Oct 192018
 

Model pesawat tempur KFX Korea Selatan diresmikan pada ADEX 2017 di Seoul. © Alvis Cyrille Jiyong Jang (Alvis Jean) via Wikimedia Commons

Jakarta, Jakartagreater.com – Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan Wiranto mengatakan bahwa pemerintah memutuskan untuk renegosiasi atau negosiasi ulang terhadap proyek kerja sama pesawat tempur KF-X/IF-X (Korea Fighter Experiment/Indonesia Fighter Experiment) dengan Korea Selatan. Hal ini dilakukan mengingat kondisi ekonomi nasional terkini.

“Beberapa waktu yang lalu memang kita ada program itu, program jangka panjang, mulai dari kerjasama risetnya dulu, membuat prototypenya, baru produksinya, ini berlanjut terus, program yang multi year.

Tetapi dengan kondisi ekonomi nasional maka Presiden telah memutuskan untuk renegosiasi, jadi kita menegosiasikan ulang bagaimana posisi Indonesia bisa lebih ringan untuk masalah-masalah yang menyangkut pembiayaan,” ujar Menko Polhukam Wiranto di kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, Jumat, 19-10-2018, dirilis situs Kemenko Polhukam RI.

Menko Polhukam mengakui bahwa keputusan ini tentunya akan berdampak pada bagaimana agreement beberapa waktu lalu yang sudah dibicarakan. Oleh karena itu, maka akan dibentuk satu tim khusus untuk membahas hal-hal yang akan dibicarakan dalam proses renegosiasi tersebut.

“Hari ini kita merapatkan karena Presiden memerintahkan untuk Menko Polhukam mengetuai untuk tim renegosiasi ini kepada pihak Korea Selatan. Tadi membicarakan hal ini, tentang banyak hal, tentunya belum final karena ini butuh waktu satu tahun tapi mudah-mudahan tidak sampai setahun bisa kita selesaikan,” kata Menko Polhukam Wiranto.

Hal-hal yang akan dibahas diantaranya seperti masalah kemampuan pembiayaan dari Indonesia, masalah kemungkinan prosentase cost sharing, jumlah bentuk development cost sharing, cost produksi, alih teknologi kepada Indonesia, keuntungan hak intelektual bagi Indonesia, pemasaran, dan lain-lain.

“Dulukan ada satu kerja sama, agreement nya kan ada, poin-poinnya ada. Nah, poin-poin itu yang akan kita bahas dengan tim. Tim sekarang kita bentuk tapi sekarang sudah kita beri warning ‘iniloh nanti kemungkinan-kemungkin yang akan kita bahas ini, ini, ini’. Jadi kita tunggu saja,” ujar Menko Polhukam Wiranto.

KFX model. (Alvis Cyrille Jiyong Jang (Alvis Jean) via commons.wikimedia.org)

Sementara itu, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Trikasih Lembong mengatakan, restrukturisasi dan renegosiasi program kerja sama KF-X/IF-X ini juga bagian dari upaya pemerintah untuk menghemat devisa negara.

Karena semua setoran-setoran pemerintah dari program kerja sama pesawat tempur ke Korea semuanya harus dibayar dalam bentuk devisa. Sementara sebagaimana diketahui bahwa mata uang dari negara berkembang termasuk Rupiah masih mengalami tekanan yang luar biasa.

“Jadi kami sangat mengapresiasi pemerintah Korea pengertiannya untuk menyetujui proses renegosiasi dalam kerjasama ini. Karena Korea itu investor nomor dua atau nomor tiga terbesar di Indonesia,” kata Thomas Lembong.

Dijelaskan bahwa pemerintah tidak mau ada dampak negatif dari renegosiasi ini terhadap sentimen investasi Korea dengan Indonesia. Oleh karena itu, maka dibentuk tim negosiasi yang memiliki tujuan untuk bisa menghemat devisa sementara ini, serta menjaga iklim investasi untuk investor Korea.

“Waktu kunjungan kenegaraan Bapak Presiden ke Korea beberapa minggu yang lalu, Presiden Korea menyetujui untuk dilakukan renegosiasi dan restrukturisasi daripada kerja sama ini.

Tentunya yang antara lain pokok-pokok renegosiasi itu misalnya termin pembayaran, cicilan-cicilan itu mungkin kita mau tunda, kita ringankan supaya mengurangi beban APBN dan mengurangi pengurasan cadangan devisa kita,” kata Thomas Lembong.

