Nov 302014
 
n2140-lapan

ilustrasi

Bogor -Pengembangan pesawat terbang di Indonesia kembali bergairah pasca tertidur lama. Industri pesawat terbang nasional sempat mati suri pasca dihentikannya program pesawat baling-baling N250 dan pesawat mesin jet N2130 saat krisis ekonomi 1998.

Kemudian pada tahun 2000-an muncul ide mengembangkan pesawat perintis bermesin turboprop N219. Pengembangan pesawat ternyata tidak berhenti di N219.

Kali ini, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) mengusulkan pengembangan pesawat komersial atau penumpang baling-baling (propeller) terbesar di dunia. Pesawat yang bernama N2140 ini, nantinya mampu membawa 144 penumpang.

“Kita dapat ide dari pesawat A400 M yang memiliki baling-baling besar. Ini nggak masuk ke pasar jet. Kita kembangkan pesawat yang cocok dengan kondisi Indonesia,” kata Kepala Program Pesawat Terbang LAPAN Agus Aribowo kepada detikFinance di Pusat Teknologi Penerbangan LAPAN, Bogor, Jawa Barat, Jumat (28/11/2014).

A400 M merupakan pesawat angkut militer atau cargo berbadan lebar yang diciptakan oleh Airbus Military. Pengembangan N2140 nantinya akan memakai mesin EuroProp. Ini merupakan mesin terbaru, setelah turboprop, untuk kelas propeller.

Meski bukan mesin jet, EuroProp memiliki kemampuan layaknya mesin pesawat jet. Daya jangkau pesawat ini menyerupai daya jelajah pesawat sekelas Boeing 737 hingga Airbus A320.

“EuroProp bisa masuk transonic. Kalau Boeing (Boeing 737) kecepatan 0,78 mach (kecepatan suara), kalau EuroProp 0,7 mach. Ini nggak beda jauh,” jelasnya.

Keunggulan pesawat N2140 daripada pesawat bermesin jet sekelas Airbus 320 dan Boeing 737 ialah konsumsi bahan bakar. Pesawat baling-baling ini hemat dalam pemakaian BBM sekitar 20-25% daripada pesawat jet.

Keunggulan sangat bermanfaat bagi maskapai komersial karena selama ini menerima hantaman tingginya biaya avtur. Harga avtur sendiri menyumbang komposisi sekitar 60% dari biaya di industri penerbangan.

Selain hemat BBM, pesawat N2140 bisa mendarat atau terbang di landasan lebih pendek daripada pesawat jet dengan ukuran serupa. Selain itu, LAPAN merancang kondisi suara atau tingkat kebisingan di dalam kabin pesawat yang sangat rendah meskipun pesawat tidak memakai mesin jet.

“Ini pakai noise active control. Jadi suara engine dikombinasikan dengan suara di dalam cabin agar bisa menghilangkan resonansi sehingga tingkat kebisingan menjadi lemah,” papar Agus.

Pengembangan N2140 merupakan bagian dari loncatan program N219. Konsep awal setelah N219, LAPAN dan PT Dirgantara Indonesia (Persero) akan mengembangkan pesawat N245 dan N270.

Khusus program N270, pengembangannya diubah karena ada program pengembangan pesawat R80 atau pesawat berpenumpang 80 orang yang memiliki pasar sejenis. Ahasil LAPAN mencari jalan keluar sehingga lahirnya konsep pesawat propeller angkutan penumpang berbadan lebar terbesar pertama di dunia.

Pesaing pesawat tipe propeller, ATR, sama sekali belum memiliki rencana untuk mengembangkan pesawat baling-baling penerbangan sipil di atas 100 penumpang.

“Kita nggak masuk di kelas jet. Kita main propeller yang terbaru dan belum ada yang masuk. Kalau ATR nggak main ke sana,’ ujarnya.

Program N2140 nantinya akan diusulkan kepada pemerintah untuk memperoleh dukungan pendanaan. Pesawat N2140 akan masuk program 15 tahun atau jangka panjang dari LAPAN. Setidaknya untuk membiayai program pengembangan hingga proses sertifikasi N2140, diperlukan dukungan pendanaan di atas Rp 1 triliun.

“Kita planning 15 tahun sehingga bisa diproduksi rencananya tahun 2030 atau pemerintah ingin 10 tahun. Ini juga bisa karena sudah dibuktikan oleh PT DI yang sanggup 10 tahun waktu pengembangan N250,” kata Agus. (finance.detik.com).

