tinggi,” ujar Laksda Agus dalam acara Β ‘Membedah Sejarah Armada Nusantara’ di Museum Bahari Jakarta, (25/11/2016).

Laksda Agus mengatakan, lemahnya pertahanan Indonesia di sektor maritim tidak lepas dari menciutnya anggaran pada masa Orde Baru. Pada masa itu, alokasi anggaran untuk pertahanan hanya 0,5 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Padahal, untuk menjaga keamanan laut, diperlukan anggaran lebih untuk pengadaan maupun perawatan alutsista.Β “Bahkan saat itu di bawah 0,5 persen dari GDP (Gross domestic product). Sekarang mulai naik 0,8 persen. Diharapkan 2019 sampai 1,5 persen. Tetapi dari 1,5 persen itu harus mikir, mau dibeli apa,” ujarnya.

Menurut Laksda Agus, dengan bentangan wilayah Indonesia yang luas dibutuhkan alutsista strategis. Misalnya untuk kapal selam saja diperlukan 12 unit.

“Otomatis harus di atas 1,5 persen dari PDB. Kapal selam harusnya bisa di atas 12 (unit) karena luas wilayah kita besar sekali. Kita harus mempunyai alutsista strategis yang bisa menghasilkan deterrence effect yang tinggi,” ujarnya.

Laut China Selatan

Laksda Agus menambahkan, Indonesia perlu memperkuat pertahanan di wilayah Natuna, sebab daerah ini bersinggungan dengan Laut China Selatan yang rentan terhadap konflik.

“Satu-satunya cara ialah kita memperkuat perbatasan, di Natuna harus diperkuat kekuatan darat, laut, darat udara tidak hanya alutsista saja. Karena kita saat ini tidak boleh berpikir lagi bahwa perbatasan sekadar pembatas antara satu negara dengan negara lain. Tapi adalah semacam kapal induk untuk kekuatan pertahanan di daerah itu harus diperkuat,” ujarnya.

Terkait masalah Laut China Selatan, Indonesia juga harus menjadi perantara sebagai bagian dari penyelesaian ketegangan tersebut.Β “ASEAN cenderung punya kepentingan masing-masing tidak pernah menyatu. Kita harus bisa, Indonesia negara besar di ASEAN untuk menjembatani kepentingan lebih besar, menggandeng kekuatan ASEAN,” terang Laksda Agus.

Sumber : Liputan6.com

Bagikan:

  106 Responses to “Indonesia Butuh Destroyer dan 12 Kapal Selam”

  1.  

    Uuww

    •  

      SUT Torpedo 533mm Buatan Indonesia (Surface and Underwater Target )
      https://www.youtube.com/watch?v=6u1kO_bXZQY

    •  

      Biaya kapal destroyer amat tinggi
      Soalan mampu Indonesia belinya ,hanya Negara kaya mampu miliki kapal destroyer japan, China,perancis mampu miliknya.
      Rudai mahal terutama rudai amerika Tomohawk, russia 3m14 kalibr
      Jangan destroyer opong sudah ia Pak

    •  

      Indonesia Gak Butuh Destroyer,,, Yang Paling dibutuhkan Indonesia Itu Frigate dengan Persenjataan Sekelas Destroyer lebih dari Cukup Untuk Defensif (Menjaga dan Melindungi) teritorial Negara… Hanya Negara Offensif aja yang punya Destroyer…

      Mending Anggarannya Untuk Meng Upgrade Semua Alutsista Yang dimiliki dengan Senjata Taktis:
      Seperti; 2×2 SSM, 1×21 RIM-116 RAM, 16-32 cell Mk.41 VLS, System Radar, Tracking, dsb
      Lebih Membantu daripada bernapsu untuk membeli Destroyer / Mini Destroyer

      •  

        Indonesia pake destroyer mantep sih, problemnya cuman satu. Mau bayar BBMnya pake apa?
        Ngga masuk akal kl di negara kepulauan dengan luas garis pantai sangat besar pake destroyer. Pakenya itu frigate cepat dengan rudal2 taktis. Kecil2 disebar banyak biar tercukupi garis pantainya. Kalo beli satu dua gede2 terus duitnya abis sisa garis pantainya dijaga pake apa?

      •  

        Indonesia tetep butuh kapal destroyer sebagai flagship dengan berbagai fungsi yang tidak bisa disamakan dengan frigat. Destroyer bisa mengangkat harga diri bangsa apalagi kalo bisa bangun sendiri dengan skema TOT.

