Sep 172014
 

Presiden dan Wakil Presiden terpilih Joko Widodo dan Jusuf Kalla memberikan keterangan pada wartawan terkait porsi kabinetnya, di Rumah Transisi Jokowi-JK, Jakarta, Senin (15/9/2014). Rencananya Kabinet Jokowi-JK akan diperkuat 34 kementerian yang terdiri dari 18 orang profesional dan 16 orang dari partai politik.

JAKARTA, KOMPAS.com — Pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla akan memecah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menjadi dua kementerian terpisah. Pertama, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah dan kedua, Kementerian Pendidikan Tinggi dan Riset Teknologi.

Jokowi mengatakan, ada alasan yang mendasari mengapa ia menginginkan ada kementerian khusus yang fokus membawahi pendidikan tinggi dan riset. Apa alasannya?

“Baru kemarin saya umumkan jumlah kabinet, tapi yang berhubungan dengan Bapak, Ibu, ada Kementerian Pendidikan Tinggi dan Ristek dijadikan satu kementerian. Kenapa? Karena kita ingin ke depan, riset baik yang berhubungan dengan teknologi, riset sosial, pertanian, kemaritiman, itu betul-betul bisa diaplikasikan dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, petani, nelayan, dan usaha mikro,” kata Jokowi di depan sekitar seratus orang peneliti dalam sebuah seminar yang diselenggarakan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di Gedung LIPI, Jakarta, Selasa (16/9/2014) sore.

Jokowi mengatakan, selama ini, riset belum benar-benar dimanfaatkan secara maksimal. Kegiatan riset dilakukan sendiri-sendiri oleh setiap lembaga dan kementerian sehingga tidak satu padu.

“Pertanian, BPPT, Batan, Lapan, di semua kementerian ada semuanya, fokus mau ke mana ini? Jadi tidak jelas. Keluarannya apa, dipakai untuk apa, siapa yang memanfaatkan ini, tidak ditindaklanjuti dengan baik,” ujar Jokowi.

Jokowi berharap Kementerian Pendidikan Tinggi dan Riset ini dapat menjadi pusat bagi riset nasional. Dengan demikian, riset akan mendatangkan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat.

“Secara riil, riset dilihat masyarakat sebagai suatu kegiatan yang bermanfaat. Kita ingin ada tahapan dalam riset baik yang basic, apply maupun innovation yang bisa betul-betul bermanfaat,” ujarnya.

 

Sumber : kompas.com

 Posted by on September 17, 2014

  92 Responses to “Ini Alasan Jokowi Bentuk Kementerian Pendidikan Tinggi dan Riset Teknologi”

  1. hadir absen

    • kurikulum 2013 aja buku blum sampe sekolahan…..ini dah mau oprek lagi……….pak, jangan grusa grusu…dikaji dulu…..tambah kementrian kan ongkosnya mahal………riset kan dah ada menristeknya……mending bikin menkonya aja klow ada yang kurang mending dibenain dulu………

      • sambel itulah salah satu untuk memanfaatkan apbn yg ada….goreng2…yg jelas anggarannya gede…makanya salah satu alasan ri one mau dijual karena ga ada yg akan di goreng2…ya kita lihat saja pemimpin rakyat ini nanti…klo di lihat track record wakil dan pembantunya yg akan di umumkan…yaa…lihat saja

      • Masyarakat banyak tidak setuju 100%:
        Kemenag RI (Depag RI) infonya juga akan dihapus, ini telah menimbulkan keresahan dikalangan sekolah (MTs/MA) dan Pondok Pesantren di bawah naungan Kemenag RI.

        • udah dibantah bung, sekedar ganti nama juga tidak…

          (walaupun lembaga ini memang ther-lha-lu, pengadaan quran-pun dikorupsi)

          • ya gak sama dengan kementerian lain bung McD Bagong, ustad, guru ngaji, kyai diberi penghormatan khusus oleh masyarakat.

            tapi sekali mereka berbuat tak senonoh, penilaian masyarakat akan lebih keras ketimbang terhadap preman yang melakukan hal yang sama…

        • Sebaiknya Jokowi-JK mengkaji scr mendalam struktur departemennya terutama pendidikan dan keagamaan, sebab kemungkinan efek dominonya ke masy bawah akan sangat tak terkirakan. .

        • Dihapus tidak cuma wacananya dibatasi hanya mengurusi ibadah haji bung McD. Cmiiw

          • di kemenag ri, kalo tak salah sebelum ini ngurusi:
            1. sekolah : RA/MI/MTs/MA ( TK/SD/SMP/SMA)
            2. ponpes
            3. haji
            4. waqaf-zakat
            5. yg lain ane lupa;
            utk poin 1 dan 2 ini bisa diduga kemana akan mengarah, justru itulah jd titik fokus protes di bawah, kita lihat saja reaksinya setelah itu diwujudkan, bung.

  2. asik

    • kenapa orang kasih masukan sama JKW kok terus di bila anak buah wowo..trus ngomel ngomel………….masih ada siktar 3o juta yang gak milih JKW atau wowo……..klow komen…..itu mboik ya dipikir dari kepala sampai kaki……biar kita nambah maju dan pinter…………..klow tiap hari kerjanya ngomelin orang……….kita kapan pinternya………

  3. papat

  4. itu baru betul mas joko..
    jangan lupa kasih dana riset yg banyak…
    ajak balik tu para prof yg riset diluar negri…

    • setuju Bung Aza. bila memungkinkan permudah pengajuan hak paten.

      • Kalo perlu disubsidi biaya proses hak patennya. Investasi asing aja diberi kemudahan pengurusan ijin, tax holiday dll, masa ini kerjanyata ilmuwan dalam negeri gak disupport???

      • Kalau mau dibikin mudah dalam mengurus hak paten itu sebenarnya juga bisa mudah.
        Harusnya para peneliti tidak usah dibebani dengan tetekbengek mengurus hak paten, tapi di kementerian tsb harusnya sdh ada bagian yg ngurusi hak paten.
        Secara otomatis, setiap penemuan di kemristek yg bisa dipatenkan, langsung saja diberi surat keputusan hak paten. begitu saja dibikin repot.
        Maaf hanya pendapat oot pedagang ayam dipasar.

  5. semangat pagi

  6. mantab..