Bagikan :

  61 Responses to “Indonesia Rancang Pesawat Baling-baling Komersial Terbesar”

  1.  

    Muke gile….

  2.  

    Waduh Kok TeLat Beritanya Bung Admin

  3.  

    lanjutkan..

    •  

      Jika pemerintahan dijalankan dengan benar dan aturan ditegakkan dengan benar, negara makin bergerak maju dan anggaran riset digalakkan. Riset unggulan digalakkan, industri dasar dibangun, penguasaan hulu dan hilir pelan-pelan diraih.

    •  

      Psetuju bung jalo , jgn muluk2 buat program yg besar.
      kita liat data (wiki):
      Biaya pembuatan pesawat raksasa berwarna abu-abu ini menghabiskan 20 miliar euro atau 5 miliar euro lebih besar dari rencana sebelumnya. Penyelesaiannya juga tiga tahun lebih lambat dari jadwal. Pembuatan A400M pertama kali disetujui oleh anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), yaitu Jerman, Spanyol, Perancis, Britania Raya, Turki, Belgia, dan Luksemburg.

      Nah liat data diatas, biaya dibutuhkan besar, itupun didukung anggota 7nato.
      lebih baik tunggu N219 sd N245 dgn berbagai varian

  4.  

    Fokus di N-219 dan N-245 dulu, pelan2 kalau sudah disertifikasi dan ada peningkatan TKDN baru bicara ke pesawat besar ini. Sekalian dipikirkan untuk peningkatan TKDN termasuk industri manufaktur dan sub-kon dalam negeri.

  5.  

    Semogs bisa dipercepat… Aaamiiiin

  6.  

    Nha ini bagus… cocok untuk penerbangan2 rute2 gemuk jarak pendek

  7.  

    Knapa kok n250 ga dilanjutkan ke lini produksi.. ? bukankah ekonomi indo dah bagus akhir2 ini. Daripada riset psawat baru.. mohon pncerahan sesepuh dimari.

  8.  

    kalau bisa ya sekelas sama antonov… biar lbh greget lagi

    •  

      He he saya sependapat adek SL , Tapi kayaknya PT.DI Doyan yang Turbo PropeLLer ALias BaLing – BaLing , Dikarnakan Perawatan yang Gampang & irit daLam konsumsi bahan bakar serta kaLau BaLing2 tidak perLu Landasan panjang , yaaa dan kita tau kaLau baLing2 PT.DI maah jago nya 🙂

    •  

      Bahkan daLam hayaLan saya berharap kenapa negara kita kerjasama diam2 saja dengan Ukraina daLam pembuatan Pesawat Antonov , saya yakin KremLin pasti Ridhoin apaLagi ukran butuh duit perang ma kremLin , itu pun kaLau ketahuan ma kremLin he he :mrgreen:

      •  

        Kelemahan mesin propeler rusia adalah kelewat berisik…mesin kusnetzov yg dipakai Tu95 bear getarannya bahkan bisa di deteksi sonar pasif KS dibawah laut saking kencengnya getaran…gak cocok buat misi militer…tp kalo misi gertak Dia jagonya karena bisa terdengar dr jauh semakin bagus biar musuh ciut seperti Misi Tu16 kita ke sandakan malaya dan australia…

      •  

        Oh bukan begitu maksud saya bung Wehr , hayaLan saya itu maksudnya kita kerja sama dengan Ukran bukan KremLin , karna kita tau Pabrik pesawat Antonov terLetak di ukraina , sampai sekarang pun KremLin gaLau dengan pesawat ini , jadi menurut saya untuk itu kita kerjasama Diam – diam dengan Antonov Lagi puLa mereka pernah menyodorkan pabrik Antonov di indonesia , dan itu tergantung dari negara kita , Terutama PT.DI untuk Roadmap Pesawat jumbo nya apakah ke A400 bisa juga ke AntonoV , Atau di Mixing kan dengan keduanya. Sehingga MuncuLLah Tipe baru Varian A400 turbofan Atau Antonov bermesin Turbo PropeLer rasa Nusantara he he :mrgreen:

        •  

          Kita masih jauh kalau soal buat jet mesin bung PCM…tapi kalau buat mesin turboprop masih bisa dikejar…sy yakin pak bibie bs bantu tanpa bantuan luar negeri…masalahnya mau tidak pemerintah berinvestasi R n D mesin yg mungkin cm kita yg pakai? Itu harga kemandirian…

    •  

      KaLau untuk mesin Pesawat memang kita beLum mampu membuat bung , OLeh sebab itu kita kerja sama dengan AIRBUS serta perusahaan Dirgantara Lain , yaaa untuk sementara kita BELI duLu mesinnya , kaLau hanya sekedar Airframe dan Avionik kita tidak kaLah kok , yaa waLaupun ada kabar hoax kita sudah kerjasama daLam pembuatan mesin pesawat Drone dan pesawat sejenis Tucano , muLai Lah dari keciL hingga ke mesin yang skaLa besar 🙂

  9.  

