Nov 082014
 

 

https://i1.wp.com/nl.media.rbth.ru/web/id-rbth/images/2014-11/big/su35_468.jpg?w=695

(SU-35 , Sukhoi.org, 5 November 2014 Dmitriy Litovkin, RBTH)

Kementerian Pertahanan Indonesia tengah mempertimbangkan opsi pembelian 16 pesawat tempur Su-35 dari Rusia. Pesawat tersebut rencananya akan digunakan untuk menggantikan F-5 Tiger II yang dinilai sudah ketinggalan zaman, demikian diberitakan oleh Defense News.

—————————————————————————————————————————————————————————

Saat ini Indonesia memiliki 16 pesawat tempur Su-27SK/SKM dan Su-30 MK/MK2. Hingga 2024, akan ada delapan skuadron yang berisi 16 unit pesawat tipe “Su” per skuadronnya. Kemungkinan skuadron tersebut akan diisi oleh pesawat unggulan saat ini, yakni Su-35.

Opsi pembelian pesawat tersebut telah dibicarakan dalam pertemuan perwakilan Kementerian Pertahanan Indonesia Purnomo Yusgiantoro dengan Kepala Staf dan Komando Angkatan Udara Rusia pada pertengahan Januari lalu.

Yusgiantoro menyatakan bahwa keputusan akhir mengenai pembelian Su-35 masih belum ditetapkan. Komando Angkatan Udara Indonesia juga tengah mempertimbangkan alternatif lain untuk menggantikan pesawat F-5 yang dinilai sudah menua. Selain Su-35, AU RI juga sedang mempelajari pesawat tempur JAS 39 Gripen buatan Swedia, pesawat F-16 Fighting Falcon Block 60, F-15 Silent Eagle dan F/A-18 Super Hornet asal AS, serta pesawat Rafale asal Prancis. Namun, Su-35 merupakan pilihan utama dari daftar kandidat tersebut.

Generasi Kelima

Semua pesawat tempur yang ikut serta dalam tender adalah pesawat paling modern dalam aviasi militer dunia. Jika pesawat tempur Amerika, Prancis, Swedia merupakan perwakilan generasi “4+”, Su-35 bisa disebut sebagai pesawat tempur generasi “5-“. Artinya, Su-35 memenuhi kriteria dan spesifikasi pesawat tempur generasi baru secara maksimal, seperti halnya pesawat tempur F-22 Raptor dan F-35. Su-35 tersebut kerap disandingkan sebagai pesaing utama pesawat tempur AS Raptor.

Biro Konstruksi Sukhoi dengan rendah hati mengategorikan pesawat Su-35 ini sebagai generasi “4++”, yakni pesawat yang lebih unggul dari generasi ke empat, namun belum menjadi generasi kelima. Padahal, banyak pesaing dunia yang menyebut Su-35 sebagai pesawat masa depan.

Lebih Unggul

Tak mudah bagi orang awam untuk membedakan pesawat Su-35 dari Su-27, ataupun Su-30MK. Namun sesungguhnya, terdapat perbedaan signifikan antara tiap pesawat tersebut. Skema aerodinamika fuselage (badan pesawat) Su-35 merupakan konfigurasi paling muktahir dibanding para pendahulunya. Su-35 juga memiliki bentuk yang lebih ramping (konfigurasi Kanard) dibanding Su-27, serta tidak memiliki kemudi horizontal bagian hidung pesawat seperti Su-30. Kemudi horizontal yang dibuat pada pesawat Su-30MKI oleh India dapat meningkatkan kemampuan manuver pesawat. Dengan dilengkapi mesin pesawat jet yang memiliki thrust vector control, pesawat Su-30 merupakan pesawat tempur terbaik di dunia.

Manuver udara Cobra Pugachev adalah gerakan pada saat pesawat menambah ketinggian dan pada momen tertentu pesawat tersebut berhenti dan menggantung di udara dengan bertumpu pada ekor (seperti bentuk kepala ular kobra), lalu hidung pesawat mulai menurun seperti halnya daun jatuh, sambil berputar kembali ke posisi semula. Manuver ini tidak dapat dilakukan oleh satupun pesawat tempur lain di dunia. Sukhoi juga mampu melakukan akselerasi dan berhenti seketika sambil mengangkat seluruh permukaan badan pesawat menghadap belakang. Dari posisi tersebut, pesawat Sukhoi dapat melanjutkan penerbangan mereka dengan kecepatan minimum. Bila hal itu dilakukan oleh pesawat tempur lain, kemungkinan mereka akan jatuh.

