Feb 212014
 
raaf-c103

Pesawat RAAF C-130H Hercules, A97-011

Pagi itu 20 September 1999, sekitar pukul 7 waktu Dilli, pesawat Hercules A97-011 mendarat di Bandara Komoro Dili, membawa pasukan multinasional yang dipimpin Australia (INTERFET), dari Darwin. Tugas pertama yang diterima  pasukan ini adalah mengamankan bandara udara.

Setelah beberapa hari kemudian mereka bertugas memperluas keamanan hingga ke kota Dili, sebelum bergerak mengamankan wilayah yang lebih luas. Dipimpin oleh Major Jenderal Peter Cosgrove, tentara eks-perang Vietnam ini, membawa 11000 prajurit dari 22 negara, untuk “Operation Stabilize”, di bumi Timor Loro Sae,  pasca referendum Timor Timur.

Wartawan CM Rien Kuntari, sempat mendeskripsikan kedatangan tentara Australia itu:

“Sirine Bandara Komoro Dili, meraung-raung menyambut kedatangan pesawat milik RAAF. “Lamunan saya langsung buyar ketika pesawat hercules Australia itu membuka ekornya. Saya terkesima melihat puluhan pasukan Australia itu turun sambil berlarian. Wajah mereka sangat tegang, seolah akan menghadapi Perang Dunia Ketiga.  Ditambah dengan pakaian seragam yang benar benar terkesan dekil. penampilan seluruh pasukan itu sungguh sungguh tidak enak dilihat. Tak ada sepatah katapun yang terucap ketika berpapasan dengan kami. Mungkin mereka pun mencurigai kami sebagai milisi”.

ART91051

Sandbag position, Komoro Airport, Dili 1999 (awm.gov.au)

Episode I:
Samuel Tirta (Personil RI):
77 personil Paskhas dipimpin seorang pama merupakan personil TNI yang paling terakhir meninggalkan Timor Timur (tim-tim). Cukup banyak kisah menegangkan yang mereka alami. Gesekan dengan personil interfet bisa meletus kapan saja saat itu.

Paskhas memang cukup unik. Berkualifikasi komando, pandura, linud, sandha, juga pengatur lintas udara. Ketika Interfet mendarat di lanud komoro pasca jejak pendapat, mereke heran melihat air traffic, atc control lanud diawaki oleh pasukan komando (personil atc dan traffic sudah lebih dulu diungsikan ke kupang sebelum kedatangan interfet.

Insiden terjadi ketika kedatangan Pangkoopsau II (Pak Ian) ke komoro. Begitu hercules yang ditumpangi Pangkoopsau memdarat dan kemudian Pak Ian turun dari pesawat, beberapa personil Interfet (Australia Cs) merengsek maju ke arah Pak Ian dengan laras di depan (posisi menodong senjata). Tindakan arogan ini langsung mendapatkan reaksi keras dari Pak Eka (Kapten Psk./Danden Paskhas) bersama anak buahnya, termasuk pengawal Pak Ian.

Dengan teriakannya Eka menyahut, “Hei!! Ini Jenderal saya! Panglima saya! Keamanan di sini tanggungjwb saya!!

Situasi sangat menegangkan karena posisi saling todong-todongan. Satu letusan saja keluar, pasti tembak menembak jarak dekat terjadi. Apalagi 5 personil pengawal Pak Ian sudah meraba granat masing-masing (karena kalah jumlah, mereka sepakat granat sebagai senjata untuk untuk memperbanyak jumlah korban di pihak lawan jika terjadi kontak).

Tentara Australia Patroli di Kota Dili 1999 (remembrance2010.indev.com.au)

Tentara Australia Patroli di Kota Dili 1999 (remembrance2010.indev.com.au)

“Panggil ke sini Panglima kamu!” Bentak Eka.
Dalam briefing sebelumnya Eka sudah mewanti-wanti bahwa jangan kita yang memulai letusan. Misalnya harus terjadi kontak. “Letusan pertama dari saya” kata Eka.

Dalam kapasitasnya sebagai Pangkoopsau II Pak Ian berkali-kali datang ke Timtim meninjau pasukanya. Saat kedatangannya kali ini, kekuatan TNI-AU sudah terpusat di Komoro. Personil Lanud sudah dievakuasi semuanya, sehingga yang tertinggal hanyalah Denpaskhas.

Kepada Danden Paskhas Eka sesaat sebelum meninggalkan Komoro, Pak Ian sempat merangkulnya. Air muka penerbang Hercules ini terlihat sangat murung dan sedih, sejatinya tidak menerima kenyataan yang terjadi. Sambil menitiskan airmata, Pak Ian berpesan kepada Eka, ” Ka.. titip TNI-AU ya..anak-anak di sini semua di tanganmu, sewaktu-waktu jika ada apa-apa, kamu langsung kontak saya. Saya akan perintahkan seluruh kekuatan saya..saya hanya percaya ke kamu. Ini perintah!.

Perintah dari seorang panglima yang dinilai Eka sangat berani dan siap menanggung segala resikonya. “Beliau tahu persis jika terjadi chaos, kami pasti akan hilang semua”.

Patroli Pasukan Australia di Dilli 1999

Patroli Pasukan Australia di Dilli 1999

Episode II
Samuel Tirta:
Kejadian menegangkan juga pecah saat pasukan Interfet bersitegang dengan Linud 700. Kejadian tanggal 4 Oktober ini, dipicu oleh ulah sebuah APC milik Interfet (personil Aussie) yang menabrak pintu pagar depan komplek Itfet yang dijaga personil linud. Terang saja insiden ini membuat linud naik darah dan angkat senjata. Alasan oknum Interfet itu menabrak pagar, karena sedang mengejar milisi hingga tidak sadar menerobos kawasan yang dijaga linud dan brimob.

Besoknya terdengar kabar tentara edan itu dipulangkan ke australia oleh panglimanya.

Rembetan insiden ini juga sampai ke bandara komoro. Denpaskhas langsung siaga, begitu juga personil interfet di sana. Sekali lagi personil di lapangan diwanti-wanti, jangan kita yang memulai tembakan. Jika kontak pecah prosedur pelolosan diaktifkan (induk detasemen tetap bertahan di bandara komoro sampai titik darah penghabisan, dipilih 10 orang personil yang paling militan memulai long march ke perbatasan Indonesia, menyampaikan salam komando kepada Dankorpaskhas dan seluruh jajaran TNI, meski diyakini tidak semua dari 10 orang ini akan berhasil sampai keperbatasan).

Malaysia negara serumpun kita, jiran terdekat turut mengirimkan pasukannya (ATM/PDRM) bergabung dalam misi PBB di Timtim.

Hhsam (Personil US):
Yang di Dili itu bukan kodok saya mas, itu 31MEU (The 31st Marine Expeditionary Unit -red) yang turun di pelabuhan.
Waktu itu saya masih baru-barunya kembang emas, dan hanya punya lima ekor kecebong kecil.

Turunnya masih agak jauh dari Dili. Waktu itu madame secretary Madeline (Madeleine Albright -United States secretary of state red) meminta cerita firsthand di lapangan. Oleh Okinawa (Pangkalan AS di Jepang) diperintahkan patoli di daerah tertentu.

Setelah patrol selesai, masih ramai-ramainya perusakan oleh “geng duri”. Sempat mampir ke comoro airport sambil iseng dari arah barat tarmac yang lama. Kami sempat berpapasan kok dengan beberapa rekan TNI. Mungkin dikira orang dari “geng duri”. Hanya sebentar lantas kembali ke US compound dekat pelabuhan.