        •  

          @Sastro : Semua negara butuh kaprang Destroyer Class, hanya saja tidak semua negara mampu menjadikan kaprang Destroyernya sebagai alat perusak yang handal.
          Dalam hal ini, Indonesia / TNI AL belum tentu dapat memakimalkan Destroyernya.
          Hal tersebut dapat kita lihat di PKR terbaru kita hingga saat ini yang belum juga dapat di instal dengan rudal yang up to date.
          Btw harga kaprang Destroyer dapat mencapai 3 – 5 kali lipat kaprang PKR.
          Jika kita mencontoh harga KDX III KorSel yang mencapai -+ 1 Milyar US$, sekitar 30 persennyya dari 1 Milyar dolar hanya untuk rudal SM-2 Block IIIB.
          Apakah Indonesia sanggup?
          Nanti hanya membangun 1 unit kaprang Destroyer ngoceh minta ToT…?
          Sadah jadi kaprang Destroyer-nya malah di instal rudal C-705 / C-802…?
          Lalu rudal jelajahnya pakai apa…?
          Yakhont…?
          Memangnya kitapunya berapa Yakhont…?

          Real Fregat seperti Iver H saja hanya menggenakan SM-2 Block IIIA.
          Jika Indonesia ingin meaksimalkan cukup PKR Sigma Class di instal dengan radar, avionic dqn rudal yang ber-range jauh.

          •  

            @wangsa kencana

            Ya nggak semua negara butuh destroyer to…

            Kira-kira ada sekitar 40 negara yang gak punya laut, spt swiss, austria, vatican, andora, czech, hungaria dll….xixixixixi

          •  

            @LAKI… : Xixixixi… πŸ˜€

    •  

      Jaman ORBA anggaran 0.5% + Korupnya yg luar biasa dan ga keliatan jd lah alutsista yang bobrok dan mungil macem tank mini alvis, puluhan kapal bekas, pespur tanpa rudal.

  2.  

    DARI DULU BUTUH TP KNAPA GAK BELI BELI..

  3.  

    itulah negeriku indonesia

  4.  

    Rong borong tak Yee..

  5.  

    Gara gara Si dana pertahanan NKRi selalu lemah..

  6.  

    Hanya pembicaraan basa basi saja..bicara ringan..jangan anggap NKRi mau beli destroyer..msh jauh..liat Iver kemaren juga cuman liat doang..beli mah kagak..wkwkkw

  7.  

    Semoga bukan sekedar “wacana” pemanis …. perlu dukungan politik anggaran yang kuat dari orang2 disenayan

  8.  

    Takut di invasi ya lon ??… πŸ˜†

  9.  

    Takut di invasi ya te ??… Bhahahaha

  10.  

    Destroyer boleh juga tapi lebih baik rudal pesisir pantai saja di perbanyak.

  11.  

    DUIT NYA ADA CUMA TERGANTUNG KITA NYA !!!

  12.  

    “Diharapkan 2019 sampai 1,5 persen. Tetapi dari 1,5 persen itu harus mikir, mau dibeli apa,” ujarnya” ?????? Whattttt ????

    Gak usah mikir kejeron ujung ujunge nanti KORUPSI…..
    Tujuan Jelas adl WHAT MAKE BATTLE jadi belikan rudal S400, SU35, KS dg rudal NUKLIR itu minimum esensial for war..for indonesia

    Untuk pengembangan industri militer yang lain antara lain
    1. pabrik rudal,
    2. pabrik pespur,
    3. pabrik kapal perang/KS,
    4. pabrik Tank
    5. pabrik meriam
    6. pabrik radar/sonar
    7. pabrik mikro/nano elektronik
    8. pabrik titanium/komposit/alloy

    Nah mana dari list pabrik tadi yang sudah bisa kamu lihat di indonesia dg kinerja yg sudah bagus internasional..class ??
    Mana tunjukin ??

    Makanya jangan bingung…yang penting rumah sudah berdinding, berpagar, ada security dan ada herdernya..tinggal garap PR di dalam sampe tuntas…

    •  

      1,5 persen??? Berapa Triliun tuuuh, 300an triliun??? Mau beli apa?, ya tentunya beli alutsista yg dpt memberi TOT untuk kemandirian teknologi alutsista dalam negri. Contohnya Typhoon yg mampu menyokong kemandirian teknologi pespur dalam negri
      Edisi #salestyphoon πŸ˜€

    •  

      1,5 persen??? Berapa Triliun tuuuh, 300an triliun??? Mau beli apa?, ya tentunya beli alutsista yg dpt memberi TOT untuk kemandirian teknologi alutsista dalam negri. Contohnya Typhoon yg mampu menyokong kemandirian teknologi pespur dalam negri
      Edisi #salestyphoon πŸ˜€ πŸ˜€