Kemampuan taktis tersebut digunakan oleh pilot-pilot asal India saat melakukan latihan bersama dengan AU AS serta negara-negara lain. Di salah satu latihan tersebut, pilot India dapat mengalahkan pilot AS yang mengendarai F-15C/D Eagle. Setelah pelaksanaan latihan bersama itu, Jendral AS Hal Homburg yang merupakan Kepala Komando Pertahanan Udara Angkatan Udara AS, dipaksa untuk mengakui bahwa hasil latihan tersebut menjadi kejutan besar bagi para pilot Amerika. “Kami ternyata bukan yang paling unggul di seluruh dunia. Pesawat tempur Su-30 MKI lebih baik dibanding F-15C. Angkatan udara negara yang memiliki pesawat tersebut tentu lebih kuat dan dapat menjadi ancaman bagi keadidayaan Amerika di udara pada masa yang akan datang,” ujar Homburg.

Kemampuan super manuver Su-35 didapat dari mesin pesawat 117S. Mesin tersebut dikembangkan dari pendahulunya, yakni mesin tipe AL-31F yang dipasang pada pesawat Su-27. Namun mesin 117S memiliki kekuatan dorong yang lebih besar, yakni 14,5 ton, sementara pendahulunya hanya memiliki kekuatan dorong 12,5 ton. Mesin ini juga memiliki keunggulan berupa sumber energi yang lebih besar dan penurunan pemakaian bahan bakar. Hal tersebut membuat mesin ini tidak hanya mampu memberikan kecepatan yang tinggi dan super manuver, tetapi juga kemampuan untuk membawa persenjataan lebih banyak. Mesin tersebut akan dipasang pada pesawat tempur seri pertama T-50 nantinya.

Pilot uji coba Biro Konstruksi Sukhoi Sergey Bogdan mengatakan, pada saat penerbangan pertama Su-35, mereka ditemani oleh pesawat Su-30MK. Ini membuat mereka dapat membandingkan kemampuan mesin masing-masing pesawat. Pada saat penerbangan tersebut, Su-35 melakukan percepatan maksimum dalam moda tanpa pembakaran lanjut, sedangkan Su-30MK harus mengejarnya dengan menggunakan moda pembakaran lanjut karena beberapa kali tertinggal dari Su-35. “Ini merupakan keunggulan tersendiri bagi Su-35 yang dapat memberi keuntungan dan kemampuan lebih besar saat melakukan pertempuran di udara,” tutur Bogdan.

Dibanding Su-27, kabin pesawat Su-35 tidak memiliki komponen analog dengan jarum penunjuk. Penunjuk analog tersebut digantikan oleh kristal cair berwarna. Petunjuk itu sama seperti televisi dalam mode Picture in Picture, yakni terdapat layar-layar yang menunjukkan semua informasi yang dibutuhkan oleh para pilot. Semua komponen hidrodinamika pengendali mesin penghasil tenaga digantikan dengan komponen elektronik. Para perancang pesawat mengatakan bahwa hal tersebut tidak hanya menghemat tempat dan beban pesawat, tetapi juga dapat membuat mesin pesawat tersebut bisa dikendalikan menggunakan kontrol jarak jauh. Itu berarti peran pilot sudah tidak dominan, karena komputer akan menentukan dengan kecepatan berapa dan moda mesin seperti apa yang akan digunakan untuk mengejar sasaran, serta pada momen apa saja pilot diizinkan menggunakan senjata.

Adapun mode penerbangan kompleks, seperti penerbangan di ketinggian yang sangat minim dengan relief permukaan yang berbukit, dapat dilakukan oleh pesawat Su-35. Selain itu, sistem komputer juga menjaga agar pilot menggunakan senjata tanpa membahayakan pesawat itu sendiri atau agar pesawat tidak lepas kendali. Su-35 juga dilengkapi dengan sistem radar Active Electronically Scanned Array muktahir milik T-50. Sistem radar serupa hanya dimiliki oleh pesawat F-22, dan kemungkinan juga akan dimiliki oleh Rafale. Berkat sistem radar tersebut, Su-35 dapat melihat semua hal yang ada di udara dan di darat dalam radius beberapa ratus kilometer. Su-35 dapat mengikat 30 sasaran sambil mengarahkan senjatanya pada sepuluh sasaran tersebut.