  7. Kementerian pendidikan tinggi dan riset tehnologi.jadi lulusan universitas langsung bisa diserap yah bung jalo? Kedengarannya bisa menyerap pengangguran ni

    • Ini riset bukan untuk coba-coba bung dikarenakan faktor dana riset minim, yg jelas akan diisi oleh orang-orang profesional ( berpengalaman ) bukan fresh graduated, klo yg fresh” itu paling magang, asisten, olah data

      • Bung musik_mulaiasik@ bisa dibikin pencerahan ngga plan presiden terpilih memecah kementerian pendidikan dan kebudayaan dipecah menjadi dua;
        1-kementerian pendidikan dasar dan menengah
        2-kementerian pendidikan tinggi dan riset tehnologi
        Yang saya maksud kementerian pendidikan tinggi( dan riset tehnologi) mengambil SDM dari lulusan pendidikan tinggi.kalau tenaga profesional riset yg meneliti diambil dari ahli yg sdh jadi spt yg anda maksud berarti kementerian ga dipecah lagi dong namanya.SALAM

        • Benar bung jalo@ artinya lulusan graduated ada instalasi yg nampung dg patner dgn ahli yg profesional biar dua2nya bisa lagi berkembang.seandainya program ini terlearisi dan kontinyu ini adalah khabar gembira buat bakat bakat muda untuk mengembangkan karier.SALAM

      • Mungkin lebih kepada mensinkronisasi para peneliti profesional dengan perguruan tinggi biar hasilnya maksimal. Selama ini semua jalan sendiri2, lembaga penelitian sendiri, universitas atau PT jalan sendiri. Mudah-mudahan bisa bermanfaat ya, ini adalah ide ilmuwan asal Indonesia yg terkenal di dunia. Beliau cuman saran demikian dan saran beliau diterima dan ini masih dikaji lagi.

        Yg penting semoga bermanfaat, 🙂

        • kita liat nanti kabinet koalisi tanpa syarat nya.semoga profesional partai bukan sbg kedok.

        • @Bung jalo,, kalo digabung begini apa ga fokus jadinya nanti kerja menterinya? Kalo digabung jatahnya brp banding brp antara pendidikan dan risteknya yah bung?

        • bung jalo tlg di ulas donk sepertinya hubungan pemeritah baru sama tiongkok makin mesra ?

          • Ada bukti gak bung?? Kalau asumsi maupun isu sih banyak bung, saya belum mau menanggapi sampai terjadi pergantian kepemimpinan. Karena saya belum lihat apa yg dikerjakan. Yg saya tahu, beliau pegang konsep Trisakti dan inilah yg membuat saya tertarik.

        • Apakah peneliti yg di luar negeri juga akan dipanggil pulang bung Jalo? Untuk membantu penguasaan teknologi di dalam negeri. Biar pelan-pelan asal jalan dulu. Saya baru tahu ternyata orang kasih TOT itu pelit banget 🙁

  8. Mungin mau dibuat seperti penggabungan kekuatan trimatra angkatan bersenjata, ada darat, laut dan udara. Panglimanya seorang menteri.

  9. Mantap,segera saja pak jokowi untuk direalisasikan.

  10. semoga segera terlaksana

  11. Kalo untuk kemajuan bangsa saya dukung, jangan terlantarkan hasil keringat bangsa sendiri. Walaupun jelek tapi milik sendiri lebih baik daripada bagus milik orang. Semua negara yang mengejar teknologi pasti jelek dulu lihat korea. Sekarang samsung udah bisa menguasai pangsa pasar elektronik dunia. Cina juga. Banggalah dengan apa yang kita punya

  12. Lumayan 20% anggaran APBN di dalamnya ada anggaran riset. 20%x2000 trilyun=400 trilyun. Wow…

    Cerdas. Setuju sekali.

    • ada sangat sedikit orang yang berfikir seperti anda
      yang benar2 paham tujuan RI1
      20% dibagi 2 sekitar 10%
      10% dari 1800 trilyun = banyak

      masih banyak yang terperangkap dengan egonya sehingga buta melihat cahaya didepan matanya sendiri

  13. yang penting istiqomqh qjq pqk. Antara pernyataan dan pelaksanaan harus sejalan. Jangan membandingkan dengan sesuatu yang tdk relevan misalnya perbandingan jumlah penduduk dengan jumlah menteri. Dan yang dibandingkan adalah negara dengan jumlah penduduk sedikit ( malaysia ), kenapa gak Cina atau AS aja. Jadi apapun tindakan bapak, bapak harus yakin gak usah pakai alasan macam2. untuk pembenaran sesuatu yang mungkin tidak sejalan dengan pernyataan sebelumnya. Selamat bekerja pak

  14. kita tunggu gebrakan 5thn ke depan buat presiden terpilih, biza ora direalisasikan??????

    • ngapain nunggu-nunggu, mending kita langsung kerja gak usah nunggu-nunggu lagi bung. yang karyawan kerja sebaik-baiknya, jangan korupsi waktu, yang pejabat kerjakan tugasmu, jangan mimpi dapet fasilitas dulu. yang petani-nelayan terus tingkatkan produktivitas.

      sambil kerja kita awasi kinerja pemerintah sekaligus soroti DPR apakah mereka akan macem-macem dengan program yang diajukan….kalo ada kegiatan transaksional antara pemerintah dan dpr…mari demo ramai-ramai….

  15. Ok pak,mudah2an lancar,fasilitasi para peneliti kita,tampung segala aspirasi dan keinginannya,terus jangan cuman mentok di prototipe,beli dong hasil penelitiannya….hargai hasilnya,ntar para peneliti kita gak kabur lagi ke luar negeri seperti yg sudah2…..

