May 112014
 

cyber_warfare

Samosir – TNI AD dan Institut Teknologi Del Laguboti, Toba Samosir, Sumatera Utara akan menandatangani nota kesepahaman (MoU) untuk pembangunan pusat pertahanan “cyber” serta pertukaran data dan informasi ilmiah dalam rangka alih teknologi.

“Penandatanganan Memoandum of Understanding (MoU) dalam bidang pendidikan, pelatihan, penelitian dan pengembangan teknologi informasi dan komunikasi itu dilaksanakan pada Senin (12/5/2014),” ujar Wakil Rektor III IT.Del, Deni, Lumbantoruan.

Nota kesepahaman dimaksud akan ditandatangani langsung oleh Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Budiman bersama Rektor IT Del. Prof. Dr. Roberd Saragih.

Acara penandatanganan juga akan disaksikan sejumlah tamu undangan, diantaranya Menteri Pertahanan Republik Indonesia, Purnomo Yusgiantoro, Dubes Rusia, Dubes Australia, Finlandia, Dubes Republik Ceko dan Wakil Dubes Swedia.

Selain itu, akan hadir Deputi Badan Intelijen Negara (BIN), Ketua Pembina Yayasan Del Jenderal TNI (Purn) Luhut Binsar Panjaitan, Jenderal TNI (Purn) H. Fachrul Razi serta beberapa tamu undangan lainnya.

Deni menjelaskan, rombongan Menteri Pertahanan dan KASAD direncanakan akan meninjau demo “cybergym”, aplikasi “cyber humint” dan atraksi penyerangan perangkat “drone”.

TNI AD Bentuk Cyber Defence (photo:  Tribunnews)

TNI AD Bentuk Cyber Defence (photo: Tribunnews)

Pada kegiatan ini, mahasiswa IT Del akan mempertunjukkan cara-cara penyerangan terhadap jaringan computer dan perangkat “drone” dari cara yang sederhana hingga yang paling rumit.

Menurut dia, penandatanganan nota kesepahaman itu dianggap penting, karena perang di dunia maya (cyber warfare) menjadi ancaman pada berbagai belahan dunia di samping perang konvensional, di mana setiap Negara saling mengungguli dalam penggunaan alat utama system senjata (alutsista).

“Cyber warfare”, berkembang dari “cyber crime” yang memiliki bentuk-bentuk kejahatan karena pemanfaatan teknologi internet jaringan komputer seperti menyebar virus yang merusak akses informasi, membajak atau mencuri informasi, mengubah informasi secara ilegal, hingga memata-matai akses informasi.

“Melalui penandatanganan MoU itu, diharapkan TNI-AD dan IT.Del mampu bekerjasama untuk menghasilkan produk-produk yang dapat dimanfaatkan untuk memerangi cyber crime dan cyber walfare di masa-masa mendatang,” jelas Deni. (Antara / Suara.com)

Bagikan Artikel :

  30 Responses to “Indonesia’s Cyber Defense”

  1. pertamax

  2. Kedua dulu

  3. nyimak

  4. TNI dan jajaran Pangti serta pejabat teras pemerintahan dan legislatif tersayang harus berhati-hati terhadap rencana RAAF mengakuisisi UCAV Reapers. Dikhawatirkan modus terbaru usaha mereka menyetir kebijakan RI nantinya adalah ancaman menggunakan UCAV kepada satu dua pejabat RI jika pejabat yang ditargetkan tersebut tidak menuruti kemauan mereka.

    Tingkatkan Wulung, PUNA, dll menjadi berkemampuan Combat, kemudian perbanyak jumlahnya agar neng lelga merasa aman dari ancaman Assuie

    • Betul bung liat tuh dubes ausit ikut hadir ….salam kenal

    • Iya bener bung ihsan, dan ini sedang di cari anti-dotnya. Mudah2an kehadiran Cyber Army ini bisa membantu dalam anti dot ini. Seperti kasus Iran menjamming dan mendaratkan drone canggih milik ASU.

