Feb 252017
 

Ilustrasi perairan di Kepulauan Natuna. Grafis menunjukkan gambaran pada Blok Natuna. (pertamina.com)


Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) akan membahas kelanjutan rencana patroli bersama dengan Australia di Laut Cina Selatan, dalam pertemuannya dengan Perdana Menteri Malcolm Turnbull pada akhir pekan ini.

Presiden Jokowi mengatakan kepada surat kabar Australia bahwa dirinya ingin melihat patroli bersama dengan Australia, tetapi hanya jika tidak lebih mengobarkan ketegangan dengan Tiongkok.

“Jika tidak ada ketegangan saya pikir itu sangat penting untuk memiliki patroli bersama-sama. Kami akan membicarakan hal ini dengan PM Turnbull,” ujar Presiden Jokowi, seperti dilansir Reuters pada Jumat (24/12).

Indonesia secara tradisional mengambil posisi netral di Laut Cina Selatan, bertindak sebagai penyangga antara Tiongkok dan sesama negara anggota ASEAN yang ikut dalam klaim, Filipina dan Vietnam.

Namun setelah kemarahan Tiongkok pada Indonesia dengan mengatakan kedua negara telah “tumpang tindih klaim” di perairan dekat Kepulauan Natuna, Jakarta melaksanakan latihan skala besar di tepi Laut Cina Selatan pada bulan Oktober.

Tiongkok mengklaim hampir seluruh Laut Selatan Cina, di mana perdagangan dengan nilai sekitar 5 triliun dolar AS melewati jalur ini setiap tahun. Brunei, Malaysia, Filipina, Taiwan dan Vietnam juga memiliki klaim dalam wilayah laut tersebut.

Australia – yang mengatakan tidak mengambil sisi atas sengketa Laut Cina Selatan tetapi telah mendukung Amerika Serikat yang memimpin kebebasan kegiatan navigasi di wilayah ini – telah berusaha untuk memperbaiki hubungan dengan Indonesia.

Indonesia menangguhkan kerja sama militer dengan Australia pada bulan Januari setelah ditemukan bahan ajar yang “menghina” di sebuah pangkalan Australia.

Sementara panglima militer Australia meminta maaf kepada Indonesia pada bulan Februari, kerja sama militer tetap ditangguhkan.

Sumber: Reuters

 Posted by on Februari 25, 2017