Samuel Tirta :
Berarti landnya june-july ya Pak Sam ?. Yah begitulah situasinya, semua pun kalau bisa dicurigai, apalagi pasca rusuh dan turunnya orang-orang dari hutan.

Oh iya Pak Sam bisa diceritain waktu boardingnya dulu bagaimana. Apakah tetap sikap ready for combat ?. Sebab baik Unamet maupun Interfet waktu mendarat (terutama eselon pertamanya) semua posisi siap tempur, tiarap membuat pancangan di land. Ini cukup lucu kelihatannya, banyak personil di lapangan senyum-senyum melihatnya. Rupanya disinformasi, mereka menyangka akan diserang sebaik boarding oleh milisi.

Apa Pak Sam juga masih di sana ketika “perang kata-kata” Pangdam vs Dubes US?. Apa kira-kira pendapat marine mendengar itu ?.

Pangdam berkata ke reporter..” Bilang ke mereka (US Marine) jangan cuma lewat udara langgar perbatasan..kalau berani lewat darat biar berhadapan dengan pasukan saya..!”

HHSam :
Iya mas, akhir Mei. Waktu itu belum ada marinir resmi yang mendarat karena pendaratan terjadi sekitar Referendum bulan Agustus 1999.

Yang ada, ialah Marines yang meminjamkan helikopter USMC (FMF) dari ARG 7th fleet sebagai sarana angkut kepada pihak PBB dan kontraktor sipil UNHCR. Washington saat itu menginginkan berita yang jelas karena ada tarik menarik antara Jakarta dengan komandan lapangan dan Udayana serta pihak kedubes US sendiri waktu itu Stapleton Roy yang kemudian dalam beberapa bulan diganti oleh Robert Gelbard.

Karena semua pihak ada cerita masing masing, serta munculnya perkembangan baru di lapangan, maka madame secretary meminta klarifikasi untuk mencari fakta yang jelas agar bisa bersikap.

Waktu itu saya masih ada di kapal yang dijadwalkan latihan rutin ke Australia. Perintah dari Okinawa untuk terjun dari helo dengan blind LZ turun 4 jam sebelum ekstraksi. Di tengah jalan baru diketahui drop-point adalah ET (Timtim – red).

Karena sudah banyak heli pinjaman UN dengan marking USMC, maka kita ikut beberapa flight path yang sudah ada, baru kemudian “menyelonong” dengan tree-top hingga ke LZ (Balibo -red). Hanya 6 orang beserta kru.

Setelah didrop, perembesan ke arah timur. Dua bulan kemudian kejadian memanas seputar jalur Tunubibi, Maulelo, Atambua. Apalagi setelah kejadian terbunuhnya wartawan Belanda dan tewasnya petugas UNHCR warga negara US. Sehingga Congress menekan madame Secretary untuk mencari solusi yang tepat bagi perkembangan di Indonesia dan status US terhadap masalah tersebut.

ROE kita adalah tidak menimbulkan kontak senjata, dan hanya membela diri bilamana perlu. Tujuan kelompok kecil ini hanya menetralkan bibit bibit yang menjadikan ancaman serius terhadap pembicaraan bilateral dan kesepakatan antara Jakarta dan Washington.

Yang intinya tidak ingin kesinambungan hubungan bilateral US-Indonesia terancam, juga tidak ingin “shifting-concern” antar negara Asia Tenggara meretak.

Jadi siapapun kaki tangan setan yang bermain di belakang adalah tugas kelompok kecil itu agar “disukabumikan” supaya wabahnya tidak menyebar kemana-mana:

1. Opportunist liar yang lepas dari kontrol TNI.
2. Opportunist liar pihak Xanana yang berusaha menggebuk rekannya sendiri agar mempertahankan posisinya dengan menyalahkan Indonesia di mata internasional.
3. Opportunist liar yang dibiayai oleh multi national corporation agar orang tertentu naik menjadi pemimpin di Dili yang akan memberikan konsensus eksplorasi kepada perusahaan tertentu.

Ini juga menjawab pertanyaan kenapa tentara negara lain kurang informasi dan bersikap siaga tempur, barangkali Washington tidak seluruhnya menyebarkan informasi kepada rekan di Unamet/Interfet.

Saya juga mendengar adu pendapat antara Udayana (pak Kiki) dengan dubes pak Gelbard. Saya pribadi juga mengerti posisi Pak Kiki yang serba salah, ditambah lagi Pak Dubes Gelbard yang bergaya kaku, tidak seluwes pendahulunya. Apalagi Jakarta sudah ada wanti-wanti kepada Panglima Pak Widodo, untuk menukar Pak Kiki dengan Pak Rompis di Udayana. Yang menurut Pak Kiki adalah “pesanan AS”. Apalagi kemudian 4 kapal perang dan 600 marinir mendarat di pelabuhan. Bersamaan dengan tutuntutan permintaan maaf kepada Pak dubes oleh pak Kiki.

Pak Kiki adalah militer sejati keras dan brangasan sama halnya dengan pak Sintong, keduanya di Udayana merasa di “Moerdani-kan” oleh Jakarta. Jadi ya wajar saja kalau sengit kepada US.

Sebagai marinir kita hanya bersikap terima perintah Mas, monggo silakan para pemimpin negara dan elite politik kedua belah pihak yang berbicara.

Tidak mengurangi rasa hormat kepada rekan TNI, saya hanya berbagi cerita yang boleh diceritakan. Selebihnya saya kurang tahu, aggap saja cerita abal-abal ya.

Samuel Tirta:
Peristiwa lain juga cukup menegangkan dan hampir terjadi kontak besar-besaran. Terjadi pada tanggal 21 September 1999. (Mungkin HHSam masih di tkp waktu itu, dengan senang hati jika mau ditambahkan).

Peristiwa ini bermula saat eksodus besar-besaran seluruh personil Yonif 745/Udayana (ikut juga keluarga mereka) dari markasnya di Los Palos di ujung timur Timtim. Dengan dipimpin langsung oleh Danyonnya Maj. JD.Sarosa, iring-iringan sekitar 26 truk penuh muatan bergerak via darat melewati Baucau, Manatuto, Dilli dan kemudian menuju perbatasan NTT. Karena yonif ini organik, jadi tidak heran mayoritas personilnya adalah putra daerah Timtim.

Saat konvoi mendekati kota Dilli, merela beristirahat sejenak di Becora, membersihkan diri di sebuah anak sungai. Tanpa diduga muncul 2 wartawan asing dan langsung memotret mereka. Difoto tanpa izin sontak anak-anak Yonif marah, merampas kamera dan mengusir mereka.

Ketika konvoi bergerak masuk kota Dilli, Danyon menyerahkan kedua kamera tersebut ke Danrem (setelah terlebih dulu memusnahkan filemnya). Kamera tersebut kemudian dikembalikan ke pemiliknya (akibat kejadian ini dua personil yonif dihukum sel 2 minggu, Danyon 1 minggu).

Malamnya setelah dorlok perbekalan, konvoi melanjutkan perjalanan. Kekhwatiran menyeruak di Korem, karena konvoi akan melewati wilayah dekat Bandara Komoro yang sebagian dijaga oleh Interfet. Kemudian masuk laporan bahwa pasukan Interfet mnuat roadblock mencegah konvoi meninggalkan Timtim.

Konvoi yonif langsung siaga kokang senjata, senapan mesin dengan bipod dipasang di atas truk paling depan. Dengan kadar emosi yang masih labil sebagai putra daerah yang terusir, bisa dipastikan anak-anak Yonif akan bertempur habis-habisan. Makorem dan pasukan-pasukan yang tersisa di Dilli sibuk bukan main mengantisipasi kemungkinan kontak sebentar lagi.