    •  

      Setuju bgt bung….mosok dana sekian banyak 1,5 PDB lho, bingung mau beli apa, kamu bertanya atau bacot doang?? Keinginan rakyat sdh jelas toh, su35 harus deal, setiap pulau terluar pasang oerlikon skyshield, setiap perbatasan baik darat maupun laut harus dipasang s300, setiap provinsi vital spt jogja, makassar, medan, bandung, surabaya dan denpasar wajib dipasang s400, dan khusus utk jakarta san istana hrs dipasang s500 dan thaad sebanyak 100 baterei, trus kilo 636 jgn lupa, destro jg, gripen c/d, viper dan perbanyak rudal2 darat ke darat kelas berat….jadi itu udah ssmua yg rakyat inginkan, jd jgn pusing2 mikir nti kalian cpt botak, dana banyak bingung mo bli apa, gantian dana sedikit kontrak su35 batal teruuus….ihhhhhhhh jengkel bgt akuuuu jadinya….:(:(:(:(:(

      •  

        Ngapain beli s300, udah jadul, kita mending beli s400. Masing2 2 batalyon di pulau2 terbesar seperti sumatra, sulawesi, papua dll.
        Dan masalah jet sih, saya maunya su35 16 unit dan typhoon 32 unit, beli typhoon yg banyak supaya dapat TOT radar dan mesin, dan supaya kita bisa memproduksi sebagian spare part typoon d dalam negri.

    •  

      Yup.. setujuhhh.. anda memang up to date. @segojagung harap update lagi berita militer

  13.  

    12 unit kapal selam. Ada apa kah dengan angka 12 ?? ..
    12 unit untuk yg di publikasi kan di luar yg ghoib atau 12 unit termasuk yg ghoib” ? …
    Kita tunggu saja berita selanjut nya ..

  14.  

    irian jaya class betapa malang nasibmu sdh jd besi,coba adikmu lahir lg…

  15.  

    enggak mungkin punya kapal selam 12 buah terus dengan lantangnya TNI jujur berkata :

    INDONESIA PUNYA KAPAL SELAM 12 BUAH

    pasti lebih misalnya 24 – 30 buah Kapal Selam …

    anda tidak percaya ?

    nih petunjuknya …

    “kita membutuhkan tambahan kapal selam sebanyak 39 unit” (Laksdya Mars**** – 2010)

    12 KS mungkin yang jumlah diumumkan, aslinya mungkin 24 -30 KS …

    ingat rumus 1/3 operasi, 1/3 siaga, 1/3 pemeliharaan …

  16.  

    INDONESIA DARURAT MENTERI TYPE “DESTROYER”

    xixixi….

  17.  

    Dulu jaman presiden SBY, duit nggak banyak, tapi ditangan pak Purnomo sebet banget beli ini-itu. Sekarang duit ada, katanya anggaran pertahanan kita 2017 sudah di atas 100 T terbesar!!!, tapi lamaaaaaaaaa banget belinya. Pikir ini – pikir itu, akhirnya nggak beli apa-apa. Prihatin !

  18.  

    Test

  19.  

    .

  20.  

    baru nyadar kan…kemana aja selama ini om…

  21.  

    Hayo siapa yg mau memberikan atau meminjamkan kapal selam dan destroyer ke Indonesia sedang butuh nih?

  22.  

    Kalau saya anti mainstream.
    Daripada sedikit destroyer, Indonesia butuh banyak real fregat sekelas DZP, Iver huidfielth, admiral gorskov.

  23.  

    Sekarang APBN Kemhan kira2 ada 100 T = 0,8%PDB.

    Jika 1% PDB = 100 T / 0,8 = 125 T

    Jika PDB tahun 2019 sama dengan 2016 maka 1,5% PDB = 125 Γ— 1,5 = 125 + 62,5 = 187,5 T.

    Itu kalo PDB 2019 = PDB 2016 = 12500 T.

    Jika pertumbuhan ekonomi 5% tiap tahun maka :
    PDB 2017 = 1,05 Γ— 12500 T = 13125 T.
    PDB 2018 = 1,05 Γ— 13125 T = 13781,25 T.
    PDB 2019 = 1,05 Γ— 13781,25 T = 14470 T.

    Jika Anggaran pertahanan 1,5% dari PDB 2019 = 0,015 Γ— 14470 T = 217,5 T.

    Namun jika meleset bukan 1,5% tetapi jadi 1% saja masih = 0,01 Γ— 14470 T = 144,7 T.