  16. Sendiko dawuuh..!!
    kawulo namung nderek kemawon..

    • akan lebih baik lagi jika kita gak cuma sekedar mengekor bung. jadikan diri kita masing-masing pemimpin di bidangnya, pemimpin di lingkungannya untuk membawa sekitar kita juga maju tanpa harus menunggu jkw-jk membuat program-programnya.

      apalagi pasti mereka gak akan mulus menjalankan amanat rakyat karena dijegal kiri-kanan di DPR…

  17. dengan pengembangan dan penggunaan hasil riset yg disegala bidang, tu akan memperkuat ketahanan negara ini, semoga terlaksana, niat baik pasti akan menghasilkan hasil yg baik juga.. amen

  18. Katanya koalisiTANPA SYARAT, eh ngga tahunya jatah menteri dari Parpol sampai 16 kementrian! Sekarang pakai kata “professional partai ” aja biar lebih beda dari Pak…Pengen tahu definisi professional partai spt apa menurut Jusuf Kalla dan Megawatti

  19. Tunjukin yg tbaik aja om jokowi…jgn pk prinsip marketing..manis didepan, projek goal, selanjutnya terserah..

    Inikan yg jokowi utamakan. Mentri jago marketing. Cari orang dr MLM aja pak..

  20. Ya semoga hasil cipta karya anak negeri ini lebih bisa dihargai baik oleh pemerintah maupun masyarakat

  21. di negara maju kayak amerika serikat misalnya, setelah pemilu, maka lawan politikpun akan memberi kesempatan kepada pemerintahan baru untuk bekerja 100 hari, baru dikritisi …………

    di Indonesia, baru mulai siap-siap menerima tampuk kekuasaan sudah diomelin oleh para kurawa yang tak pernah legowo karena kalah pemilu ………………. menyedihkan

    • Yang penting KOALISI TANPA SYARAT BRO…dan TANPA bagi KEKUASAAN kecuali 16 kementrian!! Sapa tahu aja kalau Di kasih jatah kekuasaan MENTRI, golkar PAN PPP GERINDRA demokrat mau mendukung Jusuf Kalla dan Megawatti . SESUAI janji Campaign kan! Banget!

  22. Paling males baca… kalo sudah bicara politik..

    Please jgn lg
    NKRI HARGA MATI

  23. Jika demi niat yg baik & demi kemajuan+kemakmuran bangsa , rakyat pasti akan mendukung mu pak JKW_JK… . Jgn anda blas hujatan dgn hujatan ,tp Tunjukkn krja keras 5thun kdepan dgn hasil yg nyata . Itulah blasan yg mantab bgi mereka yg sering menghujat anda.

  24. akhirnya koalisi tanpa syarat, tanpa bagi-bagi kekuasaan ternyata model begini…

  25. Mantab pak, pokoknya saya dukung klo demi kemajuan bangsa Indonesia.

    Ayo saatnya kita move on, aura pilpres kita buang jauh-jauh.

    Kerja, kerja, kerja!!!

  26. 😀 anda tidak mau atau tidak sama politik ? Boleh aja…. tapi politik pasti mau dan suka dengan anda…hehehe

  27. Dana abadi pendidikan sdh disiapkan Rp 24Trilyun ama Pak menteri Pendidikan, Bpk M.Nuh untuk Gunung Padang.

    Penelitian akan dibagi dlm 3 thp..tetapi alokasi dana itu td akan terpengaruh pergantian presiden maupun tahun anggaran.

    #tempo#
    #kompas#

  28. setuju…saya ingat SBY dulu ..wkt saya jadi timsesnya.2004….banyak yg bilang ngapain loe sokong jenderal salon…kebanyakan makan buku…bicara doank…skr..rata2 anggota warjag sini muji beliau..saya kemaren jg milih jokowi ini sbg timses.beliau .saya hanya berharap 2019…Pak Jokowi juga sukses spt SBY saja akhirnya…itulah tugas rakyat…imho…..

  29. Mau seneng mau kagak, jokowi tetep presidennya. Kami rakyat kecil hanya bisa berdoa diberikan yang terbaik bagi pemerintahan mendatang, selamat bekerja pak jkw-jk.

  30. Wait and see …

  31. jd ingat pelajaran biologi bahwa “nenek moyang manusia berasal dr kera” dll, mbok ya nantinya coba diluruskan…mau kalo dibilang kera yg berevolusi itu manusia…sy sich gak mau…kera ya kera, beda sm manusia.
    klo pelajaran sperti ini masih, mending anak sy gak usah ikut mata pelajaran itu dah (smoga anak sy lebih cerdas). maaf @bung diego agak OOT, soalnya sy sempat dpt pelajaran biologi yg salah

    • kalau menurut ceramah pak ustadz, dulu sekali ada suatu bangsa yg karena suatu sebab, Allah SWT memberikan hukuman thd mereka, yaitu merubah mereka menjadi seperti kera, kalaupun fisiknya tidak seperti kera, sifatnyalah yg seperti kera/tidak berakhlaq dsb..

      saya tidak tahu ada hubungannya atau tidak, tapi saya yakin Tuhan pasti kasih kemudahan bila manusia ingin mencari kebenaran. untuk kebaikan tentunya.

  32. “penelitian berbasis universitas”
    Sebuah ide yg cemerlang, jika ini dilaksanakan dgn sebenar-benarnya, maka kedepannya akan menciptakan sarjana2 yg memiliki kualifikasi2.
    Namun demikian program ini memiliki efek negatif, lembaga penelitian yg memiliki bidang khusus akan terabaikan..
    Mudah2an efek negatifnya tdk trjadi

    • Penelitian berbasis universitas…

      Jadi inget waktu kuliah dulu dosen dapet proyek penelitian dr pemerintah…yg jalanin mahasiswa,penelitian mahasiswa,nyusun data dan laporan mahasiswa,mahasiswanya cm dpt uang makan dan transport diang dengan iming iming lulus mata kuliah sang dosen…dosen dan prangkat kampus dapet nama dan uang gedenya…sampe si dosen bs nambah rumah…mantabs… :mrgreen:

      • bung wehr, klo bicara soal oknum dosen sy gak bisa bilang apa2, yg jelas hanya bikin emosi sj, sdah mau bertemu buat bimbingan susah, malahan kita seperti mau mengemis, salah omong sedikit malah kitanya yg dibuat susah pake dibilang nggak sopanlah, kurang etikalah dll

      • Berapa jumlah PT yang sudah research university. Tak banyak. Pemerintah saja sekarang nyuruh PTN cari uang sendiri. Terbanyak dengan cara terima mahasiswa sekenyang-kenyangnya, penghasilan dari mengajar.

        Kenapa begitu? Kalau pilih meneliti, bisa-bisa mahasiswanya yang terlantar karena rasio dosen-mahasiswa jomplang, dosen pegang banyak kelas.

