Nov 202018
 

Wakil Panglima IRGC, Brigjend Hossein Salami © Fars News via Israel Defense

JakartaGreater.com – Rusia mengupayakan secara diplomatik mengenai penempatan pasukan pada perang Suriah berlanjut vis-a-vis dengan Jerman, Prancis, Turki serta Iran, seperti dilansir dari laman Israel Defense.

Menurut laporan terbaru dari Pusat Informasi Intelijen dan Terorisme Meir, Utusan Presiden Rusia untuk Suriah, Alexander Lavrentiev, tiba di Iran pada 5 November lalu. Setibanya di Teheran, dia menyatakan telah dikirim oleh Presiden Putin ke Iran untuk kabar terbaru mengenai hasil pertemuan puncak antara para pemimpin Rusia, Jerman, Prancis dan Turki, yang diadakan pada akhir Oktober di Istanbul yang berfokus pada perkembangan di Suriah.

Alasan lain kunjungannya itu menurut Lavrentiev adalah mengekspresikan dukungan Rusia kepada Iran karena Amerika Serikat pun memberlakukan kembali sanksi-sanksi terhadap negara Iran.

Di Teheran, Lavrentiev telah bertemu dengan Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Shamkhani. Yang terakhir menyatakan bahwa kerjasama antara Iran dan Rusia di Suriah didasarkan pada tiga prinsip: dukungan bagi pemerintah yang sah di Suriah dan kerjasama melawan terorisme, menjaga integritas teritorial Suriah, serta menciptakan mekanisme politik yang memungkinkan warga negara Suriah untuk dapat menentukan masa depan negara mereka.

Pasukan Suriah di Idlib

Shamkhani menyebutkan bahwa kerjasama serta koordinasi antara Iran, Rusia dan Suriah adalah faktor utama yang memungkinkan militer Suriah untuk mendapatkan kendali di medan perang. Dia menambahkan bahwa Iran dan Rusia tetap akan terus mendukung militer Suriah dalam perjuangan mereka melawan terorisme.

Laporan itu menambahkan bahwa Wakil Panglima IRGC, Hossein Salami, menyatakan dalam sebuah wawancara dengan televisi Iran bahwa Iran tak memiliki rencana untuk tinggal di Suriah dalam jangka panjang. Dia menegaskan bahwa kehadiran militer Iran di Suriah didasarkan atas permintaan pemerintah Suriah. Salami menekankan bahwa tidak ada perselisihan antara Iran dan Rusia mengenai Suriah, dan bahwa laporan dari media yang mengklaim demikian tidak berdasar.

Mengenai Keterlibatan Iran di Irak, laporan itu pun mengatakan bahwa Iran berencana untuk membangun jalur kereta api dari Pelabuhan Latakia di barat laut Suriah melalui Shalamcheh di barat daya Iran menuju Basra di Irak selatan.

Teheran ingin meningkatkan kekuatannya di Irak

Pada tanggal 6 November, Duta Besar Iran untuk Baghdad, Iraj Masjedi, mengadakan pertemuan terpisah dengan menteri urusan luar negeri, menteri keuangan, menteri transportasi dan menteri energi pemerintah Irak yang baru. Pertemuan diadakan di kedutaan Iran di Baghdad. Duta besar itu berdiskusi dengan mereka tentang hubungan antara kedua negara dan perluasan kerjasama di antara mereka.

Dalam wawancara dengan outlet Kurdi Rudaw pada 10 November, Duta Besar Masjedi, menyatakan bahwa dia berharap untuk memperluas kerjasama antara kedua negara setelah pembentukan pemerintahan baru di Baghdad. Masjedi menyatakan keyakinan bahwa hubungan antara Teheran dan pemerintahan baru Adil Abdul Mahdi akan baik, dan bahwa perdana menteri baru akan berusaha untuk meningkatkan hubungan antara kedua negara.

Masjedi mengatakan bahwa Iran telah menyatakan bersedia membantu pemerintahan baru dengan cara apapun, termasuk bidang ekonomi, politik dan keamanan. Mengacu pada efek pada sanksi Iran-Irak dari sanksi ekonomi yang diterapkan kembali oleh AS terhadap Iran, Masjedi juga menyatakan bahwa pemerintah Irak perlu bertindak sesuai dengan kepentingannya. Dia menambahkan bahwa hubungan Irak dengan AS tak boleh digunakan untuk merusak hubungan antara Iran dan Irak.

Bagikan:

  5 Responses to “IRGC: “Iran Tak Ingin Berada di Suriah Dalam Jangka Panjang””

  1.  

    AS makin diacuhkan negara2 dikawasan.he3

  2.  

    PERANG MENJAGA INVASI YAHUDI DEMI TANAH IMPIAN ROSHCILD

  3.  

    Kenapa Kok Tidak berani lama2….? Takut mati? Tidak biasa jihad …?
    Kan Ada Russia and Israel….?

 Leave a Reply