Dalam situasi mencekam ini, siaga tempur, untunglah Atmil Australia untuk Indonesia, Kol. Brownrigg. Dia bergegas menuju ke tkp roadblock Interfet membubarkannya dan berpesan agar jangan mengganggu konvoi itu. Dari Korem sebagai antisipasi digerakkan satuan CPM untuk mengiringi konvoi, maka kejadian yang tidak diinginkan pun dapat dihindari.

Dengan cepatnya beredar kabar bahwa konvoi 745 akan dihadang, satuan-satuan yang masih bertahan di sekitar Dilli (Linud, Brimob, Bravo, SGI) diam-diam merapat ke area roadblock Interfet, mengatisipasi pasukan kawan yang akan dihadang.

Dengan wajah sumringah dan kelihatan masih risau, Kol. Brownrigg mengucapkan terima kasih kepada Danrem
” Pak..saya cukup risau, jika terjadi kontak pasti akan banyak tentara Australia yang tewas..Saya tidak bisa membayangkannya”.

Dikemudian hari, kasus terbunuhnya seorang wartawan asing (Sander Robert) langsung tudingan diarahkan ke konvoi ini.

HHSam :
Yang digaris bawah maksudnya komandan Kompi D BanPur YonInf 745/SYB waktu itu ya. Saya hanya pernah ketemu dengan Pak Jacob D Sarosa (Maj-Inf) saat memasuki road-block kedua tidak jauh dari Komoro. Karena dihentikan paksa oleh elemen tentara Australia dan New Zeland yang menjaga segmen area tersebut.

Mengenai penembakan wartawan, memang terjadi Mas Samuel, dan memang waktu kejadian serta kronologis menuntun kepada YonInf 745/SYB saat melintasi track tertentu terutama oleh anggota pleton tertentu di kompi D bersama kelompok duri dan beberapa anggota BMP dari salah satu truk di konvoi tersebut.

Laporan ini dikonfirmasi setelah sebagian besar anggota putra daerah dari YonInf 745 berniat “pulang kampung” ke East Timor setelah batalion tersebut sampai ke Kupang.

Tetapi itu tugas penyidik dari Interfet nantinya. Tujuan saya adalah menyampaikan perintah dari Washington ke komandan lapangan pasukan Interfet yang diikuti oleh perintah komandan Interfet asal Inggris, agar mencegah insiden yang tidak perlu.

Samuel Tirta:
Jika kodoknya paman sam (tergabung dalam unamet) yang mendarat bulan juni 1999 yang dimaksud, sethau saya di Dilli, bukan komoro.

Pergerakan kodok-kodok ini (air/land) dipantau terus oleh Paskhas (sebelum kedatangan Denbravo). Di komoro sebagai last stand yang mendarat interfet (Aussie/NZ), mereka heran melihat yang memandu pesawat mereka hingga mendarat personil komando dengan senjata di pundak. Turut serta dalam pendaratan ini adalah personil Gurkha, mereka ini yang sangat diwaspadai oleh Paskhas karena berkempuan mountaineering, jungle combat dan anti gerilya.

Indonesia-AirForce-Special-Forces-Paskhas

Paskhas TNI AU

Paskhas memang cukup unik. Berkualifikasi komando, pandura, linud, sandha, juga pengatur lintas udara. Ketika Interfet mendarat di lanud komoro pasca jejak pendapat, mereke heran melihat air traffic, atc control lanud diawaki oleh pasukan komando (personil atc dan traffic sudah lebih dulu diungsikan ke kupang sebelum kedatangan interfet. 77 personil paskhas dipimpin seorang pama merupakan personil tni yg paling last meninggalkan timtim. Cukup banyak juga kisah menegangkan yg mereka alami. Gesekan dengan personil interfet bisa meletus kapan saja waktu itu).

(Cuplikan perbincangan Samuel Tirta dan HHSam di Formil Kaskus 18/02/2014).

  43 Responses to “Paskhas dan Interfet: Timor Timur 1999 (Historia)”

  1. Kenangan penuh luka..!

    • Pengakuan Bapak Habibi di Mata Najwa :

      http://www.youtube.com/watch?v=5_tUvHlngMk

      Bahwa keputusan Referendum atas persetujuan Semua Pimpinan TNI.
      Kerusuhan yang terjadi akibat dari Kesalahan PBB sendiri yang melanggar Kesepakatan

      Dari beberapa literatur, banyak sekali pelanggaran (terang-terangan) yang dilakukan Petugas PBB dari Australia, diantaranya :

      – Saksi dari Indonesia banyak yang diusir, sehingga Proses Referendum kebanyakan tanpa saksi dari Indonesia

      – Petugas PBB asal Australia secara langsung dan tidak langsung telah Membujuk Pemilih agar memilih Lepas dari NKRI

      – Kotak Suara ketika dibawa di PBB tanpa pendampingan dari Indonesia (bisa saja ditukar dalam pengiriman)

      – Kotak Suara banyak yang ditinggal (tidak dihitung) dari daerah pemilih yang Pro-Integrasi

      – DLL

      dalam waktu itu, TNI sudah lumpuh, 90% Alutsista tidak dapat dipakai, contohnya kapal Van Speijk pernah meledak dan terbakar sebelum berangkat ke TimTim, Rudal lumpuh tak bisa dipakai macam Exocet dan Harpoon

  2. Penuh luka tp harus sadar jgn terulang lgi 😉

    • Bukan hanya Indonesia, namun DUNIA juga dapat pelajaran yang sangat berharga, Bahwa Referendum pelepas suatu wilayah Negara pasti merugikan Negara Induknya.

      Contohnya : Chechnya yang meminta Lepas dari Rusia melalui Referendum, Jelas Rusia tidak mau, karena pengalaman dari Indonesia.

      BEDANYA, Kalau Indonesia Lumpuh Tentaranya, Kalau Rusia Super Kuat, Siapa berani dengan Rusia ???

  3. benar2 pelajaran yg sgt berharga.. dan agar mjd bahan buat pmimpin2 negeri ini dlm mnentukn kebijakan politik luar negerinya

    • Ambisi, arogansi, tipu daya, dan penuh intrik kepentingan yg dilakukan tetangga selatan yg seolah menganggap dirinya negara super power.
      Sejatinya jika menyitir dari statment presiden ke 4 RI ” Australia adalah negara usus buntu “.
      Negeri sekumpulan bromocorah yg tidak pernah digubris oleh dunia itu kini menghadapi ancaman
      dari PLA di tanah yg dulu pernah diintervensinya. Selamat menikmati hasil keangkuhan mu Ausit.

      • Pagi itu 20 September 1999, sekitar pukul 7 waktu Dilli, pesawat Hercules A97-011 mendarat di Bandara Komoro Dili, membawa pasukan multinasional yang dipimpin Australia (INTERFET), dari Darwin Australia.

        Dan anak anakPaskhas (PSK) yang menyiapkan di bandara dan mengawal dari ATC pendaratan pesawat hercules pertama pasukan interfet pada KETAWA dikarenakan saat turun pasukan pertama dari hercules dengan gerakan siap akan baku tembak,,ada yang lansung tiarap..berlarian mencari perlindungan,,, ada yang lari dgn merunduk

        dan anak anak paskhas ketawa geli melihat over action pasukan ausy yg mendarat lha wong mereka yg memandu mereka mendarat kok malah dicurigai,,
        asem tenan

        • Hehehe..! Sweet story bung Satrio. Peristiwa serupa juga terjadi saat kedatangan pasukan pengamanan presiden US menjelang penyelenggaraan KTT APEC di Bogor. Para personel kopassus kita dibuat tertawa geli, saat mereka mendarat di Halim. Mereka turun dengan seragam tempur lengkap, lari berpencar, bertiarap, bahkan sebagian ada yang menyisir parit di sekitar landasan. Semua yang ada di ruang tunggu, bertepuk tangan, sedangkan tentara US tampak kebingungan. Sekali lagi, hehehe..!
          Kisah ini saya dengar langsung dari mantan prajurit kopassus yang waktu itu ditugaskan menyambut kedatangan delegasi tentara US di Bandara. Terima kasih untuk bapak Serma Tatang Ruswita di Cianjur, semoga bisnis restoran ayam goreng Cianjurnya kian mashur. Amien.