        Kalau mau dijadikan research university (selaras dengan kementeriannya), pemerintah menggaji dosen yang memadai. Jumlah dosen ditambah, agar jumlah kelas yang dipegang tak banyak sehingga bisa meneliti dengan baik, dan mahasiswa tak terlantar.

    • “Lembaga penelitian yang mempunyai bidang khusus akan terabaikan”….

      Memang penggabungan Ditjen Dikti dan kemenristek merupakan sebuah terobosan, wacana ini pun sudah lama bergulir kalau tidak salah usulan pak JK dahulu pada 2008 karena beliau tdk terpilih di periode ke 2 maka ini sekedar wacana.

      Yang perlu menjadi catatan saat ini adalah bila digabung bagaimana kejelasan lembaga – lembaga non kementerian seperti LIPI, BPPT, LAPAN dll yang sesuai dengan Kepres no 4/2003 berada dibawah kordinasi kemenristek, apakah akan di buat direktorat jenderal atau di biarkan tanpa kejelasan status??

  33. masih menunggu kabar tentang nanoteknologi

  34. Ini ada percakapan Prof. Josaphat dengan seorang pengajar atau dosen namanya Bu Mila pada Februari 2008…. Semoga bisa jadi referensi maupun motivasi…

    Prof. Josh :

    Sekedar meluruskan informasi di atas mengenai patent2 saya selama ini. Semua atas nama saya pribadi dan bukan atas almamater di mana saya bekerja saat ini. Jadi tidak perlu khawatir, sayapun sadar semua yang harus kita pikirkan dan keluarkan tenaga selama ini, maka itu semua hak kita, termasuk patent2 saya selama ini.

    Lebih baik Indonesia mulai sadar akan kemampuan sendiri dan tidak tergantung pada budaya2 lain selama ini yang jelas menghancurkan pikiran dan waktu kita sehari2, serta akhirnya meluluhlantakkan budaya kita. Kembali ke budaya dan pikiran khas orang Indonesia adalah sumber dan awal kebaikan untuk bangsa ini. Mari kita lupakan budaya dan ritual sehari2 dari asing. Indonesia kaya akan sumber pemikiran baru untuk menyelesaikan permasalahan bangsa ini. Alam Indonesia adalah sumber ilham dan kebesaran bagi kita dan menguatkan imam jati diri kita daripada budaya dan ritual asing.

    Mari kita pelihara dan bangun bersama bangsa ini.

    Salam
    Josaphat Tetuko Sri Sumantyo

    Bu Mila :
    Maaf Pak, dan tentu koreksi Bapak membuat saya lebih berhati-hati dalam menulis ke depan. Saya hanya membaca sekilas bahwa persentase pembagian nilai sebuah barang/temuan yang dipatenkan itu menjadi milik alma mater sekian persen, jurusan sekian persen, penemu sekian persen. Saya lupa membaca di mana, tapi akan saya cari lagi sumber ini.

    Kritik saya hanya terhadap tiadanya insentif di negeri ini, bukan polemik atas ada-tiada anak cerdas yang bisa terus berkarya. Saya tahu betul bagaimana anggaran negara dirancang per tahun, dan bagaimana “dibuang” begitu saja untuk hal-hal yang tidak substantif apalagi yang konstruktif. Jepang dan banyak negara maju memberikan insentif tinggi untuk orang-orang cerdas, apapun ras dan latar belakangnya.

    Saya merasa terhormat sekali mendapat kunjungan dari orang yang saya kagumi (pemikiran dan langkah-langkahnya). Selamat terus berkarya, Pak.

    Prof. Josh :
    Ibu Mila,

    Mungkin bisa menjadi masukan baik untuk negara kita, setidaknya diri kita sendiri. Jepang sendiri saya kira tidak ingin kalah dan terpacu untuk menemukan hal2 baru yang jelas berguna utk manusia dan alamnya. Hal ini didukung oleh masyarakatnya yang selalu haus akan hal2 baru dan original. Dimana hal original ini nanti menjadi sumber daya intelektual negara ini, mis. patent.

    Praktek2 pengaturan patent juga tergantung instansi dan kesadaran sang peneliti. Saya pribadi kalau punya waktu sedikit saja, maka saya usahakan persiapkan dan submit patent sendiri hasil2 karya pribadi selama ini. Kita bisa submit patent sendiri dgn resiko biaya maintenance patent tahunan kita sendiri yang tanggung. Kalau tidak mau pusing, ada cara lain dengan menyerahkan urusan patent ke instansi kita dengan nama penemu tetap diri kita sendiri (ada beberapa patent saya pula dengan model ini), dimana biaya maintenance tahunan ditanggung pihak instansi dan royalti patent kita peroleh tergantung perjanjian dengan instansi (biasanya lebih dari 50%) bila patent digunakan oleh industri. Jadi hasil patentpun kita tetap menikmati cukup banyak dan tidak semua milik instansi. Kebetulan saya mempunyai dua tipe patent ini.

    Saya kira sangat beruntung kita mendapatkan fasilitas demikian pada saat kita tidak dibutuhkan di negeri sendiri, dimana fasilitas riset dan bebas mengembangkan pikiran kita, dan kita bisa menikmati hasil patent2 bila dipakai oleh industri. Kalau ada hasilnya ? Selama ini kami sekeluarga berikan utk beasiswa anak2, membantu sekolah, pengembangan dan penelitian budaya dan pemikiran asli Indonesia …. dll di Indonesia. Walau kecil2an mudah2an dapat bermanfaat utk orang banyak yah. Masih banyak usaha positif yang dapat kita lakukan untuk Indonesia, pada saat bangsa sendiri mencibirkan pada diri kita. Pasti ada jamannya ….

    Salam
    Josaphat Tetuko Sri Sumantyo

    http://www2.cr.chiba-u.jp/lab/jtetukoss/

    Bu Mila :
    Beruntung, Pak Josh, saya tahu memang Jepang adalah negara yang paling gemar memerdekakan pikiran liar manusia. Terbukti Jepang selalu menempatkan diri sebagai negara nomor 1 dalam urusan paten. Lihat di sini:

    http://www.allcountries.org/uscensus/1382_patents_by_country.html

    Untuk itu saya menulis soal kerjasama ASEAN-Jepang ini dalam kerangka “transfer tech” yang lebih konstruktif. Jepang tak boleh hanya menargetkan ASEAN sebagai satu pasar hasil inovasinya saja, tapi juga harus menularkan ilmunya.