    Jadi prediksi anggaran pertahanan di tahun 2019 antara 144,7 – 217,5 T.

    Dari situ ambil :
    30% untuk kesejahteraan dan infrastruktur.
    30% untuk operasional (latihan, operasi, logistik amunisi dan perbekalan lainnya, pendidikan, bbm, perawatan, perbaikan),
    30% untuk peremajaan (modernisasi, upgrade dan penggantian alutsista yang sudah tua dan harus diganti)
    dan 10% untuk belanja modal (pengadaan penambahan alutsista baru).

    Jika anggaran tahun 2019 adalah 217,5 T maka 10% nya adalah 21,75 T.

    21,75 T dibagi 3 matra = 21,75 / 3 = 7,25 T untuk tiap matra.

    Jika kurs 14 ribu maka 7,25 T = USD 517,85 juta.

    USD 517,85 juta (untuk tahun 2019 saja) bisa dapat apa untuk TNI AU ?

    Jangan sebut untuk pengganti F5 atau pengganti Hawk, sebab itu sudah masuk ke dalam yang 30% untuk peremajaan.

    USD 517,85 juta paling bisa dapat 12 unit Su-35 kosongan dan tanpa makelar.

    Atau dapat 6 unit Su35 atau 5 unit F16 viper lengkap tanpa makelar atau dapat 14 unit FA-50.

    USD 517,85 juta (untuk tahun 2019 saja) bisa dapat apa untuk TNI AL ?

    Jangan sebut untuk pengganti Van Speijk class atau pengganti Parchim, sebab itu sudah masuk dalam 30% untuk peremajaan.

    Maka jika dari anggaran tahunan saja walaupun lebih dari 200 T per tahun, tidak akan cukup untuk beli alutsista baru untuk mengejar MEF.

    Maka ada yang namanya dana renstra yang untuk MEF2 sebesar 532 T itu.

  24.  

    Yang paling dibutuhkan rakyat adalah mata pencaharian yang baik, dengan ekonomi yang baikm lewat pendidikan yang baik. Baru bisa mendukung alutsista yang baik. Kalo ekonominya jeblok, ga usa diserang dari luar, bayar tukang bubur buat demo juga ud bisa ancur negara.

  25.  

    Bung @tukangngitungphd, taun 2015 kan angaran militer 100triliun? TNI AU dpt jatah brp? Lalu jatah itu untuk beli apa?

  26.  

    menurut saya mending banyakin kcrnya tapi upgradd juga, speednya bisa 40-50 kt senjatanya cukup 2xquadpack exocet mm40(cukup untuk menengelamkan kapal berbobot 3rebuan ton ) tapi unitnya banyakin

  27.  