        • Itu namanya profesional, selalu waspada

  4. dan harus selalu menjadi pengingat bahwa industri pertahanan harus bisa mandiri.
    alhamdulillah arahnya sudah jelas…

  5. Gak kebayang bagaimana perasaan TNI terutama para komandannya waktu itu, saya aja yang jauh dari Timtim ngerasa sedih

  6. “Situasi sangat menegangkan karena posisi saling todong-todongan. Satu letusan saja keluar, pasti tembak menembak jarak dekat terjadi. Apalagi 5 personil pengawal Pak Ian sudah meraba granat masing-masing (karena kalah jumlah, mereka sepakat granat sebagai senjata untuk untuk memperbanyak jumlah korban di pihak lawan jika terjadi kontak).”

    “Kepada Danden Paskhas Eka sesaat sebelum meninggalkan Komoro, Pak Ian sempat merangkulnya. Air muka penerbang Hercules ini terlihat sangat murung dan sedih, sejatinya tidak menerima kenyataan yang terjadi. Sambil menitiskan airmata, Pak Ian berpesan kepada Eka, ” Ka.. titip TNI-AU ya..anak-anak di sini semua di tanganmu, sewaktu-waktu jika ada apa-apa, kamu langsung kontak saya. Saya akan perintahkan seluruh kekuatan saya..saya hanya percaya ke kamu. Ini perintah!.”

    “Konvoi yonif langsung siaga kokang senjata, senapan mesin dengan bipod dipasang di atas truk paling depan. Dengan kadar emosi yang masih labil sebagai putra daerah yang terusir, bisa dipastikan anak-anak Yonif akan bertempur habis-habisan. Makorem dan pasukan-pasukan yang tersisa di Dilli sibuk bukan main mengantisipasi kemungkinan kontak sebentar lagi.”

    Miris dan merinding ceritanya, tapi bangga dengan TNI yang gagahnya, tidak ada rasa takut walau nyawa taruhannya, ini mungkin yang ditakuti oleh negara lain akan jiwa nasionalis dan militan yang dimiliki bangsa Indonesia.

    • Itulah tentara rakyat yg jd tentara bkn karena gaji bulanan tp panggilan jiwa patriotisme.makanya di thread yg lalu cibai blg rakyat kita hobi jd tentara karena kurang lapangan kerja sy ngutuk keras.Jangankan TNI,sipilnya aja bakal buas kalau hrg diri bangsanya di injak.blm pernah dengar kali mereka kita pernah menusuk gurkha di surabaya pake bambu runcing dan menikmatinya!

  7. Saya masih ingat ada anggota wanita salah satu LSM indo yg sangat membela kemerdekaan timor dan mendukung pendudukan australia. ?. Apakah diamasih hidup?….

  8. Pengalaman adalah guru yg paling baik… Adalah sebodoh2nya manusia jika mengulang kesalahan yg sama. Sdh sangat terang benderang siapa asu2 itu…siapa (calon) musuh sebenarnya… Jika militer (khususnya alutsista) kita lemah, tidak perlu menunggu lama, pasti musuh2 kita akan bermunculan… Hari ini bisa saja Asutralia, Singaporn, Malingsia, PNG, dan yg lainnya mendeclare kalau Indonesia adalah sahabat, teman, dan tetangga negara mereka, tapi besok hari belum tentu. Saya pastikan, banyak negara yg menginginkan Indonesia ini bubar, pecah-belah atau berantakan (seperti halnya Yugoslavia dulu), tidak terkecuali negara2 tetangga. Berhentilah bermanis-manis muka dengan para tetangga, apalagi tetangga yg menyakitkan. Tidak perlu mengemis utk bersahabat apalagi dengan tetangga. LEBIH BAIK MATI DARIPADA HIDUP TERHINA; JANGAN TAKUT HANCUR ATAU MATI UNTUK KEBENARAN YG KITA YAKINI KARENA TOH KITA SEMUA JUGA PASTI AKAN MATI

  9. Jas merah
    Jangan sekali kali melupakan sejarah

    Dilanjut Bung Satrio 😀

    Ane nyimak ini 😀

  10. sebenarnya banyak yang aneh dari peristiwa tim2 tersebut,, di mulai dari msknya indonesian tahun 72
    mmg timtim sempt di usulkan untuk menjadi daerah istimewa tapi di tolak,,

    1 LBM melapor ke PH yg wktu itu sedang sakit dan terbaring.. untuk msuk ke tim tim karena jika dibiarkan kekacauan akan merembet ke dalam negri,, PH menjawab ap kita sudah siap ? saya tidak mendapt amnat MPR untuk msuk ke tim tim,, LBM menjawab dengan lantannk siap komndan..

    yowes lakukan OPERASI INTELEGEN…

    kenap psukan gabungan melakukan operasi yang jauh dr kata intelejen bahkan mengarah ke operasi perang terbuka yg melibatkan satuan2 gabungan,,, ???

    msh banyak yg ingin saya tulis tetapi lelah tangan saya mengetik

  11. sebenarnya banyak yang aneh dari peristiwa tim2 tersebut,, di mulai dari msknya indonesian tahun 72
    mmg timtim sempt di usulkan untuk menjadi daerah istimewa tapi di tolak,,

    1 LBM melapor ke PH yg wktu itu sedang sakit dan terbaring.. untuk msuk ke tim tim karena jika dibiarkan kekacauan akan merembet ke dalam negri,, PH menjawab ap kita sudah siap ? saya tidak mendapt amnat MPR untuk msuk ke tim tim,, LBM menjawab dengan lantannk siap komndan..

    yowes lakukan OPERASI INTELEGEN…

    kenap psukan gabungan melakukan operasi yang jauh dr kata intelejen bahkan mengarah ke operasi perang terbuka yg melibatkan satuan2 gabungan,,, ???

    msh banyak yg ingin saya tulis tetapi lelah tangan saya mengetik

  12. Dan harap diketahui Major Jenderal Peter Cosgrove yg memimpin Interfet dulu itu dianggap sukses dan menjadi terkenal dan dihormati dimiliter Ausy karena tim tim bisa lepas dari NKRI

    Cosgrove mendapatkan International Force East Timor Medal Dan penghargaan Australian of the Year pd thn 2001 karena sukse di interfet sehingga pada thn 2000 diberikan kenaikan pangkat menjadi Letnan Jendral menjadi kasadnya ausie dan pada thn 2002 promosi menjadi Chief of the Defence Force ausie dengan pangkat Jendral

    SEKARANG sama PM abbot si Peter Cosgrove akan diangkat menjadi (next) Governor-General of Australia menggantuikan Quentin Bryce, yang masa jabatannya akan berakhir maret 2014
    cocok wis sama abbot..bisa membisiki bagaiman kiat kiat nya dulu menduduki Tim tim,

    Ucapan peter cosgrove saat menjadi Panglima Interfet yang masih terngiang saat menyebut Indonesia sebagai the lonely planet
    asem tenan
    https://cas.awm.gov.au/screen_img/ART91505

    • hal inilah bung Satrio yg membuat saya benar-benar anti terhadap blok barat yg selalu menggunakan politik abu-abu demi kepentingan bisnis mereka.

      kalau melihat dari kronologis cerita bung Satrio setelah pristiwa Santa cruz kayaknya Pak Harto bener-bener sakit hati ama pihak amerika sehingga memesan 1 skuadron Sukhoi dr Rusia dan berniat menambah 6 ks 206 dr Jerman,penguatan alutsista ini yg kemudian menjadi salah satu alasan Amerika untuk membuat grand design menumbangkan Presiden Soeharto.

      yg menjadi pertanyaan saya bung Satrio bagaimana penanganan dengan Papua, karena kayaknya di Papua, LSM dan Pemuka agama bahkan sudah ikut bermain unuk mengorbankan rasa kemerdekaan pada anak” Papua yg sebenarnya hidupnya sangat tergantung pada pemerintah Indonesia

      • trus apa antisipasi pemerintah terhadap lsm dan pemuka agama yg mnyebarkan fitnah.?

