Mar 292018
 

Senapan runduk 2000 HTR Angkatan Bersenjata Israel. © Uziel302 via Wikimedia Commons

JakartaGreater.com – Kepala Staf Angkatan Darat Israel, Jenderal Gadi Eizenkot, berkata bahwa IDF telah mengerahkan lebih dari 100 penembak jitu di perbatasan Gaza karena masalah keamanan menjelang demonstrasi yang akan digelar oleh Palestina.

Seperti dilansir dari laman Sputnik, Gadi Eizenkot, mengungkapkan bahwa bala bantuan khusus diizinkan untuk melepaskan tembakan, harus mencegah “infiltrasi massal” atau penghancuran hambatan jika protes tersebut berkembang menjadi kekerasan.

Pada tanggal 30 Maret, para demonstran itu akan menuntut hak para pengungsi Arab untuk kembali ke wilayah Israel, yang negara itu telah memblokir kekhawatiran bahwa Israel akan kehilangan mayoritas Yahudi.

Tanggal tersebut menandai peringatan ke-42 kematian enam orang Arab yang dibunuh oleh Pasukan Khusus Israel dalam sebuah demonstrasi melawan penyitaan tanah pada tahun 1976. Demonstrasi itu dijadwalkan akan berlangsung hingga pertengahan Mei, yang dikenal sebagai “Hari Bencana” atau “Nakba” akibat pembentukan Negara Israel pada tahun 1948, ketika banyak orang Palestina di usir secara paksa.

“Kami telah menempatkan lebih dari 100 penembak jitu yang berasal dari semua unit militer, terutama dari Pasukan Khusus. Jika membahayakan, ada izin untuk melepaskan tembakan”, kata Eizenkot kepada media.

Eisenkot juga mengakui bahwa selama beberapa tahun terakhir lebih dari 1000 operasi telah dilakukan di negara lain namun menolak untuk mengungkapkan secara rinci. Dia memperingatkan bahwa meningkatnya ketegangan di Jalur Gaza dapat menyebabkan situasi yang semakin buruk, termasuk perang.

“Saya mungkin harus memerintahkan pasukan untuk perang, tetapi saya berusaha keras mencegahnya. Peluang yang terjadi tahun ini lebih besar daripada tiga tahun pertama masa jabatan saya. Ada banyak efek negatif di wilayah ini yang mendorong ke arah konflik, dan ada banyak hal yang bergantung pada kami”, kata Eisenkot.

Dalam wawancaranya dengan surat kabar Haaretz, ia menyebutkan ulang tahun ke 70 berdirinya Israel serta relokasi Kedutaan Besar AS dari Tel Aviv ke Yerusalem sebagai salah satu peristiwa yang mengancam untuk mengacaukan situasi.

Trump secara resmi mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel pada 6 Desember lalu. Langkah itu secara luas dikecam oleh PBB, termasuk para pemimpin Eropa, dan bahkan oleh Paus Francis. Enam hari setelah pengumuman Trump tersebut, organisasi Hamas, menyerukan untuk memulai “intifada ketiga”.

Faktor-faktor kritis lain termasuk memburuknya ekonomi dan penurunan sosial di Gaza serta kegagalan rekonsiliasi antara gerakan Fatah dan Hamas.

Di saat yang sama, Israel pun telah mulai meningkatkan operasi di Gaza, dimana yang terbaru terjadi minggu lalu, ketika IDF menyerang target Hamas setelah upaya merusak pagar perbatasan Israel dan jalur Gaza serta membakar sebuah kendaraan rekayasa militer Israel.