    Indonesia tetap butuh destroyer dan kapal induk mini. kenapa ? karena selain sebagai proyeksi blue water navy juga sebagai pelindung utama NKRI yg 70% wilayahnya lautan dengan total wilayah lautan dan daratan mencapai 7 juta km2 atau setara wilayah India/Australia. Cakupan radar yg besar dari destroyer, senjata yg banyak dan didukung bantuan udara baik sebagai intersep atau superioritas udara dari pespur yg terbang dari kapal induk yg bergerak tentu akan lebih memudahkan kita menjaga pertahanan RI. Lihatlah baik2 teater perang pasifik waktu perang dunia 2. Wilayah teritori Indonesia sama dengan Jepang yg berupa kepulauan. Jepang punya banyak pulau yg dijadikan pangkalan udara dan lebih mengagungkan perang antar kapal tapi akhirnya hancur karena radar kapal mereka kurang jauh dan pangkalan mereka takbisa menampung banyak pesawat. Liatlah US Navy waktu PD2 yg bisa membawa 10 kapal induk kelas berat dan 10 kapal induk sedang/ringan. Satu lapangan terbang hanya mampu menampung 150-200 pesawat sedangkan tiap kapal induk bisa bawa 60-70 pesawat. Apalagi AS menerapkan strategi lompat katak dimana hanya menguasai pulau2 strategis yg penting untuk menyerang langsung ke Jepang daripada menyerang seluruh wilayah Jepang. Bayangkan buat fans pecinta kapal kecil dan banyakin rudal, sebagian besar pabrik rudal, propelen, dan galangan kapal itu hanya ada di Jawa dan Sumatra khususnya di Lampung dan Batam. Sedangkan pulau Papua,Sulawesi dan Kalimantan tak punya pabrik senjata rudal atw galangan kapal militer. Kalo saya adalah jendral musuh yg punya banyak kapal induk dan destroyer, saya hanya cukup menguasai Kalimantan, Sulawesi, dan Papua yg penjagaan militernya lemah. Sasaran pertama serangnya hanyalah Palu, Sorong, dan Makassar, sasaran kedua adalah pabrik dan galangan kapal di jawa. Tak perlu menguasai hingga Jawa dan Sumatra, biarkan KRI kecil yg banyak lewat. Kenapa? Karena bila KRI mau menyerang Kalimantan, Sulawesi dan Papua harus melewati Lait Jawa dan Karimata yg wilayah lautnya luas. Tak ada banyak pulau untuk bersembunyi dan kemampuan radar yg bisa dibawa jangkauannya pasti tak lebih dari 120km. Mereka pasti akan terjejak oleh radar destroyer terlebih dulu sebelum KRI kecil bisa menyerang duluan. Kemampuan alat sonar yg dibawa juga lebih banyak dan destroyer modern juga sudah disiapkan untuk perang anti kapal selam. rudal dari klub s,exocet,dan brahmos varian kapal selam masih bisa disergap dengan kombinasi pertahanan armada destroyer dan kapal induk. Beda kalo kita punya bahkan mampu membuat kapal induk mini dan destroyer. Kekuatan kita bisa mengkover pangkalan aju atau pangkalan utama yg hanya diisi tak lebih dari 4 ska tempur. Bahkan kita bisa memukul balik musuh saat ada diwilayah/pangakalan mereka. Laut kita sangat luas, itulah masalah penyaluran logistik kita. Itulah kenapa sebagian besar pengamat militer dunia terkejut dan terlambat menyadari kalo kita punya 19 LST dan 4 LPD yg artinya kita bisa menggerakkan 1 Divisi/50 ribu pasukan bersenjata lengkap termaduk MBT, artileri dsb dalam waktu singkat. Hanya kita kurang satuan pelindung baik dari udara, kapal, maupun AKS.

    •  

      Jgn samakan era perang dunia kedua dan era sekarang bung, jaman dulu(1940an)kapal induk sangat penting karna rudal atau peluru kendalimsh belum ada, kalau jaman sekarang kapal induk sdh tdk terlalu penting. Daripada kita bikin/beli kapal induk dan destroyer, lebih baik membeli/membuat heavy frigate, jangkauan radar dan persenjataan juga tidak kalah sama destroyer.

      •  

        kapal induk masih penting pada era sekarang…untuk proyeksi pre emptive strike atau sekedar operasi mengambil kembali wilayah yg sudah diambil musuh. Terutamanya utk payung udara. beberapa perang modern memperlihatkan bahwa keunggulan kekuatan udara adalah mutlak sangat penting dalam operasi militer.

        dengan adanya kapal induk yg mampu membawa bomber sekelas su34, atau skyhawk atau F18 saja sudah sangat menentukan. lihatlah rusia walau hanya sekelas operasi militer disuriah dia tetap menggunakan admiral kutnezev (satu2nya kapal induk punya rusia).

        •  

          Untuk melakukan pre emptive strike kita tdk mutlak harus pake/punya kapal induk, karna jaman sekarang jangkauan jet tempur/bomber sangat jauh, contohnya su34 yg memiliki daya jelajah hingga 14.000km dengan 3 kali re-Fuelling.
          Dan 4000km tanpa Re-fuelling

          Dan saya rasa satu2nya alasan kenapa rusia mengerahkan kapal induk hanyalah untuk mengasah kesiapan dan kemampuan tempur kapal admiral kutzenov, Rusia sebenarnya tdk perlu mengerahkan kapal induk untuk memborbardir suriah.

          Tapi jika kita sdh punya bnyk puluhan kaprang seperti heavy frigate, destroyer dan kasel, maka kita boleh saja punya kapal induk untuk menyempurnakan kekuatan TNI AL, tapi untuk saat ini sepertinya kita benar2 tdk perlu membuat/membeli kapal induk.

