Nov 192016
 

the_bakersfield_

Jumat lalu, kedua anak saya menerima Report Card dari sekolahnya Ronald Reagan Elementary School (rapor kalau di Indonesia).
Melihat keduanya mendapat nilai-nilai yang sangat bagus. Anehnya kok tidak tercantum info tentang rangking?,
Saya tergoda bertanya ke salah satu gurunya…

“Anak saya ranking berapa, Ms. Batey?”
Dia balik bertanya, “Kenapa Anda orang Asia selalu nanya seperti itu?”
“Wah, salah apa saya ini….?” kata saya dalam hati.

Dia melanjutkan bicara,  “Anda kok sangat suka sekali berkompetisi?” katanya.
“Di level anak Anda, tidak ada rangking2an…!”
“Tidak ada kompetisi!” tambahnya.
“Kami mengajari mereka tentang ‘cooperation’ alias kerjasama….!”
“Mereka harus bisa bekerja dalam ‘team work'”
“Dan mereka harus bisa cepat bersosialisasi dan beradaptasi.”
“Mereka harus punya banyak teman!”
“Lebih penting bagi kami untuk mengajari mereka story telling dan bagaimana mengungkapkan isi pikiran dalam bahasa yang terstruktur dan sistematis!”
“Kami mengajari mereka “logika” dalam setiap kalimat yang mereka ucapkan!”

Dari sini, rupanya kenapa teman2 saya di kantor mentalnya slalu “How can I help you? Hampir tidak pernah saya lihat mereka jegal-jegalan.
Dan, di Amrik hampir semua profesi mendapat penghasilan/penghargaan yang layak. Tidak harus semua jadi dokter, insinyur atau profesi lain yang terlihat “terhormat” seperti di Indonesia…

Semua orang boleh mencari penghidupan sesuai passionnya, sehingga semua bidang kehidupan berkembang maju, karena diisi oranng2 yang bekerja dengan penuh gairah.

Wah…saya jadi ingat, memang pendidikan di negeri saya sangat kompetitif.
Banyak orangtua yang narsis kemudian memajang prestasi anak-anaknya di sosmed. Wow!
Tanpa disadari sebagian dari mereka nanti akan tumbuh menjadi orang-orang yang terlalu suka berkompetisi dan lupa bekerjasama.
Kiri-kanannya dianggap saingan bahkan sangat mungkin sebagai musuhnya?
Dirinya harus menjadi yang terbaik!

Mending kalau si anak bisa mengembangkan dirinya supaya menang persaingan. Yang ada, kadang mereka justru menunjukkan kebaikan dirinya dengan cara menungkapkan kejelekan2 temannya ataupun orang lain…
“Kalo bukan kita siapa lagi?” begitu jargonnya…
Wuih…, betapa arogannya, seakan-akan fihak lain tidak ada yg bisa! Hanya dia sendiri yang mampu!
Kemudian yg ada adalah menjadi sakit mentalnya….
“Aku menang…..aku menang….!” begitu suara anak-anak dari sebuah gang di ibukota…
Entah permainan apa yang mereka menangkan?
Entah kapan dia sadar, bahwa hidup bukan melulu soal menang atau kalah!

(Bakersfield USA)
The magic words is “How can I help you…”

Sumber : WA Gorup – Sosial Media

Catatan Redaksi : Untuk Level pendidikan dasar mungkin demikian. Tapi Untuk level Universitas dan dunia kerja akan lain ceritanya. Saya pernah berbincang dengan profesor Fakultas Hukum di Universitas Harvard, Boston. Setelah ngobrol soal politik internasional, saya ingin mendapatkan klu dari dia, apa yang membuat Amerika Serikat, unggul di dunia internasional. Dia mengatakan, kata kuncinya : Kompetisi. Pemerintah menyiapkan segalanya untuk memfasilitasi, agar warga Amerika Serikat bisa berkompetisi dengan benar dan apa yang kita lihat sekarang ini, adalah hasilnya.

Bagi saya, mungkin tidak ada rumusan baku, bagaimana cara meningkatkan kualitas pendidikan suatu masyarakat bangsa. Rumusan itu harus disesuaikan dengan kondisi negara yang bersangkutan. Namun yang berbahaya adalah, jika rumusan itu, tidak juga ditemukan.

Bagikan:

  54 Responses to “Inspirasi Weekend : Competition vs Cooperation”

  1.  

    Oooo…gitu.!!!!

  2.  

    Lho kok bisa?