    Diatas di sebutkan pake mesin europrop yg lbh baik dari turboprop.. setahu saya (CMIIW) kalo mesin europrop hanya mengacu pada srandar emisi gas buang yg mesinnya ditambah catalyc conventer. Mungkin yg dimaksud di atas adl mesin turboprop yg dipasang ato di tambahi dgn teknologi europrop…nah kalo ini lbh masuk akal krn selain tenaga mesin kuat plus efisien dlm penggunaan bahan bakar.

  10.  

    Mass produkan dahulu N 219 dan Neo N250 hingga malang melintang di langit nusantara, next projek jd lebh membara semangatnya.

  11.  

    saya komen pendanaan aja. 1 triliun untuk 3x masa jabatan presiden itu harusnya kecil dan mudah. apalagi pemerintah sudah berhemat biaya subsidi hingga 100 trilyun/tahun. 1 % doang masa ga bisa ngucurin buat R&D.

  12.  

    Masih agak ragu dengan kualitas pesawat baling-baling made in dalam negeri, disuruh naik gratis pun ane ogah, mending yang pake jet lebih aman.

  13.  

    Wait and see aja dulu …
    Hati-hati dengan skenario untuk menjegal N 250 terulang kembali. Bukannya paranoid tapi berhati-hatikan boleh … He he he
    alasan kekawatiran ane karena kalau ini jadi digarap maka kita akan merebut sedikit atau banyak pangsa pasar dari airbus dan boeing … IMHO
    salam …

  14.  

    satu satu, sesepuh mulai muncul ….alhamdulilah, bisa dapet ilmu lagi…

  15.  

    Wow!
    Yg kayak gini nih yg bikin rakyat bangga.
    Bukan yg selalu ngekor terus dibelakang orang lain.
    Jadi yg terdepan dalam bidang teknologi adalah impian bangsa Indonesia.
    Dan sy salut, lapan akan coba mewujudkannya, wlu baru dalam bidang pesawat angkut baling2. Harapan sy, kedepannya nanti Indonesia bisa menjadi yg ‘PERTAMAX’ dalam banyak hal.
    Ayo bangsaku, lompatlah, lompatlah, dan lompatlah!
    Kelak kita pasti jadi yg terdepan, insyaalloh!

  16.  

    Yang disayangkan adalah kita masih belom bisa bikin mesinnya….

  17.  

    Proyek n219. Saja blm beres,mau mengerjakan yg lb prestisius?

  18.  

    weh weh weh Kalo Malaysia Bangga Bisa Beli Kalo Indonesia Bangga Bisa Membuat Salut Deh Buat PT DI.. Tetapi alangkah lebih baiknya bila diadakan Satu Proyek Yang Khusus meneliti pembuatan Mesin Jet dan mesin Pesawat komersil Sehingga Kalo bisa buat mesinnya Saya Yakin ke Depannya PT DI tidak akan terlalu tergantung ke negara Luar urusan Mesin 😀

  19.  

    …Program N2140 nantinya akan diusulkan kepada pemerintah untuk memperoleh dukungan pendanaan…

    waduh, asistensi dulu ke pak habibie kalee…

    studi pasarnya gimana, udah diskusi dengan airlines, apakah mereka membutuhkan / berminat beli ?
    coba ditiru langkah2 perancangan r-80.

    merancang pesawat jauh lebih luas dari sekedar membuat ribuan lembar gambar2 detail dengan catia…

    btw, foto ilustrasinya kok bermesin 4 ya ? 🙂

    •  

      Saya rasa ilmuan kita udah bisa mandiri koq bung danu, ilmu beliau sudah tersimpan d PT. DI tinggal d manfaatkn saja. Klo berdasar info yg saya ketahui r80 bakal tertunda ntah sampe kpn karena desain peswt mereka tdk punya standarisasi pada tiap komponen2 nya karena PT. DI sudah punya standard sndiri yg sdh terdftar . Pihak PT RAI di tawarin standar n250 tp masih belum ada tanggapan.