      • Libya juga dikhianati Barat setelah memilih berpaling dari Rusia dan berteman dgn NATO. Lesson learned: hati-hati sama Barat, krn mereka kerap menjadi serigala berbulu domba. Bagi mereka tidak ada pertemanan abadi, hanya kepentingan sesaat. Habis manis sepah dibuang.

  13. Bravo paskhas yg bisa mjd pasukan serba bisa. Lepas timtim krn kita sbg bangsa kurang tegas dan tdk bersatu. Kita bisa mencontoh cina, apapun protes negara barat, cina tdk bergeming dgn Tibet sbg bagian wilayahnya. Cina tdk takut pada siapapun. Dgn potensi ekonomi dan kemandiriannya, tdk ada satupun negara yg berani dgn cina. Atau kita bisa mencontoh israel si muka badak, apapun protes negara lain mereka tetap suka2 membunuh warga palestina, siapapun tdk boleh masuk ke palestina atau tibet. Cina dan israel kuat pada pendiriannya.

  14. mbah BOWO waktu itu lagi ngapain yaaa…. ?

  15. 2 lagi partainya KOTA dan TRABALISTA, mbah bowo minum bir d pntai Dili

  16. dan sekarang baru SADAR timor leste,bahwa semua negara barat dan antek2 persemakmuranya JAHAT dan penuh dg TIPU DAYA.titik

  17. Pangdam Udaya saat Jajak Pendapat Timor Timur adalah Mayjen Kiki Syahnakri, pensiun terakhir Letjen jabatan terakhir Wakasad.

    Jenderal Kiki lah yg pertama kali, saat masih berpangkat Letda (Letnan Dua), pada 1975, membuka pintu gerbang di Mota Ain bagi pengungsi dari wilayah Timor Portugis yang ingin memasuki wilayah Indonesia.

    Dan mungkin karena sudah takdir Beliau, pada tahun 1999, saat-saat terakhir sebelum Indonesia benar-benar meninggalkan Timor-Timur, lagi-lagi Jenderal Kiki pula lah yg mendapat mandat dari pemerintah RI, untuk mengemban fungsi sebagai “Penguasa Darurat Militer”, pada saat pasca pengumuman referendum untuk ikut meredam kekacauan yg timbul pasca pengumuman referendum dan sekaligus mengorganisir keluarnya Indonesia dari Timor-Timur.

    Penulis prolog di buku pak Kiki “TIMOR TIMUR – The Untold Story” yakni Bapak F.X. Lopes da Cruz, Dubes Keliling dan juga Duta Besar Indonesia untuk Portugal, menyematkan gelar khusus kepada Jenderal Kiki Syahnakri, sebagai; Alfa dan Omega”. Karena Beliaulah yg membuka pintu pada tahun 1975, saat masih berpangkat Letnan Dua, dan Beliau pula lah yg menutup pintu pada tahun 1999, setelah menjadi seorang Jenderal.

    Kiki juga mengungkap berbagai “rekayasa” yang dilakukan oleh pihak asing terhadap situasi Timor Timur. Rekayasa itu misalnya, muncul dalam bentuk pemberitaan yang memojokkan pihak RI oleh koran luar negeri. Ia mencontohkan koran di Australia yang memberitakan TNI melatih 15 ribu milisi di Atambua. “Jumlah sebanyak itu tidak mungkin. Tapi berita itu sangat dipercayai,”ujarnya.

    JUGA diungkap oleh pak Kiki yakni terkait tuduhan oleh pihak asing terhadap dirinya dan Letjen Sugiono sebagai “master of terror”. “Letjen Sugiono tidak pernah injak kaki di Timor Timur. Kok kami disebut master of terror,”ujarnya.

    Ada ucapan yang terkenal pak Kiki selaku pangdam saat berbicara dengan para reporter..” Bilang ke mereka (US Marine) jangan cuma lewat udara langgar perbatasan..kalau berani.lewat darat biar berhadapan dengan pasukan saya..!”

    • benar bung Satrio, bnyak cerita perih, tipu daya dan sekaligus MEMBANGGAKAN dr ksh timtim. satu hal yg psti TNI kita sejak lama disegani dan ditakuti lawan walaupun mrk thu kita penuh keterbatasn dan itu bukan isapan jempol. jd inget semboyan TNI ktka sy msh rmja. TANGGUH..TANGGON..TRENGGINAS…

  18. Marsekal Madya Purn Ian Santoso Halim Perdana Kusuma anak dari pahlawan nasional Halim perdana kusuma. Mantan Orang Nomor satu Intelijen TNI (BAIS) itu, Marsekal Madya (Purn) Ian Santoso mengawali Karier di TNI AU pada tahun 1970 yang lahir di Madiun 17 Juli 1948 dan pernah mengemban beberapa jabatan penting dan strategis seperti menjadi Instruktur Penerbang Wing 1 Lanud Adisutjipto, Atase Pertahanan RI di Singapura, Pangkosekhanudnas 1, Danseskoau, dan sebelum menjabat sebagai KABAIS TNI beliau pernah mengemban tugas sebagai Pangkoopsau II di Makassar yang membawahi lanud Komoro Dilli saat pasca jajak pendapat dan pasukan Interfet mendarat

    Interfet SAKIT HATI dengan Pak Ian Santoso karena beliau satu-satunya petinggi TNI yang mengancam akan menembak pesawat Interfet yang masuk wilayah NKRI.

    Saat itu beliau menyiapkan 12 pesawat tempur kombinasi A-4, Hawk dan F-16 untuk misi serangan strategis bila keadaan chaos terjadi.

    Dengan Kondisi militer kita yang di EMBARGO banyak readiness pesawat tempur kita yang menurun drastis kekuatannya. Perhitungannya dengan kekuatan pepsur saat itu hanya memungkinkan 2 kali Sortie penyerangan saja. Tetapi kondisi itu tidak membuat Pak Ian GENTAR bila akan menghadapi Interfet yang melanggar kedaulatan NKRI

  19. Menyakitkan sekaligus salut untuk beliau beliau ini. Walaupun maut di dpn mata tak ada rasa gentar sama sekali. Saya teringat komen @mbah bowo yg bunyinya: BANGSA KITA BANGSA PETARUNG BUKAN BANGSA AYAM SAYUR.

    MERINDING saya membacaya, tak ada sedikit pun rasa takut di hati saya seumpama suatu saat terjadi perang. Sifat militan yg begitu kuat melekat di darah setiap warga INDONESIA mungkin inilah yg tdk dimiliki oleh negara lain.

