Apr 202012
 

Airbus C 295
Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia, Budi Santoso mengakui perkembangan teknologi kedirgantaraan PT DI mandeg, sejak para insinyur mereka tidak menyentuh proyek bermuatan teknologi tinggi. Hak ini terjadi sejak pemerintah menghentikan proyek pembuatan pesawat N 250. Saat krisis ekonomi RI tahun 1998, IMF meminta Indonesia menghentikan pembangunan N 250 dengan asalan menyedot keuangan negara. Pemerintah patuh dengan permintaan IMF, padahal N 250 kala itu telah terbang dan tinggal membutuhkan lisensi terbang regional.

Kini 18 Mei 2012, Airbus Military datang ke Indonesia menawarkan kerjasama perakitan C 295.

Apa komentar Dirut PT DI tentang pesawat c 295 ?. “Pesawat ini pengembangan dari CN 235, sehingga tidak sulit untuk membuatnya”, ujar Budi Santoso, usai menandatangani kerjasama.

Ironis sekali bukan ?. Para insinyur PT DI kini merakit C 295 milik Eropa, sementara pesawat N 250, menjadi pajangan di museum. Siapa yang bodoh dalam kasus ini ?.

Ternyata IMF melarang Indonesia membuat pesawat N-250 karena punya motif lain. Negara Eropa membuat pesawat di kelas yang sama, dan tidak ingin ada saingan.

N250 Tinggal Kenangan

Kunjungan Habibie

Mari kita dengarkan komentar bapak penerbangan Indonesia BJ Habibie saat berkunjung ke Kantor Garuda Indonesia, Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang – Banten, 12 Januari 2012 silam:

“Dik,……anda semua lihat sendiri……..N250 bukan pesawat asal-asalan dibikin! Pesawat itu sudah terbang tanpa mengalami ‘Dutch Roll’ (oleng berlebihan). Tenologi pesawat itu sangat canggih dan dipersiapkan untuk 30 tahun kedepan. Diperlukan waktu 5 tahun untuk melengkapi desain awal, satu-satunya pesawat turboprop di dunia yang mempergunakan teknologi ‘Fly by Wire’ bahkan sampai hari ini”.

“Rakyat dan negara kita membutuhkan itu! Pesawat itu sudah terbang 900 jam (saya lupa persisnya 900 atau 1900 jam) dan selangkah lagi masuk program sertifikasi FAA. IPTN membangun khusus pabrik pesawat N250 di Amerika dan Eropa untuk pasar negara-negara itu. Namun, orang Indonesia selalu gemar bersikap sinis dan mengejek diri sendiri ‘apa mungkin orang Indonesia bikin pesawat terbang?”.

“Tiba-tiba, Presiden memutuskan agar IPTN ditutup dan begitu pula dengan industri strategis lainnya”.
Dik tahu…….di dunia ini hanya 3 negara yang menutup industri strategisnya, satu Jerman karena trauma dengan Nazi, lalu Cina dan Indonesia……

“Sekarang, semua tenaga ahli teknologi Indonesia terpaksa diusir dari negeri sendiri dan mereka bertebaran di berbagai negara, khususnya pabrik pesawat di Bazil, Canada, Amerika dan Eropa…………….”.

“Hati siapa yang tidak sakit menyaksikan itu semua…………………?”.

“Tapi keputusan telah diambil. Para karyawan IPTN yang berjumlah 16 ribu harus mengais rejeki di negeri orang dan gilanya lagi kita yang beli pesawat negara mereka!”

Pak Habibie menghela nafas…….

Apa yang disampaikan BJ Habibie benar adanya, bahkan lebih ironis lagi. Kini insinyur generasi baru di PT DI merakit 9 C 295 Airbus, yang tekonologinya sebenarnya setara dengan N 250 yang diproduksi PT DI pada tahun 1997.

N 250 IPTN

Mengapa PT DI menerima ?.