Komoditas Ekspor

Para pakar ahli yakin bahwa F-22 maupun T-50 tak akan menjadi komoditas ekspor. Harga satu unit Raptor mencapai 133,1 juta dolar AS, dan T-50 juga bukanlah pesawat murah. Adapun Su-35 yang merupakan generasi setelah “4+” ini dibanderol 30-38 juta dolar AS, yang menjadikan pesawat tersebut sebagai primadona ekspor berlabel “generasi 5-“. Ini bukan hanya sebuah langkah pemasaran yang cantik, namun Su-35 memang dibuat untuk melampaui pesawat tempur generasi “4+” asal Eropa seperti Rafale dan Eurofighter 2000, serta pesawat tempur yang sudah dimodernisasi buatan Amerika yakni F-15, F-16, dan F-18. Selain itu, pesawat Su-35 juga mampu menandingi pesawat generasi kelima, seperti F-35 dan F-22A. Hal tersebut diakui oleh para pakar dunia Barat, berdasarkan data-data pemodelan komputer. Kemungkinan fakta inilah yang menarik perhatian badan militer Indonesia.

Sumber : indonesia.rbth.com

 Posted by on November 8, 2014

  109 Responses to “Indonesia Tertarik Beli Pesawat Tempur Su-35”

  1.  

    typun ato su telu lima wes pasrah wae karo bapak”e ning duwuran, sing luweh ngerti..

    sing penting iso njogo NKRI n ora ngisin ngisini rakyate sing susah payah megawe kanggo bayar pajak

  2.  

    mantap yg pasti harus gado2 biar negara tetangga pada bingung jgn lupa tot plus kerahasian jgn sampai ada yg tau baik udara,darat maupun laut…cukup diam & tau jayalah tni nkri harga mati…

  3.  

    artikel lama kok di angkat ni bung @diego..
    Ada apa gerangan hehehe…

    Btw skarang kok pihak rusia nggak genjar2 promosi kenapa ya?
    tipun ma gripen aja bawa simulator segala kok pihak roboex nyante2 aja cuma bawa brosur seadanya..
    opsi
    1. males krena indonesia nggak beli2
    2. ngapain bawa banyak2 bhan promosi wong indonesia sudah… 😀 hehehe…

    Salam NKRI

  4.  

    Coba tanya pak moeldoko (kebetulan tetangga dulu) katanya ringkas cepat padat dan terpercaya ” itu rahasia negara.. ”
    NKRI HARGA MATI

  5.  

    Speknya, mana yg benar? Juga spek kompetitor, mana yg benar? Sbg contoh, bukankah semua pespur modern eropa barat sudah AESA? Jika tidak konsisten saya jadi ragu. Menurut saya lebih baik menunggu PAK FA atau beli Su-34 utk menghancurkan kekuatan militer musuh di negerinya sendiri (lebih memiliki efek deteren). Kalau mengejar manuver (dgn kecepatan yg kurang lebih sama) lebih baik pilih SU-29/31 hehe…

  6.  

    semoga segera terwujud…..
    numpang nanya JG cab.makssar ada ngak????
    pengen gabung……..

  7.  

    saab ma eurofigther saling curi perhatian agar tertarik pemerintah kita bisa beli…di situs resmi saab dan situs resmi eurofigther jadi topik berita….hee…he…. ayo sapa yg menang ne ….

  8.  

    Kalau terjadi perang, pabrik2 yang memproduksi senjata atau alutsisa strategis kita akan menjadi salah satu target yang pertama kali akan diusahakan utk dihancurkan oleh musuh kita bung. Jadi tetap saja kita jangan berharap bisa semudah itu menggantikan alutsista yang hancur dalam peperangan, meskipun kita punya teknologi dan prasaran utk membuat sendiri alutsisa tsb.

    •  

      Makanya dibaca utuh dan pelan2 komentar saya bung 😛 mw nyerang pake mrk, jk radar2 pertahanan kita kuat? rudal hanud dan pertahanan titik kita kuat..? saya tau dan faham klw pabrik2 pembuat alutsista pasti termasuk salah satu target musuh? nah klw ente saja tau.. aplg jendral musuh..? trs yg gak tau itu siapa..? ente pikir setiap pabrik alutsista disetiap negara manapun gak dijaga? didarat pst dijaga pasukan special yg pst sdh terlatih mnjg obvit, di udara pasti jg dijaga setidaknya 1 atw 2 unit pertahanan titik komposit sprt pantsir S1. jd gak hrs SU35 yg kuat dunia akhirat. inti koment saya disitunya bung? 🙂 Salam hangat..

