May 062014
 

Personel TNI Angkatan Darat menerbangkan multirotor saat peluncuran dan uji coba hasil riset dan rancang bangun di kawasan Ancol, Jakarta, Selasa (29/4)

KOMPAS.com – BERAGAM produk teknologi maju dikembangkan TNI Angkatan Darat sejak dua tahun terakhir. Kapal komando cepat, wahana terbang tanpa awak beraneka bentuk yang dijadikan ”mata” bagi pasukan di darat, wahana sejenis helikopter dengan rotor vertikal dan horizontal, gyrocopter, radio komunikasi, satelit mini, hingga senapan latih dengan sinar laser dikembangkan Badan Litbang TNI AD bersama mitra kampus dan kelompok hobi, seperti komunitas aeromodelling.

Dalam pameran di Pantai Ancol, Jakarta, pekan lalu, pelbagai produk riset tersebut dipamerkan dan diperagakan kegunaannya. Pada salah satu meja terdapat sejumlah senapan varian SS-1 dan beragam jenisnya buatan PT Pindad Bandung (mengadopsi FNC Herstal-Belgia), yang dikonversi dengan baterai dan laser sebagai sarana latihan. Sebuah target dipasang dalam jarak 25 meter dan komputer serta perangkat perekam mendata setiap tembakan yang dilakukan.

”Untuk entakannya memang belum sekeras entakan asli senapan yang menggunakan amunisi hidup. Kami sedang siapkan versi yang lebih sempurna dengan entakan seperti senapan asli,” kata teknisi swasta penjaga stan tersebut. Secara fisik, bobot senapan tersebut memang sama dengan senapan asli karena dibuat dengan basis senapan SS-1 yang dimodifikasi.

Stan lain didominasi wahana terbang tanpa awak, mulai dari UAV buatan Balitbang TNI AD dengan Kampus Surya yang bisa dilengkapi dengan tangki cadangan untuk menambah jarak jelajah. Pesawat UAV buatan bersama Kampus Surya dan Balitbang TNI AD tersebut diklaim bisa terbang selama 8 jam dengan tangki tambahan dan bobot beban yang diangkut saat terbang mencapai 25 kilogram. Ketinggian jelajahnya 5 kilometer dan jangkauan jelajah 350 kilometer sehingga bisa menjadi ”mata” bagi pasukan infanteri di darat yang sedang bergerak di daerah operasi.

Ketika pameran statis berlangsung, sebuah wahana terbang multirotor melayang-layang dan sebuah UAV pada saat bersamaan terbang dan menampilkan gambar yang didapat kamera pengintai yang terpasang, lalu ditayangkan di dalam tenda pameran. Selebihnya, sejumlah kapal motor cepat, rigid inflatable boat, dengan pelapis anti peluru dan hovercraft berada di dermaga dekat tenda pameran.

Tidak lama kemudian, Fahmi, operator UAV berbahan rangka (mainframe) sejenis styrofoam dengan power plant motor listrik, menyiapkan wahana terbang tersebut untuk demonstrasi lebih lanjut.

”Saya berasal dari komunitas aeromodelling di Cibubur yang diajak bekerja sama dengan TNI. Senang sekali kemampuan kami bisa digunakan melayani negara dan masyarakat,” ujar dia.

Fahmi mengakui, tenaga baterai untuk motor listrik bisa dimodifikasi dengan memasang panel surya (solar cell) sehingga saat terbang sumber listrik terus dipasok dan pesawat tersebut bisa terbang berjam-jam.

Pengunjung juga menyaksikan wahana terbang tanpa awak yang diberi nama Flappy Bird, yang terbang mengepakkan sayap dan dilengkapi kamera. Siluet Flappy Bird di kejauhan terlihat persis seperti burung yang terbang sehingga diharapkan dapat digunakan menyusup ke daerah sasaran dengan baik. Sementara gyrocopter yang dipamerkan tidak melakukan penerbangan, tetapi hanya melakukan ground run, digerakkan di permukaan dengan menjalankan rotor vertikal.

Direktur Dinas Topografi TNI AD Brigadir Jenderal (TNI) Dedi Hadria, yang ditemui di sela-sela uji coba itu, mengatakan, pihaknya telah memproduksi wahana terbang multirotor dan sistem GPS Tracking yang dapat digunakan untuk mengarahkan pergerakan pasukan. Peta yang diambil dengan UAV buatan dalam negeri itu dipakai untuk memperbarui peta topografi hingga skala 1:2.000. Hasil pemetaan tersebut tidak saja digunakan oleh militer, tetapi juga bisa dipakai untuk survei swasta hingga rencana pembangunan pemerintah.

