Jun 192017
 

Sejumlah produk Tsingshan Group, Tiongkok (tssgroup.com.cn)

Jakarta – Industri di Indonesia dan Tiongkok sepakat untuk berinvestasi sebesar 1,63 miliar dollar AS di Morowali untuk mendukung pembangunan kawasan industri di luar Pulau Jawa.

Kami mengapresiasi adanya kerja sama B to B (Business to Business) kedua negara, yang diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pendalaman struktur serta peningkatan daya saing industri nasional,” ujar Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto di Jakarta, dirilis ANTARA, 18/6/2017.

Bahkan, lanjutnya, kerja sama tersebut juga mampu memacu pemerataan pembangunan dan kesejahteraan di Indonesia.

Komitmen tersebut terealisasi melalui penandatangan MoU antara Tsingshan Group dan Delong Group dengan PT Indonesia Morowali Industrial Park .

Ketiganya menjalin kerja sama dalam pembangunan pabrik carbon steel di kawasan industri Morowali, Sulawesi Tengah dengan kapasitas mencapai 3,5 juta ton per tahun dan total nilai investasi sebesar 980 juta dollar AS.

Selain itu, ditandatangani pula MoU antara Tsingshan Group dengan Bintang Delapan Group dan PT Indonesia Morowali Industrial Park tentang kerja sama pembangunan pembangkit tenaga listrik di kawasan industri Morowali, Sulawesi Tengah dengan kapasitas 700MW dan total nilai investasi sebesar 650 juta dollar AS.

Menurut Airlangga, kerja sama ini merupakan salah satu tindak lanjut pertemuan bilateral antara Presiden RI Joko Widodo dan Presiden RRT Xi Jinping terkait peningkatan kerja sama ekonomi Indonesia-Tiongkok pada Belt and Road Forum for International Cooperation di Beijing, Tiongkok, Mei 2017.

Terkait Belt and Road Initiative, Kemenperin juga telah mendorong peningkatan kerja sama investasi Tiongkok di kawasan industri Tanah Kuning, Kalimantan Utara, serta kawasan industri prioritas lainnya seperti di Sumatera Utara dan Sulawesi Utara, paparnya.

Penandatanganan kedua MoU dilakukan di sela pelaksanaan China-Indonesia Cooperation Forum: Belt and Road Initiative and Global Maritime Fulcrum di Beijing, Tiongkok, 16 Juni 2017.

Turut menyaksikan kesepakatan kerja sama tersebut, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Trikasih Lembong, dan Duta Besar Indonesia untuk Tiongkok Sugeng Rahardjo.

Selanjutnya, hadir pula mewakili Menteri Perindustrian, yakni Dirjen Ketahanan dan Pengembangan Akses Industri Internasional (KPAII) Kemenperin Harjanto serta Dirjen Pengembangan Perwilayahan Industri (PPI) Kemenperin Imam Haryono.

Dalam rangkaian kegiatan China-Indonesia Cooperation Forum, Imam Haryono memberikan pemaparan mengenai potensi kerja sama investasi serta beberapa fasilitas infrastruktur yang akan dibangun di kawasan industri di Kalimantan Utara, Sumatera Utara dan Sulawesi Utara.

Di samping itu, Harjanto menyampaikan kebijakan industri nasional yang mengarah kepada kerja sama pengembangan kawasan dan investasi di luar Pulau Jawa serta pemberian insentif yang menarik bagi calon investor.

  5 Responses to “Indonesia -Tiongkok Sepakati Investasi USD 1,63 Miliar di Morowali”

  1. mudah2an bener,,,
    tdk seperti yg terjadi di PLTU dlu,,, pake baja yg udah berkarat,,,

    • ini beneran kok..
      permasalahnanya yg muncul adalah.. latahnya komentar saat puluhan pekerja china yg datang ke Industri tersebut… dan di dengungkan jadi jutaan pekerja china xixixi

      • Betul itu, setuju bung!!, ga ada bukti bahwa ada jutaan pekerja china dimari…

      • Memang gak jutaan tapi klu sampe buruh kasarpun dr China,berarti tdk menyerap tenaga lokal sehingga perputaran uang tdk menyentuh masyarakat lgsg. Toh SDM kita jg ada yg ahli! Semoga aja penilaian saya salah!

        • itu kebijakan perusahaannya bung Andre,,
          dalam perusahaan besar,, team kerja.. kita memilih anggota team kita yg kita anggap bisa.. bahkan sampai tukang lap keringatpun bisa kita pilih…

          perusahaan luar negeri yg beroperasi di suatu daerah juga dikontrol oleh bupati dan gubernur..
          nah sekarang perjanjian aturan tenaga kerja lokalnya berapa %??!! jika menyalahi aturan,, aparat2 ini yg menindak..

          seringkali SDM lokal tidak memenuhi standar perusahaan…
          dan jarang bisa masuk manajemen…
          ini masalah kualitas dan terutama etos kerja.

          sama halnya perusahaan obat kita yg ekspansi ke kamboja..
          tukang pel dan tukang cuci baju perusahaan juga dari Indonesia lhoo…

          wacana ini sebelumnya didengungkan oleh cyber army intoleran… yg mengarah politik negara,,, bahwasanya orang orang yg berideologi komunis sudah jutaan masuk Indonesia.. dan merongrong kedaulatan kita…
          antisipasi BIN dan Intel sudah dijalankan… mengapa kesannya terjadi pembiaran?!! memang dibuat demikian agar orang dibalik layar memunculkan diri merasa kelompoknya diatas angin… uhhh..

          atau cerita seorang teman,, sebuah hotel dibali dg manajemen 28 orang,, 25 nya orang luar,, hanya 3 orang Indonesia… pertanyaannya kenapa?!!.. owner nya orang Jakarta pernah menjelaskan ini masalah jaringan pariwisata dan sekali lagi etos kerja…

 Leave a Reply