      •  

        Ok, skrg sy tanya: apa radar pertahanan kita saat ini sdh cukup kuat dan nggak bolong2 lagi? Apa pespur kita kualitas dan kuantitasnya cukup utk menjaga angkasa kita dari serangan agresor? Apa hanud atau SAM kita sudah memadai? Dgn seluruh faktor itu, kira2 kl kita punya pabrik pespur bisa yakin aman nggak dari serangan musuh? Ya memang nggak harus Su-35, tapi nggak harus Typhoon atau Gripen juga kan? Toh TOT yang ditawarkan blm jelas sampai segimana, dan kesannya cuma ingin menjadikan PTDI spt semacam dealer atau bengkel perawatan rutin doang kok. Kl cm segitu sih Rusia juga bisa jadi mau kasih. Inti komen saya adalah jangan gampang tergiur sm tawaran sales dan janji2 manis TOT, pastikan dulu TOT nya sampai sejauh apa dan yakinkan apakah kompetitornya ngasih TOT sejenis atau tidak.

        •  

          Baca inti komentar sy sblm ini (kalimat terakhir di komen sblm ini). Sy setuju ttg kemandirian alutsista, tp jangan gampang tergiur sm TOT yg belum jelas smp mana, dan apakah TOT jenis itu juga ditawarkan oleh peserta tender yang lain. Anda tau tidak TOT apa yang ditawarkan oleh SAAB (produsen Gripen)? TOT apa yang ditawarkan oleh Eurojet (produsen Typhoon)? TOT apa yg ditawarkan oleh Sukhoi (produsen Su-35)? Kl belum tau pasti, knp langsung memvonis Typhoon adalah pilihan yg lebih baik drpd Gripen dan Su-35?

        •  

          Kl sy baca di trit sebelah, kok ya tawaran dr Airbus dan Eurojet ke PTDI cm smp perawatan dan perakitan komponen doang, sehingga PTDI bisa jadi bengkel perawatan dan “tukang jahit” utk merakit komponen2 Typhoon kl nanti jd dibeli. Nggak ada tuh kata2 teknologi spy kita bisa mengembangkan pesawat sendiri. Nah, kl cuma segitu doang TOT, apa iya SAAB atau Sukhoi nggak bersedia ngasih TOT serupa? Jangan2 itu cuma kecap pemanis dr sales Typhoon aja, padahal SAAB dan Sukhoi juga punya fitur atau tawaran TOT yang sama.

        •  

          Lho.. jadi ngakak saya :mrgreen: kenapa saya ngakak.. krn komentar anda masih ttp mbulet.. sebenarnya pemikiran dan tujuan kita sama bung..? sejauh ini hanya 2 perusahaan tsb yakni Saab dan EF yg berani ngasih iming2 ToT bung? sdg rusia blm ada kedengaran hal sprt itu yg mw ngasih ToT. rusia cm dengar2 ngasih cara perawatan alutsista dan pengantian komponen doang dimari. kata kasarnya aja bl suku cadang sprt baut sukhoi aja msh ttp dipasok mrk, dan nanti baru kita memasangnya dibantu asistensi mrk. sdg klw bicara EF dan Saab sdh jls mrk menawarkan ToT yg dimana EF dan Saab sdh terbukti dan sdh melakukan kerjasama teknologi selain di pesawat tempur. referensi dan beritanya byk bertebaran termasuk sprt misalnya kerja sama dgn PT DI dgn air bus dan Saab dgn bofors dan lundin dan radar giraffle. toh biarpun hnya merakit dahulu, tdk apa2 lama kelamaan kita akan lbh cpt belajar drpd tdk sama sekali. dan anda bandingkan pemberitaan tawaran ttg alutsista buatan rusia? knp rusia, tdk ada kedengaran mw ngasih ToT kpd kita sprt halnya Saab dan EF? wlwpn saya percaya sdkt banyak kita ada kerja sama rahasia dgn rusia, tp ttp sj krj sama itu terbatas dan tdk signifikan menambah income dan perkuatan dibanding dgn kerjasama yg sdh dilakukan dgn barat selama ini. yg jelas saya tdk pilih2 dlm hal kemandirian, mw dari negara mana saja terserah pemerintah bung, selama itu utk kemajuan dan kemandirian bangsa. Salam..

