Indonesia Negosiasikan Ulang Proyek IF-X

126
56
Model pesawat tempur KFX Korea Selatan diresmikan pada ADEX 2017 di Seoul. © Alvis Cyrille Jiyong Jang (Alvis Jean) via Wikimedia Commons

JakartaGreater.com – Kementerian Pertahanan RI tengah menegosiasikan ulang terkait dengan program kerjasama antara Indonesia dan Korea Selatan dalam pengembangan pesawat tempur generasi 4,5 yang disebut Korean Fighter Xperiment atau Indonesia Fighter Xperiment (KF-X/IF-X), seperti dilansir dari laman Covesia.com.

“Negosiasi ulang tersebut dilakukan untuk memperjelas keuntungan yang di dapat bagi Indonesia karena program ini menggunakan dana APBN”, kata Kepala Pusat Komunikasi Publik (Kapuskom) Kementerian Pertahanan (Kemhan) RI Brigjen TNI Totok Sugiharto di Kantor Kemhan, Jakarta, pada hari Senin, 30 April.

Negosiasi ulang pengembangan KF-X/IF-X tersebut juga dilakukan lantaran Indonesia hanya bisa memproduksi, namun, tidak dapat melakukan penjualan kepada siapa pun.

Menurut Brigjen TNI Totok Sugiharto, MoU di antara kedua negara yang sudah terbina sejak 2012 lalu belum dirasakan menguntungkan, terlebih ada campur tangan negara adikuasa yang membatasi program riset pembuatan pesawat tempur tersebut.

Selain itu, beberapa peralatan yang diperuntukkan bagi IF-X tersebut, tidak diberikan kepada Indonesia. Padahal, untuk transfer teknologi dan semua peralatan yang ada pada IF-X itu bisa dibuat di Indonesia.

“Harus saling menguntungkan antara Korea Selatan dan Indonesia”, katanya.

Dalam program KF-X/IF-X itu, pemerintah Indonesia berkontribusi menyediakan dana sebanyak 20 persen dari total biaya riset. Brigjen TNI Totok Sugiharto memperkirakan pemerintah akan menggelontorkan dana sebesar $ 1,55 miliar hingga pesawat tempur ini terbang perdana pada tahun 2026.

Desain jet tempur masa depan hasil kerjasama Korea Selatan dengan Indonesia, KF-X/IF-X. © Aviation

Dengan anggaran yang besar tersebut, Kemhan ingin berhati-hati dan fokus agar ke depannya kebutuhan pesawat tempur tidak tergantung kepada negara lain.

Untuk persiapan kemandirian Indonesia dalam memproduksi pesawat tempur, tambah Brigjen TNI Totok Sugiharto, Pemerintah telah mengucurkan penyertaan modal negara kepada PT DI untuk membangun fasilitas pembuatan pesawat tempur.

Sebelumnya, Duta Besar Republik Korea Selatan untuk Indonesia Kim-Chang-beom menyatakan bahwa Korsel dan Indonesia terus melanjutkan pengembangan proyek pesawat tempur generasi 4.5 KF-X/IF-X.

Render komputer jet tempur KF-X Angkatan Udara Korea Selatan dalam pertempuran © Korea Aerospace Industries

Duta Besar Kim dalam sesi wawancara khusus dengan kantor berita Antara di Jakarta, pada hari Kamis, 19 April mengungkapkan bahwa KF-X/IF-X adalah program kerjasama jangka panjang antar pemerintah yang telah berlangsung dengan cukup lancar.

Pemerintah Seoul memiliki hubungan yang dekat dengan Menhan Ryamizard Ryacudu dan terus berkonsultasi dalam pengembangan proyek pesawat tempur KF-X/IF-X yang bisa mengakomodasi kemampuan siluman atau tidak terdeteksi oleh radar.

“Sejauh yang saya tahu, keseluruhan presentasi berjalan dengan baik dan saya belum mendengar adanya keputusan resmi terkait pengunduran diri dari proyek yang sedang berlangsung ini”, kata Kim.

126 KOMENTAR

  1. anda bertamu ke rumah orang, maka anda harus mengikuti aturan eh .. BUKAN, melainkan etika sang tuan rumah.

    anda makan, duduk di meja, tangan kanan memegang sendok, tangan kiri memegang garpu, pisau utk memotong, dan mangkuk utk menaruh sup.

    etika itu harus dijaga, semisal pemilik rumah kedapatan ternyata dirumah, anda makan sambil tiduran, bahkan ada yg cuma makan rokok, tanpa perutnya di isi oleh makanan…..

  2. KFX boleh di Jual Sedang IFX Tdk Boleh di Jual Setidakx TNI AU Memerlukan IFX 50 Unit Utk Mengcover Seluruh Wilayah Udara Indonesia dan 50 Masih Kurang Mengingat Indonesia Seluas Benua Eropa Yg Anggota NATO Pespurx Ratusan, Jgnkan Ekspor Buat Utk Memenuhi Kebutuhan dlm Negeri Kewalahan, Tp di Sisi Lain Sy Tdk Senang Tdk Boleh d Ekspor Ke Negara Lain Wajar US Pangsa Pasarx Di ambil , Teknologi IFX Jatuh Ke Negara Bkn Sekutu dan Menambah Pengaruh Wibawa Indonesia

  3. Negosiasi ulang. Catat.

    Negosiasi dalam rangka supaya sama-sama untung.

