Indonesia Tarik Pulang Dubes di Brasil

75
146
Duta Besar Indonesia untuk Brasil, Toto Riyanto, ditarik pulang ke Indonesia
Duta Besar Indonesia untuk Brasil, Toto Riyanto, ditarik pulang ke Indonesia

Jakarta – Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri memutuskan memanggil pulang Dubes Indonesia untuk Brasil Toto Riyanto terkait dengan sikap tak terpuji pemerintah Brasil yang tiba-tiba membatalkan proses penerimaan surat kepercayaan (credential). Menurut Guru Besar Hukum Internasional UI, Hikmahanto Juwana keputusan yang diambil Kemenlu sangat tepat.

“Presiden Brasil ketika akan menerima surat kepercayaan (credential) dari sejumlah Dubes negara sahabatnya, termasuk Indonesia, tiba-tiba meminta Dubes Toto Riyanto untuk tidak turut dalam rombongan tersebut. Padahal Dubes Toto secara resmi jauh-jauh hari telah mendapat undangan dan telah berada di Istana. Pemberitahuan dari pihak Kemlu Brasil dilakukan tanpa memberi alasan,” urai Hikmahanto memulai penjelasannya, Sabtu (21/2/2015).

Hikmahanto menjelaskan, tindakan pemerintah Brasil itu sangat berisiko memperburuk hubungan kedua negara yang selama ini sudah terjalin dengan sangat baik. Sehingga, keputusan Menlu untuk langsung memanggil pulang Dubes dari Brasil dinilai sebagai satu keputusan yang sangat tepat.

“Atas perlakuan pemerintah Brasil terhadap Dubes Toto, Menlu telah memanggil pulang ke Indonesia untuk berkonsultasi. Pada saat yang bersamaan Kemlu telah melayangkan nota protes diplomatik. Tindakan Kemlu telah benar. Indonesia tentu tidak bisa menerima perlakuan dari pemerintah Brasil,” jelasnya.

Hikmahanto menduga, alasan yang mendasari sikap tak terpuji pemerintah Brasil salah satunya adalah terkait salah satu warga negara Brasil yang telah dieksekusi mati terkait kasus narkotika di Indonesia. Brasil sejak awal memang tak terima warga negaranya yang berstatus sebagai terpidana kasus narkotika dieksekusi mati.

“Meski tidak disampaikan alasan, dugaan kuat karena protes pemerintah Brazil atas satu warganya yang telah dihukum mati dan satu lagi yang akan menjalani hukuman mati,” urainya.

“Pemerintah Brasil telah memulai tindakan untuk memperburuk hubungan dengan Indonesia semata karena melakukan perlindungan yang berlebihan atas warganya yang melakukan kejahatan yang serius,” imbuh Hikmahanto.

Sebenarnya, Indonesia bisa saja melakukan upaya balasan dengan tindakan persona non grata atau pengusiran terhadap satu atau beberapa diplomat Brasil yang tengah bertugas di Indonesia. Namun dalam pandangan Hikmahanto, tindakan itu belum diperlukan.

“Tentu Brasil yang harus berpikir dua kali bila hendak meneruskan protes dan kemarahannya. Mereka harus berpikir apakah sebanding ‘merusak’ hubungan baik kedua negara dengan melindungi warganya yang melakukan kejahatan yang sangat serius di Indonesia. Di samping, tindakan Brasil berpotensi mengintervensi kedaulatan hukum Indonesia,” tuturnya. (Detik.com).

75 KOMENTAR

    • Haha negara-negara amerika latin memang sarang mafia narkoba bung, pendapatan negara mereka sebagian besar dari bisnis narkoba makanya gk heran mereka melindungi mati2an rakyat mereka yg jadi gembong narkoba bagi mereka mafia narkoba=pahlawan devisa, kalo dikita tki=pahlawan devisa

    • Wakil Ketua Komisi I DPR Tantowi
      Yahya menyatakan sikap pemerintah
      tersebut sudah benar. “Pemberian
      credential adalah hak negara
      akreditasi, tapi pembatalan
      penyerahan kepada Dubes kita di
      saat yang bersangkutan sudah
      berada di Istana Kepresidenan
      bersama dengan dubes-dubes dari
      negara ain adalah pelecehan
      diplomatik. Karena itu, kita patut
      memprotes keras,” kata Tantowi
      dalam siaran pers, Sabtu, 21 Februari
      2015.
      Tantowi menambahkan, tidak ada
      negara yang bisa mendikte hukum
      negara lain, dan Brasil sebagai
      negara berdaulat seharusnya
      memahami dan memaklumi itu.
      Tantowi memperingatkan, tindakan
      emosional yang diambil pemerintah
      Brasil akan memperburuk hubungan
      bilateral kedua negara dalam
      berbagai bidang.
      Dalam bidang pertahanan, Indonesia
      dan Brasil menjalin kerja sama yang
      baik. Pada tahun anggaran
      2009-2014, Indonesia memesan
      pesawat Super Tucano untuk
      mengawasi garis pantai. Indonesia
      juga memesan multi-launcher rocket
      system (MLRS).
      “Kami akan duduk dengan
      Kementerian Pertahanan untuk
      mengevaluasi kerja sama ini ke
      depan jika Brasil tidak mengubah
      sikap,”