    •  

      @putra

      Mau KCR atau destroyer, kemampuan radarnya dalam mendeteksi kapal lain yang sedang berlayar dibatasi oleh cakarlawa….kecuali kalo destroyernya adalah tipe 45 atau horizon class yang radarnya ditempatkan pd menara setinggi 30 meter, kedua tipe kapal tsb. jangkauan cakrawalanya lebih jauh daripada radar yang dipasang pd menara radar kaprang pd umumnya yang rata2 setinggi 15m

    •  

      Buat Bung Jfs: kalo kapal induk itu gak penting lalu buat apa US Navy mempertahankan 10 kapal induk berat & 10 kapal induk sedangnya. Itu aja belum termasuk LHD. Kenapa juga Rusia dan China ngotot buat kapal induk padahal sistem Anti Accest/Anti Denial mereka sangat kuat. Belum Prancis, Inggris, Jepang, Australia, hingga Singapura buat LHD biar jadi kapal induk mini utk F35 Var B. Negara yg kuat navy nya pasti punya atw buat destroyer padahal punya heavy fregat, bahkan buat cruiser juga. Lihat Zumwalt class, itu dibuat utk heavy fregat tapi langsung Destroyer. 2 senjata itu bukan sebagai simbol state of art navy sebuah negara tapi berfungsi sebagai senjata strategis utama. Peruntukan dan fungsi jelas sudah beda. Heavy fregat hanya sebagai pengawal armada. Untuk payung udara masih kurang, kalo mau dipaksakan jelas akan mengurangi kemampuan AKP/AKS. Beda dengan Destroyer yg punya kemampuan lebih disegala bidang. Kalo gak, pasti banyak Destroyer yg ditinggalkan oleh negara2 kuat dunia. Kapal Induk juga buat superioritas udara dan payung udara. Gak usah jauh2, liat perang Falkland/Malvinas. Argentina memang punya pespur mirage yg bisa bawa exocet dan bisa nenggelamin kaprang inggris. Tapi superioritas udara dari kapal induk inggris dg sea harrier sangat berguna buat inggris utk mengusir mirage Argentina, menguasai falkland dan menjaga superioritas udara. Percuma punya Su34 kalo F22 Raptor bisa diterbangkan lewat kapal induk. Dan percuma punya heavy fregat kalo udah diserbu heli SH60 sea hawk yg bawa rudal/torpedo. Apalagi diserbu F35 atau F18. Lagian dalam satu lanud modern bisa nampung berapa Su34/35 sih kalo 10 kapal induk sekelas Nimitz bisa diisi 45 pespur F35/F18. Mau ngomong nyerang pake rudal nuklir ?? Malah mana ada heavy fregat yg bisa bawa rudal berkemampuan nuklir. Paling banter kalo ga RBS, Exocet, Harpoon, Oniks/Yakhont, Brahmos, ya Kalibr. Destroyer bisa bawa rudal lebih gede spt Tomahawk yg bisa berhulu ledak nuklir. Ya kalo Destroyer indonesia setidaknya bisa senjata mica/aster dan rbs, yakhont lebih banyak dari heavy fregat.

      •  

        @putra
        Saya tidak bilang kapal induk tdk penting, hanya saja untuk indonesia kapal induk msh tdk terlalu penting,
        Masih terlalu dini untuk mempunyai kapal induk, selain masih kekurangan pespur, kapal perang kita jumlahnya jga msh kurang, seperti yg saya sebutkan di atas, kita boleh saja mempunyai kapal induk jika sdh memiliki banyak kaprang heavy frigate, destroyer dan kasel. Dan untuk saat ini daripada membeli/membuat kapal induk dan destroyer, lebjh baik kita membuat/membeli lebih banyak kasel sekelas changbogo dan heavy fregate sekelas Gorshkov class.

        Dan masalah fungsi heavy fregate,
        Heavy fregate terdiri dari banyak varian, ada yg mengutamakan kemampuan air defense, atau ASW dan ada juga yg multirole, tentunya disesuaikan dengan yg diinginkan,
        sama seperti destroyer, destroyer AB class itu kan juga utamanya untuk air defense? Tapi memiliki kemampuan untuk melakukan misi anti kapal selam dan kapal permukaan juga serang darat, ya begitu juga fregate.

        Dan berat heavy fregate itu sekitar 5000-6000ton bung, sebenarnya sdh masuk dlam kategori light destroyer.
        Dan mungkin dalam segi kualktas ya jelas Heavy fregate kalah jika dibandingkan dengan destroyer, tapi bagaimana dengan kuantitas?
        Bayangkan saja 2 unit AB class yg beratnya bisa sampe 10.000ton per unit, melawan 4 Heavy fregate seperti 2 unit gorshkov class dan 2 unit DZP class? Berat gorskov class hanya 4000an ton dan DZP class hanya 6000an ton…. lalu bagaimana hasil pertempurannya? Pasti sulit untuk ditebak