PT DI kini relatif mati suri, tidak melakukan terobosan apapun. Para insinyur hanya membuat berbagai varian CN 235 yang sudah biasa mereka kerjakan. Mereka juga membuat berbagai jenis helikopter, yang sudah hapal di luar kepala. Dengan adanya C 295 ini, para insinyur PT DI diharapkan mendapat tambahan teknologi baru, setelah mereka absen sejak tahun 1997.

“Ini adalah momen yang membanggakan bagi negara kita dan industri kedirgantaraan nasional”, ujar Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro. Mungkin Pak Menhan lupa dengan sejarah N250.

Dirut PT DI menargetkan jadi pemasok utama (tier 1) bagi C293 Airbus. Jika demikian adanya, tentu Eropa akan senang. Orang Indonesia mengerjakan seluruhnya, mereka tinggal ongkang ongkang kaki sambil menerima keuntungan dari lisensi dan laba yang ditentukan.

Kita jadi ingat dengan ucapan BJ Habibie tahun 1997 saat proyek N250 dihentikan: “Saya bilang ke Presiden, kasih saya uang 500 juta dollar dan N250 akan menjadi pesawat terhebat yang mengalahkan ATR, Bombardier, Dornier, Embraer ddan lain lain. kita tak perlu tergantung dengan negara manapun”. (Jkgr).

Berbagi

  23 Responses to “Ironi Perakitan Airbus C 295 PT DI”

  1.  

    Berharap Prabowo jika jadi Presiden dapat membangkitkan N250

  2.  

    setuju semangat pak habibie semangat rakyat indonesia

  3.  

    Dinegara ini mereka yang punya keahlian (teknokrat) selalu tersisih oleh para politikus yang bisanya ngomong doang. Pak Habibie anda teknokrat hebat. Anda telah menjadi inspirasi bagi kemajuan teknologi. Banyak orang dinegara ini yang bisanya kritik saja tapi tidak punya kemampuan / prestasi apa2. Banyak yang tidak memahami bahwa dengan kemajuan teknologi bangsa ini tidak

    •  

      miris & sakit jika harus baca yang sprti ini… dan terimakasih untuk para pejuang 2 indonesia yang tak pernah lelah untuk terus membangkitkan semangat negeri yang besar ini (indonesia)

  4.  

    Setelah era SBY saya selaku rakyat NKRI menginginkan Presiden yg benar2 mengerti perang, keamanan, inteligen, ekonomi, dan kesejahteraan serta keadilan seluruh rakyat indonesia. Alutsista TNI perlu dikembangkan menjadi bagian yg terkuat di asia pasifik, lalu ekonomi NKRI menjadi bagian dari G-8 di dunia ini, lalu pendapatan rakyat NKRI menjadi minimal Rp.3jt / bulannya, peningkatan pendidikan menyeluruh, menghapus garis kemiskinan, pemerataan infrastruktur di seluruh sudut negeri, menjamin kesehatan seluruh rakyat NKRI, serta pengamanan seluruh sistem yg menyangkut rakyat NKRI. saya pikir presiden yg berjiwa keras, cita2 tinggi utk kemakmuran seluruh rakyat NKRI, pintar, cerdas, dan tdk mudah percaya kepada bisikan setan2 yg menginginkan kebangkrutan keuangan negara. DICARI PEKERJAAN SEBAGAI PRESIDEN NKRI – Lamaran dikirim kepada Seluruh Rakyat NKRI yg menginginkan Kemajuan, Keadilan, Kemakmuran, Kewibawaan, Keamanan, Keindahan dan Kenyamanan.

  5.  

    saya sependapat dgn pernyataan pak habibie…..pemimpin kita semuanya adalah mafia…..

  6.  

    Oh . . . . . aku rasanya mau nagis, negeriku yang kaya raya tapi miskin ?. Oh sesak dada ini rasanya.

    Hai para berdebah (disunting dari Masardi) kalian memang BEDEBAH – menzolimi bangsa ini, semoga jahanam akan membakar mu kelak secara kekal. (Sekarang kalian enak jalan-jalan ke mancanegara pakai uang rakyat . . .hhah !