    Semua orang (kawan, paman, guru, dll.) yang mengajarkan saya adalah orang-orang dengan “positive thinking” atas segala sesuatu. Frustasi (jangan dibaca sebagai “negative thinking” ya Pak), terkadang keluar saat melihat pilar institusi. Salah satunya adalah Kantor Dirjen Haki yang mengurus paten, yang kebetulan pernah saya kunjungi: sebuah kantor adminsitratif kosong melompong; tak ada insentif apapun. Mungkin karena kantor ini berada di bawah naungan departemen yang salah?

    Selama beberapa tahun terakhir berinteraksi dengan birokrasi dan anggaran negara tercinta ini, banyak sekali keheranan muncul. Saya tahu Japan Foundation di Indonesia punya beberapa proyek “tidak penting” bukan karena orang Jepangnya, tapi lebih pada beberapa birokrast di negeri ini yang doyan proyek “tidak penting”. Mungkin terlihat penting di atas kertas, namun implementasi di lapangan bisa bubar jalan, Pak.

    Saya melihat pelosok-pelosok daerah yang kaya tapi miskin, senang tapi susah. Atau mungkin ini ini “rich natural resources’ curse” seperti ucapan Stiglitz?

    Prof. Josh :
    Bu Mila

    Transfer teknologi jangan diharapkan, teknologi harus kita buat sendiri. Nevermind dengan teknologi2 bangsa lain, kita harus buat teknologi yang cocok untuk bangsa ini dengan pikiran dan tangan kita. Budaya menunggu belas kasih orang (negara) lain pada diri kita harus kita buang jauh2. Prinsip saya, take pencil soon and open the world !

    Kemiskinan tidak akan bisa kita hilangkan kalau orang di dalamnya masih suka menjual kemiskinan sebagai komoditi. Orang atau badan lain yang tertarik dengan produk kemiskinan tsb tidak ada. Kita harus sadarkan mereka, bahwa kemiskinan berasal dari hati dan perilaku kita sendiri. Lebih baik tunjukkan dan mengasah kemampuan kita, daripada menawarkan komoditas kemiskinan tsb. Temperament miskin memang pada kenyataan kita temukan dari tingkat bawah hingga pejabat. Saya pribadi tidak tertarik dengan kemiskinan spt yang dibanggakan oleh mereka pada saat ke daerah2, tetapi saya lebih ingin tahu apa yang bisa mereka lakukan utk kebaikan kita bersama. Bila kita mengakui miskin, mengapa kita malah buang waktu sehari2 dengan ritual dan budaya2 asing. Alam kita memberikan banyak inovasi dan hint, tetapi sayang hati dan kepala telah dipenuhi dengan budaya lain (arab, eropa, amrik dll), dan waktu habis utk ritual asing pula. Waktu sebagai sumber daya tersendiri utk membangun bangsa ini, tetapi waktu habis percuma. Teknologi utk menolong manusia menjadi makmur, aman, manusiawi, beradab dan adil hanya dapat diciptakan konsistensi dan waktu yang banyak. Saya dalam sehari tidur 3-4 jam saja selama ini, apakah cukup ? belum cukup dan saya membutuhkan waktu lebih utk memikirkan dan menciptakan sesuatu untuk Ina dan dunia pada saat sebagian besar dari 250 juta penduduk Ina belum menyadari sumber daya waktu. Kemiskinan akan memberikan lubang bagi budaya (termasuk agama) asing utk mengeksploitasinya, akhirnya akan menghancurkan cara pikir, inovasi, dan budaya bangsa kita.

    Setelah proses reformasi, mudah2an secepatnya (target 20 tahun ke depan) ada proses dekulturisasi untuk menuju Indonesia modern dgn bernafaskan budaya asli Indonesia yang digerakkan oleh teknologi dan ilmu pengetahuan asli lahir dari orang Ina. Mulai saat itu orang akan sadar akan pentingnya penghargaan pada ciptaan diri kita sendiri, begitu pula dalam bentuk perlindungan HAKI.

    Hargai diri kita dulu, maka orang lain akan menghargai kita nanti.

    Salam
    Josaphat Tetuko Sri Sumantyo

    ps. Walau tidak ada hubungan langsung, silakan refer tulisan saya di bawah utk anak muda Ina dibidang remote sensing dan GIS. Semoga bermanfaat.

    ——
    Dear pak Soni, pak Fahmi dan rekan2

    Ide bagus, anak muda !!

    Jangan tunggu (nevermind) pemerintah, organisasi dan orang lain, cepat mulai
    dari diri kita sendiri. Tema riset dan konsistensi kita yang akan menarik
    orang lain dan pemerintah (lain) nantinya. Tunjukkan kebahagiaan kita
    melakukan riset tsb, maka orang (negara lain dan dunia) akan ikut bahagia
    dengan keberadaan kita.

    Pengagendaan riset ini yang kita harapkan, usaha nyata untuk kemajuan kita
    bersama. Pada saat rakyat bingung apa yang harus dilakukan terhadap
    permasalahan2 yang mendera dan pemerintah tidak mempunyai kebijakan yang
    jelas, maka ini tugas (sumbangsih bidang RSGIS) kita untuk memberikan
    sesuatu. Tidak perlu berharap dan menunggu (menanti ?) dari pemerintah, mari
    kita usahakan dari diri kita sendiri. Kalau ada masalah danapun sebagai
    permasalahan klasik, tunjukkan dulu kemampuan kita dan selalu mengasahnya,
    jangan malah menawarkan kemiskinan (ketidakpunyaan) ke orang lain sebagai
    alasan tidak bisa (malas ?) riset. Contoh selama ini ide pembuatan database
    GIS dan sudah disiapkan fasilitasnya, tapi tidak ada perkembangan sama
    sekali, kita malas dan tak ada motivation !