      Ok sedikit cerita aja bung, Tahun 2012 kelompok sejarawan Adelaide, West Beach Aviation Group (WBAG) memergoki ASU menerbangkan RQ-4 Global Hawk. Ternyata antara RAAF dan ASU punya kerjasama dengan nama sandi Operasi Global Hawk. Nah kalau diterbangkan di Australia kira2 siapa yg jadi korban mata2??

  5. absen

  6. nyimak

  7. Kehadiran Cyber Army ini sangat berperan besar akibat dampat globalisasi teknologi yg semakin meningkat. Mari kita lihat contoh kasus saat perang Antara ASU dan Irak, peran Cyber Army sangat besar didalam cyber warfare. Seperti mengeksploitasi informasi seperti dari laporan media elektronik hingga cetak termasuk di dunia maya. Mereka melakukan disinformasi atau propaganda melalui cyber information yg difasilitasi Network Centric Warfare (NCW). Kegiatan yg mereka lakukan menjadi salah satu factor runtuhnya moril pasukan Irak.

    Saat ini telah banyak negara2 didunia mengimplementasikan cyber warfare dalam doktrin militer. Seperti pada Januari 2001 Donald Rumsfeld, yg bekerja sebagai Sekjen Pertahan US mencetuskan Doktrin Transformasi Militer kedalam doktrin lama mereka. Hal ini mengikuti perkembangan situasi atau modern warfare. Ada 3 kemampuan yg dijadikan prioritas mereka yaitu Pengetahuan, Presisi dan Kecepatan.

    Di negara kita sebenarnya sudah memiliki modal untuk membangun NCW ini didalam TNI seperti system komando dan kendali (siskodal). Berbagai potensi seperti SDM kita atau potensi2 lainnya seperti Intelligence, Surveillance & Reconaisance, Pernika, Infolahta, Komnika, secara Teritori, dll.

    Di seskoad juga sudah mengajarkan tentang teknologi informasi dalam perang hibrida. Perang hibrida yaitu strategi militer yg memandukan perang konvensional, perang yg tidak teratur dan ancaman cyber warfare.

    Semoga kehadiran Cyber Army ini bisa menjadikan NCW yg mengenali modern warfare dan juga semoga pemerintah memfasilitasi mereka dengan jaringan pengguna khusus (Closed User Group-CUG) yg lebih baik dan aman. Dan jangan lupa memberikan dana riset yg baik agar mereka bisa mendisain NCW yg modern dan berguna untuk militer kita. Amieen

    • Satu lagi bung @ Jalo, pada tahun2 kedepan dengan hadirnya satelit milik sendiri keamanan negara akan semakin kuat bung! IMO

      • Yup bener sekali bung, satelit militer adalah alat utama dan sangat penting untuk NCW… Terima kasih sudah menambahkan bung joni… 😉

      • bung Jalo apakah memiliki informasi mengenai kelanjutan lomba cyber defence kemenhan yang di surabaya??kebetulan ada rekan yang masuk di semifinal (8besar) disana…

        • Surabaya, Cyber Defence Competition 2014 yang berlangsug selama dua hari di Akademi Angkatan Laut, Surabaya secara resmi ditutup oleh Kasal Laksamana TNI Marsetio mewakili Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, Jumat (9/5) di Akademi Angkatan Laut Surabaya.

          Tim Alpha Omega yang merupakan juara bertahan pada Cyber Defence Competition tahun lalu di Jakarta, berhasil menjadi Juara Umum Cyber Defence Competition 2014 sekaligus mempertahankan Piala Bergilir Menteri Pertahanan. Piala Bergilir Menhan diserahkan oleh Kasal.