    Kalau nggak boleh ekspor sendiri bisa jadi mau royalti.

    Kalau mau royalti ataupun ekspor sendiri bisa jadi andil persentase bakal dinaikkan.

    Yang jelas : RI nggak bakal break event point JIKA nggak dapat untung secara finansial.

    Tetapi dari segi pengalaman ikut mendesain dari IFX ini sebenarnya RI dapat keuntungan.

    Bisa jadi nantinya desain pesawat untuk diekspor akan berbeda dengan IFX / KFX.

    Beda dalam hal apa ?

    Beda dalam ukuran pesawat : bisa lebih kecil atau lebih besar, bisa lebih panjang atau lebih pendek, bisa sayap lebih lebar atau lebih sempit. Contoh : N219 lebih kecil dari C295.

    Beda dalam bentuk sayap, bisa ditambah pakai winglet biar lebih irit bahan bakar dan lebih jauh jangkauannya.

    Beda dalam bentuk hidung. Lebih mancung atau lebih pesek. Lebih besar atau lebih imut. Contoh : beda bentuk hidung N219 dengan C295 ataupun C212.

    Beda dalam besarnya ruang mesin karena pakai mesin yang berbeda.

    Kalau sudah beda desain ukuran, sayap, hidung dan ruang mesin, maka sudah tidak bisa lagi dianggap sebagai desain KFX sehingga bisa diekspor.

  4. Lebih baik di nego ulang perjanjian, nama nya aja program proyek bersama, kalau cuma dapat pespur tanpa bisa menjual tanpa bebas upgrade ke pihak perusahaan pembuat komponen, bisa susah saat setelah 20 tahun kemudian.

    Seharusnya jadi tuan rumah bersama lah

    😀

  5. yg penting pejabat skrg sdh ngeh ttg KFX, sekaligus sdh ada keyakinan awal bahwa anak bangsa jg mampu bikin pespur sendiri kalau diberikan modal dari negara, duit 1,5 milyar dollar adalah duit gede amat, coba dg 300-500 jt usd … kita yakin bisa bikin pespur dg 2 prototype.

  6. tarik ulur kepentingan politik lebih terasa ketimbang sisi komersilnya….nego ulang….???
    apa lagi masalah penjualan…teramat dini untuk dibicarakan….apa lagi kita hanya sekedar merakit ,,karna pastinya komponen pesawat pasokan dari luar karna kita belum bisa membuatnya….yang penting kalo nego ulang bagai mana kita dapat jatah besar baik perakitan maupun produksi komponen pesawat….selain kita bisa mendapat keuntungan lebih besar juga mengurangi ketergantungan pihak asieng…
    jangan pernah bersaing pada lahan yang tidak kita kuasai….apa lagi kita baru mau memulainya….!!!

  7. Sudahlah jng muluk muluk..

    Kapal perang tu diseriusin dulu..
    Kandungan lokalnya cpt ditingkatkan..

    Radar bgm radar…
    Rudal bgmn rudal..
    Pesawat sipil bgmn…
    Mobnas bgmn mobnas..

    Ekonomi bgmn ekonomi..
    Ekpor bgmn ekpor..

    Jgn nambah pr kl pr pr seblmnya aja blm sukses..

    Mikirin pilkada aja kek mau perang..

    Ha ha ha

  8. Ini berarti seperti kesepakatan KRI Martadinata class(PKR 105) dr Belanda Indonesia hanya boleh memproduksi 24 unit….50 unit pertama dr IFX ini bakalan ganti F16+Sukhoi kita yg sekarang..pas..http://defense-studies.blogspot.co.id/2017/10/tni-berencana-perkuat-pertahanan-udara.html kebutuhan pewpur kita kedepannya kan 11×16 unit=176 unit jet tempur,…kalo ngomong mencari keuntungan (laba) apa tidak terlalu dini??…buat saja belum bisa??… keuntungan yg pasti ada menurut saya pribadi pembuatan/perakitan disini,bisa nambah lapangan kerja,coba kalo beli dr negara Laen..uangnya keluar semua,okelah kalo ini “TIDAK SEMUA UANGNYA KELUAR”(jadi putaran cash flownya hanya diindonesia)…jadi sebagaian rakyat ikut merasakan dengan catatan “pekerjanya asli orang Indonesia/bukan TKA”(misal gaji orang asli Indonesia 5jt,yg 5 jt itu akan muter lagi diindonesia,kalo gaji TKA 15 jt,5 jt utk hidup diindonesia,yg 10 jt dibawa minggat kenegaraannya,rugi dong 10 jt,misal lho ini)..okelah ma as lah part kita bisa buat sendiri di Indonesia 20-50% sudah sangat-sangat bagus,..karena kita modal juga hanya 20%..saya akui juga “ILMUNYA JUGA MAHAL” Kita juga potong kompas soalnya…untuk masalah bisa jual ke Laen negara..biar besok dipikirkan lagi.. tergantung kebijakan politik kedepannya juga bisa beda… menurut saya terlalu pagi mau mikir utk penjualan, berfikir lah utk TNI kedepannya…orang Jawa bilang “barang hurung kecekel wes mikir bathine”…wkwkwkkw..