      •  

        @putra : Anda dari tadi asik komentar kapal induk.
        Apakah Indonesia sudah mempunyai pespur yang berkemampuan dengan kapal induk?
        Lalu kapal induk ingin di kawal dengan kaprang apa?
        KCR?
        Kapal LHD saja kita belum punya, apa lagi kapal induk?
        Setidaknya Indonesia sudah mulai belajar dari TK untuk mencapai gelar Prof.
        Hal tersebut di buktikan dengan di mulai dari kaprang KCR dan ToT Light Fregat PKR Sigma Class, KS Changbogo dan KFX/IFX.
        Menurut saya pribadi membuat kaprang tidak semudah kita berbicara dan membeli dudal dengan teknologi terbaik dan botol pulpen tidaklah segampang menulis bungkus / borong.
        Inilah Indonesia.
        Indonesia sedang belajar dari bawah hingga ke atas untuk menjadi mandiri tanpa mengesampingkan program poros maritimnya.
        Btw keterbatasan kita akan lebih terkorsksi lebih baik jika kita ingin bersabar dan belajar.
        Kemungkinan besar setelah satelit militer kita sudah mengorbit dan beroprasi 100 persen, Indonesia akan lebih memoderenisasi alufistanya ke yang lebih up to date.

        •  

          Bung @WK,
          Betul bung, kapal induk harus dijaga setidaknya 2 destroyer dan 3 fregate.
          Dan tentunya biaya-nya tdk sedikit untuk membuat armada kapal induk yg ideal,
          Mulai dari SAM sampai pespur, belum lagi biaya untuk mengadakan kapal pengawal kapal induk, dan kapal pengawal juga harus mempunyai kemampuan air defense yg mumpuni, bagaimanna kita bisa mengadakan air defense/SAM yg mumpuni untuk kapal pengawal kapal induk? Wong pangkalan militer kita saja cuma mengandalkan shorad πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€
          Jadi intinya saat ini kita benar2 tdk membutuhkan kapal induk.
          Yg kita butuhkan saat ini adalah kapal2 heavy frigate dan kasel sekelas kilo/amur.

  28.  

    Kesalahan Belanda setelah agresi militer belanda/aksi polisioner adalah menyerbu pulau jawa khususnya Jogjakarta. Kekuatan utama Indonesia sejak perang kemerdekaan adalah di pulau jawa karena kekuatan utama dan jumlah penduduk terbanyak ada disana. Kalo Belanda mau menunggu waktu dan cukup tanpa menyerang Jawa-Sumatra pasti mereka masih kuat dan lebih kaya sekarang. Jepang juga menjadikan Indonesia khususnya Jawa sebagai bantalan ketika PD 2, nyatanya hanya dilewati oleh sekutu kecuali Jayapura, biak dan Morotai. Sadarlah semua bahwa kita butuh senjata strategis selain banyakin rudal dan KCR yg bisa melaju diatas 40-50knot. Percuma lari kencang kalo udah dikejar harpoon/rbs/tomahawk apalagi Yakhont/S club kalo pertahanan kapalnya kecil, jangkauan radarnya kecil dan tanpa perlindungan udara. hit & run hanya berlaku di hutan atw kota. kalo di laut luas seperti laut jawa, selat karimata, laut banda, LCS bahkan Samudra Hindia dan Pasifik itu semua tak berguna. KCR tak bisa bawa heli OTHT, jangkauan radar hanya 60-120km.

    •  

      Bagaimana dengan missile boat yg berkemampuan siluman?

