Ini Ternyata Penyebab jatuhnya F-18 Hornet AS

Penyebab jatuhnya F/A-18 Hornet Marinir AS pada Mei 2016 saat melakukan latihan malam di Marine Corps Air Ground Combat Center 29 Palms, California akhirnya terungkap. Yang paling tragis, pilot Mayor Richard “Sterling” Norton masih menarik pelatuk senapan mesinnya saat pesawat tempur F / A-18 Hornet menabrak tanah.

Tampaknya hasil dari CFIT- controlled flight into terrain – menunjukkan pilot Norton tidak menyadari pesawatnya menukik lebih rendah dari biasanya di jalur yang bertabrakan dengan tanah.

Tragedi ini memperlihatkan resiko bahaya besar yang bisa terjadi dalam pelatihan tempur manuver tembak di malam hari, yang menuntut kewaspadaan tinggi bagi pilot di kokpit.

Pada malam terjadinya kecelakaan, pilot Norton melakukan latihan serangan terbang rendah, termasuk penjatuhan bom dan menembak dengan kecepatan tinggi pada target di gurun yang sudah ditunjukkan oleh dua helikopter AH-1Z Cobra yang memberikan dukungan.

F/A-18 Hornet dipersenjatai dengan 250 butir amunisi pembakar PGU-48 kaliber 20mm, satu bom GBU-16 Paveway II 450kg dan dua bom latih BDU-45 225 kg.

Setelah menyelesaikan dua pelepasan bom dan berondongan peluru, Norton mengulang lagi menukik dan ‘menyelam’ untuk melepaskan berondongan senapan mesin kepada traget. Sekitar 90 detik kemudian, F/A-18 jatuh dan meledak, menciptakan bola api di padang gurun.

Menurut penyelidikan, sebelumnya pilot sudah melakukan dua kali serangan dengan menukik sambil melepaskan tembakan dengan sukses, namun pada serangan ketiga pilot melakukan tukikan lebih dalam dan cepat , menarik pelatuk dan melepaskan puluhan amunisi tersisa pada ketinggian 335 m dengan kecepatan 885 km/jam saat komputer memberikan peringatan dengan suara.

Sebenarnya pada dua kali serangan menukik sebelumnya (ketinggian 600 meter), avionic sudah mengeluarkan peringatan “pull up, pull up” dan visual “up” dengan tanda panah dilayar yang menunjukkan pesawat harus segera menaikkan ketinggiannya.

Pada peringatan ketiga, perintah “pull up, pull up,” datang terlambat, hanya satu detik sebelum terjadinya tabrakan, karena sistem diprogram tidak memberikan peringatan lisan bersamaan dengan peringatan yang lain.

Norton sebenarnya sudah merespons peringatan ketiga ini dengan waktu reaksi 0,6 detik, namun tidak cukup cepat untuk menarik pesawat keluar dari bahaya. Pada saat peringatan keempat dan yang paling mendesak, sirene mulai berbunyi, hanya sepertiga detik sebelum terjadi tabrakan mematikan.

Kecelakaan mematikan tersebut merupakan kedua yang menimpa skuadron Marine Fighter Attack Squadron 232 pada tahun 2016.

Military.com
Editor : Muhidin