  7.  

    insyaalloh semua itu cobaan pak Habibie, kelak bpk akan punya penerus sprti bpk, amiin

    •  

      Apakah betul insinyur PTDI tidak bersentuhan dengan teknologi tinggi lagi? Berarti di proyek K/IFX hanya kebagian menggarap porsi teknologi ecek2 walaupun saham kita 20% ?.

      Terkait N-250 saya pikir langkah kita yang tidak taktis. Untuk mendapatkan kapasitas 50 kursi kita harus mendesain pesawat dari 0 lagi, sementara Casa lebih jeli, hanya melakukan stretch terhadap CN-235 yang notabene masih desain baru. Artinya mereka lebih mampu dan lebih sigap menawarkan low cost solution.

      Kesalahan ‘reinventing the wheel’ bisa menjadi fatal terutama secara finansial, dan langsung berujung pada masalah survival, hidup/mati perusahaan.

      •  

        Ga sependapat kalo N-250 itu reinventing the wheel. Pastinya teknologi dan pengalaman dari CN-235 juga dipakai di N-250. N-250 itu lebih ke pesawat penumpang/komuter sipil, pendekatannya mungkin agak beda dg CN-235 bahkan C-295 yg lebih laku sbg platform pesawat militer. Karena itulah mungkin butuh penyesuaian yg agak banyak.
        Sekarang coba lihat di ceruk pasar N-250 ini akhirnya diisi oleh para pemain spt yg dibilang pa Habibie di atas, plus pemain yg muncul belakangan Xian dg MA-60nya yg diborong sama mentri perdagangan yg lalu buat Merpati. Gimana ga ngelus dada?? Ngembangin industri spt ini emang ga cuma butuh dukungan finansial aja, tapi jg politis. Industri dirgantara di luar maju, karena meskipun mrk swasta, tetap dibackup habis2an sama pemerintahnya.

        •  

          Pesawat baru artinya desain baru (= ribuan lembar engineering drawings, 50 eng manhours/dwg?), perhitungan struktur baru, uji terowongan angin baru, dan sertifikasi
          baru. Semua restart dari 0, buat saya itu reinventing the wheel (tapi istilah gak penting sih). Padahal saat itu CN-235 baru berusia 2 tahun (roll-out 1995) dan pasti
          belum break even karena biaya perancangan pesawat sangat tinggi, sementara kita cuma bicara tambahan kapasitas 15 kursi.

          Sebagai bandingan, Boeing 737 yang best selling airplane. Seri 100 terbang pertama 1967, seri 900ER terbang pertama 2006, hampir 40 tahun kemudian, sementara 737 MAX
          rencananya baru akan keluar 2017, atau setengah abad kemudian. Dari segi desain ber-evolusi, modifikasi terus menerus, continuous improvement.
          Range kapasitas antara 85 hingga 215 seats alias beda 130 kursi. Panjang badan 737 Next Generation (seri 600, 700, 800 dan 900ER) bervariasi antara 31.09m dan 42,06m.

          Negara maju, jago teknologi, pelopor penerbangan (Wright bros), mereka sangat sadar proses engineering design adalah urusan mahal, sehingga muncul filosofi teknologi
          ‘If it’s not broken, don’t fix it’ -selama desain masih berfungsi bagus, pertahankan terus!. Filosofi ini juga tercermin pada seri C-130, C-130A keluar 1956, C-130J
          keluar 1999 (versi stretch juga ada: C-130J-30). Dari luar tidak bisa dibedakan, tapi seri J menggunakan digital avionics, HUD, propeler komposit, flight engineer /
          navigator tak dibutuhkan lagi, cukup 2 pilot. Idem F-16 , dari seri A hingga block mutakhir (60) yang lebih bongsor karena conformal fuel tank, basic design tidak
          berubah.

          (Mungkin di belakang mereka tertawa melihat kita, anak kemarin sore, baru butuh tambahan 15 kursi langsung design baru).