      •  

        Seiring berkembangnya teknologi stealth/siluman tentunya teknologi anti dotnya juga berkembang. Jangan salah, kapal induk juga bisa bawa pesawat AEW&E kecil. Itu bisa memantau ruang udara sejauh 400-600 km. Tetap sama aja. Boat rusia bisa nembak pake kalibr yg jangkauannya 1500 km itu karena diinput data dari luar, bukan dari radar kapal mereka. Klewang hanya bisa nyerang efektis didaerah pesisir dan banyak pulau seperti nusa tenggara atw kepulauan riau atw maluku. Kalo dilaut lepas gak ada jaminan bisa lolos radar musuh. Jangan lupa banyak negara2 yg punya Destroyer mau nambahin laser sebagai senjata anti rudal atw uav. Rudal secepat apapun, mau mach berapapun kalo udah ditrack jalur rudalnya tinggal ditembak pake laser. Dan hanya Destroyer yg punya tenaga cukup buat dipasang laser. Belum meriam high barrel electromagnetic yg bisa nembakin peluru tungsten sejauh 180km. Gak perlu pake rudal yg mahal, tinggal track pola dan jalur kaprang musuh dan tembak pake peluru meriam. Dan tenaga penggeraknya juga Destroyer yg cukup kuat karena bisa menghasilkan tenaga sampai 80 MW. Bandingkan dg heavy fregat atw bahkan KCR. KCR aja dipasangin C705/C802 yg jangkauannya minim 120km sampai 175km, itu aja kalo gak delay 5 menit. Ditembakin pake peluru meriam elektromagnetik bisa tenggelam KCR sebelum KCR bisa nembak. Sama hanya di darat, ada MBT, ada medium tank, ada light tank, ada artileri, ada IFV, ada APC. Gitu juga di Navy, ada Kapal Induk, ada Destroyer, ada fregat, ada korvet, kapal boat/KCR ada LPD/LHD ada kapal bantu dan angkut personil juga. Gak bisa nggunggulin pake fregat dan rudal aja. Kalo itu dah cukup ya knapa juga AS, Rusia, China, Australia, India, Jepang, Korsel, Inggris, Prancis punya Destroyer dan kapal induk ?? Ini bukan masalah duite sopo atw duite endi tapi lebih karena untuk perlindungan diri karena konflik LCS udah memanas, negara tetangga udah pesen banyak alutsista dan Presiden sendiri udah bilang kalo Indonesia harus jadi Poros Maritim Dunia. Percuma punya wilayah yg diantara 2 samudra dan 2 dunia, 60% perdagangan dunia lewat laut Indonesia dan 75% wilayah Indonesia itu lautan kalo hanya dijaga Heavy Fregat atw KCR berpeluru kendali.

  29.  

    Jiaah..ngayal lagi. Sekali lagi..tunggu ganti rezim. Baru terwujud keinginan mimpi agan2.

  30.  

    karena kesejahteraan pejabat tinggi lebih penting. eh salah kesejahteraan prajurit (katanya)

  31.  

    KITA TIDAK BUTUH DESTROYER!!!!!!!KITA HANYA BUTUH PAGER BETIS!!!

    s300/400, BUK-M2, Pantsir-S1,P-700,SARMAT, BULAVA,TOPOL,BRAHMOS,Oerlikon Skyshield 35 mm Revolver Gun System. DLL

  32.  

    Itu gambar ayam apa bebek,,,kok ada ayam hias di dermaga ya

  33.  

    Perbanyak PKR, NAGAPASA; Percepat KEMANDIRIAN RUDAL, CMS.

    Frigat bolehlah tetapi destroyer nanti dulu.

  34.  

    indonesia gak butuh kapal selam kek,destroyer kek….yg dibutuhkan adalah utang lagi,naikin bbm,naikin listrik dan naik semua kebutuhan rakyat kecil….itu yg penting

  35.  

    mau bikin kapal induk? Coba deh bayangin dulu, semua pesawat fighter tni au(f5,f16,t50i,bae hawk,sukhoi27/30) dimasukin ke CV, Contoh aja Gerald r ford-class. Kan ntar masih sisa banyak ruang, ah gak usah muluk”, cv yg lebih kecil aja, charles de g….(gua lupa namanya :v ) kan masih sisa banyak, terus fighternya ditambah dong? Jawabanya mainstream duite sopo?

  36.  

    Tunggu russia bangun Leader Class aja.

  37.  

    Tes1

  38.  

    Kayaknya sudah mengarah utk ke serangan balik…”kapal pelindung penghantar paket”

  39.  

    1

  40.  

    Segera Realisasikan…..!!!!

  41.  

    Nyimak

  42.  

    ya udah nongkrong aja di JKGR … enggak usah ke “sebelah” … gampang kan ?

    enakan di sini …

  43.  

    bravo indonesia

  44.  

    giliran terancam kebingungan
    ,

  45.  

    Capek dech!!

  46.  

    Sy setuju banget..tapi ingat bung sy hanya pesan tolong TNI dilibatkan untuk menanam kembali sebanyak mungkin pohon bambu…ketika senjata kita kelak habis kita bisa buat bambu runcing sebanyak mungkin..kita tahu kita merdeka dulu gara2 bambu runcing dan meriam belina..karena bambu itu anti sadap..merdeka!!!!!

  47.  

    TNI butuh destroyer hanya saja pemerintah mampunya belikan perahu dan sampan spy TNI keok melawan RRC… NKRI kan sdh digadaikan

  48.  

    daripada bwt beli su 35 murah tp ompong ,mending bwt pengembngan rudal /missil yg skrg udah mou dgn saab untk tot dan join produksi dgn pindad..beli ke rusia dpt ilmu apa kita…agar uang yg kita keluar kan jg membwa keuntungan bwt kita kelak.

 Leave a Reply