        •  

          salam bung @bayuputra
          pelaksanaan ToT memang tdk seindah rencana awalnya, seringkali hanya diberikan berupa ilmu diatas kertas berupa buku manual + bimbingan dari TA pabrikan asal & kadang dg mesin produksinya (tetep musti dibeli),
          hasilnya memang bermanfaat buat teknisi & mekanik kita … punya metode cara buat & produksi komponen, tapi ilmu aja tdk lah cukup, ntar kita hadapi pengadaan material logam, contoh utk buat sayap, cara bikin nya sdh mampu, ketika order bahan baku materialnya ? tetep perlu waktu lama, pabrikan mat logam di LN sangat sulit berikan supply … material mill spec tdk mudah didapat, perlu birokrasi rumit dan hrs ada ijin dari pabrik pembuat pesawat (lisensi).
          jadi yg namanya ToT bukan suatu hal yg mudah, msh byk detail teknis yg musti diperjelas spy kita bisa mandiri & dilaksanakan dg efisien & efektif.

  9.  

    Semoga IFX cepet mengudara.,. Belajarlah yg giat PT DI….

  10.  

    Jika SU 35 tak terbeli sungguh sangat keliru didalam strategi pembelian pesawat tempur …singkirkan yg berbau politik kepentingkan kedaulatan wilayah udara yg harus super power untuk mengimbangi kawasan Asia …

    •  

      Kita sdh deal dgn rusia soal SU35 tp ttp sj butuh waktu krn SU35 msh inden. sementara ini kita pake 2 ekor SU27 yg dibuat mutant dgn memakai sebagian jeroan SU35. line produksi SU35 saat ini msh utk memenuhi permintaan angkatan rusia dulu, kemungkinann thn 2019 baru jatah giliran kita. makanya saat ini kita pake SU27 mutant aka SU35 jadi2an 😛 utk mengisi stop gap sampai 2019 kita akuisisi yg kelas medium sprt rafa, typhon dan gripen. setelah itu klw mau naik kelas kita bs pesan pakfa yg msh inden krn utk memenuhi AU rusia terlebih dahulu baru menyusul yg versi ekspornya. krn inden lalu kita buat pakfa versi mutant yg pake cangkang SU35 sblm pakfa yg asli dikirim kemari. trs menerus seperti itu bung kejadiannya klw kita cm jd konsumen dimata rusia. 🙂

  11.  

    rumus kamus warjag, x ini berlaku g yah…
    colex bung satrio:)

  12.  

    Mending SU-35, krn alut sista dari blok barat, rawan embargo,
    ada isu pelanggaran HAM sedikit aja, pasti di ancam embargo
    walhasil barang2 mahal itu cm jd pajangan n latihan saja.

  13.  

    si andi arief udah expired makanya koar2 di fb…

    …Saya bilang saya pikirkan dulu karena ini memang masih milik TTRM…

    gimana urusannya jadi ‘milik TTRM’, ada surat waris dari mbahmu ?

  14.  

    Singkat saja koment saya,
    SU-35 Sebagai stop gap selama kita blm bisa bikin pespur gen 4++.
    Idealnya stop gap diadakan dan TOT di jalankan.
    Kalau bisa 2 kenapa harus memilih salah 1

    •  

      Setuju banget.
      Kemandirian penting, makanya perlu TOT, namun beli jadi jg perlu. Contoh Inggris, belanda dan negara eropa barat lainnya, walaupun mereka bisa buat pesawat sekelas typhoon namun masih jg pesan f35.
      Walaupun nantunya IFX sudah menjadi pesawat buatan indonesia namun masih banyak komponen pesawat tsb yg diimport dr luar. Karena tdk mungkin kita mau mendirikan pabrik utk masing2 13 ribu komponen sukucadangnya. Kemandirian alutsista bukan berarti semua hrs dibuat di republik ini. TOT pespur ok, TOT ks ok, TOT kapal destroyer jg ok. Yg penting bukan jd tukang jahit, jdlah perancang busana yg membuat bahan sendiri walaupun benangnya beli dr luar.
      Salam NKRI.

  15.  

    siapa pengelola dan tuan rumah di situs gunung padang udah jelas,

    http://www.menkokesra.go.id/artikel/gunung-padang-cianjur-ditetapkan-jadi-situs-nasional

  16.  

    ToT pespur gen 4+ itu beda jauh dengan pswt transport macam NC-212 atau 235.