    •  

      Ini Bung Patih Garuda pasti belum baca artikelnya. Jawabannya gak nyambung : Lho kok bisa ? 😀

      •  

        Saya sudah baca sebelum komen bung.
        Kok bisa ada artikel seperti ini, tumben bung.
        Kan kasihan yang mau komen ‘borooooooong’.

        •  

          Ya untuk inspirasi saja bagi dunia keilmuwan kita. National Interest. Tapi gak akan sering-sering.

          •  

            Bagus kok bung.
            Tapi tentang metode pendidikan yang paling baik dan tepat dan ideal untuk Indonesia sepertinya masih jauh, masih terus dicari. Bahkan sudah terlanjur dianggap lumrah ‘ganti menteri ganti kebijakan’.
            Capek deh..

        •  

          Bung Patih ngelesnya bisa aja…

          kwaaakk…kwaaakk…kwaaakk…

          •  

            Nggak ngeles kok bung. Saya malah kasihan lihat anak-anak yang terlalu dibebani dengan banyak les. Ada les bahasa asing, les musik, les basket, les renang, dll.
            Banyak ortu yang kadang memaksakan les tanpa memperhatikan minat si anak.

          •  

            wkkkkkkkkkk

          •  

            Kalo ane malah seneng aja bung, daripada anak2 sekolah pulang awal yg ujung2nya terus main ga jelas. Lagian mereka2 srneng2 aja ko, mereka bebas memilih extrakulikuler yg di inginkan…. ane ane cewek malah pengin les gelut…. xixi…

            Yg jelas tidak semua sekolah di Indonesia melulu mengajarkan kompetisi doang, ada juga sekolah yg memadukan antara keduanya… terutama sekolah2 non negri. Ada juga srkolah yg sebulan sekali mengadakan autbon…. biar anak didiknya pinter panjat2 pohon !!… 😆

          •  

            Soalnya saya lihat anak tetangga yang kebanyakan les dan si anak sering ngeluh capek bosan. Itu karena yang dileskan bukan bidang pilihan si anak tapi disuruh ortu, si anak nggak berdaya menolak. Sebenernya kalo ortu sekedar mengarahkan dan beri kesempatan anak untuk memilih ya bagus-bagus saja. Tapi banyak juga ortu yang memaksa.
            Sepertinya si ortu yang berkompetisi dan adu gengsi sama teman2nya untuk membanggakan anak-anaknya. Seandainya ada mungkin akan ambil les ilmu sihir juga!
            hihihii…

      •  

        😀

      •  

        Trus terang saya tertarik dng logika rangking yg diucapkan sang guru ke org tua murid. Jd saya ingat keponakan saya yg selalu dpt rangking 2 bsar, namun perilakunya persis spt yg diungkapkan di artikel ini. Jd begitu baca bagian pertama langsung nyambung ….gitu bung Diego…..hehehe

  3.  

    Saya udah baca dloan bung diego, mantap ijin share…

  4.  

    pantesan jebolan LUAR NEGERI lebih suka berkopentisi dari pada bekerja sama.

    “”””Tanpa disadari sebagian dari mereka nanti akan tumbuh menjadi orang-orang yang terlalu suka berkompetisi dan lupa bekerjasama.
    Kiri-kanannya dianggap saingan bahkan sangat mungkin sebagai musuhnya?””””

    serasa dejavu tetapi kenyataannya terjadi di kalangan elite political. “jebolan luar negeri” you know what i mean 😀

  5.  

    maaf Ujian Nasional kita lebih baik dr luar negeri

  6.  

    untuk tingkat paud sampe sekolah menengah pertama mungkin kompetisi kurang baik ya

  7.  

    So so, bung diego, how to implemented? Different culture I thing, between them and us. Indonesia habit n culture more high tolerance than them, they have culture how to lead the world and how to win the game. Sekarang pendidikan anak anak tdk lg lho mencantumkan rangking, tetapi total nilai keseluruhan, beda dgn zaman sekolah saya dulu. Pendidikan sekarang jauh lebih baik menurut saya.

  8.  

    mantab..ijin share ndan

  9.  

    taya jg tu ke wa nya orang sono amirikin. mau apa tidak angkat kaki di papua.

  10.  

    Pantes TNI selalu mengirimkan putra2 terbaiknya ke USA….

  11.  

    atmosfir kompetisi sdh tercipta mulai dr lingkungan keluarga. coba warjag ingat2 saat kecil kalau lg ngambek bikin ortu marah sampai membandingkan dgn anak tetangga yg lain padahal yg dibandingkan belum tentu lbh balik dr pada anak sendiri. lebih2 perlakuan oleh guru disekolah yg menilai kesuksesan seorang alumni diukur dr angka2, jenjang jabatan, seragam & materi. jaman saya sd sampai smp banyak ituh…

  12.  

    adanya kompetensi terkadang membuat orang bertindak di luar batas demi keuntungan diri sendiri/golongan.

