Indonesia Butuh Tiga Kapal Selam Tambahan

154
KRI Nagapasa (403), Chang-Bogo class, TNI AL

Jakartagreater.com  –  Angkatan Laut Indonesia (TNI-AL) sedang bernegosiasi dengan Korea Selatan untuk kemungkinan pembelian 3 tambahan kapal selam tipe 209/1400 (dikenal di Korea Selatan sebagai kelas Chang Bogo), yang akan membantu memenuhi target Departemen Pertahanan untuk Kekuatan Esensial Minimum (MEF).

Diskusi oleh Departemen Pertahanan Indonesia berpusat pada PT Pal dan Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering (DSME) mengenai masing-masing bagian workshare dan transfer teknologi, dirilis Shephardmedia.com, 22-1-2019.

Menurut Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP), Indonesia telah mempertimbangkan jenis kapal selam lain untuk menambah armadanya, tetapi kesamaan dengan kapal selam Nagapasa class yang berkapasitas 1.400 ton dan kemudahan perawatan, adalah paling masuk akal.

Desain yang bersaing yang diyakini telah dipertimbangkan oleh KKIP adalah kelas Reis Turki (Tipe 214), kelas Kilo Rusia, dan Scorpene Prancis. Kesepakatan potensial bisa bernilai hingga $ 1,2 miliar untuk DSME.

Harga ini sebanding dengan $ 1,07 miliar yang dihabiskan Jakarta pada Desember 2011 untuk 3 kapal selam sepanjang 61,3 juta dari jenis yang sama dari DSME. Yang pertama, KRI Nagapasa, ditugaskan pada 2 Agustus 2017, sementara KRI Ardadedali diserahkan di galangan kapal DSME pada 25 April 2018.

Setelah dirakit secara indigenous, kapal ketiga dari pesanan 2011 ini menunggu peluncuran oleh PT Pal di Surabaya sebelum jadwal penyerahan kepada TNI-AL pada tahun 2021. Kapal-kapal ini menggabungkan sistem Atlas Elektronik CSU 90 sonar dan Pegaso radar electronic support measures system and Aries intercept radar buatan Indra.

Untuk batch kapal selam terbaru, Indonesia ingin membangun modul di dalam negeri. Ini kemudian dapat dikirim ke DSME untuk perakitan. TNI-AL juga mengoperasikan 2 kapal selam kelas Cakra (Tipe 209/1300) buatan Jerman yang ditugaskan pada tahun 1981. Pada tahun 2017, DSME mengumumkan bahwa mereka telah diberikan kontrak senilai $ 27 juta untuk mereparasi KRI Cakra.

Pekerjaan termasuk meningkatkan tiang periskop, lambung dan CMS baru. Indonesia sedang berbicara tentang menempatkan hingga 12 kapal selam pada tahun 2024 di bawah postur MEF-nya, tetapi ini tampaknya berat. Sebaliknya, target yang bisa dicapai sekarang adalah 8 kapal.

Indonesia tetap khawatir tentang keamanan laut, serta klaim teritorial China yang berlebihan di Laut Cina Selatan. Pada pertengahan Desember 2018, Indonesia meresmikan pangkalan militer baru di Pulau Natuna Besar, salah satu Kepulauan Natuna.

Pangkalan yang terletak di pinggiran selatan Laut Cina Selatan itu akan menampung lebih dari 1.000 personel. Pangkalan ini terletak di pelabuhan Selat Lama dan menggabungkan Skuadron UAV, Batalion Tentara, Insinyur, Artileri, dan Marinir.

Pada upacara pembukaan, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, mengatakan pangkalan itu akan berfungsi sebagai pencegah terhadap ancaman keamanan potensial di daerah perbatasan.

23 KOMENTAR

    • 24 itu jumlah ideal. 3 di Malaka hingga Benggala. 3 di Laut Jawa hingga Laut Banda, 3 di LCS, 3 di selat Makassar hingga Sulawesi, 3 di Arafuru dan Pasifik Selatan, 3 di Samudra Hindia dan 3 di Biak/Pasifik Barat. 3 sebagai cadangan atau armada mandiri.

    • Menurut versi karyawan PT PAL …
      Bukan Kata saya …kita ini belum bisa bikin sendiri…
      Selama ini…kenyataan nya itu cuma Sub Kontrak…
      Kita ternyata belum mampu bikin sendiri ….Walaupun penyerapan ilmu nya ..ToT nya ..sudah bertambah…
      Mungkin kalau kita Beli 3 lagi ..kita bisa bikin modul nya lebih banyak daripada sebelum nya…kita rakit bersama di PT PAL..

  1. Kalau Korea mau membangun tipe 214 mungkin baiknya kita meneruskan kerjasama membangun kaselnya. Tapi kalau tidak bisa lebih baik kita mencoba beralih ke Turki untuk membangun dan mengembangkan kaselnya. Atau opsi lainnya kita merapat ke Rusia dengan kelas kilo nya. Apalagi dalam sejarah yang sangat terasa bantuan senjatanya ketika kita berperang atau berkonfrontasi dengan lawan negara kita.