    Fuselage + sayap: Mulai dari plat baja, plat aluminium, atau plat carbon fibre yg diperlukan, rivet-nya dan lem-nya, alat sambungnya rivet atau lem, alat tekuknya, untuk kulit dan rangkanya, serta alat jig untuk merangkai semuanya. Semuanya dari bahan mentahnya sampai dengan rivet dan lemnya, termasuk peralatan pemasangnya harus diimpor, karena kita belum mampu produksi sendiri, sebab semuanya tsb di atas harus tahan momentum, gaya, temperatur pada kelincahan dan kecepatan supersonik pespur.

    Engine: ini mutlak masih harus diimpor.

    Radar dan avionik: semua harus diimpor. Sudahkah kita punya pabrik semi konduktor?
    Instrumentasi : kita belum punya industri instrumentasi untuk aviasi. Masak kita mau pasang instrumentasi analog mobil di pswt?

    Software: semua pespur gen 4+ sdh memakai teknologi fly-by-wire yg diatur oleh software. Justru disini kita punya banyak ahlinya, tetapi pertanyaannya apakah akan diterima secara utuh plus izin pengembangannya?

    Jenis peralatan yg “biasa”: ban+roda, dan fuel tank. Apakah kita sdh sanggup produksinya? Ban punya persyaratan kusus take off/ landing; fuel tank punya persyaratan harus ringan dan punya proteksi kebakaran. Jangan2 untuk ban NC-212 pun masih impor.

    Walhasil pada akhirnya kita tetap menjadi “penjahit” saja, karena industri belum menunjang. Sekarang misalnya kita jadi ambil ToT pespur 4+ dengan investasi yg sangat besar. Yang beli cuma pemerintah sebanyak 1 atau 2 skadron saja, selanjutnya mandek. Lantas investasi mau dikemanakan, jadi besi tua? Perusahaan bisa kolaps karenanya, dan ini pernah terjadi (hampir)

    Khusus untuk ToT pespur, jalan yang logis adalah mulai dulu dengan MRO, kemudian pelan2 secara bertahap mulai dengan perakitan dan selanjutnya produksi. Kita lihat contoh NC-212 dirakit diproduksi dan dikembangkan jadi NC-219, itupun butuh waktu 3 dekade. Tapi industri pendukungnya sendiri masih belum berkembang. Lihat pula contoh Cina.

    Sekarang kita lihat ToT KFX/IFX. Mumpung masih ada waktu, perlu dibuat road map pengembangan industri pendukungnya. Banyak cara antara lain dengan lisensi, kerjasama dll. Kalau bagian “sotware” kita punya banyak ahli, tetapi bagian “hardware” inilah yang paling susah.

    Imho.

  17.  

    Makin ” ga jelas” . dari kemarin wacananya berubah ubah, udah tifun yg hampir pasti jadi pengganti f5, ganti dg gripen yang hampir pasti juga karena harus ada kemandirian(tot), sekarang su 35….
    Besok artikelnya?? Pasti tentang ” indonesia berencana beli rafael sebagai ganti f5″….
    Udah…daripada lieur beli semua masing 4, kan jadi satu skuadron tuh…

  18.  

    Sekedar urun rembug, SU-35 memiliki kemampuan “super maneuverability” atau kemampuan manuver jauh diatas kemampuan pesawat lain. Ada ucapan bahwa super maneuverability ini hanya berguna bila pesawat harus menghadapi “dog fight” kemampuan ini hanya bisa diimbangi oleh F-22 yang juga memiliki fitur “thrust vectoring” namun melihat produksi baru F-22 sudah distop otomatis ke depan sepertinya SU-35 yang akan menjadi dominan di pasar pesawat tempur mutakhir. Bagaimana menurut rekan-rekan warjag?

    Nah, menurut saya beberapa tahun ke depan teknologi pesawat tempur akan didominasi oleh pesawat tempur yang dikendalikan dari darat (drone) yang membatasinya hanyalah masalah biaya pengembangan dan produksi namun secara teknologi menurut saya sudah memungkinkan. Ditambah dengan kemampuan pesawat yang bisa terbang di atas atmosfer bumi yang memungkinkan pesawat tersebut dapat mengelilingi bumi dalam waktu singkat sambil melepaskan peluru kendali berkepala nuklir. Percobaan pesawat seperti ini telah dilakukan NASA dan menurut saya AS sudah tidak terlalu berminat mengembangkan fitur “Stealth” yang ada di F-22 namun lebih kearah kendali elektronik serta kemampuan menembus atmosfer bumi. Mungkin ada masukan lainnya?

 Leave a Reply