Feb 232019
 

Senapan serbu Gilboa DBR Snake buatan Israel © Silver Shadow

JakartaGreater.com – Perusahaan senjata Israel Silver Shadow baru-baru ini menarik perhatian dengan senapan laras ganda jenis AR, Gilboa DBR Snake. Sebagian besar, ini adalah AR, menggunakan suku cadang AR dan menembakkan amunisi 5,56 mm. Pembedanya adalah bahwa ia memiliki dua barel terpisah, dua magasen dan dua port ejeksi – dengan 2 pelatuk seolah-olah dua senapan AR disatukan, seperti dilansir dari laman National Interest.

Kedua pelatuk tersebut adalah untuk membuat Gilboa DBR Snake menjadi legal bagi penggunaan sipil di Amerika Serikat, sebagaimana dicatat Blake Stilwell dari We Are the Mighty, yang mengutip peraturan ATF untuk senapan mesin. Tapi cukup mudah untuk menarik keduanya, menembakkan dua peluru sekaligus.

Ini adalah untuk pasar sipil, terutama di Amerika Serikat, di mana senjata ini harus menemukan pembeli. Pelanggan militer sangat tidak mungkin menganggap senapan ini sebagai senjata yang praktis.

Tapi mari kita mundur sejenak. Militer AS telah mempelajari senapan semi-otomatis laras ganda untuk potensi penggunaan tempur sebelumnya. Proyek Salvo Pentagon, yang dimulai pada tahun 1951, bertujuan untuk bisa menghasilkan senapan infanteri generasi berikutnya yang cocok untuk perang modern sambil mewujudkan pelajaran dari Perang Dunia II.

Tentara AS menembakkan senapan serbu M4 Karabin yang dilengkapi peluncur granat © US Army via Wikimedia Commons

Salah satu pelajaran ini adalah pentingnya apa yang oleh militer disebut “keunggulan tembakan” – menembak lebih banyak peluru ke musuh, secara akurat, daripada dia menembak balik ke arahmu.

Jika Anda memiliki keunggulan tembak, volume tembakan yang terbatas membatasi ruang gerak musuh untuk bermanuver, mengarahkan mereka tiarap serta membuat pasukan lebih mudah untuk menyerang sisi-sisi lawan yang terbuka. Tambakan hebat juga dapat menimbulkan korban melalui pecahan peluru dan pantulan.

Pada akhirnya, Project Salvo menghasilkan serangkaian senapan AR dan adaptasi militer pertamanya yakni M-16, dengan mode semi-otomatis, tiga peluru dan mode sepenuhnya otomatis.

Ada beberapa konsep yang sangat luas dan dimasukkan ke dalam pengujian dan juga pengembangan sebagai bagian dari Proyek Salvo. Ada senapan penembak flechette – tidak pernah diadopsi – dirancang untuk menghancurkan tentara musuh dengan puluhan anak panah. Proyek Salvo juga melibatkan eksperimen dengan senapan laras ganda termasuk Winchester Salvo 5,56 mm, yang diproduksi pada tahun 1957.

Winchester Salvo, seperti Gilboa DBR Snake modern, memiliki dua port ejeksi dengan satu di setiap sisi penerima. Ada dua magasen dan bobot senapan yang diturunkan mencapai 11,8 pon. Sulit untuk membandingkan bobot dengan senapan AR modern mengingat berbagai varian dan aksesori mereka, tetapi Salvo beberapa kilogram lebih berat daripada “rata-rata” bobot senapan AR.

G3, senapan serbu berat NATO dari Perang Dingin, memiliki berat sembilan pon atau setara bobot Gilboa DBR Snake. Itu membuat Gilboa DBR Snake sedikit agar berat, tetapi tidak masuk akal.

Satu masalah dengan Winchester Salvo adalah kartrid 5,56 mm – kartrid dupleks yang tidak biasa dan eksperimental yang membawa dua peluru, satu di belakang yang lain, untuk total 4 peluru yang ditembakkan setiap kali si penembak menarik pelatuknya. Ini menambahkan recoil yang terlalu banyak.

Tapi Gilboa DBR Snake tidak menggunakan amunisi dupleks, karena ia menghadapi pertanyaan mendasar yang sama yaitu efisiensi, berat dan pemborosan. Amunisi akan menambah berat, namun dua peluru yang berjalan berdampingan masih berjalan menuju sasaran yang sama. Musuh kemungkinan tidak akan mengetahui perbedaan itu dari AR standar dengan laras tunggal ketika peluru mengenai mereka.

Dan hasilnya adalah 2 amunisi dan biaya, untuk efek tembakan yang sama. Lebih baik memiliki senapan ringan – dengan satu barel. Dan jika tentara membutuhkan daya tembak ekstra, mereka selalu dapat membalik saklar pemilih ke mode tiga peluru.