”Kami sudah gunakan untuk tanggap bencana juga di Gunung Sinabung dan Gunung Kelud. Kini, para operator wahana tanpa awak disiapkan di batalyon-batalyon. Kami akan melatih Kostrad,” kata Dedi.

Kepala Staf TNI AD Jenderal TNI Budiman menegaskan, proyek-proyek tersebut sudah dianggarkan untuk dilanjutkan pada tahun 2015. Proyek modernisasi TNI itu tidak akan terhenti karena adanya pergantian kepemimpinan dan sudah masuk dalam perencanaan modernisasi TNI AD hingga tahun 2019. (Iwan Santosa/KOMPAS.com)

  28 Responses to “Infanteri Modern: Dari Burung hingga Laser”

  1. pertamaxx yess bangga dengan TNI majuu terus… thx bung GUE

  2. nambero loro

  3. artikel bagus, Maju terus lanjutkan inovasimu gandeng perguruan tinggi kalau perlu swasta jangan lupa publishka biar rakyat mendukungmu salam trim

  4. Pelan tapi pasti kebngkitan militer Ri mulai Dari produk DLM negeri
    BravoTni

  5. kalau soal ide,kmampuan dan kreatifitas…sy yakin kita ga kalah ma negara laen yg lbh maju…tp masalah yg sudah2,biasanya cm mandek prototype aj…

  6. ketigax…

    • yang paling penting adalah dana untuk riset yang memadai karena alutsista produk dalam negeri yang mumpuni akan membuat negara lebih terlindungi..

  7. tinggal menanti sikap kemenhan dan kemenristek..

  8. 10 besar

  9. jarak ribuan kilometer dimulai dengan langkah pertama..
    mantabz.

  10. Mantap… Semoga jadi

  11. apresiasi untuk para ilmuan dan peneliti…sinergi yg membanggakan antara sipil-militer.

  12. Mantap lahh.. Semoga makin jay TNI

  13. sementara ini, tentara luar hanya unggul dari segi teknologi,skill individu sih jauh dibawah kita… namun sebentar lagi, TNI akan bangkit menjadi tentara nomer wahid se jagat raya, skill tentara kita yang Outstanding akan di imbangi dengan teknologi yang mumpuni.. maka hilanglah satu2 nya keunggulan tentara negara lain tersebut.. encypted radio, UAV mini untuk mata prajurit di langit, atau pun wulung UAV yg berkemampuan FLIR dan thermal imaging sebagai mata dilangit untuk peperangan malam hari… data link real time antara ground forces sebagai eksekutor dengan command center sebagai peracik strategi.. akan membuat gerakan tentara kita makin terkoordinasi, terukur, lebih efektif dan mematikan… IMHO
    CMIIW ya bung gue…

  14. Maaf OOT. Para sesepuh warjag kok jarang nongol ya skrg ? Mereka kemana semua ? Cuma bung jalo aja yg aktif hmm

    • Betul bung Sadega. Saya juga sudah lama menanti komentar2 mereka, skrg hanya aktif bung @Jalo saja dan kadan bung @PS. Kemanakah gerangan bung @Satrio, bung Nowy? Apakah mereka sedang mempersiapkan artikel baru yang wowwwww gitu?

    • Bukan u/ mempersiapkan artikel baru..tetpi ada hal lain yang menyebabkan beliau2 tidak muncul, ttpi beliau semua masih tetap aktif lihatin JKGR, berganti silent reader mode on.

  15. uav nya boleh juga tuh di kembangin biar bisa bawa r han.

  16. Saya acungi jempol..!! Ini semua membuktikan bahwa indonesia bukan bangsa yg hanya bisa membeli teknologi tinggi tapi juga bisa membuatnya. Era kebangkitan bangsa ini telah di mulai & menampakan hasilnya.INDONESIA telah bangun dari tidur yg panjang, sekarang sedang bersiap-siap bekerja untuk menghasilkan sesuatu yg baik & maximal demi kemajuan bangsa ini serta mengejar mimpi” nya yg didapat selama tidurnya itu..”semua berawal dari mimpi” semoga tdk berakhir dg mimpi juga. Jayalah INDONESIAKU..

  17. menunggu update foto2 dari bung Jalo 🙂

  18. mudah2an tidak berhenti hanya sampai pd protoype

  19. Raksasa yg mulai terjaga..

  20. Lanjutkan….

 Leave a Reply