    • Iya bung sm kek sigma ini Dikasih tetot tapi hanya boleh dipakai sendiri ga boleh dijual… Sy yakin Kalau dari korselnya sendiri mereka ga keberatan kalau di jual lagi lihat aja noh Pinoy kemaren beli kapal dari siapa Dari korea?? Bukan kan dari sini itu hasil dari tetot korsel… Setuju bung jng ngemeng soal jual pesawat dulu deh lah wong buat aja blom bisa Tidak ada ilmu yg gratis apalagi buat pesawat tempur ya pasti mahal yg penting ilmunya dulu deh.

  9. Kalau RI dah diijinin buat sendiri dgn lisensi tapi gak boleh ngejual itu no problem lah toh RI cuman 20% saham aja tapi kalau tot yang mau dikasih kurang dari 20% bagian sahamnya yang mending gak usah diterusin aja Mending nerusin kerjasama kasel ato kaprang sama korsel

  10. Sebaiknya yang di negosiasikan ulang itu bukan profitnya, melainkan Ilmunya berapa banyak yang boleh di transfer ke RI, ini proyek loncatan Ilmunya tinggi sekali bagi PT DI, jadi jangan berharap profit di tahap-tahap awal pengembangan karena bagaimanapun juga kontribusi dana yang di berikan RI itu hanya 20% jadi ya harus sadar diri juga.

    Selesaikan saja dulu ini proyek, nanti yang tidak diberikan oleh AS, bisa cari mitra baru untuk mendapatkan ilmunya, bisa di dapat dari Inggris, Rusia, Swedia, ataupun Cina dan harus ganti nama produknya untuk menghindari larangan Ekspor yang di awal tadi, lebih efektif dan efisien dari pada harus kembangkan sendiri.

    Dan akar dari semua masalah adalah anggaran, kalau anggaran kuat maka bisa gandeng siapa saja untuk minta TOT nya tentunya setelah pengembengan dengan korea berakhir.
    Rusia itu mau memberikan TOT tapi harus beli borongan, mungkin bisa di pertimbangkan untuk membeli SUKHOI secara borongan. Kalau ada yang bilang Rusia pelit TOT itu China sekarang sudah bisa buat Pespur sendiri jadi omong kosong kalau Rusia pelit TOT, tinggal dari pihak RI nya saja punya Duit tidak untuk membeli teknologinya

    Dan jangan terlalu banyak berharap dari AS karena RI itu Nonblok bukan sekutu mereka, bagaimanapun juga mereka tidak suka kalau RI mandiri, dengan bangkitnya China saja mereka sudah kebakaran jenggot. bisa anda bayangkan kalau RI juga bangkit seperti China apa yang akan terjadi?

    • Sy yakin Korsel sendiri sudah sadar bung semenjak Loket mengingkari janji dan menolak memberikan teknologi inti, padahal mereka bela2 in borong produk loket si kalkun botak demi Project KFX ini tapi ehh… Makanya mereka sekerang tidak terlalu berharap sm asu tapi mulai mencari alternatif lain ke eropa… Makanya yg penting itu juga cari partner yg Gak pelit dan tukang ngibul… Kalau sudah dapat yg sudah bisa dipercaya dan gak pelit ya selanjutnya yg harus dipersiapkan Indonesia antara lain sarana prasarana, SDM dan Manajemen agar alih teknologi ini dapat berjalan baik… Dan kalau lihat hasil tetot yg di dapat indonesia dari korsel kemaren2 mereka terbukti tidak pelit tuh…

  11. Sehubungan dengan 20%, saya baru ingat artikel ini :

    http://arcinc.id/2017/07/28/indonesia-kebagian-bikin-sayap-ekor-dan-pylon-kfx-ifx/

    Bagian 20% itu Indonesia kebagian bikin sayap, ekor dan pylon. Jadi kalau Indonesia mau ekspor ya bagian sayap, ekor dan pylon.

    Ekspornya ke mana ?

    Ekspornya ke Korsel. Nanti di Korsel, bagian sayap, ekor dan pylon itu akan dirakit dengan bagian2 lainnya sehingga menjadi pesawat utuh KFX untuk Korsel.

    Sementara Korsel akan mengekspor bagian2 lain dari pesawat itu (selain sayap, ekor dan pylon) ke Indonesia untuk dirakit menjadi pesawat IFX untuk kebutuhan pertahanan Indonesia.

    Nah, yang sekarang Indonesia mau adalah supaya Indonesia pun bisa mengekspor versi IFX ke luar negeri.