    • kemarin Aus klarifikasi pernyataan abbott, skrng…
      hauddeeehhh…

      Presiden Brazil, Dilma Rousseff,membenarkan telah menolak surat kepercayaan Duber RI, Toto
      Riyanto pd Jumat kemarin. Kepada reporter, Rousseff seolah memberikan sinyalemen penolakan tersebut akibat eksekusi mati yg dilakukan Kejaksaan Agung pd bulan lalu terhadap Marco Archer Cardoso Moreira.

      Dikutip dari Fox News, Jumat 20Feb 2015, Rousseff tdk menolak sama sekali penerimaan surat kepercayaan, melainkan hanya menunda.

      Dubes Toto Riyanto telah berada di Istana Presiden utk menyerahkan surat kepercayaan dari Pemerintah Indonesia.
      Selain Toto, terdapat beberapa Dubes lainnya, antara lain Dubes Venezuela, Maria Lourdes Urbaneja, Dubes Panama, Edwin Emilio Vergara & Dubes Salvador, Diana Marcela Vanegas.

  1. klu mnurut sya tdk ada hbunganya alutsista,,, toh dh ada pnandatanganan kontrak antara dua negara jd bisa gk bisa hrus tetap d krim sesuai btas wktu yg tlah di tentukan ,, krena klu enggak, brazil bsa kna denda sesuai dgn hukum intrnasional yg brlaku..

  2. lebih baik pulang saja, disana pun gak dianggap berkepentingan..
    Indonesia tidak harus takut jika brazil bekukan segala hal kerjasama itu hak sepihak dari mereka.
    ini kesempatan bagi brazil menutupi malu atas kerjasama yg buruk.
    brazil lebih memilih bekukan kerjasama dan membayar denda ketimbang menunjukan prfesionalisme namun kena tetap kena denda

  3. Aneh
    kalau gak mau di hukum ya jgn buat kejahatan…
    Dasar orang gila.. Harusnya gak adil ribuan nyawa di tukar 1 nyawa.. Mereka yg masih berhutang banyak nyawa.. Harusnya kita yg marah kok jd kebalik… Tetap lanjutkan hukuman mati.. Mereka sudah tau kok resiko nya.. Tp tetap di lakukan.. Kalau tertangkap dan di hukum mati memang udah resiko..

  4. Perlakuan yg memalukan, merendahkan martabat bangsa Indonesia yg diwakili DUBES, serta melecehkan kedaulatan bangsa.
    Sepantasnya tdk hanya memanggil pulang seorang dubes, tapi seluruh perwakilan dr negara tersebut. Itu diberlakukan juga pd semua negara yg menunjukan sikap tdk bersahabat, usir semua perwakilan mereka dr Indonesia.
    Tidak ada harganya kerjasama sepenting & sebesar apapun, bila bangsa ini menjadi tak bermartabat.

      • Sampeyan terlalu takut & kolot dengan aturan negara barat yang sengaja membuat UU batasan senjata, padahal mereka sendiri berlomba membuat yang besar2.
        Tekhnik perang astros & iskander memang beda, tapi pada intinya adalah sama yaitu land attack & sebagai penggentar lawan.
        Walau beda matra yaitu di laut, Bung Karno berani membeli Styx & kennel yang membuat belanda mundur dari papua, Negara barat mustahil memberi senjata sebesar itu.
        Arab Saudi berani membeli DF-21 china, karena yakin amerika tidak akan memberi senjata sehebat itu.
        Ausi sudah memiliki JASSM-ER (1000 km), RI gak bakalan dikasih walau punya duit.
        Jangan ewuh pakewuh dengan negara tetangga yang senang kalau NKRI lemah & kacau.

  5. Br saja sy terima kbr dr kawan di kedubes brasil, bahwa kedubes us dan aussie mengirim kawat diplomatik yg berisi dukungan ke kedubes brasil atas sikap mereka ke pemerintahan joko widodo, bahkan terdapat pernyataan jika pemerintahan brasil dapat menggagalkan pengiriman MLRS Astros dan sparepart super tucano, maka NATO akan mengakuisisi unit yg terlanjur diproduksi, dalam satu tahun akan diakuisisi oleh salah satu negara NATO untuk dikirim ke ukraina dan mesir