Mar 302017
 

Kapal selam French Scorpène Class buatan Prancis (SSBN)

Jakarta – Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) melakukan kerja sama penelitian dan pengembangan terkait energi baru terbarukan (ETB) dengan Komisi Energi Alternatif dan Atom (The Alternative Energies and Atomic Energy Commission/CEA) Prancis.

“Kami mengembangkan panel surya di sini, kami juga mengembangkan baterai lithium. Bagus juga kalau nanti kami bisa kembangkan bersama baterai untuk kapal selam dan pesawat tempur,” ujar Kepala BPPT Unggul Priyanto saat melakukan pertemuan dengan dua lembaga litbang Prancis di Jakarta, 29/3/2017.

Selain itu, ia mengatakan BPPT juga tertarik bekerja sama dengan CEA mengembangkan teknologi EBT hidrogen untuk elektrolisis fuel cell. “BPPT akan kirimkan tim untuk menindaklanjuti secara detil pengembangan apa saja yang ingin dilakukan bersama,” katanya.

Kerja sama dengan lembaga litbang Prancis, menurut dia, tentu menjadi kesempatan baik bagi BPPT untuk meningkatkan kemampuan sumber daya manusia (SDM), terlebih jika melihat rasio angka doktor baru mencapai sembilan persen dari total SDM yang ada di lembaga nonpemerintah yang dipimpinnya.

“Terlebih penelitian mereka lebih maju untuk teknologi informasi dan telekomunikasi dan energi baru terbarukan, seperti panel surya, baterai, mikroelektronik, bisa juga nuklir dan manufaktur,” lanjutnya.

Kepala Komisi Energi Alternatif dan Atom (The Alternative Energies and Atomic Energy Commission/CEA) Prancis Daniel Verwaerde mengatakan sudah sejak 10 tahun lalu pihaknya mengembangkan fotovoltaik, dan saat ini yang terus dikembangkan adalah material yang lebih terdepan sehingga dapat digunakan di negara-negara yang tidak begitu banyak mendapat sinar matahari.

“Sehingga yang kita kejar untuk ditingkatkan adalah efisiensi energi,” ujar dia.

CEA, lanjutnya, juga terus mengembangkan baterai Sodium-ion lebih memiliki durasi panjang pemakaian dibandingkan baterai lithium selama tidak terjadi kebocoran. Kelebihan lainnya dari barerai ini adalah bahan yang lebih melimpah sehingga harganya menjadi lebih murah.

Saat ini pengembangan baterai sodium-ion atau Natrium-ion (Na-ion) ini di Prancis dipersiapkan masuk ke tahap industrialisasi. Menurut Verwaerde, peneliti masih mengembangkan kemasan baterai yang lebih aman dari yang sudah ada.

Peneliti-peneliti dari lembaga litbang Prancis ini ia mengatakan juga mengembangkan “smart grid” yang merupakan jaringan listrik pintar yang mampu mengamankan 60 hingga 70 persen kehilangan.

Terkait dengan tawaran kerja sama pengembangan baterai untuk kapal selam dan pesawat tempur, Verwaerde mengatakan akan juga membicarakannya dengan Kementerian Petahanan Prancis.

Deputi Bidang Teknologi Industri Rancangan Bangun dan Rekayasa BPPT Erzi Anson Gani mengatakan dengan kerja sama ini tentu bisa menjadi intermediasi untuk mengembangkan teknologi pertahanan bersama. “Karena mereka negara NATO dan kita bukan maka kerja sama ini bisa jadi pintu masuk ke industri teknologi pertahanan dan keamanan,” katanya.

Sedangkan Deputi Kepala BPPT Bidang Teknologi Informasi Energi dan Material Hammam Riza mengatakan kerja sama pengembangan lain yang bisa dilakukan berkaitan dengan digital ekonomi, termasuk di dalamnya soal keamanan dunia maya.

Antara

  36 Responses to “Indonesia Prancis Kembangkan Baterai Kapal Selam – Pesawat Tempur”

  1.  

    1

  2.  

    Test 1

  3.  

    mudah2an lancar,,

    apa ada kesepakatan scorpene 1000 juga kali yah???

  4.  

    @LINGKAR
    Dengan metode elektrolisis kita bisa mengubah air laut menjadi udara dan listrik di kapal selam, yang di butuhkan kapal selam untuk tetap dapat bertahan lama di bawah permukaan laut.DAN ITU SEMUA MEMERLUKAN CELL BATERAI

  5.  

    T50, elang, sukro lagi main pacuan di IWJ. Berisik tapi seneng.

  6.  

    Bagus lah bila ini dikembangkan …agar tidak tergantung dari satu sumber listrik saja dan dapat dihemat sesuai kebutuhan kegiatan dilapangan.

  7.  

    Baterei buat pespur buat nyimpen energi baik lewat kinetik, panas maupun surya. Kecepatan gak perlu sampai Mach 2, cukup Mach 1,6-1,7 asal bisa supercruice. Yang penting pespurnya siluman. Endurancenya bisa tinggi dan hemat bahan bakar. Itu yg menarik. Lebih bagus kalo pespurnya dibuat jadi otonom/UAV.

  8.  

    Mungkin Natrium-Ion batterey lebih cepat ngisi dan durasi ketahanannya lebih lama ketimbang Lithium-Ion. Jika benar akan diterapkan di Kasel maka apakah cukup dng batterey saja sehingga tdk diperlukan lg mesin diesel dng menggunakan 2 batter yg difungsikan secara bergantian dengan menggunakan metode charge memakai motor Alternator.?

  9.  

    cintia buka mulutnya…………

  10.  

    Semoga sukses

  11.  

    Pertamax plus. Bisa beli rafale dan scorpene nih

  12.  

    Pertamax plus

  13.  

    bukane batre-batrean kita sudah bisa bikin ya? ngapain joint. kabuuuurrr… πŸ™‚

  14.  

    Apa prancis mau memberikan ilmunya 100% atau formulanya. Klu joint produksi dlm negri kemungkinan bs.

  15.  

    Assalamu’alaikum wr. wb.
    Setiap pesawat memerlukan listrik sama seperti mobil.
    mesin hanya sebagai penggerak.
    tapi yang menghidupkan AC(Air Cooler), radar, avionik lainnya itu dari baterai layaknya aki mobil.

    bung Diego komenku koq sulit masuk

  16.  

    maaf ngotori lapaknya @cintia semua yg anda ungkapkan benar tapi jangan sinis dong, biar barang import bejubel kaya apa kalau mental kita cinta produk2 dalam negeri kan barang import gak laku dan kalau gak laku importirnya kan gak mau import lagi gitu aja kok repot

  17.  

    Benar bung, masa ada motor listrik buatan Taiwan langsung viral di medsos, padahal belum ada dealernya di Indonesia. Trus dibeli juga oleh warga Indonesia, meskipun online. Padahal ada juga motor listrik buatan Indonesia, seperti motor Gesits dan Viar Pulse & Viar Q1. Ketiga motor listrik Indonesia itu sudah ada sekitar 1 tahun sebelum ada berita viral motor listrik Taiwan.