    Tapi keMANA mbah bowo ya? .. tolong baca sejarah ini mbah kita bisa menilai mana kawan mana lawan. Cuma orang yg BUTA MATA DAN BUTA HATI YG BILANG AUSTRALIA SEBAGAI SAUDARA. Di mana rasa nasionalis kita kalau bilang australi itu saudara. Cuma orang yg buta sejarah yg bilang australia itu saudara. Tdk terasakah kecongkakan mereka terhadap negri kita? Masih kurang kah kita disakiti?

  20. Situasi menjelang lepasnya Timor Timur,
    Wawancara dengan mantan Jenderal Kiki Syahnakri.

    Berikut penjelasan Mayjen Kiki Syahnakrie tentang situasi terakhir diTimor-Timur kepada Tiarma Siboro dari D&R.

    Di Jakarta sempat berkembang isu bahwa sempat terjadi beberapa kali konflik antara pasukan TNI dengan pasukan interfet. Bagaimana sebenarnya yangterjadi di Tim-Tim?

    Tidak terjadi konflik itu, Kemarin dulu memang ada dua kejadian yang sebenarnya itu boleh dikatakan akibat kesalahpahaman. Kejadian pertama itu kurang lebih pada jam 10 WITA di tempat yang bernama Balide, yaitu di sebelah selatan Dili, dekat lereng. Pada saat itu dari lereng bukit tersebut turun gerombolan massa dari atas yang kira-kira kelihatannya mau mencari sesuatu.

    Lalu rupanya pada gerombolan massa itu juga ikut serta beberapa orang Timor bersenjata. Diperkirakan massa ini dari kelompok pro kemerdekaan karena mereka turun dari arah Dare. Pada saat di dekat Detasemen Peralatan, mereka melihat TNI disitu yang memang sedang bekerja menaik-naikkan barang dalam rangka likuidasi Korem. Jadi TNI itu dari Korem. Nah kemudian begitu melihat TNI, gerombolan massa ini berhamburan naik keatas, mungkin mereka takut. Dari atas, diantara mereka yang memegang senjata itu menembak. Tidak jelas ke mana arahnya menembak itu, beberapa kali, bahkan ada tembakan rentetan.

    Ini didengar oleh (pasukan) di Pos Interfet yang kebetulan juga tidak terlalu jauh. Di sebelah Barat dari bukit itupun, di lereng bukti yang sama ke sebelah barat, itu ada tentara interfet juga dari Satuan Gurkha. Dari pantauan radio, Gurkha itu ditanya, itu tembakan dari mana. Jawabnya, tidak jelas (dari mana). Lalu ditanya lagi, apakah dari TNI. Jawaban pasukan Gurkha itu kepada atasannya adalah, Bukan dari TNI. Tidak. Saya bisa pastikan bukan dari TNI. Lalu pasukan Interfet lainnya yang orang Australia datang ke tempat kejadian. Karena mendengar tembakan, mereka menembak juga, sehingga agak ramai. Jadi tidak ada kles waktu itu. TNI juga kemudian melanjutkan kegiatan. Massanya pun balik ke atas dan tidak melanjutkan kegiatannya untuk turun ke bawah. Beberapa (barang) yang sudah di bawa itu yang kelihatan di televisi, yang lari-lari itu.

    Bagaimana dengan kejadian yang kedua?

    Kejadian kedua adalah di Markas Kodim kurang lebih jam 11.30 WITA. Makodim ini sebenarnya sudah kosong karena Kodimnya sudah dilikuidasi. Kemudian karena Batalyon 521 itu akan ditarik/dikembalikan, maka untuk sementara ditampung di Makodim yang dekat dengan Pelabuhan.

    Pada saat itu sudah ada kurang lebih 60 orang anggota 521 di dalam Makodim sedang bersih-bersih karena Kodim itu akan dipakai. Tiba-tiba dari arah belakang itu masuk lima orang interfet dari tentara Australia dengan meloncat pagar, diikuti oleh tiga orang wartawan dengan tiga kamera besar. Kemudian ditegur oleh anggota kita, hei kamu mau apa ke sini. Mereka mengatakan bahwa mereka mencari milisi yang lari di situ. Lalu dijawab oleh TNI, tidak ada milisi yang lari ke sini. Lalu setelah mereka lihat-lihat, lima menit kemudian mereka pun keluar. Jadi hanya itu saja kejadiannya, tapi atas kejadian tersebut saya juga menyampaikan protes kepada Mayjen Cosgrove, dan seperti diberitakan, Mayjen Cosgrove juga sudah meminta maaf dan itu juga akibat kesalahpahaman.

    Jadi, si tentara Australia ini mendapatkan informasi dari seseorang, ‘ndak tahu siapa, bahwa ada milisia yang lari dan sembunyi di Makodim itu. Analisa saya, mungkin, sengaja ada pihak-pihak tertentu yang ingin menabrakkan interfet dengan TNI, dan dia tahu bahwa di Makodim itu sudah ada TNI. Diharapkan mungkin, dengan masuknya interfet ke Mokodim itu akan terjadi baku tembak dengan TNI. Tetapi karena memang sudah ada saling pengertian sampai ke bawah, (baku tembak) itu tidak terjadi.

    Benarkah pasukan Interfet dari Australia di Tim-Tim over acting dan bertindak tidak netral terhadap kelompok pro integrasi dan kelompok prokemerdekaan?

    Yang nampak di televisi adalah sikap-sikap mereka, menurut ukuran kita, mungkin itu sikap yang berlebihan. Artinya memperlakukan masyarakat dengan cara-cara seperti itu. Kita juga tahu cara-cara seperti itu adalah cara-cara teknik dalam pertempuran. Jadi full combatten memang seperti itu, menggeladah orang, mengikat orang yang menjadi tawana perang. Jadi itu harusnya diterapkan dalam situasi pertempuran. Nah, kita tahu latar belakang tentara Australia ini bahwa mereka tentara yang memang diorganisir, dididik, dilatih, penuh profesionalisme militer. Jadi vieuw-nya itu adalah pertempuran. Mana kala dia masuk ke sini (Tim-Tim), itu juga yang dia terapkan. Sehingga kita melihatnya itu berlebihan.
    Barangkali, kalau saja mereka punya vieuw teritorial seperti yang kita punya, itu tidak akan seperti itu. Tapi karena dia murni profesionalisme militer, maka yang dia punya itu yang dia terapkan.

    Tetapi apakah pasukan Interfet sendiri tidak menemukan kesulitan dan bias membedakan mana kelompok yang pro kemerdekaan dan mana kelompok yang pro integrasi?

    Sekarang saya kira mereka masih kesulitan. Hanya saja karena di Dili ini sudah penuh dengan masyarakat yang pro kemerdekaan, yang turun dari pengungsiannya di gunung-gunung itu, sehingga mereka banyak mendapatkan informasi-informasi yang kadang-kadang menyesatkan dari kelompok pro kemerdekaan. Sehingga mereka melakukan tindakan-tindakan seperti tadi. Selain itu, memang yang menjadi sasaran mereka, juga sebenarnya sasaran kami, adalah orang-orang yang memegang senjata yang sebenarnya tidak berhak.

    Dan penangkapan-penangkapan serta perampasan-perampasan -sejata rakitan kebanyakan, itu juga sudah kami lakukan sebelum mereka datang. Hanya cara yang kami tempuh tidak sama dengan cara-cara seperti yang mereka lakukan. Nah, di lingkungan yang memang sudah lebih banyak orang pro kemerdekaaanya, nampaknya Interfet ini memang berpihak, tetapi kalau pernyataan Jenderal Cosgrove kepada saya, dia akan menindak tanpa pandang bulu, siapa saja, yang tidak berhak membawa senjata, termasuk senjata tajam.