  13.  

    saya hanya ingin berkata, di Indonesia itu susah di lakukan, di Indonesia berbeda dianggap aneh dan aneh akan di kucilkan, maka tidak heran kalo suami tetangga beli mobil baru, bini di rumah pasti berisik pengen ikutan, meski harus pakai kreditan… maka tak heran, benar juga kata media survei bahwa isteri lah di jaman sekarang yang membuat para suami jadi Korupsi di kantor setiap hari… semoga isteri yang begitu bertobat… ammminnn

  14.  

    Yoi

  15.  

    Indonesia, waktu saya SD, guru selalu menanamkan sikap berkehidupan “GOTONG ROYONG”, Ekonomi koperasi (kooperatif)…sayange ming teori thok. Memang betul bung, profesi menekan kita buat stagnan. Persis, yg dihargai profesi itu2 aja, menjemukkan. Banyak anak bangsa yg kreatif dan jadi pembeda, illustrator, tukang desain, animator, scluptor, makanya pak Presiden sempat mencanangkan industri ekonomi kreatif. Tapi gatot. Lihat anak bangsa kita minggat keluar negeri semua, malah berkarir dg bahagia & hebatnya. Mereka bukanya gk nasionalis, tpi our society is a bunch of morons. Pemuda aset bangsa tai asu, nyatane cuma beban negara yg justru menggantungkan hidup ke pemerintah. Mindset: PNS & pejabat itu enak.

    •  

      Iya betul bung @Megadeth, di sini persepsi orang terhadap suatu profesi memang masih begitu. Orang dengan profesi tertentu (nggak peduli bagaimana kinerja dia) disanjung dihormati hanya karena bidang profesinya dianggap lebih berderajat tinggi.
      Kalo soal nasionalisme, silakan tanyakan kepada pemilik klub bola yang tidak mengijinkan pemainnya direkrut tim nasional.

  16.  

    Mendidik anak utk persiapan masa depan. Bukan utk jmn skrg. Hidup di jmn skrg yg susah ini sbnrnya masih dianggap mudah oleh generasi mendatang. Artinya hidup dimasa datang akan lebih berat dan lebih susah lg dr skrg.

    Terus apakah kita yg jd org tua dr anak anak akan terus mempraktekan cara mendidik yg lemah lembut kpd anak?? Pedang hrs ditempa dan diasah dgn bara api dan batu keras baru akan siap utk berperang. Persiapkan anak anak kita utk persaingan berat di masa dtg. Persaingan tsb akan sangat keras krn semua di bumi akan makin habis bisss.. pdhl hrs dinikmati oleh manusia yg kian bnyk jumlahnya. Jgn jadikan generasi mwndatang cengeng dan manja.. Jgn jadikn generasi masa depan tertipu oleh hukum-hukum kemanusiaan yg sdh dikemas utk kepentingan tertentu. Sebenarnya semua hal ttg kemanusiaan jg telah tertulis dlm ajaran agama..

  17.  

    tanpa kompetisi gimana mau maju?

    semua itu karna uang..
    hanya satu dua yg bertahan, selainya minggat karna alasan klasik.
    kalo memang mau membangun negri kenapa pamrih?

  18.  

    sangat menginspirasi sekali. sikap ini yang sedang saya tekankan kepada orang2 disekitar saya bung.

    belajarlah me rela kan sesuatu, belajarlah untuk mengalah demi orang lain, lakukan sesuatu sebisa kita dengan maksimal, untuk bangsa, untuk agama, dan untuk keluarga yg kita cintai.

    banyak sekali yg kontra, tapi mungkin masih belum terbiasa.

  19.  

    Ah, Amerika itu bullshit. Katanya diajarin kerjasama/cooperative, berpikir logic. Lha itu ngapain aja goyang2 Suriah, Kuba, Indonesia, Irak, Vietnam, Korea, Afghanistan, Somalia, dsb. Kerjasama untuk memenangkan dunia dg segala caralah yg akhirnya terjadi…

  20.  

    tinggal dibalik saja. kalau jebolan luar negeri itu kerjasama dulu baru memenangkan kompetisi. SD belajar kooperasi, kuliah belajar kompetisi.
    kalau jebolan Indonesia, kompetisi dulu, menang, lalu kerjasama. SD belajar kompetisi, kuliah belajar kooperasi.

  21.  

    Mending goyang dumang aja ya bung putra

 Leave a Reply