          CN-235 memiliki varian militer dan sipil (pernah dioperasikan MNA), sama seperti Fokker F-27 (varian sipil Friendship, militer Troopship) atau C-130 (varian sipil
          L-100). Dari segi interior CN-235 versi sipil tidak kalah dari F-27 Friendship (terakhir dioperasikan Trigana) atau Short 330-nya Deraya. Jadi kalau butuh 50 kursi
          versi sipil, harusnya stretch saja CN-235 Merpati.

          Memang ada predikat khusus yang didapat dengan N-250; 100% rancangan putera-puteri Indonesia, tapi ini sudah politis, di luar wilayah solusi teknologi dan yang jelas:
          mahal!.

          •  

            Tidak ada yang salah dengan munculnya N250 saat itu negara siap mendukung ,dana ada ,tenaga ada ,pasar ada Cuma siapa yang bisa memprediksi kita bakal kena krismon ? Namanya musibah datang tak kenal waktu padahal ekonomi kita lagi bagus bagusnya ,malah ada istilah mau tinggal landas menjadi negara industri baru .

  8.  

    Ini adalah salah satu bentuk penjajahan dari negara asing, saatnya kita berjuang dan kobarkan semangat nasionalisme kita. Indonesia Merdeka.

  9.  

    Saya yakin, hanya prabowo yg mampu memajukan indonesia bgt jg dg dirgantara indonesia..apalagi kl wakilnya Jusuf Kala..siapa yg brani sama repoblik ini..oleh karna itu,saya menghimbau kepada sluruh rakyat indonesia..pikirkan baik2 dalam menentukan pilihan anda..saya bukn org partai,bukan jg org politik.tp melihat dr sepak terjang dan strategi Prabowo-JK.saya yakin 1jt% indonesia pasti bisa maju..

  10.  

    itulah mentalitas tukang, yang hanya tunduk pada orang asing. coba kalau N250 jadi kita tidak perlu import kelas sejenis, kita seringkali sinis terhadap usaha anak negri, hanya mengagumi negara luar, untuk apa jadi tukan rakit, buat dong pesawat. Pemerintah dukung dong kita buat pesawat…kenapa kok maunya jadi tukang rakit

  11.  

    Baru baca artikel …sungguh miris..

  12.  

    aku bangga walo cma ikut KKN di PT DI.. bisa ngrasain kecanggihan ilmuan putra bangsa n kecakapannya.

    dan sakittt…mendengar perkmbangan PT DI ni.. dimainin diinjek2 ma negara lain (negara boneka bertali)..miriss

    ayoo bangkit n tetep berkreasi putra indonesia..

  13.  

    Saya ada usul gimana kalau N-250 dibuat menjadi N-250 AEW&C dengan spec. yg melebihi C-295 AEW&C, dan untuk pak Habibie, semoga cita-citanya mewujudkan N-245 dapat lekas tercapai dan juga banyak kok orang-orang yang ngenes hatinya melihat nageri ini sudah semakin tercabik-cabik oleh manusia musang berbulu domba…

  14.  

    saya melihat bentuk pesawat ATR 72 dan ATR 42 , kemudian membandingkannya dengan N 250. memang hampir mirip, dan asal tahu saja ATR adalah perusahaan patungan airbus group dengan finnmecanica. N250 dimatikan karena ada indikasi akan menjadi saingan ATR, dan seperti kita ketahui presiden Soeharto setelah acara peluncuran N250 mengumumkan proyek N2130 yang mana pesawat ini merupakan saingan boeing 737. Negara lain tidak senang jika indonesia mandiri, indonesia harus benar2 mandiri dan mempunyai modal yang besar agar bisa menggembagkan industri pesawatnya.

  15.  

    kenapa ya C 295 tdk ada yg versi sipilnya?

  16.  

    Marilah kita bantu doa sesuai agama kita masing masing, supaya Indonesia bisa segera kembali berjaya di angkasa

  17.  

    Yah begitulah ironinya,
    Bukan hanya produknya saja yg tidak Jadi,
    Tetapi SDM yg mumpuni ilmunya tidak bisa dipakai…..
    Kasihan…..Indonesia sampai kapan
    Kamu begin.

 Leave a Reply