    Sempat juga tersiar kabar telah terjadi pembunuhan terhadap anggota kelompok milisi, salah satunya bahkan dibakar hidup-hidup. Bagaimana sebetulnya yangterjadi?

    Itu tidak ada. Jadi tidak pernah terjadi seperti yang diinformasikan bahwa di Pelabuhan, Interfet menangkap tujuh orang, dan diantaranya dibakar hidup-hidup. Yang benar adalah, di Pelabuhan itu ada juga marinir kita, dan pelabuhan Dili kan tidak seluas Tanjung Priok. Kecil saja, jadi kalau ada manusia dibakar hidup-hidup, pasti marinir kita juga tahu. Jadi itu tidak ada. Tetapi bahwasannya interfet menangkap beberapa orang di Pelabuhan itu betul. Bukan hanya tujuh orang, mungkin sudah puluhan orang ditangkap karena kedapatan membawa senjata tajam dan lain sebagainya.

    Sanksi apa yang diberikan kepada mereka yang kedapatan membawa senjata tajam itu?

    Selama ini mereka tidak menangani itu. Jadi bagi yang tertangkap itu diserahkan kepada polisi kita. Di sini kan masih ada polisi kita juga. Jadi sudah belasan orang saya kira. Ada yang ditangkap terus dilepaskan lagi, ada juga yang ditangkap terus diserahkan kepada polisi kita. Jadi sejauh ini tidak ditindaklanjuti oleh mereka. Nanti kalau sudah serah terima, mungkin mereka yang akan menindaklanjuti.

    Apakah situasi terakhir di Tim-Tim sudah cukup kondusif, dalam artian bentrokan antar kelompok sudah reda, menjelang serah terima secara resmi antara aparat TNI dengan pasukan Interfet?

    Potensi untuk terjadinya bentrokan dan konflik antara kedua kelompok ini masih sangat tinggi. Kalau tidak kita waspadai atau kita mengambil langkah yang salah, pasti terjadi lagi bentrok itu, mungkin secara besar-besaran.Namun pada saat kedatangan tentara Australia (Interfet) di Tim-Tim, pada saat itu kondisi sudah dapat dikatakan terkendali dalam kontrol saya. Artinya, dengan adanya rekantongisasi dari kedua belah pihak, maka secara langsung di Dili ini mereka sudah tidak berhadapan lagi. Kemudian pembakaran-pembakaran dan pembunuhan-pembunuhan juga sudah tidak ada pada saat Interfet datang. Jadi Dili dalam keadaan terkontrol oleh TNI, demikian juga di Baucau. Bahkan Baucau sudah lebih hidup dari Dili. Jadi pada saat Interfet mendarat di Dili itu sama sekali tidak mendapatkan masalah.

    Jenderal Cosgrove sendiri mengakui bahwa pendaratan itu adalah pendaratan administrasi atau pemindahan pasukan itu adalah pemindahan administrasi. Dalam terminologi militer itu ada pemindahan administrasi dan ada pemindahan taktis. Kalau pemindahan taktis berarti ada permasalahan, ada situasi atau ada musuh yang harus dihadapi. Nah ini tidak ada sama sekali, jadi dia (Cosgrove) mengakui bahwa pendaratan itu adalah pendaratan administrative atau pendaratan dalam keadaan aman.

    Setelah terjadi alih tanggung jawab keamanan, apakah Anda memprediksi bahwa keadaan aman yang telah diciptakan lewat darurat militer itu bias dipertahankan oleh pasukan interfet?

    Itu tergantung dari pendekatan mereka. Saya juga sudah jelaskan kepada Cosgrove tentang hal ini. Kalau mereka datang dengan sikap yang arogan, kemudian dengan tindakan yang berlebihan, mungkin akan mendapatkan masalah. Tetapi kalau dia mengambil langkah yang bagus, pendekatan yang bagus tanpa menghilangkan kesiapsiagaan dan kewaspadaan, itu barangkali akan bagus hasilnya.

    Apakah pasukan Interfet ini bekerja sama dengan cukup baik dengan pasukanTNI di sana?

    Cukup baik. Khususnya pada tingkat atas, antara Markas saya dengan Markas Cosgrove, itu sudah berlangsung dengan cukup baik. Hal sama juga terjadi sampai di tingkat bawah.

    Sejauh apa perkembangan penyelidikan terhadap pembunuhan wartawan The Financial Times Sander Thoenes?

    Ada kelompok wartawan asing yang datang di Dili bersama-sama dengan interfet dari Darwin. Ada juga yang datang dari Jakarta dengan mencarter pesawat. Nah, saya dengar, Sandler termasuk yang datang dari Jakarta dengan carter pesawat. Kedua kelompok wartawan asing tersebut tidak pernah melapor kepada saya. Interfet sendiri menempatkan dia di Hotel Turismo dan tempat yang hanya beberapa meter ke sebelah Timur dari Hotel Turismo. Interfet sendiri tidak pernah mengamankan mereka karena Cosgrove mengatakan bahwa bukan tugasnya mengamankan mereka. Jadi memang sama sekali dilepas itu. Dan saya juga tidak mengamankan dia karena dia tidak pernah lapor dan meminta pengamanan.

    Lalu Sandler, kalau tidak salah pada tanggal 22, itu menyewa sepeda motor dan dengan pengemudinya, dia keliling-keliling kota Dili. Rupanya di suatu tempat dia disergap sekelompok orang. Pengemudi sepeda motornya dilepaskan langsung melaporkan pada malam itu. Kejadian itu baru dilaporkan pada saya keesokan harinya pada jam 09.00 WITA. Kemudian atas keterangan mereka, saya lacak, dan kurang lebih jam 09.30, mayatnya ditemukan di Becora. Saya datang sendiri ke sana. Saya datangkan dokter bernama Inuiza. Dokter mengatakan bahwa dia meninggal kurang lebih 12 jam yang lalu, artinya sekitar jam 21.30 WITA dia meninggal.

    Siapa yang diduga melakukan pembunuhan itu?

    Kami sama sekali gelap, tidak tahu (pelakunya). Hanya saja berdasarkan pengakuan pengendara sepeda motor ini, katanya wartawan itu dibunuh oleh orang yang berseragam TNI. Untuk itu, maka mulai tanggal 24 kami sudah membuat suatu kegiatan investigasi yang merupakan joint investigation antara TNI dengan Interfet. Namun sejauh ini belum mendapatkan hasil. Dari pemeriksaan medis ciri-ciri korban, antara lain didapatkan luka segi empat agak besar di dada sebelah kiri. Kalau dilihat, nampaknya luka itu bekas tusukan, mungkin linggis mungkin tombak. Di tempat lain ada juga beberapa luka kecil bekas bacok, dan ada juga luka yang menurut dokter interfet, itu katanya kemungkinan luka bekas peluru, tetapi bukan peluru dari senjata (pasukan) organik.

    Kemungkinan menurut mereka itu short gun, jadi kira-kira sama dengan senjata rakitannya mereka yang begitu ditembakkan maka beberapa proyektilnya keluar. Tapi belum jelas dan belum bisa dibuktikan itu. Lalu mayat sudah dibawa ke Darwin dan diotopsi di sana. Sampai sekarang belum ada hasilnya, jadi baik dari penelitian atas korban, maupun investigasi yang dilakukan bersama-sama ini belum bisa membuktikan kira-kira siapa yang melakukan hal itu. Tetapi diluar investigasi yang dilakukan di sini (Dili), Pangdam IX Udayana Mayjen TNI Adam Damiri juga melakukan investigasi di Kupang terhadap beberapa anggota Batalyon 745 yang 3,5 jam sebelum pembunuhan itu terjadi, atau sekitar pukul 17.30 WITA melintas di tempat itu dari arah Los Palos. Walaupun alibinya cukup kuat, tetapi untuk meyakinkan, pangdam melakukan penyelidikan juga terhadap mereka di Kupang. Jadi itu langkah-langkah yang dilakukan secara terbuka.

