Feb 252018
 

Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, S.I.P mengatakan bahwa mahasiswa dan alumni Akademisi UM Malang merupakan sumber daya manusia yang potensial untuk bergabung dalam dunia industry, khususnya pertahanan.

Malang, Jakartagreater.com – TNI memiliki kepentingan terhadap perkembangan industri pertahanan dalam negeri, sebagai wujud kemandirian dalam mendukung dan memenuhi kebutuhan Alat Utama dan Sistem Senjata (Alutsista) TNI.

Hal ini disampaikan Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, S.I.P., di hadapan 4.000 Mahasiswa dan Akademisi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada acara Peringatan Wisuda Sarjana ke-87 Periode I Tahun 2018, pada Sabtu 24 Februari 2018 di Room UMM Jl. Trogomas No 246, Malang, Jawa Timur.

Menurut Panglima TNI, salah satu pihak yang tertera dalam perkembangan pertahanan dalam negeri adalah para wisudawan dan segenap Akademisi UMM Malang, yang mungkin suatu saat nanti akan berkecimpung dalam bidang pertahanan. “Akademisi adalah sumber daya intelektual yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, yang dapat diterapkan dalam industri pertahanan,” katanya.

Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto juga mengatakan bahwa dalam pengembangan kemandirian industri pertahanan dalam negeri, merupakan upaya nyata dalam membangun kemampuan intern atau daya tangkal dalam rangka mencegah berbagai ancaman yang berpotensi mengganggu keamanan dan kedaulatan NKRI.

Lebih lanjut Panglima TNI menyampaikan bahwa penelitian dan pengembangan tersebut agar dilakukan tepat sasaran dan sesuai dengan kebutuhan Alutsista TNI, sehingga mendapatkan produk yang benar-benar diperlukan. “Untuk itu, sinergitas antara unsur penelitan pengembangan dengan lainnya seperti civitas akademika, LIPI, BUMN dan pihak swasta harus ditingkatkan,” harapnya.

Dihadapan ratusan Mahasiswa dan Akademisi Universitas Muhammadiyah Malang, Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, S.I.P mengatakan bahwa mahasiswa dan alumni merupakan sumber daya manusia yang potensial untuk bergabung dalam dunia industry, khususnya pertahanan.

“Perguruan Tinggi dengan segenap Civitas Akademika sering menjadi sumber gagasan dan inspirasi serta menjadi laporan laboratorium ilmu pengetahuan dan teknologi, pemikiran-pemikiran segar dari para mahasiswa dan dosen di aktualisasikan dalam penelitian yang berkualitas dan menghasilkan karya-karya inovatif,” kata Panglima TNI menutup orasinya.

Sebelum menyampaikan orasi ilmiahnya, Marsekal TNI Hadi Tjahjanto dikukuhkan sebagai warga kehormatan Universitas Muhammadiyah Malang.

Pengukuhan warga kehormatan itu ditandai dengan penyematan Jas Almamater Univ. Muhammadiyah Malang oleh Rektor Universitas Muhammadiyah Malang Drs. H. Fauzan M.Pd didampingi oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Prof. Dr. Muhadjir Efendi M.AP. dan Prog. H. A. Malik Fajar M.Sc. (Puspen TNI).

Bagikan:

  37 Responses to “Industri Pertahanan Dalam Negeri Dukung Alutsista TNI”

  1.  

    Kalau Industri Pertahanan Dalam Negeri Sdh Mandiri Secara Nasional Maka Rusia & US Tidak Di Butuhkan Lagi, Karena Kemandirian Nasional Sesuai Dg Kebijakan Politik Luar Negeri Kita Bebas Aktif / Non-Blok

    •  

      Mandirii? Mimpi kalleeee

      Hahhaahaaaa

    •  

      Sepertinya mustahil bung ariev, kita yg sudah swasembada beras aja masih tetap mengimpor beras, mandiri dalam hal alutsista belum tentu bisa swasembada bung, terlebih ada banyak faktor yg mempengaruhinya…

      •  

        maksud bung ariv itu mandiri(mandi sendiri)sapa tau pertumbuhan ekonomi kita sampai dua digit bukan mustahil kita berjaya diserantau nii…cina aja bisa mosok. kita dak bisa sih…?!?!?
        yang pertama dibenahi sistem hukum dan mentalitas aparatur negara…baru genjot ekomoni…biji mana mau maju laa yang buat maju malah bikin mundur…coba kalo semu kerja propisional dan taat hukum dijamin moncer…laju melesat lebih dari mach machan…!!!