    RSGIS tidak akan lepas dari daerah dimana kita akan mengaplikasikannya dan
    perangkat2 yang dibutuhkan. Tema RSGIS banyak di seluruh Ina, saya
    pribadipun kewalahan menerima tawaran untuk mengerjakan hingga daerah2 yang
    sejak otonomi bergulir mereka mulai menggeliat dan berlomba2 utk mengurus
    diri sendiri. Dari data daerah2 yang berkembang di Ina saat ini, banyak
    sekali tema riset maupun bentuk2 penerapannya nanti. Daerah kita sangat khas
    (unik ?) dan tidak bisa kita menerapkan begitu saja manual2 RS dan GIS yang
    ada begitu saja. Pemilahan tema sebagai murni ilmu pengetahuan (Universitas)
    maupun aplikasinya (pemda, lembaga riset dll) dapat dilakuan.
    Pengklasifikasiannya sebaiknya disesuaikan dengan hasil pemikiran dan
    kebutuhan kita, tidak perlu meniru2 cara pikir orang asing yang belum tentu
    jelas dan bermanfaat utk kita. Merefer OK, meniru jangan.

    Selama ini kita tergantung pada satelit2 asing untuk memonitor tanah air.
    Suatu hal lucu, bagai kita mau merias dan menata diri sendiri tapi harus
    selalu pinjam kaca orang lain. Pengembangan sensor dan peralatan2 RSGIS juga
    sangat perlu dilakukan kita bersama. Pada saat kita bingung dengan banyaknya
    dana yang diserap utk bencana, pemilu dan urusan lain (korupsi sudah menjadi
    resmi di Ina ?) Jangan menunggu dan tergantung pemerintah ! Umur kita hidup
    rata2 hanya sekitar 65 tahun bagi orang Indonesia, banyak waktu digunakan
    untuk menunggu (mungkin karena nenek moyang kita sebenarnya petani, bukan
    pelaut). Kalau pemerintah tidak bisa dan takut (beresiko) membuat satelit,
    kenapa tangan kita sendiri tidak memulai membuat satelit sendiri. Ini
    prinsip saya pribadi, segala sesuatu yang dapat dihitung dengan angka, pasti
    bisa kita realisasikan. Mungkin pak Ketut yg saat ini berada di tempat saya
    utk riset, dan pak Soni tahu, kita akan berikan yang terbaik utk Ina sebaik
    mungkin, dimana Ina tanpa perlu mengeluarkan dana sepeserpun. Selama di Ina
    tidak bisa dibuat, di luar banyak orang yang dapat membantu dan membutuhkan
    keberadaan kita (orang Ina). Perangkat2 yang dibuat oleh tangan atas dasar
    pikiran orang Ina harus kita buat sendiri dan tunjukkan ke dunia kalau kita
    mampu. Mari kita isi kegiatan di universitas2 Ina dengan pengembangan
    perangkat2 RS GIS pula. Mudah2an tahun ini ada dua research center dan
    jurusan baru yang berhubungan dengan RSGIS lahir di Ina dan bisa
    merealisasikan idea2 saya selama ini, agar semakin banyak anak2 muda yang
    sadar akan diri, orang lain dan lingkungannya lewat RSGIS.

    Bagi anak muda, umur adalah sumber daya sendiri, semakin cepat atau muda
    dapat menguasai teknologi sendiri dan Anda sekalian kuat, maka bangsa kita
    akan semakin cepat utk menjadi besar (makmur) untuk rakyat dan kedamaian
    dunia. Khususnya anak muda harus cepat tanggap memberikan inovasi2 baru dan
    lepas dari ikatan sehari2 yang tidak efisien dan menghambat perkembangan
    dirinya sendiri. Jangan buang waktu, dan mari kita isi dengan memikirkan dan
    kegiatan nyata untuk kebahagiaan orang lain, niscaya kita akan dibahagiakan
    oleh orang dan alam kita, walau hanya menggunakan tool sederhana kita yang
    disebut RSGIS.

    Informasi :
    Bagi rekan2 yang mempunyai waktu pada tanggal 25-30 Mei 2008 akan diadakan
    Japan Planetary and Geoscience Union Conference di Makuhari Messe, Chiba
    yang biasa dihadiri 4000 orang. Kebetulan saya diminta memberikan Invited
    Talk dengan judul ‘Small SAR Satellite Proposal’ di sesi Frontiers in Space
    Sciences using Small Satellites. Silakan untuk menghadiri dan mudah2an dapat
    memberikan inspirasi utk pengembangan sensor2 baru yang lahir dari orang2
    Ina, khususnya Anda yang muda2.

    Salam hangat selalu dan selamat berweekend !
    Josh

    Bu Mila :
    :)))))
    Tentu! Tentu!
    “Tirani oleh orang miskin” ini memang cuma ditanamkan orang bule sana ke kepala kita. Saya juga tidak kagum dengan adanya deputi khusus kemiskinan di Bappenas (deputinya dosen saya yang “always living with silver spoon”; sori Pak, ini omongan kawan-kawan di kelas). Kampanye eradikasi kemiskinan juga adalah satu upaya propaganda “untuk terus memiskinkan yang miskin” (sekali lagi, bentuk kampanye apapun jangan dilihat an sich untuk memerangi sesuatu hal, there’s always a catch in it!).

    Kembali ke masalah teknologi (dan paten sebagai insentifnya), saya tetap berpikir perlu ada transfer teknologi sebagai pemicu. Anak saya di rumah harus diajak berpikir inovatif, bahkan sejak awal saya telah perkenalkan beragam keajaiban dunia, mereka juga sudah bisa membaca peta dunia yang saya tempel di samping TV. Seluruh rahasia dunia dalam DVD (kartun “Kakek Pengetahuan” dalam bahasa Indonesia, guess what, made in Japan!) Pengaturan satelit (dan apa itu satelit yang ada di dunia) adalah satu topik yang saya gali datanya dari internet sejak 1995, terakhir update saya baca di http://www.lyngsat.com untuk memetakan berapa banyak satelit yang baru ataupun yang sudah “meninggal”. Tak banyak literatur dalam negerinya, bukan?

    Tapi tidak banyak orang yang beruntung seperti saya dan Pak Josh, bukan? Saya tahu di beberapa universitas di luar Jawa akses informasi sangat sangat minim kalau mau dibilang tak ada sama sekali. Cara berpikir “orang pusat” yang tak esensial, tidak konstruktif dalam membangun infrastruktur informasi. Project-seeker, istilahnya, karena mereka mementingkan yang penting ada proyek. Ya sudahlah, preskripsi institusi adalah obat ekonomi terbaru (setelah kebijakan fiskal dan moneter tak lagi berfungsi karena, ya institusinya korupsi!)

