Mar 232019
 

Perdana Menteri (PM) Israel, Benjamin “Bibi” Netanyahu © Baz Ratner via Sputnik

JakartaGreater.com – Israel sebelumnya telah melakukan serangkaian serangan udara di wilayah Suriah, merusak infrastruktur dengan dalih memerangi pasukan Iran di Republik Arab Suriah. Baik Damaskus dan Iran telah mengecam melakukan serangan udara, seperti dilansir dari laman Sputnik pada hari Rabu. (20/3/2019)

Perdana Menteri Israel Benjamin “Bibi” Netanyahu menegaskan kembali niat negara itu untuk melawan dugaan pengukuhan pasukan Iran di Suriah, ia mencatat bahwa Tel Aviv menikmati “kebebasan bertindak” tanpa batasan di Suriah, selama pidatonya di saluran televisi Israel. Mencatat bahwa kebebasan bertindak seperti itu adalah dimungkinkan karena mendapatkan dukungan dari Washington.

Dia menambahkan bahwa topik melawan dugaan kehadiran militer Iran di Suriah akan menjadi salah satu topik untuk diskusi dengan Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo di Yerusalem.

Pangkalan udara Al-Tanf militer Amerika di Suriah © Rodi Said via Reuters

Pernyataan itu muncul menjelang rencana kunjungan Bibi ke AS akhir pekan ini, dengan situasi di Suriah menjadi prioritas utama dalam agenda pembicaraan yang akan datang dengan Presiden AS Donald Trump setelah penarikan pasukan AS secara bertahap dari Suriah. Sebelumnya, presiden AS menyatakan bahwa total 400 tentara AS akan tetap di Suriah, dengan 200 di antaranya dikerahkan di lokasi dekat perbatasan Israel.

Israel melakukan serangan udara di tanah Suriah pada beberapa kesempatan, mengklaim telah mengenai target militer Iran. Salah satu serangan udara baru-baru ini menyebabkan penghancuran beberapa bangunan di Bandara Internasional Damaskus.

Damaskus dan Teheran mengecam serangan udara itu, mendesak komunitas internasional untuk mengambil langkah-langkah guna mencegah serangan lebih lanjut oleh Israel. Iran membantah telah memiliki kehadiran militer di Republik Suriah selain sebagai penasihat militer yang dikirimkan atas permintaan Damaskus dan membantu melawan kelompok-kelompok teroris.

Hubungan antara Israel dan Iran tetap tegang, karena Teheran menyangkal hak negara Yahudi untuk hidup dan telah berulang kali bersumpah untuk menghancurkannya.