        •  

          cara yg efisien adalah pangkas 1 generasi penuh, jangan biarkan mereka memegang kendali baik di pemerintahan maupun di parlemen 😀 mungkin gak ya?

          sebab selama masih generasi oplosan, maka generasi baru juga akan terkena imbasnya… makin lama ya makin keracunan oleh tingkah generasi tua itu generasi barunya meski mereka pada awalnya bersih…

          ibarat mencuci, klo dibilas dengan air kotor ya tetep aja jadi kotor lagi tuh cuciannya…

          •  

            pandangan anda menyempit bung…DPR itu prodak dari masarakat
            ..bisa dilihat masarakat indonesia dari perwakilanya…seandainya
            banyaknya orang baik dan jujur diindonesia tentu juga akan banyak yang baik dan jujur perwakilanya…setidaknya tidak akan kalah suara dari orang yang tak baik…!!!
            mental korup meraja lela di masarakat…mosok kita menuntut wakil yang jujur…yang ada kita bersuarakarna tidak kebagian
            saja….!!!

          •  

            berarti jika demikian ya gak perlu dikomentari apa yg sudah dan sedang terjadi dilapangan 😀 silahkan diterima apa adanya… tunggu periode berikutnya datang 😀 syukur berubah, klo blm berubah tunggu 5 thn lagi, begitu seterusnya bung 😀 yg semangat ya.

            lagian saya gak menuntut yg jujur, saya mau mereka diganti semua 😛

          •  

            engak gitu juga bung…kritik itu juga ibadah loo…kalo kita punya kemampuan bertidak mencegah kejahatan itumalah lebih mulia ketimbang hanya kritik atau doa semata…maksud saya kita harus memahami akar dari masalahnya…getu bung lingkar….!!!

          •  

            Kalo mau dibersihkan satu generasi ya bukan dilengserkan tapi dihabisi, sedih sih tapi terpaksa kecuali kita siap menghadapi kemungkinan yg terburuk seperti perang saudara suatu saat.

      •  

        Itu bukan produksi beras kita yg kurang tapi kita makannnya yg kelewatan. Filipina yg terkenal porsinya gede aja konsumsi beras perkapita aja dibawah kita yg bisa lebih dari 139kg/tahun/orang, dan Indonesia pengkonsumsi beras terbesar di dunia, itu datanya tahun 2013, lah gimana kalo sekarang. Segitu juga Masih ada KLB kurang gizi kemarin, Ampe Presidennya kena kartu kuning.

        Yg bikin lebih tuh karena suka ngadain acara, makanannya pake nasi lagi, sisa lagi, dibuang lagi. Segala acara pake bikin masakan pake nasi. Napa gak ganti lain sih, ganti kek Nasi pake Thiwul, Kentang, Papeda, apa Ketela rebus/goreng gitu. Kalo dah gitu kan gak perlu impor lagi, pemerintah malah mau bikin sawah jutaan hektar di Papua. Napa gak buka lahan jutaan hektar buat sagu aja, biar didistribusikan ke seluruh Indonesia aja buat gantiin padi. Kan kelar, impor berkurang, pertumbuhan ekonomi masyarakat di Papua meningkat. Itu butuh kemauan pemerintah, gak sekedar buka lahan aja buat popularitas apalagi menjelang Pilpres tahun depan.

          •  

            udah dibilang salah kelola.
            ..masarakat bawah kan ikut aja…dulu pangan daerah dikonfersi pemerintah dari banyak bahan pangan pokok keberas
            sekarang kewalahan…itu seharusnya jadi pelajaran pengambil kebijakan agar tidak membuat keputusan instan dan tanpa pikir kedepan…!!!!