    Salah satu preskripsi untuk institusi yang sakit ya pendidikan. Chicken and egg… uang pendidikannya sampai tidak ke masyarakat?

    Ini juga cuma curhat ya Pak. Try to keep up with the crazy world outside is a crazy effort itself.

    Prof. Josh :
    Bu Mila

    Maaf saya tidak percaya dengan keberuntungan, semua yang saya dapat adalah hasil usaha selama ini. Kalau saya beruntung, berarti saya diam dan semua dapat tanpa saya harus tidur hanya 2-3 jam sehari, makan 1-2 kali sehari, hampir tidak pernah ambil liburan, pengorbanan keluarga dll.

    Keinginan transfer teknologi hanya keinginan negara2 berkembang dan miskin. Tapi pada kenyataannya negara maju mau transfer teknologi ? tidak. Kebetulan saya pegawai negeri di sini, setidaknya tahu sedikit banyak aturan pemindahan know-how alias teknologi dan ilmu pengetahuan yang selalu direvisi setiap beberapa bulan sesuai perubahan kondisi politik dunia. Perpindahan teknologi, berarti pula perpindahan nilai investasi negara tsb, dimana investasi tersebut adalah pajak riil dari rakyat negara (maju) tersebut. Apakah mereka rela bila transfer teknologi dilakukan ? Kenyataannya tidak dan banyak sekali artikel2 koran di sini yang melibatkan peneliti2 selama ini yang secara tidak sengaja memindahkan sesuatu ke luar negeri, dan pernah bayangkan bentuk punishmentnya ? penurunan pangkat dan gaji hingga pecat. Jadi peneliti di negara (maju) terkadang sangat hati2 dalam melakukan hal ini, jadi jangan heran bila di beberapa proyek besar saya selalu diawasi dan ada interview khusus mengenai aliran dan pemakaian dana. Contoh riil saja, satelit saya kenapa susah mendapatkan ijin utk meluncurkan dengan missile rusia yang jelas murah atau 1/10 bila menggunakan roket Jepang ? Jawabnya tidak boleh ada transfer teknologi ke negara lain.

    Hal di atas adalah salah satu permasalahan nyata dan tidak bisa dipungkiri harus dihadapi oleh peneliti2 spt saya pribadi. Lalu bagaimana agar bisa tranfer teknologi ke Ina ? Biarkan saya sendiri yang tahu dan keep secret in my head. Silakan diikuti perkembangan riset saya dan silakan pelajari nantinya. Banyak hint di setiap langkah saya utk kemajuan tanah air, agar anak cucu bangsa yang merasakannya nanti.

    Salam
    Josh

    Bu Mila :
    * s p e e c h l e s s *

    Atas informasi ini, tadi siang saya bisa memberikan komentar ke kawan yang akan meluncurkan buku beliau yang mengutip sedikit tentang “transfer teknologi”. Never ever gonna happen, not in a million years, so let’s work on it ourselves!

    Terima kasih Pak Josh, saya pikir memang teknologi adalah resep untuk maju (dan jadi dapur utama “economic animal”). Teknologi adalah menyederhanakan, mempercepat, dan memudahkan langkah kerja setiap orang, setiap entitas usaha. Jadi jika Indonesia belum bisa mencari tahu bagaimana “memudahkan” hidup, mungkin karena memang belum tahu caranya ya Pak? Atau karena nrimo terima saja yang sudah dimiliki sekarang? Yang paling ekstrem adalah yang apatis, EGP lalu larinya menyalahkan dunia… dan terus terang yang seperti ini banyak di Jakarta :))))

    Btw, jika ada buku-buku Pak Josh yang bisa disebarluaskan di sini, bolehlah dijual di toko buku online http://www.inibuku.com yang kami rintis sejak 2002 (just a lil’ effort to spread Indonesian books). Tentu jangan dalam bahasa Jepang ya Pak LOL maaf perlu waktu untuk belajar bahasa lagi…

    Hajimemashite!
    (cuma ini yang saya tahu sejak tahun 1991)

    Prof. Josh :
    Dear Ibu Mila,

    Teknologi tidak lebih sebagai tool utk memberikan kebahagiaan manusia. Terkadang saya pikir dan rasakan, kita tidak perlu mengejar dan terperangah terhadap hasil pemikiran (teknologi, budaya…hingga agama) orang asing. Tidak perlu memaksakan sesuatu yang memang tidak cocok dengan Indonesian people and their life style. Porak porandanya Indonesia saat ini harus secepatnya kita akui sebagai akibat ‘keramahan’ orang Indonesia terhadap budaya asing. Terkadang hal lucu terjadi di masyarakat kita, dimana pada saat menemui permasalahan baik kecil maupun besar (nasional), penyelesaiannya adalah doa bersama dengan gaya orang dan budaya asing, (betul !) bahkan menyalahkan orang atau pihak lain. Mengapa tidak melihat kaki (diri) sendiri ? Saya kira faktor ketakutan telah tertanam dengan baik turun temurun di hati orang Ina, sehingga mereka susah utk lepas dari budaya tersebut. Kebetulan saya mengumpulkan serpihan2 budaya Ina, kasihan bangsa ini, banyak kebanggaan semu dan kerusakan batin yang telah menganga. Jangankan berpikir teknologi, berpikir utk dirinya saja sudah tidak ada waktunya. Teknologi harus disusun rapi dari waktu ke waktu, membutuhkan ketenangan berpikir, kebesaran hati melihat alam dll. Saya sering ke daerah2 di Ina, banyak hal menarik dan dapat menjadi inspirasi, tetapi setiap berkunjung ke tempat yang sama pasti kita dapatkan degradasi, bukannya perbaikan. Mungkin semua ini proses, manusia tidak akan jera kalau tidak pernah merasakan sakit akibat ulahnya. Negara manapun sama, mungkin Indonesia perlu terjadi bencana lebih besar lagi utk mengingatkan kebesaran alam.

