Feb 102019
 

JakartaGreater.com – Setelah kehilangan 126 pesawat tempur akibat kecelakaan hanya dalam waktu 10 tahun, kekuatan skuadron tempur Angkatan Udara India (IAF) merosot menjadi kurang dari 33 skuadron. Padahal India menghadapi kemungkinan dua front sekaligus dari tetangganya, seperti China dan Pakistan.

India juga berniat mengurangi ketergantungannya dengan pesawat tempur buatan Rusia yang selama ini menjadi tulang punggung kekuatan udara India.

India akhirnya memutuskan untuk memilih pesawat tempur Rafale buatan Prancis untuk mempertahankan keunggulan kualitas pesawat tempur dari seterunya.

Meski banyak mendapat sorotan dan tekanan dari dalam negeri atas pembelian Rafale, namun Angkatan Udara India tetap ngotot untuk menjadikan Rafale sebagai pesawat tempur garis depannya bersama Su-30MKI.

Menurut IAF, pesawat tempur Rafale Prancis dianggap lebih baik daripada pesawat tempur buatan Rusia dalam beberapa segi, berikut 10 alasan India tetap teguh untuk memilih pesawat tempur Rafale buatan Prancis :

1.India sudah lama mengandalkan pesawat tempur buatan Prancis, salah satunya adalah Mirage 2000 yang pernah bekerja keras saat terlibat dalam perang Kargil. Selain Mirage 2000, India juga pernah mengoperasikan jet tempur SEPECAT Jaguar sejak tahun 1980-an.

2. Rafale sudah pernah mengalami operasi tempur di Afghanistan dan Suriah, berbeda dengan Su-30 MKI yang belum pernah mengalami operasi tempur.

3. Rafale India nantinya akan dilengkapi dengan rudal BVRAAM Meteor dan rudal jelajah SCALP, yang akan memberi IAF kemampuan tempur udara-ke-udara dan udara-ke-permukaan yang belum pernah dimiliki India.

Rafale kemungkinan juga akan mampu menembakkan rudal BrahMos NG yang sedang dikembangkan saat sistem siap mulai 2021.Rudal Scalp dan BrahMos akan memberikan India opsi serangan dengan rudal jelajah supersonik atau subsonic unik yang tidak dimiliki angkatan udara lain di dunia.

4. Rafale dilengkapi juga dengan sensor TV Front Sector Optronics (FSO) yang mampu mengidentifikasi target tanpa perlu mengaktifkan radar, fitur yang mampu mengoperasikan Rafale secara rahasia.

5. Rafale lebih hemat dioperasionalkan. Untuk misi serangan darat, biaya operasi Su-35 per jam penerbangan lebih mahal dibandingkan dengan Rafale. Juga, India sudah mengoperasikan 272 Su-30MKI yang memiliki kemampuan seimbang dengan Su-35.

6. India sudah mengoperasikan varian terbaik Su-30MKI dan juga akan meluncurkan pesawat tempur LCA ringan Tejas, Rafale nantinya akan mengisi peran sebagai pesawat tempur menengah yang memiliki kemampuan Air-to-Air dan Air-to-Ground.

7. Rafale memiliki desain pesawat yang lebih ramping, selain itu dengan canard sayap Rafale dapat melakukan manuver pembalikan arah penerbangan yang lebih cepat. Fitur ini membantu pilot untuk mengendalikan Rafale dengan mudah meski melakukan sudut serangan yang tinggi.

8. Menurut laporan, radar AESA Rafale lebih kuat daripada radar PESA Su-30 MKI. Dalam pertarungan di luar jangkauan visual (BVR), Rafale akan mendapat keuntungan melihat dan menembak terlebih dahulu, sebelum Su-30 MKI mendeteksi kehadiran Rafale.

9. Rafale memiliki sistem peperangan elektronik SPECTRA Rafale (EWS) yang kebal terhadap gangguan radar musuh dan memberikan Rafale kemampuan bertahan yang luar biasa menghadapi ancaman udara dan darat terbaru. Kemampuan luar biasa SPECTRA yang memanipulasi ancaman udara adalah salah satu kunci dari kesadaran situasional superior Rafale.

10. Menurut insinyur Dassault, Radar cross section Rafale sekitar 0,05 hingga 0,1 m2 sementara Su-30 MKI mengeluarkan RCS berukuran sebesar 10 meter persegi (tanpa senjata) dan 20 meter persegi (penuh senjata).

Selain itu, Rafale menggunakan banyak bahan penyerap radar – Radiation-absorbent material (RAM) dalam bentuk cat dan bahan lainnya untuk menghindari deteksi radar sementara Su-30 MKI tidak memiliki fitur pengurang pantulan radar RAM ataupun RCS.

 Posted by on Februari 10, 2019