    Jenis peluru yang ada ditubuh Sandler itu apakah sudah diketahui kalibernya?

    Itu masih menunggu hasil otopsi. Karena kalau dilihat dari luar, maksudnya secara fisik, kesimpulan doketr Australia, peluru itu berasal dari short gun,sedangkan TNI kita kan tidak memegang short gun ya. Yang kira-kira mirip itu adalah senjata rakitan yang biasa digunakan oleh orang Timor.

    Becora adalah basis orang-orang yang pro kemerdekaan dan wilayah itu sempat kosong karena penduduknya mengungsi. Ketika pembunuhan terjadi, apakah masyarakat setempat sudah ada yang mulai kembali dari pengungsian?

    Betul. Jadi pada saat kejadian, penduduk itu sudah kembali ke rumahnya dan tempat itu, tepatnya mungkin di Kuluhun, belum sampai Becora, itu basisnya yang pro kemerdekaan.

    Setelah terjadi pembumihangusan di Dili dan beberapa tempat lain, apakah sudah diketahui berapa kerugian materil yang diderita dan korban jiwa yang jatuh?

    Kami terus terang belum sempat melakukan penilaian sejauh itu. Untuk meredam situasi, untuk menurunkan tingkat kerawanan, untuk mengembalikan stabilitas keamanan, itu juga masih belum tuntas. Korban jiwa yang jatuh sejak tiga hari setelah jajak pendapat diumumkan, tepatnya mulai tanggal 4-6 September,ada 70 orang meninggal. Lalu sejak diberlakukannya keadaan darurat mulai tanggal 7-10 September ada empat kejadian pembunuhan. Setelah tanggal 10, pembunuhan sudah tidak ada lagi.

    Gus Dur pernah mengatakan bahwa kejahatan yang terjadi di Tim-Tim akibat campur tangan mantan perwira yang sekarang sudah tidak aktif lagi di militer. Apakah ada prajurit TNI yang desersi di Tim-Tim hingga mau diperintah oleh perwira yang tidak aktif itu?

    Tidak ada. Saya tidak melihat itu. Memang gampang dan bisa saja mengait-ngaitkan dengan itu, tetapi selama saya disini, mulai dari tanggal 9 September sampai dengan saat ini, saya tidak melihat itu.

    Setelah seremonial serah terima tanggung jawab dilakukan oleh TNI ke pihak interfet pada tanggal 27 ini, bagaimana kesiapan penarikan pasukan TNI di Tim-Tim?

    Sebenarnya kami sudah siap. Jadi pelaksanaan serah terima itu sudah berlangsung sejak tanggal 23 September lalu secara bottom up. Jadi, tempat-tempat yang tadinya kita jaga dan kita kuasai itu diserahkan kepada interfet. Terus begitu ke atas, sehingga akan berakhir pada hari Minggu sore dan Seninnya kami laksanakan serah terima.

    * Majalah D&R, Agustus 1999.

  21. Masih tentang Timtim tapi bukan soal paskhas.
    Betapa sombongnya Australia yang waktu itu katanya mampu mendeteksi keberadaan 2 Kapal selam Indonesia, dan mengancam akan menenggelamkanya. Disebutkan ketika itu TNI segera menarik mundur kapal selamnya waktu pembicaraan tingkat tinggi antar intelijen dari pihak Australia menyebutkan posisi kapal selam Indonesia dan menyuruh TNI menarik mundur atau ditenggelamkan.

    Kita lihat saja nanti kalau kilo sudah disini apa mereka masih berani begitu.

    “Indonesia has foreshadowed plans to buy up to 10 of the world’s best conventional submarines from Russia almost eight years to the day after Australian military chiefs threatened to destroy two of Jakarta’s subs off East Timor.”

  22. suatu saat mudah2an ada kesempatan melihat tentara oz dilucuti oleh TNI,
    entah kasus apa dibelahan bumi mana..

    Lebih bagus saat Benua Australia dibagi dua zona militer, selatan untuk ras anglo
    utara untuk ras Asia.

  23. Yg menakutkan sekarang bukan tentara asing melawan tentara, akan tetapi rakyat dibenturkan dg tentara/polisi dan contoh negara2 rontok Rusia/Indonesia sdh sekarang terbebas tinggal negara Mesir masih bergejolak sedangkan negara Thailand/Ukraina/Siria sdg proses utk perang saudara apakah bisa seperti Indonesia cepat kembali atau tambah berlarut2 sampai negaranya hancur. Ini yg digunakan NATO/AS utk menghabisi negara2 yg tdk tunduk atas hegomoninya mis negara2 Islam yg pro dg AS/NATO biasanya dg cara rakyat diadu dg militer sedangkan yg bukan pro AS/NATO pasti dihajar mis Libya/Afghanistan/Iran (masih dlm rencana ke penghancuran) dan AS sendiri sekarang mulai digrogoti oleh kutu loncat Israel melalui ekonominya termasuk Uni Eropa oleh karena kotuloncat sdh masuk berbisnis ke Cina/India perdaganganya sangat meningkat dr tahun ketahun demikian juga Cina dg Australia dagangnya terus meningkat. NKRI hrs selalu waspada kita lihat perkembangan selanjutnya dunia ini, akan terus berjalan sesuai pergerakan matahari…………………

  24. Ijin menyimak.nice story

  25. Kebayang kalau terjadi kontak tembak. Personil yonif 745 kontak tembak dg tentara aus pasti akan membabibuta

  26. Australia jelas2 ada dibelakang Tim-Tim.dan ada keuntungan strategis dari segi teritorial bagi australia. Karena Tim-Tim itu berbatasan langsung dengan Australia. Dengan Lepasnya Tim-Tim dari Indonesia bisa menjadi pertahanan utama jika suatu saat terjadi gesekan yang mengharuskan Indonesia angkat senjata untuk menyerang Australi.

  27. tulah pemicu konflik di dalam neri timtim,,, yang membuat perang saudara antara 1 vs 2 (nomor 1 banyak pendukung tapi nomor 2 banyak persenjataan),
    mas penyataan di atas ini agak keliru: sebenarnya pemiliha dilkukan banyak rakyt timor portugis memili merdeka total (Fretilin) dengan alasan ita Pmerintah portugal mengehtikan pemilihan, dan partai UDT melakukan kudeta,,yang dipersenjatai oleh Police portugal, dan sebagian dari Tropas (tentara portugal/putra daerah). namun Fretilin meakukan perlawanan balik (kudeta balik) terhadap UDT, sehingga adanya perang saudra di timor leste.
    awalnya AMerika dan austrlia mendukun 100% TNI untuk mengintegrasikan timor leste kedalam bingkai NKRI, agar mereka (australia dan amerika) bisa mengusai sumberdaya alam indonesia. sedangkan mereka (Amerika dan asutralia) tau bahwa suatu saat timor leste akan merdeka,, karna NKRI dan TL memiliki sejarah yang berbeda (Nkri=jajahan belanda, Timor leste= jajahn portugis). jadi kita (timor leste dan indonesia) sengaja di aduh dombahkan. sehingga setelah timor leste pisa dari NKRI, parang pemimpin Timor leste lebih memilih rekonsilasi dari pada mebawah para jederal TNI ke mahkam internasional. krena kita (timor leste dan indonesia) sama-sama, korban dari ideologi paham komunis dan Kapitalis.

 Leave a Reply