“Jadi pemerintah Korea sangat mengerti, sangat kondusif. Tapi kedua Kepala Negara sepakat ini harus tuntas dalam 12 bulan, jadi rakor pagi ini tindaklanjut daripada kesepakatan kedua negara mengenai 12 bulan proses renegosiasi ini,” sambungnya.

  31 Responses to “Indonesia Renegosiasi Proyek KF-X/IF-X dengan Korea Selatan”

  1.  

    Cuk… Alasan ae.. Pemerintah ga becus.. Ga komit, mending jaman sby.. Pengadaan militer lancar dan terencana dengan baik.. Sekarang ra entoss..

    •  

      Emangnya elu becus ?

    •  

      Nah ini orang ngapain kesini coba kalo cuman marah2 tnpa data dan tanpa pikir panjang.
      dipikir bikin Alutsista gampang kayak bakwan, ga mikir Dana dari mana, Pembayaranya gimana, SDMnya, Usernya, Geopolitiknya, Suplainya, dll
      Please dah, Kritis boleh *G*BLOK* jangan…

    •  

      Nih lho jaman SBY untuk AL selama periode 10 tahun (2004 – 2014) untuk alutsista pemukul utama yg katanya gahar :

      4 korvet sigma impor dengan sensor canggih dan senjata lengkap tapi sederhana.
      3 nahkoda ragam impor sensor canggih tapi rudal masih kosong.
      2 pkr sebagian impor sebagian lokal tapi rudal kosong.
      3 changbogo baru selesai proyeknya.

      Ini yg sudah disebut di berita untuk 10 tahun berikutnya (2014 – 2024) untuk alutsista pemukul utama untuk AL (cari aja sendiri linknya) :

      1. korvet sigma 4 unit tambahan (sedang berjalan)
      2. pkr tambahan 4 unit (2 sedang diupayakan, 2 lainnya akan menyusul dibangun di sini). Jadi sampai 2024, kemungkinan PKR hanya akan ada 6 unit saja diproyeksikan untuk ganti Van Speijk.
      3. real fregat 2 unit sedang diupayakan (kemungkinan besar iver) plus opsi tambahan 4 unit lagi kalo ada duit.
      5. Pengadaan ciws milenium gun dan vls serta rudal untuk melengkapi KRI REM dan GNR (sedang berjalan).
      6. opv lokal 2 unit 85-95 meter.
      7. Ada 3 changbogo tambahan plus opsi 2 ks lainnya (kalo ada duit, kemungkinan besar U214).

      Sebagai tambahan (belum ada beritanya) jadi masih prediksi akan ada beberapa korvet (FSC : Fast Strike Craft) lokal 85-95 meter buatan pt pal (gambar desain udah ada namun jumlah unit belum jelas mungkin 4 unit dulu).
      FSC 4 unit dengan 4 sigma diponegoro class yg udah ada plus 4 sigma tambahan plus 2 opv lokal (4+4+4+2 = 14) diproyeksikan sebagai pengganti 14 Parchim.

      •  

        quote : ” 4 korvet sigma impor dengan sensor canggih dan senjata lengkap tapi sederhana.
        3 nahkoda ragam impor sensor canggih tapi rudal masih kosong.” masa sih…… ?

        lah kenapa ke dua jenis kapal sudah sering dipercaya untuk dipakai oleh PBB …. bukankah untuk dapat menjadi duta PBB syaratnya ketat dan pasti nya harus sudah komplit persenjataanya.

        Benci ya benci tapi mbok yang adil (fair)… jadi nggak memalukan diri sendiri.

    •  

      Justru jaman pak SBY alutsista pada kosongan, terlebih sejumlah KRI

    •  

      iya mendapat hibah 24 pesawat bekas… satu sudah rontok…

    •  

      Yang penting udah di foto, update status di medsos, masalah realisasi urusan belakang, yang penting rame yang bahas, urusan mangkrak nomor ke sekian deh…. 😛 wkwkwkwkw

  2.  

    Pas jaman SBY saya baca artikel KFX/IFX disini, katanya 2019 sudah masuk tahap pembuatan prototipe, tapi kenapa sekarang 2019 ceritanya bakal berganti. #2019IFXTIDAKBATAL,

    •  

      Itu cuma sandiwara agar TNI terpakasa mengajak keluarga mereka memilih Petahana berkuasa selama 2 periode, agar program strategis seperti KFX bisa terealisasi (tidak tertunda) 😀 mungkin lho yaa…

      Peace pak bro 😀

  3.  

    Maksudnya #2019IFXBATAL

  4.  

