Aug 092017
 

Beras (Pixabay.com)

Bogor – Dr Rokhani Hasbullah peneliti dari Teknik Mesin dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor (IPB), mengenalkan teknologi pengolahan beras ke beras yakni mengolah kualitas beras mutu rendah atau medium menjadi mutu tinggi atau premium.

Dr Rokhani Hasbullah mengatakan, teknologi untuk meningkatkan beras medium ke premium sangat memungkinkan. Dilihat dari sebagian besar petani di Indonesia menggunakan penggilingan padi kecil yang hanya menggunakan dua mesin yakni husker (mesin pengupas) dan polisher (penyosoh).

Teknologi di penggilangan padi skala kecil ini menghasilkan beras yang derajat sosohnya tidak bisa tinggi, sehingga beras putih bening tidak akan didapat. Jadi beras tersebut masuk mutu rendah.

“Teknologi pengolahan beras ke beras akan meningkatkan kualitas beras mutu medium menjadi premium dengan tambahan mesin selain yang umum digunakan oleh petani,” ujar  Dr Rokhani Hasbullah pada Selasa 8 Agustus 2017 di Bogor.

“Di sini peluang pasar bagi pelaku bisnis supaya meningkatkan kualitas beras menjadi berkualitas,” ujar Dr Rokhani Hasbullah.

Dr Rokhani Hasbullah menjelaskan, sekarang telah berkembang industri ‘rice to rice’ processing (R2RP) atau pengolaha beras ke beras, yang dapat mengolah beras mutu medium maupun ‘off grade’ menjadi beras mutu premium.

Untuk mengubah mutu beras tersebut diperlukan tambahan mesin selain husker dan polisher, yaitu mesin destoner (pemisah batu dan gabah), shinning machine atau kibi untuk mengkilap dengan batuan uap (steam), shifter untuk memisahkan menir dan kotoran lainnya, mesin ‘color sorter’ untuk memisahkan butir merah, butir kuning, dan butir yang mengapur, length grade untuk memisahkan beras kepala.

“Lenght grade ini bisa disetel apakah menginginkan beras kepala 100 persen, 95 persen atau 90 persen sesuai kelas mutu yang diinginkan,” ujar peneliti dari Teknik Mesin dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, IPB .

Lebih lanjut Dr Rokhani Hasbullah menjelaskan, material ‘handling machine’ seperti ‘bucket elevator’ atau belt conveyor untuk aliran bahan dari dan setiap ke setiap unit operasi secara otomatis, ‘auto weighing’ untuk menimba secara otomatis, ‘packing machine’ untuk mengemas, ‘exhause fan’ untuk menyedot debu sehingga ruang produksi bersih dan nyaman.

“Tentunya kalau kita bicara mutu secara fisik acuannya adalah SNI beras yang parameternya adalah kadar air, derajat sosoh, persentase beras kepala, butir menir, butir merah, butir kuning, butir kapur, benda asing dan butir gabah,” ujar Peneliti tersebut.

Menurut Dr Rokhani Hasbullah, selain bentuk fisik, mutu juga ditentukan oleh preferensi konsumen yang biasanya lebih ditentukan oleh varietas dan daerah tubuh. Varietas yang sama pun bisa jadi harganya berbeda sebab rasanya memang berbeda sesuai daerah tumbuhnya.

Peneliti tersebut mengatakan, dalam dunia bisnis bisa saja dilaksanakan pencampuran (blending) atau dikenal dengan istilah mengoplos, antar varietas atau varietas yang sama tetapi antar daerah tumbuhnya agar diperoleh rasa, aroma dan tekstur nasi yang disukai konsumen namun dapat menekan harga jualnya.

Adanya jaminan mutu melalui penerapan cara berproduksi yang baik seperti ‘Good Manufacturing Practices’ (GMP) dan pelabelan yang mencantumkan ‘nutrition fact’ ataupun ijin edar PSAT (Pangan Segar Asal Tumbuhan) dan halal akan meningkatkan kepercayaan konsumen dan konsumen pun mau membelinya dengan harga yang lebih mahal dan tidak merasa dirugikan.

“Tetapi, sebagai konsumen mestilah cerdas,” tutur Dr Rokhani Hasbullah.

Menurut peneliti dari Teknik Mesin dan Biosistem itu, mengkonsumsi beras premium tidaklah menyehatkan sebab dengan derajat sosoh yang tinggi beberapa kandungan gizi pada beras seperti protein, lemak, mineral dan vitamin sudah berkurang sehingga porsi karbohidrat meningkat dan berpotensi terserang penyakit diabetes bagi yang mengkonsumsinya.

“Kalau ingin sehat konsumsilah beras pecah kulit (brown rice) atau beras pratanak (parboiled rice) atau pangan lainnya yang memiliki indeks glikemik rendah,” ujar Dr Rokhani Hasbullah peneliti dari Teknik Mesin dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Dirilis Antara 8 Agustus 2017.

Bagikan Artikel :

  7 Responses to “IPB Kenalkan Teknologi Pengolahan Beras Premium”

  1. Beli gabah dari petani harus lebih murah dari harga acuan bulog kalo enggak bisa maknyuss ente nanti

  2. Orang indonesia sangat cerdas harus dimodalin agar maju nih bapa bapa exsekutif…

  3. Saya kira ada foto mesinya ternyata gambar beras doang

  4. Ayo di pasarkan mesinya biar makmur

  5. Harga lebih mahal dr kandungan gizi berkurang dan resiko penyakit gula hanya menang dipenampilan! Lagian orang sekarang memasak nasi di MagicJar yg lbh rentan kena penyakit gula. Klu menanak nasi pakai dandang seperti orang dulu nasi lbh pulen jg lbh sehat! Orang2 kita pintar2 cuma kurang dukungan saja!

  6. ora Rojolele ora ngliwet

  7. support dgn do’a biar mantaf

 Leave a Reply