          •  

            Nah kalo itu wajib di kartu merah Jokowinya.

          •  

            kebijakan baru terasa bila ada masalahnya bung…maka terlihat lama didepan…jarang ada kebijakan yang mempunyai dampak seketika…konfersi beras era 80an…baru terlihat masalah kebijakan tersebut…maka dari itu pengambil kebijakan itu harus berpikir jauh kedepan…!!!

          •  

            Bukan hanya berpikir jauh kedepan tapi juga berkaca kebelakang.

          •  

            Berita detik.com itu berlebihan, dari dulu nasi itu mengandung karbohidrat, anak SD pun tahu. Masalahnya orang sekarang makan nasi berlebihan porsinya, terus di tunjang pekerjaan yg banyak duduk di meja dan komputer plus makan malam2. Karbohidrat kalau tidak di bakar, ya jadi gula, gula kalau berlebihan beban buat Pankreas. Makanya orang jaman dulu, habis makan secukupnya ya beraktifitas, baru terasa lapar, makan. Makan malam pun selepas Magrib, setelah itu ndak makan, tidur Istirahat dan bangun subuh. Pola hidup manusia zaman now saja yang salah, bukan nasinya yang salah, karena Allah menciptakan semua kebutuhan hidup manusia sesuai takarannya, jangan berlebihan, 1/3 untuk makanan, 1/3 untuk minuman dan 1/3 untuk bernafas…..begicuuu.

        •  

          Klo itu masuk akal bung, tp sepertinya emng skrg sebagian besar makanan pokok org Indonesia sudah beralih ke beras/nasi, utk makanan pokok lain spti jagung, sagu sudah jauh berkurang…

          Dan emng betul kandungan gula pd beras itu cukup tinggi.

          •  

            Makanya ayo galakkan lagi makan Thiwul, gak perlu gengsi buat makan Thiwul.

            Ntar kita bisa join sama Mbah Hari aka Mbah Mien buat jadi supplier Thiwul ke seluruh Indonesia. Thiwul Made in Southern Mountain aka Gunung Kidul. Sehat, bergizi lagi. Btw Mbah Mien kemana ya kok seminggu ini jarang nongol.

          •  

            wah… itu makanan lezat lho bung…

        •  

          Perlu berapa tahun bung untuk bs pohon sagu dipanen patinya? Bs belasan bahkan puluhan tahun. Tanaman holtikultura selain beras masih lbh masuk akal dibuat lahan baru sampe jutaan hektar.

          •  

            klu bisa terwujud dan ada hasilnya kan lebih bagus ya klu boleh bukan sagu sj, klu sy suka makan tiwul, tp nggak semua anakmau, anak jaman now mana kenal itu tiwul.

          •  

            dikira agato sagu itu bisa di panen dlm waktu 3 bln x.

          •  

            Butuh 5-6 tahun baru bisa dipanen kembali berkali-kali sampai pohon sagu berumur 25 tahun. Sagu lebih bisa digunakan selain bahan pokok juga bisa digunakan sebagai bahan campuran bioetanol.

            http://budidayanews.blogspot.co.id/2011/06/budidaya-tanaman-sagu.html?m=1

          •  

            Terlalu bergantung pada padi takkan baik bila suatu saat padi terkena penyakit yg bisa mewabah .

          •  

            Bung Zain, yang kita bicarakan itu jutaan lahan yg mau dibuka di Papua untuk lahan pertanian padi, padahal sebagian (besar) area dataran rendah di Papua itu rawa-rawa dan masyarakat disana termasuk sebagian besar warga Indonesia Timur biasa makan dari olahan Sagu. Masak iya tanah bekas rawa mau dipake buat tanam Padi??? Ente pernah ke Papua belum???

          •  

            itu untuk kebijakan jangka panjangnya, masyarakat irian jaya( papua) sekarang sdh banyak makan nasi.