    Maksudnya #2019IFXTIDAKJADI

  5.  

    20% nego terus,apalagi 50/50.

  6.  

    Jangan bandingkan Menham yg sekarang dgn Menhan yg kemarin. Menhan yg kemarin kan pak Profesor sekarang bukan…

  7.  

    kalau di lihat dari artikel di atas indonesia mau modal dikit dptnya bamyak ya???
    makanya riset tehnologi itu ga murah dan sangat lama jadi jgn berharap beli barang 1/2 lusin dpt TOT
    tidak bermaksud menghina tapi itulah kenyataan

  8.  

    Kecewa batalin aja lah, 20% aja masih nego Pembiayaan apa kata Korea beli aja tuh pesawat J-17 Thunder ga mahal kog pesawat kalengan murah.

  9.  

    apa nasib jet tempur ifx/kfx indonesia akan senasib dengan jet tempur F 2 milik jepang

  10.  

    Hahahahah TURKI aj yg ekonominya barusan dilanda krisis jauh lebih besar dari indonesia selain itu mata uangnya juga melemah lebih bnyak dari rupiah, masih aj komit dgn proyek tfx bhkan ingin mengembangkan mesin jetnya sendiri yg notabene memakan biaya R&D yg jauuuuuuh lbih besar dari kontribusi dana indonesia ke k/ifx.

    Bahkan mereka barusan aj rilis spesifikasi lngkap tfx

    https://ibb.co/hdCsGL

    Malu indonesia, keseriusan dlm mengembangkan produk dlm negerinya msih kecil bgt.

    https://www.aa.com.tr/en/economy/turkey-rejects-claims-of-delay-in-battle-tank-project/1286583l

    •  

      lha pemerintah dan jajaran kabinet yg sekarang aja gak punya malu koq… beda dengan yg sebelumnya, lebih komit, apalagi orde lama, sehingga RI disegani 😀

      •  

        Pemerintah skrng perlu membentuk badan
        akusisi & pengembangan proyek dlm negri. Yg gue salut bgt sama turkiye adalah karena 20 thn yg lalu turkiye industri lokalnya boro2 mau produksi amunisi aj gk bisa. Setelah itu mereka inisiatif utk membentuk badan
        akusisi & pengembangan produk dan proyek saintifik dlm negri yg disebut SSM.

        Patut lah indonesia mencontoh, karena proyek2 mandiri dlm negri indonesia sepertinya kececeran dan terbengkalai semua.

        Selain itu yg penting juga adalah alokasi dana.

        Turkiye GDP nya $850 miliyar, defense budgetnya $17 miliyar, kebanyakan dari defense budgetnya jga di alokasi utk pengembangan produk & teknologi lokal secara maksimal. Hasilnya mereka dpt mengekspor $2 miliar alutsista lokal mereka ke berbagai negara.
        Sdngkan Indonesia yg gdp nya $1 triliun, alokasi dana buat R&D kfx aja masih nego. Memang mengembangkan teknologi sendiri itu mahal, tapi percayalah, hasil usaha keras tidak pernah berkhianat!

    •  

      Turki itu …perekonomian nya memang di sabotase USA Dan semua negara Europa…
      Tapi dengan Keyakinan rakyat Dan pemimpin nya …insya Allah bisa keluar dari kesulitan economy itu ..

  11.  

    tapi percuma juga proyek ini di lanjutin soalnya Indonesia tdk dpt teknologi kunci, mending ganti kerjasama dengan turki

    •  

      klo mau dapet ya pake modal, proyek KFX/IFX itu bukan cuma pemerintah RI-Korea aja, tapi ada entitas lain yaitu jajaran industri pertahanan Korsel plus PTDI (satu-satunya dari RI yang menyediakan tenaga ahli), kenapa tidak di ikut-sertakan industri lainnya yang ada di Indonesia, misalnya LEN dan HANWHA bisa kerjasama buat radar AESA, masing-masing juga menyumbang anggaran buat pengembangan. Klo yg sekarang RI cuma bergantung kepada Korea Selatan.

      Mestinya pemerintah RI mikir, sebenernya Korea Selatan itu ingin agar RI juga berperan aktif, setidaknya memiliki inisiatif, bukan “ngekor” seperti sekarang… Tapi ya, namanya juga pekerja, taunya ya kerja, jadi kurang berfikir ke yang lain 😀

  12.  

    Iya nego terus dan dipilih dipilih dan tanya bonusnya wkwk

 Leave a Reply