          Kompetisi Cyber Defence Competition 2014 dibagi dalam dua kategori yaitu kategori umum dan kategori pelajar. Untuk kategori umum, Juara 1 dimenangkan oleh Tim Alpha Omega dari zona wilayah 2 (Jawa dan Madura), Juara 2 dimenangkan oleh Tim Anthurium dari zona wilayah 2 (Jawa dan Madura), Juara 3 dimenangkan oleh Tim Indonesia Under Team dari zona wilayah 4 (Kalimantan dan Sulawesi).

          Sedangkan itu, untuk kategori pelajar, Juara 1 dimenangkan oleh Tim Kurawa in Disorder dari zona wilayah 2 (Jawa dan Madura), Juara Kedua dimenangkan oleh Tim Belum Punya Nama dari zona wilayah 2 (Jawa dan Madura) dan Juara 3 dimenangkan oleh Tim Mainstream dari zona wilayah 1 (Sumatera).

          Menhan dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan oleh Kasal menyampaikan selamat kepada para pemenang kompetisi, kemenangan tersebut hendaknya dapat dijadikan sebaga motivasi untuk mengembangkan, meningkatkan inovasi dan kreativitasnya di bidang Teknologi Informasi dan Telekomunikasi.

          Sedangkan kepada para peserta yang belum beruntung dalam lomba kali ini, Menhan berharap untuk jangan patah semangat, karena masih ada kesempatan lain di masa mendatang.

          Menhan juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada para peserta kompetisi atas inovasi dan kreatifitasnya, dalam bidang teknologi informasi dan telekomunikasi serta semangat dalam mengikuti National Cyber Defence Competition 2014 di Surabaya.

          Sumber : DMC

        • Kementerian Pertahanan kembali menyelenggarakan kompetisi cyber defence, yang digelar di Akademi Angkatan Laut, Surabaya. Kompetisi ini bertujuan meningkatkan kompetensi para pengawak unit cyber defence di lingkungan KementerianPertahanan, sekaligus memperluas jejaring cyberdefence di Indonesia. Kompetisi berlangsung selama dua hari dari tanggal 8 sampai dengan tanggal 9 Mei 2014, dan dibuka oleh Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro.

          Kompetisi cyber defence tahun inidiikuti peserta dari seluruh penjuru tanah air. Peserta kompetisi dibagi menjadi dua kategori kategori umum untuk yang telah berumur 18 tahun dan kategori pelajar untuk yang telah berumur 13 tahun dan maksimal berumur 18 tahun. Kompetisi ini adalah babak final yang dilaksanakan secara offline. Para peserta dalam kompetisi ini adalah mereka yang telah dinyatakan lolos babak kualifikasi yang dilakukan secara online.

          Menhan dalam sambutannya mengatakan bahwa perkembangan kemajuan teknologi informasidan komunikasi telah menyebabkan perubahan yang begitu besar pada kehidupan umat manusia. Apabila digunakan secara konstruktif, teknologi informasi dan komunikasi dapat memberi berbagai manfaat bagi umat manusia. Teknologi informasi dan komunikasi memiliki posisi sentral dalam menunjang dan memberi kemudahan kepada masyarakat dalam menjalankan segala aktivitas sehari-hari. Namun sebaliknya, teknologi informasi dan komunikasi juga memiliki implikasi negatif dan memunculkan berbagai kerawanan. Tidak dapat dihindari bahwa kemajuan teknologi informasi dan komunikasi juga digunakan untuk tujuan-tujuan yang bersifat destruktif, baik oleh individu, kelompok maupun oleh negara.

          Akhir-akhir ini, kemajuan teknologi informasi dan komunikasi telah dimanfaatkan oleh sejumlah negara untuk kepentingan perang asimetris. Bahkan berbagai kalangan meyakini, bahwa perang asimetris lebih mungkin berpeluang terjadi dibanding perang konvensional yang mengandalkan kekuatan pasukan dan persenjataan militer.