    Perihal buku2 saya dapat dibaca di http://erc.pandhitopanji-f.org/books.html Kebetulan kami sekeluarga mempunyai yayasan kecil utk memberikan beasiswa, pendidikan dengan membuat sekolah, riset dll melalui hasil usaha kami sekeluarga. Buku lainnya mudah2an dalam waktu dekat dapat kami terbitkan kembali sambil menunggu gudang baru rumah kami. Kebetulan isteri saya juga mempersiapkan buku2nya tentang urban history kota2 Ina, bersama saya pula. Sementara kami tulis dalam bhs Ina agar masyarakat Ina lebih cepat tahu daripada orang asing, nanti akan kami terbitkan dalam bhs Inggris pula.

    Informasi mengenai riset saya : http://www2.cr.chiba-u.jp/lab/jtetukoss/ dan karya2 isteri saya http://www.pandhitopanji-f.org/arc/studio.htm Karya2nya pasti Anda pernah melihatnya di Jakarta atau kota lain. Mudah2an semakin banyak karyanya menghiasi Ina dan dunia.

    Salam
    Josh

    Bu Mila :
    * Ngintip sedikit riset Pak Josh *

    Bukan disiplin ilmu saya, dan satelit komunikasi yang saya pelajari lebih ke lingkup bisnisnya.

    FYI, sharing sedikit Pak. Barusan saya melihat-lihat buku wajib anak SD sejak kelas 1 hingga 6, salah satunya tentang teknologi informasi komunikasi. MENYEDIHKAN! Kelas 1 hingga 6 melulu belajar HOW TO PAINT! SMP pun hanya diperkenalkan satu hal: how to use yahoo mail (yang bisa dibaca di FAQ yahoo sendiri hahaha!).

    Kurikulum terbaru ini tidak memperkenalkan platform-platform lain apalagi yang lebih rumit: konvergensi.
    Kurikulum ini membuat anak-anak jadi robot? Kasihan.

    Kalau matematika, dibolak-balik setiap tahun tetap sama (kurang satu, ditambah satu; kali dua, bagi dua), tapi teknologi informasi komunikasi (TIK, istilah birokrasinya) adalah dinamis. Filosofi ini mungkin tidak sampai ke kepala perumus kurikulum yang pernah dididik oleh guru robot pula? Mungkin…

    Seharusnya dibedakan anak urban dan non-urban, karena anak SMP kelas 9 di kota (jaman kita dulu ya namanya kelas 3 SMP) dihujani demikian banyak cara berkomunikasi. Mulai bahasa asap, kantor pos dan seterusnya tidak diperkenalkan sama sekali. Bagaimana di setiap titik, orang terus berpikir untuk mencari yang baru.

    Saya pikir TIK adalah mengerti mulai sejarah hingga fungsi dari inovasi setiap generasi; bagaimana ada platform yang tidak lagi dikenal (rekaman dalam Laser Disc, pager, telex, dst.) dan ada yang masih berkembang seperti telepon selular dan satelit. Bagaimana layanan dan model bisnisnya pun turut berubah seiring dengan kreativitas manusia.

    That’s it ya Pak. Kreativitas. Kurang merdeka pikiran rakyat negeri ini ya? Atau kurang gigih memerdekakan diri? Whatever.

    Salut untuk riset Pak Josh. Jangan pernah berhenti, Pak.
    :)))))

    Prof. Josh :
    Ibu Mila

    Masalah pendidikan untuk anak memang sangat pelik sebagai orang tua. Mungkin sama orang tua saya (lihat http://www.pandhitopanji-f.org/jtetukoss/families.htm) memikirkan dan memilih pendidikan terbaik untuk saya dan adik2 saya dulu walau di desa. Hal ini sama khawatirnya saya untuk memberikan pendidikan yg terbaik untuk anak saya sendiri (lihat http://www.pandhitopanji-f.org/jpandhitoph/index.html).

    Bagi saya dan isteri pendidikan dasar merupakan pendidikan yang paling penting dan harus didapat dengan senang. Kalau belum bisa baca, berhitung dll, memang sebaiknya jangan dipaksakan. Pasti ada waktu tuning yang menjadi titik meroketnya talent sang anak. Saya sendiripun kurang pandai dalam membaca sejak kecil (refer http://www.pandhitopanji-f.org/jtetukoss/documents/figures/20070102KompasSosok.jpg). Syukur sekarang anak saya sedikit enjoy utk menerangkan segala sesuatu, spt masalah angkasa luar (lihat artikel click line terbawah http://www.pandhitopanji-f.org/jpandhitoph/index.html) dengan gambarnya yang lucu.

    Pendidikan sebaiknya diberikan dengan pendekatan fenomenal dan belajar alur bernalar (berpikir). Hal ini menjadi kelemahan hampir kebanyakan siswa Ina. Mereka sangat pandai menghafal segala hal, tapi tidak tahu mengapa menjadi demikian. Pada saat mereka masuk ke perguruan di luar negeri biasanya menjadi lebih pandai dengan mahasiswa asing pada tingkat2 awal. Tapi setelah tingkat advance biasanya keteteran karena tidak bisa bernalar, ini nanti berakibat pada keterlambatan pada proses riset. Teknologi tidak bisa dilahirkan dengan hafalan, karena content dari hafalan biasanya ilmu yang sudah mati (standard). Sedangkan fenomena di alam dan masyarakat setiap saat berubah, dan kita harus mengikutinya dengan berpikir dan beranalisa. Menciptakan manusia yang bisa menyesuaikan dengan alam di mana saja berada dengan cara berpikir dan beranalisa ini yang perlu dibentuk oleh pendidikan kita. Memang sulit dengan kondisi ina yang banyak hal tidak bernalar, tapi mau tidak mau harus dilakukan perbaikan ini kalau kita ingin maju dan bersaing, bahkan utk menjadi top di dunia di segala hal.

    Salam
    Josh

    Semoga bisa menjadi motivasi dan referensi bagi penerus bangsa….
    Salam 😀

  35. Memang model pendidikan kita masih belum dinamis. Siswa dituntut menghapal teori dan rumus yg sudah ada [ yg sering kali tidak tahu digunakan untuk apa ] secepat mungkin sebanyak mungkin [ akhirnya malah lupa semua ] :mrgreen:

    Dituntut menguasai ilmu-ilmu yang ada tapi tidak/kurang diberi bekal dan tutorial untuk menganalisa dan mengembangkan ilmu.

  36. Memang semua harus ada clarity (kejelasan tujuan). Kalau tujuannya saja tidak jelas ya cuma buang2 duit

 Leave a Reply