Investigasi Bawah Laut Kapal Perang Ashigara

Kapal Heavy Cruiser Ashigara Jepang (Imperial Japanese Navy)

Muntok – Tim gabungan yang dibentuk Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jambi mulai melakukan investigasi bawah laut untuk mengetahui kondisi terkini bangkai Kapal perang jenis heavy cruiser Ashigara Jepang, yang karam di Selat Bangka saat terjadi Perang Dunia II.

“Tim gabungan terdiri atas Penyidik Polda Babel, Polairud, TNI Angkatan Laut, KSOP, Pemprov Babel, Pemkab Bangka Barat, BPCB Jambi bersama Emas Diving Club Babel pagi ini berangkat dari Pelabuhan Tanjungkalian Muntok menuju lokasi untuk memulai penelitian bawah laut,” kata Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Bangka Barat, Bambang Haryo Suseno di Muntok, Kamis, 7/6/2017

Tim gabungan terdiri dari 18 orang personel yang memiliki kompetensi di bidang penyelaman dan benda cagar budaya bawah laut akan melakukan penelitian sekitar lima hari di lokasi itu.

Kapal pengintai Aichi E13A yang diluncurkan lewat katapult dari heavy cruiser Ashigara, di Laut Jawa, Mei 1943. (Imperial Japanese Navy)

“Pada hari pertama rencananya akan dilakukan pengamatan menyeluruh di lima titik lokasi yang dijadikan objek penelitian, dan pada hari berikutnya dilakukan penelitian untuk mengetahui detail kondisi terkini bangkai kapal tersebut,” katanya.

Penelitian dilakukan menindaklanjuti adanya dugaan benda yang memiliki nilai sejarah itu terkena dampak pembersihan alur pelayaran yang dilaksanakan di Selat Bangka.

Beberapa waktu lalu, Kementerian Perhubungan melaksanakan pembersihan alur pelayaran di Selat Bangka dan salah satu lokasi yang dibersihkan dilaksanakan di sekitar lokasi bangkai Kapal Ashigara.

“Tim nanti akan melakukan penyelaman dan melihat detail kondisi bangkai kapal untuk memastikan apakah masih sama dengan kondisi sebelumnya atau sudah ada perubahan,” katanya.

Tim juga akan memastikan agar bangkai kapal yang memiliki nilai sejarah tersebut berada dalam lokasi aman dari pembersihan alur pelayaran.

Heavy Cruiser Ashigara berlayar bersama kapal Myoko, Nachi, Haguro, di Beppu, 1930. (Japanese Imperial Navy / commons.wikimedia.org)

Hasil kajian akan dijadikan dasar untuk membuat laporan rekomendasi ke Pemerintah Pusat apakah kegiatan pembersihan alur pelayaran bisa dilanjutkan atau dihentikan.

“Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk keseriusan pemerintah dalam memberikan perlindungan terhadap benda yang memiliki nilai sejarah sekaligus sebagai awal upaya penetapan Kapal Ashigara sebagai benda cagar yang dilindungi,” katanya.

Kapal perang penjelajah Ashigara, sebuah kapal kesayangan Kaisar Jepang, memiliki panjang sekitar 200 meter dan lebar 18 meter diperkirakan tenggelam di Selat Bangka pada akhir Perang Dunia II, yaitu 1948, karena pecah lambung akibat serangan pasukan Sekutu.

Antara

Tinggalkan komentar