          •  

            Gak ada lagi Irian jaya, adanya Papua. Irian jaya itu singkatan dari Ikut RI Anti Neo Kolonialisme Jaya. Kata itu dipake Bung Karno selain untuk menghilangkan penyebutan West Papua juga dulu jaman Trikora untuk menghilangkan pengaruh Belanda. Kenyataannya sudah peperangan dan otonomi khusus disana maka namanya dikembalikan lagi ke asal.

            Sudah banyak makan nasi itu prosentasenya berapa, berapa luas total lawan sawah disana, perbandingannya berapa persen terhadap total luas lahan pangan disana??? Daripada harus mendatangkan beras ke Papua dari pulau lain karena Padi tidak bisa dikembangkan secara besar-besaran di Papua lebih baik dikembalikan lagi ke asalnya. Kebijakan salah Kapal itu sudah ada sejak zaman Orba. Itu kesalahan fatal karena tidak melihat Sosio Demografis disana, menyebabkan inflasi disana ikut melambung di Papua. Anda gak memikirkan sampai segitunya ya. Kalo mau, jumlah lahan sagu disana sudah lebih dari cukup untuk warga disana, orang2 Papua disuruh makan nasi malah membuat lahan sagu jadi kurang diperhatikan. Makanya tanaman pangan kita harus dibuat beragam agar memudahkan pemilihan dan kita tidak terlalu bergantung pada beras, otomatis beras akan kembali benar2 mencukupi untuk rakyat Indonesia seperti tahun 1984 saat Indonesia diberikan gelar oleh FAO. Tahun segitu pilihan makanan pokok masih beragam mulai dari beras, jagung, ketela hingga sagu. Setelah tahun itu baru kesalahan terjadi karena Pemerintah mau menyuruh warganya makan nasi semua padahal sebelumnya udah biasa makan makanan pokok selain nasi.

          •  

            IPB telah berhasil membuat jagung menjadi beras jagung sebagai pengganti beras padi cuma butuh proses pengolahan, kan jagung tanaman yg mudah perawatan dan butuh sedikit air cocok ditanam dilahan kering.klu sagu harus ditebang pohonnya bung Agato gak bs berkali2 panen dlm 1pohon, sementara manusia semakin banyak maka tanaman holtiluktura unggul yg bs cepat panen untuk mencukupi kebutuhan manusia tsb.

          •  

            agato anda klu mau? ketik sj istilah nama irian jaya. ada banyak sumber pengetahuan di situ, baca semuanya biar tdk salah dlm mengartikannya.

        •  

          mohon maaf om, masalah beras ya hahahaha….. gimana gak impor kalau sawah sdh jadi hunian, orang yg makan makin banyak, hasil sawah tidak terserap bulog…. itu realita……. lahan sawah berkurang, ditambah musim tanam yg amburadul kena cuaca extreem…. itu logis kok

    •  

      Klu mau lbh mandiri harus bs menguasai ilmu metalurgi agar semua gak harus import, klu mau buat alat tapi bahan baku harus import terus diembargo ya sama jg bohong!

    •  

      harapan saya, fokus kemandirian harus pasti… misal fokus ke tekhnologi rudal, ya belajar buat secanggih mungkin rudal saja, jangan ke lain dulu karena memang kekurangan yg kita miliki..

      jd membayangkan, tiap sudut negeri tercover HANUD made in sendiri sekelas s400…

  2.  

    iya Pak … Setuju

    Mohon pesawat TNI AU pensiun termasuk engine, avionik, radar dll, bisa di hibahkan buat SMK, Akademi, Perguruan Tinggi.
    Dari AD hibahkan radar darat, rudal bekas, tank + panser dll.
    Dari AL, sy bingung … kapal + kasel bekas bgimana bawa nya ya ?

  3.  

    kalau begitu saya dukung sebab dari dulu2 ilmu2 dan karya dari anak kurang direspon. tapi ada baiknya yang dulu juga dilirik lagi seperti MLRS Pindad, rudal petir, mesin jet kecil, rudal Balitbang, seeker lokal, baterai lokal, dll

 Leave a Reply