          Dampak kehancuran perang asimetris tidak kalah dibandingkan dengan perang konvensional. Perang asimetris yang menggunakan teknologi informasi dan komunikasi berdampak lebih luas karena luasnya medan perang yang mencakup berbagai aspek kehidupan bermasyarakat dan bernegara, dilantaranya bidang ideologi, politik, ekonomi, sosial budayadan keamanan. Bila tidak waspada dan bersiap untuk mengantisipasinya, tidak menutup kemungkinan suatu negara dapat dilumpuhkan dan dihancurkan dengan perang asimetris tersebut.

          Indonesia harus memiliki kesiapan mengantisipasi terjadinya perang asimetris. Karena perang asimetris dapat terjadi setiap saat. Wilayah Indonesia yang luas, berpotensi terhadap berbagai kerawanandalam perang asimetris. Oleh karenanya, kompetisi cyber defence ini memiliki nilai strategis dalam dinamika perkembangan dunia yang diwarnai dengan berbagai aksi perebutan pengaruh dan pembentukan opini dengan memanfaatkan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi.

          Implikasi kemajuan teknologi informasi dan komunikasi telah menyentuh dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, dengan semakin meningkatnya kejahatan cyberyang dimanfaatkan pihak-pihak tertentu baik secara individu, kelompok maupun negara asing untuk melemahkan NKRI.

          Sebagai warga negara yang baik, tentu tidak bisa tinggal diam melihat negara yang dicintai ini menjadi sasaran serangan cyber. Seluruh warga negara harus memiliki sense of belonging dan sense of responsibilityterhadap eksistensi NKRI. Sudah waktunya seluruh komponen bangsa bertindak menyikapi fenomena serangan cyber yang menyudutkan dan melemahkan NKRI. Merapatkan barisan dan menghimpun kekuatan, guna membentuk pertahanan dalam dunia maya untuk melindungi kedaulatan NKRI dari segala ancaman dan serangan cyber.

          Kompetisi ini tidak hanya mencari pemenang dan juara saja, namun memiliki nilai yang jauh lebih tinggi, yakni sebagai media untuk menyalurkan kreatifitas, sekaligus untuk mengembangkan pengetahuan dan keahlian dalam bidang teknologi informasi dan komunikasi.

          Kompetisi ini diharapkan dapat dijadikan momentum penting dalam membangun jejaring pertahanan cyber sekaligus membina keahlian pertahanan cyber potensi anak bangsa yang terjun dalam bidang teknologi informasi dan komunikasi dari Sabang sampai Merauke. Melihat dari banyaknya jumlah peserta pada babak online, bobot kreatifitas dan inovasinya, dapat disimpulkan bahwa Indonesia memiliki SDM yang unggul, baik secara kuantitas maupun kualitas.

          Dengan melihat SDM yang ada, Indonesia dapat membentuk pasukan cyber yang mampu mengantisipasi terjadinya perang asimetris. Dengan semangat rasa cinta tanah air dari komunitas teknologi informasi dan komunikasi, maka kedaulatan NKRI dapat dipertahankan dari serangan cyber.

          Menhan menambahkan bahwa dengan kualitas SDM yang kita miliki saat ini, ke depan Indonesia akan mampu membentuk pasukan cyber yang kuat seperti yang dimiliki negara maju lain.

          Sumber : DMC

  8. Iki sing tak tunggu2……..salam semua

  9. kalo masalah saiber, biasanya “tukang Warnet” ikut rombongan 🙂

  10. absen dulu ahh…. sepuluh bsr kah.

  11. Mgapa pakai undang dubes finlandia, australia yg negaranya slalu buat masalah dng R.I, dubes ceko yg aparat keamanannya menangkap diplomat kita saat sembahyang di mesjid ? Apa ga takut personil cyber defence malah direkrut ma agen asing untuk merusk sistem cyber defence kita sendiri.

  12. Absen SR

  13. Mohon Ijin nyimak…………

 Leave a Reply