Israel Tunjukkan F-35 Bisa Bertempur. Terus Apa Selanjutnya?

Jet tempur generasi kelima, F-35 Lightning II. © CC0 by skeeze via pixabay.com

JakartaGreater.com – Penggunaan F-35 Israel pertama kalinya dalam serangan udara di Timur Tengah dapat membantu jet siluman ini menghadapi kritik yang terus-menerus bahwa itu adalah “boondoggle” alias “tak berfaedah” karena tak bisa bertempur.

Namun jangan berharap ada perubahan langsung pada lini terendah ataupun pengguna F-35 lainnya untuk bergegas membawa pesawat ke dalam perang sesungguhnya, sebut para ahli kepada Defense News. (24/5/2018)

Kepala Staf Angkatan Udara Israel (IAF) Mayor Jenderal Amikam Norkin di hari Selasa dalam konferensi IAF mengumumkan bahwa pesawat silumannya telah berpartisipasi dalam 2 serangan udara di Timur Tengah, membuat Israel sebagai negara pertama yang mengoperasikan F-35 dalam pertempuran.

“Pesawat Adir sudah beroperasi dan terbang dalam misi operasional. Kami adalah yang pertama di dunia yang menggunakan F-35 dalam kegiatan operasional”, katanya.

Norkin juga menunjukkan foto pesawat yang terbang di atas Beirut, Lebanon, menurut outlet berita asal Israel, yaitu Haaretz.

Richard Aboulafia, seorang analis kedirgantaraan dari Teal Group, menyebutkan bahwa penggunaan F-35 IAF dalam pertempuran itu adalah sebagai “promosi untuk F-35” dan mengatakan akan sangat berguna untuk terus maju di Suriah.

“Konflik Suriah menyerukan penargetan secara hati-hati dan survivabilitas maksimum, dua atribut F-35 yang paling kuat. Walau memiliki batas, tetapi dalam hal ini harus dilakukan”, katanya. “Ini tentunya memberikan tingkat kepercayaan yang tinggi kepada pengguna lain serta pelanggan potensial bahwa pesawat dan sistemnya bekerja dalam kondisi nyata”.

Israel memiliki sejarah yang panjang mengirimkan pesawat tempur ke medan perang segera setelah beroperasi. Pilot legendaris IAF Moshe Marom-Melnik menjadi orang pertama yang menembak jatuh pesawat musuh dengan F-15 pada tahun 1979, menurut Flight Global. Sementara itu, hingga Operasi Badai Gurun tahun 1991 untuk Angkatan Udara AS melakukan hal yang sama.

Jet tempur siluman F-35I Adir di Pangkalan Udara Nevatim, Israel, 12 Desember 2016 © Tech. Sgt. Brigitte N. Brantley anggota U.S. Air Force

Ketika Israel memiliki platform baru, mereka akan menggunakannya secepat mungkin sehingga pilot dapat meningkatkan keterampilan mereka, menurut Abraham Assael, seorang pensiunan Brigjen IAF dan CEO Institut Fisher untuk Studi Ruang dan Udara Strategis.

“Ini adalah platform hebat dengan banyak kemampuan. Jadi kami berusaha untuk memaksimalkannya. Dan saya rasa mereka melakukan yang terbaik dan profesional, karena semua adalah proses untuk mempelajari mesin dan melantiknya di dalam angkatan udara. Ini tentu bukan tugas yang mudah”, katanya.

Aboulafia mengatakan pengalaman F-35 dalam dunia nyata tentu bisa berdampak bagi Lockheed Martin di pasar seperti Kanada, Jepang atau Inggris, yang mana sekarang ini sedang mempertimbangkan alternatif F-35.

Namun, Assael mengatakan dia tidak tahu apakah pencapaian tersebut akan banyak mempengaruhi penjualan F-35 ke Israel. Negara ini masih memutuskan apakah akan menambah pesanan F-35 di atas 50 jet sesuai kontrak atau akan membeli lebih banyak F-15.

“Ada diskusi saat ini di dalam Angkatan Udara Israel di mana investasi terbaik”, katanya. “Dan saya tidak tahu. Saya benar-benar tidak tahu”.

Apakah artinya AS akan menggunakan jet siluman itu di Timur Tengah juga sulit untuk dikatakan. Sebuah skuadron F-35B Korps Marinir AS tiba di Pangkalan Udara Iwakuni, Jepang, telah menjadi sebuah rumah permanen bagi Marine Corps Air Station.

Sementara itu, Angkatan Udara AS (U.S. Air Force) telah menempatkan armada F-35A di Inggris dan Jepang.

Namun, kepala layanan belum merinci rencana untuk segera mengirim F-35 ke Timur Tengah. Jenderal Herbert “Hawk” Carlisle, mantan kepala Komando Tempur Udara, mengatakan pada tahun 2017 bahwa dia yakin peristiwa semacam ini bisa terjadi pada “masa depan”, tetapi kepemimpinan US Air Force saat ini belum mengangkat masalah ini secara terbuka.

Hanya karena IAF sekarang telah membuktikan bahwa F-35I dapat digunakan dengan sukses di wilayah tersebut tidak berarti militer AS akan bergegas untuk menyebarkan F-35 ke Komando Pusat, kata David Deptula, mantan perwira US Air Force dan saat ini dekan di Institut Mitchell untuk Studi Dirgantara.

“Masing-masing negara yang memiliki F-35 operasional akan menggunakannya untuk meningkatkan kebutuhan keamanan nasional masing-masing, yang kemungkinan besar akan berbeda dan tidak saling mempengaruhi satu sama lain”, katanya. “Dikatakan, penggunaan tempur pertama F-35 menegaskan utilitas operasional dan wawasan akan diperoleh sebagai hasilnya”.

Tinggalkan komentar