    •  

      maksudnya lebih ke faktor marketingnya bung jacko, seperti R-80 yang memiliki airline working group yang perannya mengarahkan agar rancangan optimal sesuai kebutuhan user / operator…

      •  

        Bung Danu mungkin bisa menerapkan pola Klaster Industri micro-accelerated evolution unit (MAEU) yg dirumuskan Prof. B. J. Habibie

        http://jakartagreater.com/model-klaster-industri-strategis-indonesia/

        •  

          betul sekali bung Jalo,

          terlihat sekali pak habibie sangat peka tentang vitalnya pasar bagi produk rancangannya,

          Tahap Pertama
          Tahap ini meliputi pula upaya untuk meningkatkan kandungan lokal serta menguasai berbagai aspek organisasi dan manajemen QCD (quality, cost, delivery) produksi, jaringan vendor dan industri pendukung,
          PEMASARAN, PENJUALAN dan layanan purna jual.

          Tahap Kedua memfokuskan diri pada penguasaan berbagai aspek pengembangan produk dan hubungan umpan-baliknya yang rumit melalui perencanaan produksi, ANALISA PASAR serta pengembangan jaringan PEMASARAN dan purnajual.
          Pada tahap ini dibentuk pula berbagai aliansi dengan sumber-sumber teknologi sebagai bagian dari upaya untuk mengoptimalkan seluruh proses desain, produksi, dan PEMASARAN.

          Tahap Ketiga
          Unsur penting lainnya adalah pemahaman tentang mekanisme “Teknologi Push” dan “MARKET PULL” yang komplek di dalam proses inovasi serta kaitannya dengan sistem BISNIS dan PERSAINGAN secara menyeluruh.

          jika saya tidak salah tangkap (dalam kasus pesawat penumpang), ‘technology push’ adalah kandungan / fitur2 teknologi mutakhir yang diusung suatu produk sebagai keunggulannya, sementara ‘market pull’ adalah seberapa tertariknya airlines untuk memiliki pesawat canggih tersebut dalam armadanya (tentunya dari segi peningkatan profit)…

  20.  

    Satu trilyun?
    Gak terlalu besar. Ajukan saja secepatnya!
    Saya harap pemerintah mau meresponnya dgn positif. Sebab kapan lagi kita akan jadi yg terdepan klu tdk mau mulai dari sekarang.
    Ini kesempatan besar yg tdk boleh disia2kan. Apa lagi pesawat n2140 ini mempunyai banyak keunggulan. Yg artinya uang riset 1 trilyun itu insyaaloh akan pulang kembali sambil menyeret uang trilyunan lainnya utk kita. Hehehe!
    Mat bekerja!

  21.  

    Cintailah ploduk ploduk indonesiaaaaaaaaaaaaaa!!!!!

  22.  

    please jangan dibuat type N2140… coba angka lain. krn menurut numrologi, pengembangan dan reparasi pesawat akan makan banyak biaya

  23.  

    Lam kenal bung danu!
    Berarti bkn hanya kita yg pernah gagal yah?
    Tp kegagalan kita di proyek n250 itu sakitnya tuh di sini. Hehehe!
    Sdgkan mrk itu murni krn faktor kesalahan mrk sendiri dlm menganalisa keadaan.
    Yg jd pertanyaan, apa mungkin lapan berani berkoar mau buat n2140 tanpa penganalisaan pasar dll dulu?
    Akhirnya,semoga kita mau belajar dr kegagalan kita & org lain, sehingga kita bisa menyiapkan langkah antisipasinya bila terjadi hal2 yg tak terduga.
    Sudahlah bung danu! Bismillah saja

  24.  

    Anak TK saja punya cita2 yg mau dituju Bung, masak negara sebesar ini tdk punya cita2, hanya Anda yg terlalu pesimistik dan neg thingking… Ciri2 kelompok tertentu yg blm bangun tidur..hehhehe

  25.  

    Sepertinya jika menganalisa pd pangsa pasar utk kelas Europrop N2120 yg dpt memuat 120 penumpang yg bs lebih laris terjual dipasaran utk memenuhi kebutuhan maskapai penerbangan.
    Hanya sekedar analisa saja.

 Leave a Reply